HomeParentingAsisten Rumah Tangga Bukan Pengganti Orang Tua
pexels-photo-207653

Asisten Rumah Tangga Bukan Pengganti Orang Tua

Parenting 0 0 likes 233 views share

Oleh: Khairunisa Maslichul*

Asisten rumah tangga (ART) mutlak diperlukan kehadirannya bagi keluarga muda yang suami-istri keduanya bekerja. Tanpa ART, urusan kerjaan bisa berantakan karena ibu bekerja akan tak fokus di kantor karena konsentrasinya terpecah antara rumah dan pekerjaan. Kehadiran ART bisa dibilang adalah penyelamat dan penolong bagi para ibu bekerja, terutama yang masih memiliki anak bayi dan balita. Hal ini disebabkan cuti hamil dan melahirkan di Indonesia paling lama hanya berlangsung sekitar 3 bulan.

Jenis pekerjaan ART biasanya terbagi secara garis besar menjadi 3 bagian. Pertama, hanya mengurusi pekerjaan rumah tangga tanpa mengasuh anak. Kedua, sebaliknya ART hanya mengasuh anak atau lebih dikenal sebagai nanny. Ketiga, ada pula ART yang merangkap sebagai nanny alias menyelesaikan pekerjaan domestik rumah tangga sekaligus mengasuh anak di dalam satu keluarga.

Mayoritas ART di Indonesia adalah multifungsi atau ART plus pengasuh anak. Ini khususnya jika pasangan suami-isteri tidak memiliki dana lebih untuk memperkerjakan dua orang ART dalam satu waktu. Ada kalanya, untuk meringankan beban ART plus nanny, cucian dalam satu keluarga dibersihkan dan diseterika dengan memakai jasa laundry yang banyak tersedia di sekitar komplek perumahan.

Tentu saja, sejak awal memutuskan untuk tetap bekerja di luar rumah setelah menikah dan memiliki buah hati, seorang wanita sudah tahu betul bahwa pengasuhan anak akan sulit dilakukan sepenuhnya oleh dirinya sepanjang hari kerja. Konsekuensinya, anak-anak akan lebih banyak menghabiskan waktunya bersama sang ART/nanny selama ibu sedang sibuk berada di kantor.

Namun, bukan berarti selama ibu tidak dapat mendampingi buah hatinya, ART/nanny-lah yang lantas menjadi ‘pengganti’ orang tua. Ini umumnya terjadi saat anak-anak sudah memasuki masa sekolah. Urusan antar-jemput sekolah anak akan lebih sering dilakukan ART/nanny karena ibu sudah harus berangkat ke maupun masih berada di kantor dari pagi hingga sore ketika jam sekolah berlangsung.

Cara menyiasatinya adalah dengan mengantar-jemput anak sekolah di hari Sabtu. Pekerja kantoran mayoritas bekerja dari Senin hingga Jum’at. Selain itu, tak kalah pentingnya adalah selalu meluangkan waktu untuk mengambil raport anak di sekolah setiap semesternya. Atasan di kantor pasti bisa memaklumi saat stafnya izin sebentar di hari kerja untuk pergi ke sekolah anak mereka.

Para guru pasti akan kesulitan untuk menyampaikan laporan perkembangan dan kemajuan seorang siswa persemesternya jikalau yang datang ke sekolah saat pengambilan raport adalah sang ART. Berbeda halnya jika yang datang adalah orang tua atau wali murid langsung, maka para guru dapat lebih leluasa untuk menjelaskan baik prestasi maupun kesulitan belajar yang dihadapi oleh siswa selama kegiatan belajar-mengajar berlangsung di sekolah.

Cara lainnya agar ART tak lantas berperan sebagai ‘orang tua kedua’ adalah dengan rutin memantau kegiatan sang buah hati selama hari kerja. Misalnya dengan memastikan buah hati pulang sekolah tepat waktu lalu mengikuti kegiatan ekstra kurikuler (eskul) atau les dan bimbingan belajar (bimbel) seusai sekolah. Saat buah hati memiliki minat dan hobi selain bidang akademik, misalnya olahraga atau kesenian, pastikan orang tua dapat menghadiri ketika anak sedang mengikuti pertandingan olahraga maupun melakukan pentas seni. Kehadiran orang tua di acara dan kegiatan tersebut pastinya membuat anak bahagia dan semakin bersemangat.

Sejatinya, tugas ART adalah membantu kelancaran, bukannya malah menggantikan peran orang tua. Bagi seorang anak, peran dan kehadiran orang tuanya sangatlah penting untuk membimbing dan mendukung masa tumbuh-kembangnya, terutama periode masa golden age (usia anak 0 – 6 tahun). Di enam tahun pertama kehidupan seorang manusia itulah, waktunya jauh lebih banyak dihabiskan dalam rumah dan bersama keluarga, bukan bersama teman di sekolahnya. Yuk, luangkan waktu sesering mungkin bersama ananda tercinta agar keharmonisan keluarga semakin terasa.

*Penulis adalah seorang dosen dan juga blogger yang aktif dalam aktivitas kerelawanan. Anda dapat berbincang melalui blog http://www.kompasiana.com/nisasan atau melalui akun twitter: @genogramklinis