HomeRuang KeluargaART Idaman, ART Kesayangan
Ilustrasi: pixabay.com

ART Idaman, ART Kesayangan

Ruang Keluarga 0 0 likes 360 views share

Oleh: Musyarofah*

“Aku mau ikut mbak… Aku mau ikut mbak….” begitulah teriakan Nisa, balita samping rumahku setiap kali Mbak Siti, pembantu di rumahnya akan pulang kampung. Dia tetap menangis dan berteriak ingin ikut Mbak Siti, meski orang tuanya selalu menjanjikan banyak hal untuk menenangkannya. Tampak kesedihan di raut wajah Bu Eko, ibunda Nisa. “Saya sedih Jeng, kalau saya yang pergi Nisa tenang-tenang saja.” curhat bu Eko sehari setelah kejadian itu.

Pernahkah hal tersebut terjadi dengan kita? Anak kita lebih memilih ikut pengasuhnya daripada bersama kita, ibu yang telah melahirkannya. Jika kita benar-benar mengalaminya, tentu kita pun akan merasakan kesedihan yang sama dengan Bu Eko. Tapi, Kalau ART kita seorang perempuan salihah yang selalu berusaha menjaga kemuliaan akhlaknya, tentu kita akan  merasa lebih nyaman melepaskan buah hati kita bersamanya.

Tidak setiap ibu bisa menyelesaikan pekerjaan rumah tangganya sendiri, terutama bagi ibu yang memutuskan untuk bekerja di luar rumah. Mengangkat pembantu atau Asisten Rumah Tangga(ART), menjadi salah satu solusinya agar saat dia bekerja, ada orang yang menggantikan posisinya di rumah untuk membereskan urusan domestik. Namun yang menimbulkan dilema adalah, tidak mudah menemukan sosok ART ideal sebagaimana yang kita harapkan. Apalagi di era sekarang, ketika peluang pekerjaan lain terbuka lebar, tentu bukan sesuatu hal yang menarik lagi bekerja sebagai ART. Karena benar-benar membutuhkan, kadang ada yang rela menjemput calon ART di desa nun jauh di sana dan memenuhi request gaji yang diminta.

Tentu kita menyadari sepenuhnya bahwa ART mempunyai peran yang cukup penting dengan job apa pun yang kita berikan. Apalagi ketika tugas utamanya adalah menggantikan peran kita untuk  mendampingi anak-anak selama kita berada di luar rumah. Selain memenuhi kebutuhan fisik, tentu yang harus menjadi perhatian kita adalah dia akan menjadi bagian dari serangkaian proses pembelajaran untuk membentuk  karakter anak-anak kita di masa mendatang. Krusial sekali bukan, peran ART kita. Akhirnya banyak ibu yang galau, di satu sisi sangat membutuhkan ART, di sisi lain merasa khawatir jika ART yang dimiliki tidak seperti yang diharapkan.

Sebenarnya, kita tidak perlu merasa khawatir secara berlebihan. Tidak ada manusia yang sempurna, maka kita pun tentu tidak akan pernah menemukan ART yang sama sekali tidak mempunyai kekurangan. Satu hal yang dapat kita lakukan adalah berikhtiar dengan maksimal agar kita dapat menemukan orang baik, dan kebaikannya akan semakin bertambah saat berpartner kerja dengan kita .

Nah, di bawah ini adalah tips-tips yang dapat kita lakukan agar ART kita menjadi ART idaman, yang dapat kita percaya.

