HomeParenting10 Prinsip Mendidik Anak (Bagian 2)
source : alhodaschool.com

10 Prinsip Mendidik Anak (Bagian 2)

Parenting 0 0 likes 205 views share

Dalam bagian 1 sudah dijelaskan beberapa prinsip dalam mendidik anak. Sejatinya mendidik seorang anak adalah sebuah proses berkesinambungan yang tidak akan selesai hingga anak menjadi dewasa. Dalam bagian 2 ada beberapa prinsip yang penting pula untuk mendidik anak.

6. Memberikan Lingkungan yang Kondusif untuk Kebaikan Anak
Anak-anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Maka orang tua harus memberikan dan memilihkan lingkungan yang baik dan kondusif untuk pendidikan anak. Sejak dari lingkungan tempat tinggal, hendaknya orang tua memperhatikan pemilihan rumah tempat tinggal yang ramah anak dan keluarga. Selain tempat tinggal, juga harus memilihkan lingkungan pergaulan yang baik. Walaupun tinggal di lingkungan yang baik, namun jika anak-anak memiliki lingkungan pergaulan yang negatif, akan mudah berpengaruh kepada dirinya. Dalam dunia cyber saat ini, yang harus sangat diwaspadai adalah pergaulan di dunia maya. Pergaulan melalui jejaring sosial, bisa menyeret anak ke dalam bahaya. Orang tua tidak boleh melepas pendidikan anak melalui internet dan gadget. Namun harus memberikan lingkungan yang kondusif untuk pendidikan dan pembentukan karakter mereka.

7. Menumbuhkan Potensi Kebaikan Anak
Semua anak memiliki potensi kecerdasan dan kebaikan, karena mereka terlahir dalam keadaan fitrah. Orang tua wajib menumbuhkan berbagai potensi kebaikan dan kecerdasan anak sebagai bekal kehidupan mereka kelak ketika sudah dewasa. Potensi ruhaniyah (spiritual), fikriyah (intelektual), jasadiyah (fisik), maupun amaliyah, harus ditumbuhkan dengan seimbang. Jangan hanya mengembangkan satu aspek dengan meninggalkan banyak aspek lainnya. Karena seseoang tidak akan menjadi baik hanya dengan satu potensi saja, namun kebaikannya ditopang oleh berbagai sisi potensi dalam dirinya. Demikian pula orang tua harus cermat memahami ranah kecerdasan anak yang berbeda-beda. Semua anak Allah berikan kecerdasan, yang bisa jadi potensi kecerdasan yang menonjol pada seorang anak berbeda dengan anak yag lain. Potensi kecerdasan seorang anak tidak serta merta bisa dibandingkan dengan anak yang lain, justru karena memiliki kecerdasan yang berbeda. Orang tua harus mengarahkan anak pada potensi kecerdasan yang menonjol dalam dirinya, agar ia lebih optimal dalam menjalani masa pembelajaran.

8. Memilihkan Sekolah Terbaik untuk Anak
Ketika anak-anak sudah mulai memasuki usia sekolah, orang tua berkewajiban memilihkan sekolah atau lembaga pendidikan yang terbaik bagi mereka. Pilihan model pendidikan sangat banyak dan beragam, pilihkan sesuai dengan situasi dan kondisi anak, karena potensi mereka berbeda-beda. Ada model sekolah reguler, ada model boarding, ada pondok pesantren, ada pula pilihan home-schooling yang dididik secara mandiri oleh ibu dan bapak sendiri. Sekolah terbaik bukanlah sekolah yang berharga paling mahal dengan gedung yang paling megah dan fasilitas yang paling lengkap. Sekolah terbaik adalah sekolah yang mampu memberdayakan potensi kebaikan dan kecerdasan anak dengan optimal. Maka bentuk sekolah bagi anak bisa bermacam-macam dan juga bisa berbeda-beda, tergantung kondisi dan situasi yang ada pada diri anak itu sendiri.

9. Memberikan Keteladanan untuk Anak-anak
Orang tua harus memberikan keteladanan dalam kebaikan bagi anak-anak. Inilah tugas maha berat bagi orang tua dalam pendidikan anak. Ayah dan ibu adalah model bagi anak-anak. Mereka akan mudah menduplikasi dan mereplikasi semua yang ada pada diri orang tua. Maka tatkala orang tua memberikan contoh teladan utama dalam hidup sehari-hari, hal itu akan mudah dicontoh oleh anak dalam hidup mereka. Demikian pula ketika orang tua memberikan contoh ketidakbaikan, akan mudah dicontoh oleh anak dalam kehidupan mereka. Interaksi setiap hari antara orang tua dengan anak, membuat anak mengerti dengan detail perilaku, sifat, dan karakter orang tua. Jika orang tua malas ibadah, sulit bagi anak untuk rajin ibadah. Jika orang tua rajin maksiat, sulit bagi anak untuk meninggalkan maksiat, demikian seterusnya. Anak sangat mengidolakan orang tua mereka, walaupun mungkin tidak pernah mereka ucapkan. Itu karena orang tua adalah figur yang pertama mereka kenal dalam kehidupan mereka.

10. Menjadi Sahabat bagi Anak
Orang tua harus menjadi sahabat bagi anak-anak, tempat curhat, teman mengobrol, teman bermain serta teman berkegiatan bagi anak. Terlebih lagi saat anak sudah mulai remaja, orang tua harus semakin mendekat dan menjadi sahabat bagi anak. Dengarkan keluhan dan pendapat anak, jangan hanya memberi perintah dan nasihat. Apresiasi kebaikan dan prestasi anak, namun juga berilah hukuman atas kesalahan dan pelanggarannya. Jika orang tua bisa menjadi sahabat bagi anak, akan membuat anak merasa nyaman dan betah di rumah. Anak akan merasa diterima dan enjoy dengan orang tuanya, sehingga mereka lebih bisa leluasa menyampaikan berbagai harapan, gagasan, “uneg-uneg” dan berbagai keluh kesah hanya kepada orang tua. Semua persoalan kehidupan mereka terutama di masa remaja yang sangat rawan dinamika, akan bisa teratasi dengan positif sesuai arahan orang tua.

Namun jika orang tua memerankan diri sebagai musuh bagi anak, akan membuat anakpun semakin menjauh dari orang tua. Mereka akan mencari sahabat sendiri di luar rumah yang justru semakin menjauhkan mereka dari kehangatan keluarga, dan bisa menjerumuskan mereka ke dalam kerusakan. Mendekatlah kepada anak, jadilah sahabat mereka yang mengasyikkan.