HomePernikahanApa Panggilan Sayang Untuk Pasanganmu?
panggilan kesayangan

Apa Panggilan Sayang Untuk Pasanganmu?

Pernikahan 0 3 likes 1.3K views share

Oleh : Ummu Rochimah

“Brin…” begitu panggilan ayahku pada ibuku. “Bran brin, bran brin” pikirku dalam hati ketika aku jadi sering mendengar dan menyadari keunikan itu. Nama ibuku Sri Soebekti, tentu menjadi aneh ketika suaminya memanggil dengan panggilan “Brin”. Lalu, kami anak-anaknya bertanya kepada ayah apa arti panggilan itu.

“Itu panggilan sayang ibumu. Singkatan dari brintik (bahasa jawa yang berarti keriting)” begitu ayah menjelaskan. Ibu yang ikut mendengarkan pun tersenyum. Dan kami pun tertawa bersama.

Kisah ini dituturkan oleh Gunawan Sriwibowo dalam Kompasiana. Dalam kisah di atas menggambarkan mengenai adanya panggilan khusus atau panggilan kesayangan untuk pasangan hidup. Panggilan kesayangan menjadi satu tanda bahwa hubungan kedua pasangan suami istri itu merupakan hubungan yang istimewa. Keduanya memiliki kode-kode atau istilah-istilah khusus, dan hanya mereka sendiri yang paham maknanya.

Romantika kehidupan suami istri yang senantiasa dinamis, tidak selamanya berjalan sesuai seperti harapan.  Kadang berjalan mulus seperti melalui jalan tol yang tanpa hambatan. Namun tidak dapat dihindari bahwa suatu saat harus melalui jalan berliku dan berbatu, melewati persimpangan-persimpangan dan belokan-belokan. Sehingga menyebabkan perjalanan itu memberikan suatu peristiwa yang sangat berkesan bagi keduanya, entah kesan yang baik ataupun kesan yang buruk.

Karena itu, agar kedua pasangan suami istri itu mendapatkan kesan yang baik dalam melalui perjalanan rumah tangganya, maka di antara keduanya perlu memiliki kode-kode atau istilah-istilah tertentu yang dapat senantiasa mendekatkan hati dan jiwa keduanya. Salah satu kode tersebut adalah panggilan khusus atau panggilan kesayangan untuk suami atau pun istri.

 

Bagaimana Sebaiknya Panggilan Kesayangan Untuk Pasangan?

Suatu ketika dalam sebuah forum pertemuan antara laki-laki dan perempuan, yang saat itu masih menggunakan pembatas berupa kain yang dibentangkan, terdengar sebuah panggilan dari bagian laki-laki, “Ukhti…ukhti…”

Karena merasa berada pada posisi terdekat dengan kain pembatas, spontan saya menjawab, “Ya, ada apa akhi..?”

“Eh.. maksudnya mau manggil Fulanah…” dan si Fulanah yang dimaksudkan itu adalah istrinya. Seketika saya terbengong-bengong mendengar jawabannya. Memanggil istrinya dengan sebutan ukhti?

Ini adalah sebuah kisah nyata yang terjadi pada belasan tahun yang lalu.

 

Dalam kehidupan suami  istri, umum dijumpai panggilan-panggilan seperti ummi-abi, mama-papa, ayah-bunda, ibu-bapak, mami-papi dan sebagainya. Biasanya panggilan ini untuk memberikan contoh kepada anak-anak. Dan ini tidak salah apabila panggilan-panggilan itu dilakukan di hadapan anak-anak. Tetapi bagaimana bila pasangan suami istri sedang berdua saja? Masihkah memanggil pasangan dengan istilah yang sama?

Mungkin kita bisa menengok sejarah perjalanan kehidupan Nabi Muhammad sebagai bentuk keteladanan bagi kita di masa kini. Dalam sirah perjalanan kehidupan rumah tangga Nabi Muhammad s.aw, beliau mencontohkan bagaimana beliau memberikan sebuah panggilan istimewa untuk istri tercintanya Aisyah r.a dengan panggilan Humaira yang berarti pipi yang kemerah-merahan. Terlihat betapa romantisnya Rasulullah kepada istrinya, sekalipun ia seorang nabi dan rasul, tetapi tidak menghilangkan sisi-sisi kemanusiaan beliau untuk menyenangkan hati pasangannya. Hal ini memperlihatkan bahwa hubungan suami istri haruslah memiliki kekhususan, bahkan dalam hal panggilan kepada pasangan. Tidak ada teladan yang lebih baik bagi seorang muslim kecuali Nabi Muhammad s.aw. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a bahwa Rasulullah s.a.w bersabda :”Sebaik-baik kalian, sebaik-baik kalian adalah kepada keluarganya. Dan aku adalah orang yang paling baik kepada keluarganya di antara kalian.” (HR. Ibnu Majah).

