HomePernikahanBahagianya Memimpin Keluarga
6d58e4f226ce6889c989472627e8a3d9

Bahagianya Memimpin Keluarga

Pernikahan 0 2 likes 1.3K views share

BAHAGIANYA MEMIMPIN KELUARGA

 

Oleh : Ummu Rochimah

 

Kehidupan rumah tangga adalah sebuah miniatur tatanan bermasyarakat. Ada nilai syariah yang harus ditegakkan di sana, dan ada pula nilai-nilai etika yang harus ditampakkan. Dalam sudut pandang agama dan negara,  dikatakan sebagai suami istri bila keduanya telah melaksanakan akad nikah, dalam bahasa negara telah tercatat oleh petugas pencatat pernikahan dan mendapatkan buku nikah. Tanpa adanya akad nikah, sedekat dan seintim apapun hubungan dua orang manusia, laki-laki dan perempuan tidak dapat dikatakan sebagai suami istri.

Apa yang terjadi setelah ijab kabul?

Saat ijab kabul dilantunkan seketika itu terjadi perpindahan perwalian dari ayah sang perempuan kepada laki-laki yang akan menjadi suaminya kelak. Sejak itu segala hal mengenai kehidupan seorang perempuan di masa mendatang adalah menjadi tanggung jawab suaminya.  Allah berfirman: “Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS. An Nisa:34)

Dari ayat diatas dengan jelas disebutkan dua hal pokok yang ditujukan kepada kaum laki-laki, yaitu kepemimpinan dalam keluarga dan menafkahi keluarga.

 

Kepemimpinan dalam Keluarga

Karena seorang laki-laki telah Allah anugerahkan kelebihan di atas kaum perempuan, maka ia layak untuk menjadi pemimpin bagi keluarganya. Kepemimpinan suami atas keluarga bermakna adanya kemampuan seorang laki-laki untuk bisa menentukan arah perjalanan kehidupan berumah tangga, ia harus mampu meletakkan dasar-dasar berkeluarga bagi semua yang dipimpinnya. Ia harus mampu memperlihatkan kecakapannya dalam menghadapi gelombang-gelombang rumah tangganya dengan cara-cara yang arif dan bijaksana.

Menjadi pemimpin keluarga bagi seorang laki-laki bermakna bahwa ia harus melindungi serta memastikan keselamatan dan keamanan bagi istri dan anak-anaknya, dan ia juga harus memberikan nafkah kepada mereka. Sehingga akan sangat zholim jika ada seorang laki-laki yang telah mengambil seorang perempuan untuk menjadi istrinya, kemudian ia memperlakukannya sangat jauh dari perlakuan ayahnya. Ia tidak memberikan nafkah lahir sebagaimana dulu ayahnya telah memberikannya. Ia memperlakukannya dengan sewenang-wenang seolah-olah istrinya adalah seorang pembantu yang harus selalu siap melayani segala keinginannya tanpa ia peduli apakah istrinya letih fisik dan jiwanya.

Kepemimpinan dalam rumah tangga adalah struktur tempat musyawarah saling berkompromi. Karena musyawarah adalah akhlak seorang muslim dalam setiap urusan hidupnya. Sebagaimana firman Allah, “Sedang urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka.” (QS. Syura:38)

Dari sikap musyawarah ini tidak akan ada sosok otoriter dan arogan dalam keluarga. Setiap keputusan yang menyangkut hajat kehidupan berumah tangga selalu dimusyawarahkan, sehingga dalam menjalani keputusan semua pihak melakukannya dengan suka hati.

Kemudian, kepemimpinan juga merupakan syar’iyyah (sebagai pembuat aturan) yang telah diatur oleh Allah dalam kaidah-kaidah berumah tangga. Salah satu kaidah dalam rumah tangga yaitu sebgaimana Allah katakan dalam Al Qur’an: “Dan para istri mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang makruf. (QS. AL Baqarah : 228).

Atau firman Allah dalam AL Quran, “..Dan bergaullah dengan mereka menurut cara yang patut. Jika kamu tidak menyuikai mereka, (maka bersabarlah)karena boleh jadi kamu tiak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya.” (QS An Nisa: 19).

Mempergauli dan memimpin istri harus dilakukan oleh suami dengan cara yang makruf, cara yang baik, cara yang sesuai dengan tabiat dan sifat dari seorang istri, bukan dengan cara sesuka suami.

Kepemimpinan suami dalam rumah tangganya adalah dalam bentuk wuddiyah, yaitu berdiri di atas dasar cinta dan kasih sayang. Pemimpin keluarga adalah sosok yang dipenuhi dengan perasaan cinta dan sayang terhadap semua yang dipimpinnya. Hakikat memimpin itu adalah melayani yang terbaik, sehingga semua pihak merasa senang. Ada pepatah yang mengatakan, “pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka.” Memimpin tidak sama dengan memerintah, mendominasi, atau menguasai. Memimpin adalah mengarahkan, melayani, memberi, menyantuni, membersamai, memahami dan mengembangkan semua potensi kebaikan yang dimiliki pihak yang dipimpin dalam hal ini istri dan anak-anaknya.

Pemimpin keluarga bukan menjadi penyebab dari kesedihan dan luka-luka batin dari orang-orang yang dipimpinnya. Ia harus mampu menjadi matahari yang memberikan kehangatan bagi istri dan anak-anaknya. Ia tidak boleh menjadikan rumah hanya sebagai tempat istirahatnya belaka, karena semua anggota keluarga berhak mendapatkan sisi terbaik yang ia miliki.

