HomePernikahanBiarkan Perahu Cinta itu Terus Berlayar
20180329_HH1841_0001

Biarkan Perahu Cinta itu Terus Berlayar

Pernikahan 0 2 likes 1.2K views share

BIARKAN PERAHU CINTA ITU TERUS BERLAYAR

 

Oleh : Ummu Rochimah

 

Dua orang sahabat Dessy dan Zara terlibat dalam suatu percakapan seperti berikut,

 

Dessy : “Sepertinya kamu sedang ada masalah?”

Zara : “Hmm… begitulah kira-kira (sambil menarik napas dalam-dalam)

Dessy : “Pasti rumah tanggamu sedang dapat ujian.”

Zara : “Bukan ujian, tapi badai yang tak kunjung reda.”

Dessy : “Apa suami mu sering marah-marah?!”

Zara :”Iya, padahal saya tuh ngga bisa dan ngga biasa mendengar suara keras, tapi dia ngga paham itu, jadi beginilah.”

Dessy : “Coba yuk beri nilai suamimu.”

Zara : “Hhhh..!!”

Dessy : “Tentang kehangatan kepada keluarga, kamu beri nilai berapa suamimu?”

Zara : “Nol..!!”

Dessy : “Tentang kesabaran suami, berapa nilainya?”

Zara : “Nol!”

Dessy : “Tentang kejujuran, berapa nilai suamimu?”

Zara : “Nol!!!”

Dessy : “Lhaa..??!! Kok nilai nya nol semua?! Terakhir, bagaimana ibadah suami, berapa kamu beri nilai?”

Zara : “Hmm… 80 deh, tapi apa gunanya baik sama Allah tapi kurang baik sama istri?!”

Dessy : “Sepertinya suami tak ada nilainya di matamu? Lalu untuk apa rumah tangga dipertahankan?!”

Zara :”Iya, saya bertahan hanya karena ada anak-anak. Seandainya tidak memikirkan anak, rasanya ingin saya lepas saja semuanya.”

Dessy : “Lalu, apa rencanamu?”

Zara : “Aku ngga tahu, bingung! Mau cerai…kasihan anak-anak. Tapi seperti ini terus…sepertinya kok ya makan hati, bisa kurus kering saya!”

 

Begitulah tabiat rumah tangga, tak ada yang berjalan mulus sempurna. Walau persiapan dan bekal untuk berlayar mengarungi kehidupan rumah tangga sudah dilakukan. Namun ternyata di lautan angin tak selalu bertiup dengan lembut dan halus menerpa jiwa. Membangun kemesraan dan keharmonisan kehidupan suami istri.

 

Perahu Cinta itu Ingin Tetap Berlayar

Ada kalanya angin bertiup dengan sangat kencang dan kuat, hingga membuat gelombang ombak yang tinggi menerpa. Bahtera rumah tangga pun terhempas ke sana kemari, oleng ke kanan dan ke kiri tak menentu arah.

Saat itulah, watak asli suami dan istri akan nampak. Apakah mereka termasuk orang-orang yang egois, berjiwa sempit, atau sedikit ilmu?

Bagi orang yang sedikit ilmunya, jiwanya akan berkata, “Padahal saya sudah rajin beribadah pada Allah, rajin sholat, rajin ngaji, tapi mengapa Allah memberi ujian seberat ini, sementara banyak di luar sana, mereka yang tidak beribadah kepada-Mu, tidak Kau beri ujian seberat ini?”

Atau bagi mereka yang berjiwa sempit, batinnya akan menggumam, “Menyesal saya menikah dengannya. Andai dulu saya memilih si Fulan, mungkin nasibku tidak seperti ini. Aku bisa…bla..bla..bla….bla…”

Sedangkan orang-orang yang egois, jiwanya berucap, “Kupikir batu itu sudah keras, ternyata ada yang lebih keras lagi yaitu kepala suami/istriku. Dia tak mau sama sekali mendengar nasihatku. Dia semau-maunya tak memperdulikan diriku!”

Ketika badai datang melanda rumah tangga, suami istri di atas geladak kapal dengan tubuh yang basah kuyup. Lalu mereka saling memandang, mendekat, berpelukan dengan erat, saling menautkan jari jemari satu sama lain. Hingga kemudian terjadilah dialog ini.

 

Suami : “Maafkan aku ya, kemarin-kemarin aku sangat kasar, mudah marah dan membuat hatimu terluka. Badai ini mungkin teguran dari Allah.”

Istri : “Iya Bang. Aku juga minta maaf, mungkin kemarin-kemarin aku terlalu manja, terlalu banyak menuntut, sampai membencimu.”

Suami : “Sudahlah, kita berdua hanya sepasang manusia yang masih belajar berumah tangga, bukan malaikat yang tak pernah salah. Kita harus lebih banyak lagi belajar sabar dan belajar syukur.”

Istri : “Tapi Bang, badai ini semakin kencang mengguncang perahu kita…”

Suami : “Iya, guncangannya sangat terasa. Mari kita berpegangan lebih erat lagi.”

 

Sambil terus merasakan guncangan dan gelombang yang menerpa perahu mereka, keduanya memutuskan untuk tetap bertahan di atas geladak, tidak melepaskan tautan jari jemari mereka. Tidak saling meninggalkan satu sama lainnya.

 

Istri : “Bang.. sepertinya badai ini bukannya menjauhkan kita, tapi….”

Suami : “Iya, badai ini semakin menyatukan hati dan jiwa kita. Menyatukan cinta kita.”

Istri : “Apa kita harus berterima kasih pada badai ini ya Bang?”

Suami : “Hehehe…”

 

Begitulah badai kehidupan rumah tangga. Tak ada satu rumah tangga pun yang akan luput dari terjangan badai yang mungkin bisa menghempaskan perahu cinta mereka.

Banyak pasangan suami istri membenci badai yang datang menerpa perahu cinta mereka. Namun, sejatinya mereka yang membenci badai itu hanya tidak mampu melihatnya dari sisi yang tepat. Ketika sisi pandang terhadap badai sudah tepat, justru mereka akan berterima kasih kepada badai tersebut. Karena dengan adanya badai tersebut, jalinan hati dan jiwa mereka akan semakin kuat dan kokoh.