Saat ini,  tidak sedikit pasangan suami istri yang memiliki panggilan-panggilan kesayangan kepada pasangannya. Namun perlu diperhatikan macam panggilan tersebut. Sebagai contoh kisah di atas, memanggil pasangannya dengan sebutan “ukhti”, tentu menjadi tidak tepat. Karena sebutan ukhti itu menunjukkan panggilan untuk saudara perempuan. Dan hal ini tidak disukai oleh Rasulullah, sebagaimana berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sanadnya dari Abu Tamimah Al-Juhaimi : “Ada seorang laki-laki yang berkata kepada istrinya, ‘Wahai Ukhti’, lalu Rasulullah berkata, “Apakah istrimu itu saudarimu?’ Beliau membencinya dan melarangnya.” (HR. Abu Daud)

Panggilan kesayangan kepada pasangan haruslah panggilan yang baik, tidak boleh memberikan panggilan yang dapat melukai atau menyakiti perasaan pasangan. Seperti panggilan yang mengarah kepada penghinaan fisik, misalnya, ‘si pesek’ atau ‘si kontet’ atau ‘si hitam’ dan lain-lain. Atau panggilan-panggilan lain yang buruk. Sebagaimana firman Allah, “Dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar  yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk(fasik) setelah beriman.” (QS. Al Hujurat : 11). Panggilan kesayangan pun harus merupakan panggilan yang disukai oleh pasangan suami istri, sehingga memberikan kesan istimewa bagi yang dipanggil.

 

Manfaat Memiliki Panggilan Kesayangan untuk Pasangan

Memberikan panggilan kesayangan kepada pasangan akan memberikan dampak yang sangat mendalam bagi hubungan suami istri. Masing-masing akan merasa menjadi orang yang istimewa bagi pasangannya sehingga akan terus menumbuhkan rasa cinta di antara keduanya, ketimbang mereka yang tidak memiliki panggilan kesayangan pada pasangannya.

Ada di antara pasangan suami istri yang terkadang merasa cukup memanggil pasangan dengan menyebutkan namanya saja, atau sedari awal menikah mereka merasa cukup dengan memanggil pasangannya dengan sebutan abi-ummi, ayah-ibu, mama-papa. Mungkin awalnya mereka malu bila harus memanggil dengan panggilan kesayangan, merasa risih atau merasa terkesan berlebihan. Tapi, keduanya harus ingat bahwa perjalanan rumah tangga adalah suatu perjalanan panjang, maka tentunya harus selalu mengupayakan untuk menjadikan perjalanan itu senantiasa menyenangkan dan membahagiakan keduanya dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Dan keduanya harus berupaya untuk merawat rasa cinta dan kasih sayang di antara mereka. Salah satu upaya untuk merawat cinta dan kasih sayang di antara keduanya adalah, hendaknya mereka mengupayakan untuk memiliki panggilan kesayangan, seperti misalnya panggilan ‘say’ atau ‘ayang’ atau ‘honey’ atau yang sedang kekinian ‘bebeb’, dan lain-lain. Panggilan kesayangan ini menjadi satu bentuk kekhususan bagi pasangan suami istri, karena hal ini dapat menunjukkan bahwa masing-masing menjadi orang yang istimewa bagi pasangannya. Bahkan dampak positif lain yaitu dapat menunjukkan kepada anak-anak bahwa kedua orang tua mereka saling mencintai dan menyayangi, sehingga anak-anak pun akan tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang penuh cinta dan kasih sayang.

Ada juga sebagian orang berpendapat, bahwa panggilan kesayangan itu sesuatu yang tidak perlu dilakukan oleh pasangan suami istri. Karena bagi mereka, panggilan-panggilan kesayangan itu hanya cocok ketika mereka sedang berkasih sayang dan dalam suasana mesra, sehingga ketika mereka sedang bertengkar atau berselisih menjadi sesuatu yang tak enak didengar. Padahal dengan membiasakan diri memanggil pasangan dengan panggilan kesayangan, akan terbangun kondisi berkasih sayang dan kemesraan secara terus menerus. Tentu inilah kondisi yang selalu diinginkan dan diharapkan oleh pasangan suami istri, selalu berada dalam kasih sayang dan kemesraan yang tak pernah habis masanya. Kebiasaan memanggil pasangan dengan panggilan kesayangan akan dapat menekan dan memperkecil munculnya kondisi pertengkaran dan perselisihan di antara suami istri, karena dalam pikiran keduanya selalu tertanam rasa sayang dan cinta terhadap pasangan.

Jadi apa panggilan kesayangan untuk pasanganmu?

 

Setiabudi, 29 Agustus 2017

Sumber bacaan :

http://www.kompasiana.com/gunsri2003/panggilan-sayang-pada-istri-perlukah_55008e32a333115b745110d9