HomePernikahanBahaya Istri Yang Terlalu Mandiri
work

Bahaya Istri Yang Terlalu Mandiri

Pernikahan 0 1 likes 15.2K views share

Suami dan istri itu bersifat “saling”. Mereka menjadi utuh karena keduanya bersatu dalam ikatan cinta. Mereka berdua saling terikat satu sama lain, saling memerlukan satu sama lain, dan bahkan dalam beberapa sisi harus merasa saling tergantung satu sama lain. Maka ketika ada suami yang terlalu mandiri, semuanya diselesaikan sendiri, lalu apa fungsi istri? Demikian pula ketika ada istri yang terlalu mandiri, semuanya diselesaikan sendiri, lalu apa fungsi suami?

Semandiri apapun para istri, sisihkan ruang dalam diri anda untuk tergantung kepada suami. Sehebat apapun diri para istri, sisihkan ruang kemanjaan dalam diri anda untuk dipenuhi oleh suami. Para istri tidak boleh berprinsip “aku bisa mengerjakan semuanya sendiri”, walaupun kenyataannya anda memang bisa. Batasi kemandirian anda. Karena hal ini akan membuat anda berada pada posisi saling asing dengan suami. Ketika suasana saling asing, tidak merasa saling memerlukan, tidak merasa saling tergantung sudah mulai muncul antara suami dan istri, mereka akan
semakin menjauh satun dengan yang lain.

Yang dimaksud mandiri bukannya merasa tidak memerlukan suami. Bukan merasa lebih hebat dari suami sehingga anda meremehkan dan melecehkannya. Walaupun kenyataannya anda memang hebat. Berbeda antara hebat dengan merasa hebat. Walaupun anda memang hebat, jika selalu merasa hebat dan selalu merasa lebih hebat dari suami, justru akan memunculkan jarak yang memisahkan hubungan dengan suami. Apa gunanya kehebatan anda jika justru membuat tidak bahagia dalam kehidupan keluarga?

Apalagi kehidupan suami istri itu bukan untuk bertanding dan bersaing dalam soal kehebatan atau kelebihan. Jika memang istri hebat, mestinya bisa mengormati suami. Walaupun karier istri lebih hebat dari suami, penghasilan istri lebih banyak dari suami, jabatan istri lebih tinggi dari suami, posisi istri lebih terkenal daripada suami, namun tidak berarti istri boleh bersikap arogan di hadapan suami. Bahkan suami yang memiliki banyak kekurangan dan kelemahan sekalipun, para istri tidak boleh menghina dan melecehkannya.

Suami istri itu harus merasa saling tergantung satu dengan yang lain. Karena justru dengan itulah mereka berdua bisa menikmati indahnya kebersamaan. Bukan bersaing, bukan bermusuhan, bukan rival, bukan bertanding. Namun saling membantu, saling memberi, saling tergantung, dan saling melengkapi. Alangkah indahnya kebersamaan dalam cinta dan kasih sayang.

Hormati dan Muliakan Posisi Suami

Dalam kehidupan berumah tangga, ada posisi yang jelas pada setiap anggotanya. Suami adalah pemimpin dalam keluarga, atau kepala keluarga. Sebagai pemimpin ia harus ditaati dan dipatuhi, selama tidak dalam konteks maksiat atau kejahatan dan pelanggaran. Kepemimpinan suami adalah kepemimpinan cinta, kasih dan sayang. Kepemimpinan dalam bingkai sakinah, mawadah wa rahmah.

Kendati ada posisi yang berbeda antara suami sebagai kepala keluarga dengan istri sebagai pengelola kerumahtanggaan, namun mereka adalah mitra yang saling membutuhkan, saling menguatkan, saling tergantung satu dengan yang lainnya. Kendati ada hirarki karena suami sebagai pemimpin, namun suami tidak boleh sewenang-wenang terhadap istri. Suami harus bersikap lembut, bijak dan santun terhadap istri. Karena posisi seperti inilah, suami layak dihormati dan dimuliakan.

