HomePernikahanBagaimana Aku Bisa Menduakannya?
ilustrasi : www.pinterest.com

Bagaimana Aku Bisa Menduakannya?

Pernikahan 0 2 likes 555 views share

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

Untuk mengetahui tips melelehkan hati suami, izinkan saya memulai dengan berkisah tentang seorang lelaki salih. Dari cerita lelaki salih ini, saya banyak belajar tentang ketulusan pelayanan seorang istri yang mampu menaklukkan hati suami.

Mari simak baik-baik penuturan lelaki salih ini:

“Bagaimana aku bisa menduakannya. Ia istri yang sangat berbakti dan setia kepada suami. Ia selalu memasak dan menyiapkan makanan untukku. Selalu ada masakan kesukaanku tiap aku pulang ke rumah. Aku mengatakan, ia tidak harus menghabiskan waktu untuk memasak sendiri. Di lingkungan pesantren, ada kantin yang menyediakan keperluan makan sehari-hari. Namun ia selalu memasak sendiri. Ia menyiapkannya dengan penuh cinta di hati.

Ia selalu menemaniku makan. Walau kadang ia sudah makan duluan, namun ia selalu menemaniku di meja makan sambil menanyakan keperluanku. Ia siapkan piring untukku. Ia ambikan nasi untukku. Tak jemu ia menemaniku walau sekedar duduk diam di sampingku. Ia melakukannya dengan penuh cinta.

Bagaimana aku bisa menduakannya. Ia istri yang sangat berbakti dan setia kepada suami. Ia selalu mencuci dan menyeterika sendiri pakaianku. Ia tidak ingin pakaianku dicuci orang lain. Ia melakukannya dengan penuh cinta. Padahal aku selalu mengatakan, pakaian kotorku dibawa ke jasa laundry saja. Namun ia tetap mencuci sendiri dengan tangan halusnya.

Ia menata pakaianku di almari dengan rapi dan wangi. Saat pagi, ia siapkan pakaian kerjaku menjelang aku berangkat mandi. Saat malam, ia siapkan pakaian tidurku. Ia memperlakukanku seperti anak kecil yang sangat dimanja. Aku tidak pernah meminta ia melakukan ini semua. Ia melakukannya dengan penuh cinta.

Bagaimana aku bisa menduakannya. Ia istri yang sangat berbakti dan setia kepada suami. Wangi, itu kesanku yang mendalam terhadapnya. Pakaianku selalu bersih dan wangi. Kamar tidurku selalu rapi dan wangi. Kamar mandiku selalu bersih dan wangi. Walau di saat kami tengah punya bayi kecil, ia tidak membiarkan kamar tidurku bau ompol bayi. Ia sigap membersihkan kotoran bayi agar tidak merusak bau kamar tidur dan kamar mandi yang wangi.

Aku mengatakan, ia tidak perlu berlaku seperti itu, karena aku tidak mempersoalkan bau pipis bayi kami, Namun ia mengatakan, “aku malu kalau kamar kita tidak wangi”. Ia melakukan itu semua dengan penuh cinta di hati.

Bagaimana aku bisa menduakannya. Ia istri yang sangat berbakti dan setia kepada suami. Aku tidak menyuruh ia melakukan itu semua untukku. Ia melakukannya dengan penuh cinta. Di rumah kami ada pembantu. Cukup untuk menyelesaikan semua pekerjaan rumah tangga itu. Namun untuk hal yang terkait denganku, ia tidak mau diurus pembantu.

Bagaimana aku bisa menduakannya. Ia istri yang sangat berbakti dan setia kepada suami. Ia melakukan semua hal untuk memanjakan aku. Ia melakukannya dengan penuh cinta. Selama ia masih hidup, aku tidak akan menduakannya. Bukankah Nabi Saw juga tidak menduakan Khadijah di masa hidupnya. Nabi menikah lagi dengan beberapa istri setelah Khadijah tiada”.