HomePernikahanAku dan Kau Menjadi Kita
19598686_1607224889302359_505800514674007159_n

Aku dan Kau Menjadi Kita

Pernikahan 0 4 likes 854 views share

AKU DAN KAU, MENJADI KITA

 

@ Ummu Rochimah

 

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api

yang menjadikannya abu

 

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan

yang menjadikannya tiada

 

( Sapardi Djoko Damono, Aku Ingin)

 

Kehidupan berumah tangga hendaklah merupakan suatu wujud cinta yang sederhana, sebagaimana  puisi cinta di atas. Sehingga pasangan suami istri dapat menikmati perjalanan cintanya dengan cara yang juga sederhana.

Pernikahan adalah sebuah lembaga sah yang menghimpun kehidupan bersama antara laki-laki dan perempuan. Dimana keduanya ini pada mulanya adalah dua pribadi yang memiliki perbedaan-perbedaan baik secara fisik maupun psikologis. Dan karena pernikahan lah, dua orang yang semula saling asing, ternyata kemudian harus tidur dan bangun bersama, makan dan minum bersama, berpikir, berencana dan mengambil keputusan penting secara bersama-sama pula.

Seorang pakar komunikasi dan pakar hubungan laki-laki-perempuan;  John Gray, Ph.D mengumpamakan tentang laki-laki dan perempuan dengan suatu istilah bahwa laki-laki itu berasal dari Mars, sedangkan perempuan berasal dari Venus. Maksudnya adalah bila dalam suatu pernikahan, pasangan suami istri itu awalnya berasal dari dunia yang berbeda, namun ketika  keduanya menyatu maka mereka harus saling menerima segala perbedaan yang ada. Kemudian dapat mengelola perbedaan yang ada untuk digunakan bersama-sama membangun rumah tangga, memikul tanggung jawab sebagai pembawa misi keberlangsungan kehidupan.

Oleh karena itu, hal pertama yang harus dilakukan oleh keduanya adalah mengetahui perbedaan pokok antara laki-laki dan perempuan.

 

Memahami Perbedaan

Perbedaan yang sangat mudah dikenali pertama kali yaitu perbedaan organ fisik, seperti susunan tulang misalnya, bahwa laki-laki memiliki susunan tulang yang lebih besar daripada perempuan . Lalu otot laki-laki perimbangannya lebih banyak daripada kandungan lemaknya, dan lain-lain.

Perbedaan yang lain adalah adanya perbedaan psikologis, seperti misalnya cara seorang istri dalam merespon dan menghadapi kelelahan atau kesukaran jelas berbeda dengan para suami atau laki-laki. Sebagian besar istri merespon dengan mengedepankan sisi emosional, sedangkan seorang suami  akan merespon dengan lebih banyak diam.

Atau perbedaan pada kebiasaan mengeluh dan menggerutu ketika terjadi interaksi antara suami dan istri. Seorang istri,akan lebih banyak mengeluarkan kata-kata untuk mengeluh dan menggerutu, dan mengharapkan adanya tanggapan dari lawan bicaranya. Sedangkan para suami, mereka akan mengatakan secara jelas dan detil keluhan yang dimiliki dan tidak akan menjadi masalah besar bila keluhan itu tidak segera di tanggapi saat itu.

Seorang perempuan tidak dapat secara cepat mengutarakan keinginan yang diharapkannya, ia akan berpikir lebih lama untuk bisa mengatakan apa yang diinginkan. Hal ini terkadang dapat menghabiskan kesabaran pihak laki-laki. Lalu muncullah perkataan, “Jadi intinya apa?” atau “Langsung saja masalahnya dimana?”

Sama halnya ketika laki-laki yang menampakkan sifat egoisnya ketiga sedang sungguh-sungguh bekerja atau fokus pada sesuatu, misal sedang menonton pertandingan bola di televisi. Maka ia tidak mau atau tidak bisa memperhatikan orang lain di luar dirinya saat itu. Panggilan dari istri atau rengekan suara tangis anak terkadang tidak dapat mengeluarkan mereka dari dalam guanya. Hal ini disebabkan karena laki-laki berpikir dengan cara memusat.

Perbedaan-perbedaan yang ada ini bukanlah suatu hal yang harus terus menerus diperbincangkan dan diperlebar jaraknya, lalu menjadi bahan pertentangan di antara mereka. Tapi perbedaan ini harus disikapi sebagai sebuah modal untuk saling terkait satu dengan yang lain. Seperti halnya sebuah puzzle, ia tersusun dari kepingan-kepingan yang tidak serupa, walau boleh jadi ada satu dua kepingan yang sama dan sebangun. Kepingan-kepingan itu saling lalu mengait satu dengan lain, saling menempati ruang dan bentuk yang coco, sehingga lalu menjadi satu gambar yang utuh.

Saling memahami dan menerima semua perbedaan yang ada pada pasangan adalah langkah awal untuk mewujudkan cinta kasih yang lebih langgeng.

 

Mengambil Jalan Tengah

Agar tidak muncul kondisi yang ekstrim di antara keduanya, maka mereka harus  mengetahui bahwa di dalam diri masing-masing suami atau istri (laki-laki dan perempuan) ada sifat-sifat lawannya.

Dalam diri seorang laki-laki, Allah selipkan sifat keperempuanan. Begitu juga sebaliknya, dalam diri seorang perempuan, ada sifat kelaki-lakian. Hal ini adalah sebuah tabiat yang Allah berikan agar kita memiliki kecenderungan kepada lawan jenis.  Laki-laki akan tertarik pada perempuan, dan perempuan akan tertarik pada laki-laki. Ini menjadi bekal untuk masing-masingnya mengenali dan memahami sehingga dapat tepat dalam bersikap kepada lawan jenisnya

Melalui rasa cinta seorang laki-laki kepada perempuan ia dapat mengembangkan sifat keperempuanannya dengan tetap menjaga sifat-sifat kelelakiannya. Begitupun sebaliknya, seorang perempuan yang mencintai laki-laki maka ia dapat mengembangkan sisi kelelakiannya dengan tanpa menghilangkan sifat keperempuanannya.

Keseimbangan inilah yang kemudian bisa menjadikan dua orang yang berbeda, baik fisik maupun psikologis menjadi satu dalam ikatan pernikahan.

Dengan menyadari secara penuh perbedaan-perbedasan ini, akan membantu kita untuk mengenali dan memahami pasangan kemudian saling mengisi. Atau agar mampu melepaskan dan mengkompromikan harapan-harapan yang tidak realistis terhadap pasangan.

Dengan demikian, perjalanan pernikahan dapat dinikmati seperti halnya perjalanan yang indah dan mengasyikkan untuk dilalui bersama.

 

Sabtu, 4 November 2017

#16tahun perjalanan cinta

4 November 2001-4 November 2017