HomeParenting10 Prinsip Mendidik Anak (Bagian 1)
source :

10 Prinsip Mendidik Anak (Bagian 1)

Parenting 0 0 likes 377 views share

Sudah menjadi kewajiban orang tua untuk mendidik anak-anak dengan yang sebaik-baiknya. Keluarga adalah lembaga pertama dan utama dalam melakukan proses pendidikan anak. Orang tua adalah guru pertama dan utama dalam mendidik anak. Saat anak sudah memasuki bangku sekolah, bukan berarti orang tua bisa berlepas diri dalam mendidik anak dengan alasan sudah dititipkan ke sekolahan yang mahal dan internasional. Lembaga pendidikan hanyalah perangkat tambahan untuk membantu orang tua dan negara dalam mendidik generasi.

Karena orang tua adalah pendidik pertama dan utama bagi anak-anak sejak dari dalam rumah tangga, maka mereka harus melakukan proses pendidikan denganbersungguh-sungguh dan bertanggung jawab. Paling tidak ada sepuluh prinsip dalam pendidikan anak yang harus diaplikasikan oleh orang tua di dalam kehidupan keluarga.

1. Memilihkan Calon Ibu dan Calon Ayah Bagi Anak
Ternyata pendidikan bukan dimulai ketika anak sudah lahir, atau ketika anak sudah memasuki usia sekolah. Bahkan jauh sebelum itu. Bahkan sejak seorang lelaki memilih calon ibu bagi calon anak-anaknya, serta seorang perempuan memilih calon ayah bagi calon anak-anaknya. Ketika seorang lelaki dan perempuan memilih jodoh dan memproses pernikahan dengan cara yang benar dan baik, maka itu merupakan modal awal pendidikan terhadap anak. Mereka membentuk kehidupan rumah tangga dengan motivasi ibadah untuk mewujudkan kondisi rumah tangga yang sakinah, mawadah wa rahmah.

2. Interaksi Suami Istri yang Baik
Keharmonisan suami istri menjadi kunci penting dalam pendidikan anak. Ketika suami dan istri berinteraksi dengan baik sesuai ajaran agama, maka akan memberikan pengaruh kebaikan pula bagi anak-anak mereka kelak. Misalnya interaksi yang lembut dan penuh kasih sayang di antara suami dan istri, akan memberikan pengaruh pula terhadap suasana kasih sayang dalam kehidupan anak. Sebaliknya interaksi yang penuh kekerasan dan kakasaran, akan memberikan negaruh pula bagi pendidikan anak. Jika suami dan istri tidak kompak, tidak harmonis, senang berantem di hadapan anak-anak, kerap terjadi tindak kekerasan dalam rumah tangga, akan sangat berpengaruh negatif terhadap perkembangan kejiwaan anak.

3. Menerima Anak Sebagai Amanah Allah
Anak adalah anugerah Allah dan sekaligus amanah dari-Nya untuk kita jaga dan kita rawat dengan sebaik-baiknya. Manusia bisa memiliki rencana dan program dalam kelahiran anak, namun Allah yang menentukan akhirnya. Maka tatkala mendapatkan anugrah berupa janin dalam kandungan istri, hendaknya bersyukur dan menerima anak sebagai amanah Allah yang dititipkan dan harus dirawat dengan baik, walaupun tidak sesuai dengan rencana manusia. Termasuk ketika anugrah Allah tersebut berupa anak yang lahir “tidak sempurna” dan tidak sesuai harapan orang tua. Misalnya memiliki cacat fisik, cacat mental, atau memiliki kekurangan dalam sisi tertentu, tetap harus diterima dengan lega sebagai amanah dan pemberianNya. Apapun kondisi anak kita saat lahir, terkait fisik ataupun kondisi lainnya yang menjadi bawaan lahir, hendaklah diterima sebagai anugrah sekaligus amanah dari Allah.

4. Mendampingi Proses Tumbuh Kembang Anak dengan Kasih Sayang
Orang tua wajib mendampingi proses pertumbuhan dan perkembangan anak, sejak sebelum lahir hingga mereka dewasa, dengan kasih sayang. Ajaran Islam telah memberikan bimbingan pendampingan bagi orang tua sejak janin masih dalam kandungan, hingga saat kelahiran, dan masa-masa pertumbuhan anak.

Dalam masa kehamilan, hendaknya suami dan istri merawat janin dengan sebaik-baiknya. Suami harus mendampingi istri dalam masa-masa kehamilan yang berat, dengan perlakuan yang penuh kasih sayang dan tanggung jawab. Istri harus merawat janin dengan cara memperhatikan makanan dan kesehatan, termasuk asupan sisi ruhaniyah dengan memperbanyak ibadah. Suami juga harus mendampingi istri saat melahirkan bayi, agar istri merasa tenang dengan pendampingan suami.

Setelah lahir, segera dilakukan berbagai macam tuntunan menyambut kelahiran anak. Melaksanakan tuntunan aqiqah, misalnya, menunjukkan sebuah proses perhatian serta pendampingan dari orang tua terhadap anak sejak masa kelahirannya. Pemberian nama yang baik, pemilihan nutrisi terbaik bagi bayi berupa ASI ekslusif, perlakuan yang baik dari kedua orang tuanya, merupakan cara membersamai proses tumbuh kembang anak di masa bayi.

Namun tugas orang tua tidak cukup sampai di sini, karena harus menghantarkan anak-anak menuju kedewasaan. Anak-anak memerlukan pendampingan dari orang tua untuk mengarahkan mereka, memotivasi mereka, membantu kesulitan mereka dan sekaligus meluruskan kesalahan mereka. Apalagi di zaman sekarang yang penuh dengan berbagai problematika kehidupan yang kian kompleks, harus semakin kuat dalam mendampingi tumbuh kembang anak. Orang tua harus membersamai anak dalam pilihan fitur teknologi dan model pergaulan mereka agar tidak salah dan tersesat.

Maka kasih sayang orang tua merupakan bekalan yang luar biasa besarnya bagi kebaikan anak-anak hingga masa dewasa. Sikap kasih sayang yang dikembangkan dalam interaksi orang tua dan anak, akan menyebabkan anak merasa nyaman dalam pendampingan orang tuanya.

5. Memberikan Makanan yang Halal dan Thayib untuk Anak
Hendaknya orang tua hanya memberikan asupan makanan yang halal dan thayib untuk anak. Thayib memiliki makna yang luas, termasuk di dalamnya memenuhi kandungan gizi. Apabila anak-anak selalu mendapatkan makanan yang halal dan thayib, mereka akan tumbuh menjadi anak-anak salih, salihah, sehat, kuat dan cerdas. Konsumsi sehari-hari adalah perkara penting yang sangat diperhatikan oleh ajaran agama. Tidak boleh menganggap remeh dan ringan urusan makan, karena menyangkut dampak yang panjang hingga ke akhirat kelak akan dimintai pertanggungjawaban.