HomeKeuangan10 Sikap Positif dalam Menghadapi Masalah Ekonomi Rumah Tangga
source : sitinurulafidahpmu.wordpress.com

10 Sikap Positif dalam Menghadapi Masalah Ekonomi Rumah Tangga

Keuangan 0 1 likes 883 views share

Uang bukan segalanya dalam kehidupan berumah tangga, namun jika tidak memiliki uang, bisa memicu munculnya sejumlah persoalan serius. Dari waktu ke waktu, alasan perceraian karena masalah ekonomi selalu didapatkan di berbagai daerah. Bahwa persoalan utama bukan pada jumlah uang atau harta atau investasi yang dimiliki keluarga, namun lebih kepada sikap yang tidak tepat dalam menghadapi persoalan ekonomi tersebut.

Ada sepuluh sikap hidup positif dalam menghadapi kesulitan ekonomi yang perlu dimiliki oleh pasangan suami dan istri, agar mereka tidak terjebak dalam kemelut dan konflik akibat kesulitan ekonomi. Sepuluh sikap itu adalah sebagai berikut:

  1. Selalu bersyukur atas apa yang Allah berikan

Syukur itu bukan saja ucapan “alhamdulillah”, namun lebih kepada suasana jiwa yang selalu mampu ridha dengan setiap pemberian dan karunia dari Allah. Syukur bukan soal banyak atau sedikitnya rejeki. Berapapun hasil usaha yang kita dapatkan setiap hari atau setiap pekan atau setiap bulan, kita harus selalu bersyukur kepada Allah.

  1. Mampu bersabar jika sedang mengalami kesulitan ekonomi

Jangan mudah putus asa dan berkeluh kesah. Jika tengah diuji dengan kesulitan ekonomi, hendaknya selalu bisa bersabar. Memang tidak mudah bersabar dalam kondisi kesulitan ekonomi yang amat sangat. Namun sikap yang tidak sabar pun tidak bisa memperbaiki kondisi. Tidak perlu emosi, tidak perlu bertengkar, tidak perlu uring-uringan, di saat menghadapi kesulitan ekonomi.

  1. Giat dan gigih berusaha untuk mendapatkan rejeki

Allah SWT memerintahkan kita untuk membuka pintu rejeki dengan usaha yang sifatnya lahiriyah maupun batiniyah. Usaha lahiriyah berupa bekerja keras mencari nafkah, dengan cara yang halal untuk mendapatkan rejeki yang halal, thayib, banyak dan berkah.

  1. Tidak mengenal putus asa dalam meraih rejeki yang halal dan thayib

Hendaknya para suami memiliki jiwa yang tangguh, ulet, siap berjuang, sanggup bekerja keras tanpa kenal lelah. Jangan pernah berputus asa, karena datangnya rejeki itu salah satunya dari sikap yang gigih bekerja tanpa mengenal rasa malu dan sungkan. Hindari sikap putus asa, jadilah pekerja keras yang selalu gigih berusaha dengan berbagai macam cara. Rejeki yang halal dan thayib tidak akan datang sendiri dari langit.

  1. Suami dan istri saling terbuka dan bekerja sama dalam memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.

Pada situasi kesulitan ekonomi, hendaknya suami dan istri semakin memperbaiki komunikasi, saling terbuka, dan bersedia bekerja sama dalam mencukupi kebutuhan hidup keluarga. Bentuk kerja sama antara suami dan istri tidak selalu dalam artian keduanya sama-sama bekerja mencari nafkah. Salah satu bentuk kerja sama yang ‘tradisional’ adalah, suami bekerja keras mencari nafkah, sementara istri pandai mengelola keuangan keluarga dengan hemat dan cermat.

  1. Tidak saling menyalahkan saat terjadi kekurangan ekonomi

Suasana tuduh menuduh dan saling menyalahkan akan berdampak negatif pada suami. Pada kondisi suami berada dalam situasi kesulitan mencari nafkah, suasana jiwanya menjadi hypersensitif. Kata-kata istri yang bermaksud memotivasi pun, bisa berdampak negatif karena dianggap melecehkan dan menghina suami. Maka hentikan saling menyalahkan di saat sulit ekonomi. Karena itu tidak akan menyelesaikan masalah, justru menambah rumit masalah.

  1. Menjauhi perbuatan haram dan tercela dalam mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga

Sesulit apapun kondisi ekonomi keluarga, jangan melakukan perbuatan yang haram dan tercela untuk memenuhinya. Jangan melakukan tindakan yang haram dan tercela, karena akan semakin memperburuk suasana. Perbuatan haram hanya akan mendatangkan penyesalan dan kesengsaraan. Tidak akan membawa keberkahan dalam hidup.

  1. Bersikap hemat dan bergaya hidup sederhana

Suami dan istri hendaknya selalu bersikap hemat dan bergaya hidup sederhana. Semua harus disesuaikan dengan kemampuan, jangan memaksakan diri membeli sesuatu yang di luar kemampuan.

  1. Menjauhi gaya hidup glamour

Gaya hidup hedonis, glamour, suka berfoya-foya, menjadi salah satu sumber persoalan ekonomi. Hendaklah bergaya hidup yang realistis, menjauhi gaya glamour, bermewahan, hedonis dan berfoya-foya. Tidak perlu larut dan terpengaruh oleh iklan, atau ajakan teman, atau pengaruh perkembangan zaman. Maka gaya hidup harus menyesuaikan kemampuan ekonomi masing-masing.

  1. Suami istri berusaha mencari solusi bersama

Hendaknya suami dan istri berusaha mencari solusi bersama saat mengalami konflik dan permasalahan ekonomi keluarga, dalam suasana jiwa yang sakinah, mawadah wa rahmah. Suami dan istri duduk berdua, tanpa emosi, tanpa kemarahan, tanpa suasana yang tertekan, berusaha menemukan solusi yang paling tepat atas persoalan ekonomi keluarga yang menghimpit. Buatlah skema dan rencana bersama untuk keluar dari kesulitan keuangan. Buat beberapa plan, jika plan satu tidak bisa terlaksana bisa menggunakan plan lainnya.
Demikianlah sepuluh sikap hidup positif dalam menghadapi permasalahan ekonomi keluarga. Hendaknya pasangan suami istri justru semakin erat berpegangan di saat menghadapi situasi krisis seperti ini. Ibarat tengah naik roller coaster, maka pada waktu itu berada pada puncak ketegangannya. Berada di titik ekstrem yang sangat menegangkan. Ingat, jangan melemparkan diri dari roller coaster saat berada di puncak ketegangannya. Kuatkan pegangan dengan pasangan, untuk melewati puncak ketegangan tersebut.