Pemimpin keluarga harus mempunyai ketrampilan dalam memimpin yang dapat membuat semua pihak yang dipimpinnya merasa senang, tenang, bahagia, leluasa dan teroptimalkan potensinya. Sehingga tidak akan ada pemimpin yang egois, arogan, sewenang-wenang, otoritere dan tidak peka terhadap kebutuhan dan keinginan istri dan anak-anak.

Kepemimpinan yang dilandaskan pada rasa cinta dan sayang akan melahirkan sikap tanggung jawab untuk mengarahkan keluarganya kepada tujuan-tujuan mulia hidup berumah tangga tanpa kekerasan atau kekakuan sikap . Ia akan lebih mengedepankan keterbukaan dan musyawarah agar semua potensi kebaikan yang dimiliki semua anggota keluarga menjadi lebih teroptimalisasikan. Semua anggota keluarga merasa nyaman dan tenang dalam menyampaikan pendapat dan keinginannya.

Menafkahi Keluarga

Mengenai hal ini, dasarnya adalah bahwa seorang suami mempunyai keluangan waktu untuk mencari nafkah. Sementara seorang istri memiliki kesulitan utnuk melakukan hal ini karena fitrahnya seorang istri adalah mengandung, melahirkan anak serta mengasuh dan membesarkannya. Istri juga umumnya mengurus rumah tangganya.  Inilah yang secara umum berlaku pada seorang istri yang membuatnya mengalami kesulitan mencari nafkah untuk menghidupi dirinya.

Rasulullah saw bersabda: “ …Para istri memiliki hak atas kalian (para suami) untuk dipenuhi rezekinya dan kebutuhan sandangnya dengan cara yang makruf.” (HR. Muslim)

Menafkahi keluarga adalah menjadi salah satu bentuk tanggung jawab seroang suami kepada istri dan anak-anaknya. Suami harus dapat menjamin kebutuhan istrinya minimal sama seperti yang telah istrinya dapatkan dari orang tuanya dahulu. Dan akan menjadi lebih baik jika ia dapat melampaui pemberian orang tua istrinya dahulu.

Segala kebutuhan ekonomi yang muncul sebagai akibat terjadinya pernikahan, sepenuhnya menjadi tanggung jawab suami untuk memenuhinya. Oleh karena itu, suami yang tidak mau bekerja mencari nafkah shingga ia tidak bisa memenuhi kebutuhan istri dan anak-anaknya, maka ia telah menodai makna cinta dalam keluarga. Suami harus berusahan semaksimal mungkin untuk memenuhi kewajibannya dalam mencari rezeki di atas muka bumi. Allah telah hamparkan begitu luas bumi sebagai sumber rezeki bagi manusia. Tidak ada alasan bagi seorang suami untuk menolak atau untuk mencari rezeki guna memenuhi nafkah keluarganya.

Yang diharapkan dari suami dalam memenuhi kebutuhan nafkah istrinya adalah perasaan tanggung jawab terhadap kelangsungan hidup istri dan anak-anak yang ada dalam keluarganya. Adanya keinginan yang kuat dalam diri suami untuk mencari rezeki sebagai wujud rasa cinta dan sayang kepada orang-orang yang berada di bawah tanggungannya.

Dalam kehidupan masa kini, yang banyak dijumpai adanya istri yang ikut bekerja di luar rumah mencari nafkah. Ini tidak lah mengandung arti, bahwa tanggung jawab menafkahi keluarga menjadi terbagi antara suami dengan istri. Suami tetaplah sebagai penanggung jawab utama terhadap terpenuhinya semua kebutuhan anggota keluarga. Kebutuhan primer seperti sandang, pangan dan papan harus sepenuhnya berasal dari suami. Adapun penghasilan yang diperoleh istri dalam bekerja itu adalah sepenuhnya hak istri. Ia boleh menggunakannya untuk bersedekah atau untuk dirinya sendiri. Tidak ada keharusan bagi seorang istri memberikan penghasilannya kepada suami untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Namun Rasulullah mengajarkan kepada umatnya untuk mendahulukan keluarga dalam mengalokasikan harta yang diperolehnya. Sebagaimana sabda Rasulullah, “Apabila Allah memberikan kebaikan kepada salah seorang di antara kalian, hendaklah ia memulainya dari dirinya dan keluarganya (dalam pengalokasiannya).” (HR. Muslim)

Hadits ini berkaitan dengan peristiwa penjualan pohon kurma milik Bani Nadhir. Dari Ibnu Umar ra : “Nabi saw pernah menjual pohon kurma milik Bani Nadhir dan menahan makanan untuk penduduknya yang dipisahkan dari uang hasil penjualannya, kemudian mengambil sisanya dan mengalokasikannya sebagai harta Allah.” (HR. Bukhari)

Menafkahi keluarga sepenuhnya merupakan tanggung jawab seorang suami atau ayah kepada istri atau anak-anaknya yang tidak dapat hilang hanya karena istrinya memiliki penghasilan sendiri. Seorang suami tidak dapat dikatakan sebagai suami yang bertanggung jawab jika ia melimpahkan kewajban memenuhi kebutuhan keluarga kepada istrinya yang berpenghasilan. Apapun alasan yang dikemukannya, tetaplah ia menjadi suami yang tidak bertanggung jawab.