HomeParentingAnak Tunggal, Bisa Mandiri Nggak Sih?
girl-649011_1280

Anak Tunggal, Bisa Mandiri Nggak Sih?

Parenting 0 2 likes 384 views share

Oleh : Jacqueline H. S. Lestari*

Anak tunggal identik dengan sifat manja. Masyarakat terlalu menjeneralisir anak tunggal dengan sifat manja. Selain manja, rasa kesepian seakan menjadi perasaan yang selalu berdampingan dengan anak tunggal. Setiap kali bertemu dengan orang baru dan memperkenalkan diri sebagai anak tunggal, 9 dari 10 orang akan menanyakan kedua hal tersebut, “Apa nggak sepi dirumah sendirian? Wah, pasti dimanja ya sama Papi Mami.” Sebagai orang-orang yang sudah modern, mari kita mengesampingkan kedua hal itu.

Anak itu ibarat tanah liat yang siap dibentuk oleh kedua orang tuanya. Apabila orang tua membentuk anak tunggal menjadi manja, maka manjalah ia. Sedangkan jika orang tua menerapkan aturan-aturan yang jelas di dalam rumah dan mendidik anak tunggal menjadi pribadi yang mandiri, maka ia justru terkadang bisa lebih mandiri dari yang lainnya. Saya menemui beberapa anak tunggal yang hidup tanpa pembantu di rumahnya dan dengan kedua orang tua yang terkadang harus keluar rumah secara bersamaan untuk mencari nafkah. Hal ini juga yang saya rasakan selama ini. Kondisi ini memaksa kami untuk belajar caranya bertahan hidup jangan sampai kelaparan di rumah sendiri yang sebenarnya menyediakan bahan makanan yang belum diolah. Sedangkan jika ada saudara kandung, pasti kita punya teman berbagi penderitaan, atau akan menjadikan sang kakak sebagai tumbuan untuk mengasuh adiknya. Akhirnya sang kakak menjadi mandiri dan adik menjadi manja. Tapi kalau anak tunggal mau minta tolong ke siapa lagi? Rumput yang bergoyang? Tentu tidak mungkin.

Paradigma lain yang ada di masyarakat, anak tunggal itu hidupnya kesepian. Ya memang, terkadang hidup kami hanya berkawan dengan televisi (untuk generasi 90-an) atau generasi masa kini dengan gadget canggihnya. Disini peran orang tua sangatlah penting untuk menjadi sahabat, kakak, dan lawan main yang seimbang untuk anak. Ajaklah anak anda untuk bermain, permainan-permainan sederhana seperti board games yang dapat mengasah otak serta menjadi bahan refreshing bagi anda dan anak anda. Berikan kepercayaan kepada anak anda terhadap hal-hal yang sedikit rahasia sehingga anak anda juga tanpa sadar akan merasa dipercaya dan mau mempercayakan rahasia-rahasia kecilnya kepada anda sebagai orang tua.

Kesendirian seorang anak tunggal juga justru dapat memberikan “keluarga baru” untuk anak tunggal. Biasanya, karena tidak memiliki kakak maupun adik, anak tunggal akan lebih mudah memposisikan diri sebagai keduanya dalah hubungan pertemanan. Hal ini membuat kita bisa nyaman duduk dan bercerita kepada anak tunggal. Dari pertemanan itulah terkadang lama kelamaan rasa kekeluargaan akan semakin erat terjalin terlebih jika kita sudah berteman sejak kecil dan mengenal keluarga satu sama lain. Bukan bermaksud menjodohkan, tapi mungkin saja justru ada yang bertemu jodohnya dengan kondisi seperti ini.

Kembali lagi bagaimana sifat dan pembawaan anak tunggal itu berasal dari bagaimana anda sebagai orang tua yang mengarahkan. Jadi bagi para orang tua yang memang menginginkan anak tunggal atau karena satu dan lainnya hanya dikaruniai Tuhan seorang anak. Syukurilah, bentuk tanah liatmu menjadi porselin terbaik dan berdaya guna. Tidak ada anak yang diciptakan Tuhan sebagai anak manja. Tuhan juga tidak menciptakan kesepian tanpa keramaian, jadi berbahagialah yang memiliki anak tunggal atau kalian yang merupakan anak tunggal, karena kalianlah yang mampu berjuang dan bertahan hidup.

Terakhir kesimpulannya, anak tunggal bisa kok jadi mandiri.

*Penulis adalah seorang food traveler yang juga pecinta kain batik. Dapat ditemui di akun Instagramnya  @jacquelinehsl