  1. Mencari referensi dari orang yang dapat dipercaya
    Siapakah itu? Bisa tetangga, saudara, rekan kerja, teman pengajian dan lain-lain. Dari mereka tentu kita akan mendapatkan informasi yang valid dan obyektif mengenai profil calon ART kita, tidak ada fakta yang ditutupi dan disembunyikan. Baik dari sisi asal usul, pendidikan, karakter, kompetensi yang dimiliki, dan lain-lain. Hal ini sangat penting, sebagai bahan pertimbangan dan referensi untuk menentukan jadi atau tidak kita mengambilnya sebagai ART.
  1. Usahakan menjemput calon ART langsung di rumahnya
    Meskipun mungkin daerah asalnya sangat jauh, butuh berjam-jam untuk sampai rumahnya. Tentu ini menjadi kesempatan kita untuk mengenal orangtuanya, mengetahui latar belakang keluarganya, dan mengetahui kondisi kampung di mana selama ini ia tinggal. Selain mendapatkan keberkahan silaturahmi, tentu kita ingin mengawali kerja sama ini dengan menjalin hubungan baik. Kesempatan ini juga bisa kita gunakan untuk sharing dengan orang tuanya, agar nantinya kita bisa memberikan support kepada ART kita untuk memenuhi harapan orangtuanya.
  1. Membangun komunikasi, samakan persepsi
    Menjadi hal yang sangat penting, berkomunikasi dengan ART untuk menyamakan persepsi dan frekuensi di awal dia bekerja. Tidak usah terlalu formal, mengalir saja. Mungkin bisa kita lakukan di dapur, sambil masak. Atau saat santai waktu istirahat. Kita bangun komunikasi dua arah, agar dia pun berani mengungkapkan pendapatnya. Jika persepsi sudah sama, tentu antara kita dan ART akan dapat bersinergi dengan baik, untuk mewujudkan tujuan-tujuan yang hendak kita capai. Termasuk membantu mengondisikan anak-anak kita agar selalu dekat dengan nilai-nilai agama.
  1. Berikan kesempatan belajar
    Kita tentu sangat mengapresiasi seorang TKW yang ketika pulang kembali ke tanah air tidak hanya membawa sejumlah uang tapi juga membawa gelar kesarjanaan, berkat kesempatan belajar yang diberikan oleh orang yang mempekerjakannya. Tentu ini inspirasi yang sangat luar biasa. Ingat, ART adalah partner kerja. Kebaikan dan kualitas pekerjaannya akan sangat menentukan kebaikan hidup keluarga kita. Maka kita harus mengupayakan agar dari hari ke hari, wawasan dan keterampilan ART kita semakin meningkat. Baik wawasan keagamaan, maupun yang terkait dengan tugas pokoknya. Kita ikutkan taklim rutin, tahsin Alquran, kursus-kursus keterampilan, kejar paket (jika masih belum lulus SMP atau SMA) dan sebagainya. Ini sebagai bentuk support kita, agar bisa melaksanakan kewajiban-kewajibannya dengan benar, terutama kewajibannya sebagai seorang muslim. Bersama kita semoga dia tumbuh menjadi wanita salihah, sehingga  bisa memberi teladan kebaikan bagi anak-anak kita. Ilmu yang dimilikinya tentu juga akan sangat berguna ketika suatu saat nanti kita memberinya kepercayaan untuk ikut mendampingi tumbuh kembang anak-anak kita.
  1. Kondisikan anak-anak untuk mandiri
    Tanamkan kepada anak-anak bahwa ketika ada ART, tidak lantas semua dilayani. Latih anak-anak untuk memenuhi kebutuhannya sendiri atau menyelesaikan sendiri sebuah pekerjaan sekiranya mereka mampu. Misalnya mengambil minum, mencuci sepatu, mencuci piring setelah makan, dan lain-lain. Ajarkan kepada mereka untuk bersikap sopan dan hormat, serta membiasakan mengucap kata maaf, tolong dan terima kasih. Kondisi ini tentu akan membuat ART merasa senang dan  nyaman dalam bekerja. Dia pun menyayangi anak-anak kita seperti keluarganya sendiri. Sehingga tidak akan pernah ada cerita seorang ART menyakiti atau menganiaya anak majikannya karena telah diperlakukan semena-mena.
  1. Hantarkan ke dalam barisan dakwah
    ART adalah bagian dari sasaran dakwah kita. Alangkah bahagianya jika kemudian dia pun mencintai dakwah dan mau berpartisipasi dalam aktivitas kebaikan yang kita lakukan. Menjadi inspirasi ART lain dalam hal menutup aurat, memberikan teladan cara bergaul dengan lawan jenis,  memobilisasi para ART untuk ikut taklim rutin dan lain-lain. Dan ketika pulang ke kampung dia menjadi pionir dakwah di kampong halamannya. MasyaAllah, indah sekali membayangkannya. Bukan sesuatu hal yang mustahil untuk kita wujudkan, jika kita mampu menjadi orang tua, guru dan sahabat bagi dirinya.

Bagaimana? Mempunyai ART salihah tentu menjadi dambaan semua orang. Jika kita berhasil mewujudkannya, akan menjadi investasi akhirat yang luar biasa. Proses menuju ke sana pasti tidak mudah. Kesabaran kita akan banyak diuji, kadang baper, selain tentu saja kita harus mengeluarkan dana lebih. ART idaman, ART kesayangan. Semoga kelak ia akan memanggil nama kita, ketika tak dijumpainya kita di surga bersamanya. Aamin.

*Penulis adalah peserta Wonderful Writing Class yang diampu oleh Ust. Cahyadi Takariawan dan tim.