Relasi antara suami dan istri, antara yang memimpin dengan landasan cinta dan yang patuh dengan landasan cinta pula, menempatkan mereka berdua dalam hirarki cinta. Ada yang memiliki otoritas kepemimpinan dan ada yang memiliki kepatuhan, semuanya dalam bingkai cinta kasih. Bukan kesewenangan, bukan kezaliman, bukan kediktatoran. Dalam relasi seperti ini, terdapat kejelasan manajemen dalam keluarga, yang membuat semua pihak merasa nyaman dan bahagia.

Pasangan yang kedua pihaknya memiliki sikap keras dan kepribadian yang keras cenderung menghasilkan jumlah anak yang sedikit. Para peneliti juga menemukan, di dalam hubungan yang menjunjung tinggi kesetaraan, konflik kecil pun bisa meningkat dan menjadi besar akibat ada kompetisi yang tidak disadari. Akhirnya keluarga yang mengagungkan kesetaraan justru lebih mudah dilanda konflik dan ketegangan, dan sulit mencapai kebahagiaan.

Bahaya Istri Terlalu Mandiri

Istri yang terlalu mandiri, bisa memicu munculnya perselingkuhan. Sebuah survei yang dilakukan oleh General Social Survei dari National Opinion Research menemukan data yang mengejutkan. Ternyata, sekarang ini jumlah istri yang berselingkuh meningkat pesat, sedangkan jumlah suami yang melakukan perselingkuhan terbilang stabil. Peningkatan jumlah istri yang berselingkuh sebanyak 15 % menjadi 30 %, sedangkan jumlah suami yang selingkuh tercatat masih konsisten pada kisaran angka 21 %.

Menurut Patricia Johnson dan Mark Michaels, pakar hubungan dan pernikahan, hal ini disebabkan oleh karena kemampuan kaum perempuan dalam menopang hidup secara finansial yang semakin meningkat. Kondisi ini membuat kaum perempuan merasa mandiri dan tidak memerlukan peran laki-laki untuk mencukupi kebutuhan nafkah mereka. Penghasilan kaum perempuan yang mengalami peningkatan pesat dibandingkan 20 tahun yang lalu ini, membuat mereka merasa lebih mandiri dan tidak bergantung pada suami. Situasi seperti ini membuat mereka tidak terlalu mengkhawatirkan perceraian.

Menurut Michael Mary, peneliti asal Jerman dan penulis buku “Die Glucksluege”,meningkatnya jumlah perempuan yang berselingkuh disebabkan oleh perubahan motivasi mereka untuk menikah. Dulu perempuan menikah karena ingin mendapatkan jaminan finansial. Kini, ketika mereka punya peluang berkarier lebih besar, mereka dapat memenuhi sendiri kebutuhan hidup, termasuk dalam kebutuhan finansial. Karenanya bagi mereka, perkawinan lebih dilandasi oleh kemurnian perasaan cinta terhadap pasangan, bukan karena pertimbangan eknomi atau finansial.

Pendapat Mary ini sejalan dengan hasil penelitian majalah perempuan Australia, bahwa perempuan karier yang punya penghasilan cukup umumnya menikah bukan demi status sosial atau jaminan finansial. Inilah yang menyebabkan kaum perempuan tidak khawatir dengan perceraian karena mereka merasa bisa hidup mandiri tanpa tergantung kepada suami. Mereka menjadi istri yang terlalu mandiri, merasa tidak tergantung dengan suami. Mereka merasa bebas menentukan langkah hidupnya sendiri tanpa harus mendialogkan dengan suami.

Mandiri itu baik, tetapi terlalu mandiri justru menjadi masalah tersendiri. Maka, selalu sediakan ruang dalam diri anda untuk tergantung kepada pasangan, agar ia mengisinya.