HomeParenting6 Langkah Mengajarkan Anak Menabung
pexels-photo-164627

6 Langkah Mengajarkan Anak Menabung

Parenting 0 0 likes 340 views share

Oleh: Purwaningsih*

“Jajan sih boleh saja, sisihkan buat nabung, belanja sih boleh saja, tak lupa nabung, asik asik deh. Sik asik asik nabung, bung nabung nabung asik, sik asik asik nabung, bung nabung nabung asik”. Kalimat ini adalah penggalan lirik lagu lawas ciptaan Ibu Titiek Puspa yang populer pada tahun 90-an. Lagu yang mengajak anak-anak untuk selalu rajin menabung.

Memang anak-anak perlu menabung? Jelas perlu. Jika kebiasaan menabung tidak ditanamkan sejak kecil, maka ketika dewasa tentu akan lebih susah untuk memulai. Tak jarang kita mendengar teman-teman kita yang sudah dewasa dan sudah berkeluarga pun mengeluh kesulitan untuk menabung, padahal penghasilan yang mereka terima besar. Kenapa ini terjadi? Jawabannya adalah karena mereka tidak terbiasa mengatur pengeluaran mereka, sebesar apapun gaji yang mereka terima, sebesar itulah gaji yang mereka belanjakan.

Menabung tidak hanya mengajarkan anak-anak kita untuk mengumpulkan sebagian uang, tetapi mengajarkan mereka untuk belajar mengelola diri sendiri, belajar berhemat, dan belajar membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan. Menabung akan mengajarkan anak kita belajar mandiri. Dan pastinya dengan mengajarkan anak-anak menabung kita sudah mulai mempersiapkan masa depan mereka.

Tapi tentu saja mengajarkan anak-anak menabung tidak mudah karena mungkin saja mereka merasa sedih karena tidak bisa membelanjakan semua uang jajan mereka. Apalagi jika lingkungan anak-anak kita bermain terbiasa jajan, pasti susah sekali untuk mengajarkan anak kita menabung.

Berikut ini adalah beberapa cara yang mungkin dapat dilakukan untuk mengajarkan anak kita belajar menabung:

1. Berikan anak kita celengan yang lucu-lucu, celengan bisa berupa gambar-gambar karakter favorit anak-anak. Pertimbangkan apakah celengan ini sekali pakai atau bisa dipakai berkali-kali (tidak perlu dirusak untuk membukanya). Jika celengan yang dipilih adalah sekali pakai (setelah penuh maka dibuka dan tidak bisa dipakai lagi) maka tidak usah beli yang terlalu mahal, cukup pilih karakter yang anak-anak sukai. Jika celengan yang dipilih bisa dipakai berkali-kali (biasanya ada kunci), pertimbangkan jangan sampai anak-anak mengambil lagi uang yang sudah dimasukkan.

2. Berikan uang saku dan beri penjelasan jika sebagian uang saku tersebut untuk ditabung, sebagian lagi bisa dibelanjakan. Berikan kepercayaan kepada anak untuk mengelola sendiri uang sakunya.

3. Susun rencana hasil tabungan. Diskusikan dengan anak, jika tabungan di celengan sudah penuh mau digunakan untukapa. Apakah mau disimpan di bank, atau dibelikan mainan yang diinginkan anak, atau untuk tujuan lainnya. Jika tabungan sudah penuh maka penuhi rencana awal karena jika rencana awal tidak terpenuhi bisa-bisa anak kita tidak mau menabung lagi.

4. Ajarkan anak untuk berbagi. Selain menabung, ajarkan anak kita untuk berbagi juga. Mungkin tidak setiap hari, namun mungkin bisa dipilih sekali seminggu sebagian uang sakunya juga disisihkan untuk infaq dan sedekah.

5. Kenalkan anak dengan tabungan di bank. Jika anak-anak sudah mulai terbiasa menabung secara konvensional di celengan, coba perkenalkan dengan tabungan di bank. Tabungan di bank mungkin bisa dimulai ketika tabungan celengan sudah penuh. Beri saran ke anak, untuk tidak membelanjakan semua uang hasil tabungan celengannya tetapi menyimpan sebagian di bank. Kita bisa memilih tabungan di bank-bank yang memiliki tabungan khusus buat anak-anak. Biasanya mereka menyediakan buku tabungan dan kartu atm bergambar karakter kartun kesukaan anak-anak. Anak-anak tentuakan lebih semangat lagi menabungnya.

6. Berikan contoh. Ini cara yang paling penting yang tidak boleh ditinggalkan. Anak biasanya meniru orang tuanya. Akan sangat sulit mengajari anak kita menabung jika kita sendiri tidak memberi contoh menabung.

Menabung memang tidak mudah, tetapi mengajarkan anak kita menabung sejak kecil berarti kita sudah selangkah mempersiapkan masa depan mereka. Mari kita ingatkan selalu anak kita tentang peribahasa lama “Rajin Pangkal Pandai dan Hemat Pangkal Kaya”.

*Penulis merupakan ibu rumah tangga sekaligus PNS yang suka menulis. Dapat ditemui di Twitter @pur_1ningsih atau Facebook purwaningsih.arisandi