HomePernikahan10 TIPS MERAWAT CINTA KASIH SUAMI ISTRI
ilustrasi : www.pinterest.com

10 TIPS MERAWAT CINTA KASIH SUAMI ISTRI

Pernikahan 0 1 likes 2.4K views share

— Tips Pertama dan Tips Kedua

Oleh : Ummu Rochimah

 

 

Suasana cinta kasih antara suami istri dalam kehidupan berumah tangga bersifat sangat dinamis. Ada masa dimana cinta kasih itu sedemikian kuat membara, namun ada masa dimana cinta kasih itu mulai melemah, memudar, bahkan bisa menghilang berganti suasana benci dan dendam. Suasana cinta kasih yang sangat kuat bisa dilihat pada pasangan pengantin baru yang tengah menikmati romantic love. Juga bisa ditemukan pada pasangan yang sudah lama hidup berumah tangga dan berhasil mencapai tahap real love.

Suasana cinta kasih suami istri terlihat sangat fluktuatif dan penuh dinamika, terutama pada tahap-tahap di tengah, antara romantic love dan real love. Pada masa inilah kehidupan suami istri benar-benar harus melewati pasang surut yang sangat dinamis. Suasana cinta kasih di antara mereka bergelombang, naik turun, mendekat, menjauh kemudian mendekat lagi, menjauh lagi dan seterusnya. Pada masa dimana suasana cinta tengah berada di titik terendah, tidak jarang suami atau istri berpikir pintas untuk berpisah saja.

Namun anda tidak perlu khawatir akan kehabisan dan kehilangan cinta kasih. Karena ada sangat banyak cara untuk merawat suasana cinta kasih sayang di antara suami dan istri sepanjang usia pernikahan mereka. Pada kesempatan ini, akan saya sampaikan sepuluh tips untuk merawat cinta kasih di antara suami dan istri dalam menjalani kehidupan pernikahan mereka.

Berikut akan saya bahas satu per satu, insyaallah.

Tips Pertama

Kedua belah pihak menjauhi ikatan atau akad tandingan dengan pihak lain dalam bentuk apapun

Semenjak ijab kabul diucapkan, mulai saat itu ikatan dua anak manusia telah terjalin, suatu ikatan yang sangat kuat, sebagaimana al Quran mengumpamakannya sebagai mitsaqon gholizho, yaitu perjanjian yang kuat, sebagaimana disebutkan dalam QS. An Nisa : 21.

“Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-isteri. Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.”

Setelah ijab kabul berlangsung jangan lagi ada pertanyaan, “Diakah jodohku?” Karena dengan berlangsungnya ijab kabul, artinya Allah sudah menetapkan untuk dia pasangan hidupnya saat itu. Maka ia harus melepaskan semua bentuk ikatan-ikatan selain dengan pasangan, jangan pernah menoleh-noleh ke belakang, apalagi kepada sang mantan, hapus semua itu dari ingatan, buang semua benda-benda pemberian sang mantan yang dapat memunculkan kenangan. Tutup semua celah yang memungkinkan kenangan itu kembali, termasuk jangan kepo dengan segala aktivitasnya yang muncul di facebook, twitter atau instagram misalnya.

Jadikan pasangan hidup saat itu sebagai juara dalam hatinya. Jadikan ia prioritas utama dalam hidupnya, tokoh sentral dalam kehidupannya saat itu. Fokuskan hanya untuk memberikan yang terbaik untuk pasangannya. Ikatan-ikatan pertemananpun jangan sampai mengabaikan pasangan hidupnya. Harus mulai menjadikan nya sebagai teman dan sahabat hati.

Tips Kedua

Kedua belah pihak menghindari sikap kritis terus menerus pada salah satu sifat yang melekat pada pasangan

Tidak ada satupun manusia di dunia ini yang sempurna, karena kesempurnaan hanyalah milik Allah semata. Justru kekurangan-kekurangan yang Allah berikan kepada manusia dapat membawa manusia kepada ketundukan dan ketawadhuan di hadapan Allah. Bila memang Allah ciptakan kekurangan kepada manusia, mengapa manusia menuntut kesempurnaan dari orang lain?

Kehidupan suami istri adalah ibarat sebuah puzzle, ia tersusun bukan dari bentuk yang sama, tapi justru adanya perbedaan-perbedaan bentuk yang saling terkait sehingga dapat menjadi sebuah gambar yang utuh. Perbedaan-perbedaan yaag timbul dari keduanya bisa berupa sifat, karakter ataupun tingkah laku, karena mereka berasal dari latar belakang yang berbeda, budaya dan pola asuh keluarga yang berbeda. Sehingga kewajiban dari masing-masing pasangan adalah menerima semua yang ada pada pasangannya. Entah itu sesuatu yang baik ataupun yang buruk. Jangan selalu memberikan komentar yang negatif terhadap sifat-sifat buruk pada pasangan.

Dari pada berkomentar negatif, akan lebih baik bila keduanya saling menutupi dan memperbaiki kekurangan yang dimiliki pasangannya.

 

BERSAMBUNG

 

Setiabudi, 30 Juni 2017