HomePernikahanBisakah Pecinta Durian Menikah dengan Pembenci Durian?
www.pinterest.com

Bisakah Pecinta Durian Menikah dengan Pembenci Durian?

Pernikahan 0 2 likes 448 views share

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

 

Hidup berumah tangga itu memerlukan chemistry yang unik. Suami dan istri jelas-jelas dua pribadi, dua jiwa, dua karakter, dua selera yang berbeda. Namun mereka harus mampu meramu berbagai sisi perbedaan tersebut menjadi harmoni, agar pernikahan selalu berasa indah. Suami dan istri harus bersedia berkorban, demi kebahagiaan dan keharmonisan keluarga. Kadang harus mengorbankan keinginan, mengorbankan cita-cita, mengorbankan kebiasaan, mengorbankan kesukaan, jika hal-hal tersebut bisa mengganggu kebahagiaan dan keharmonisan pernikahan.

Penyatuan dan pengharmonisan itu harus terus menerus diupayakan, karena adanya hal-hal yang terkadang berbeda secara nyata. Bahkan untuk sesuatu yang tampak remeh dan sepele. Perhatikan dua kondisi yang sangat ekstrem berikut ini.

Kondisi 1

Seorang lelaki tidak suka durian, bahkan pusing kalau mencium bau durian. Ia sangat benci dengan durian. Namun calon istrinya sangat suka durian. Bahkan pusing kalau lama tidak makan dan mencium bau durian.

Kondisi 2

Seorang lelaki sangat suka durian, bahkan pusing kalau lama tidak ketemu durian. Tapi calon istrinya sangat benci durian, dan tidak mau walaupun sekedar mencium baunya.

Pertanyaan : bisakah mereka hidup bahagia jika menikah kelak?

Ini ulasan saya.

Ruang Jiwa untuk Berubah

Pada dasarnya, yang diperlukan oleh kedua belah pihak adalah kesediaan untuk berubah, berkorban, menyesuaikan diri dengan harapan pasangan, serta menerima pengaruh pasangan. Mungkin tidak akan bisa sesuai dan sama persis dengan harapan pasangan, namun paling tidak berusaha untuk semakin mendekatkan diri kepada harapan pasangan. Jika lelaki dan perempuan tersebut memiliki kesadaran untuk menyesuaikan diri dengan harapan pasangan, maka semua akan mudah dihadapi.

Setelah menikah, suami dan istri harus membuka diri seluas-luasnya untuk berubah bersama-sama. Mereka harus merelakan adanya intervensi dalam kehidupan baru bersama pasangan. Tidak bisa lagi bersikukuh mempertahankan ‘orisinalitas’ diri, tanpa mau berubah bersama pasangan. Inilah konsekuensi hidup berumah tangga. Tentu memerlukan sejumlah tenaga dan pengorbanan. Kadang nilai pengorbanan ini tidak kecil. Namun semua menjadi penting jika dikaitkan dengan kebahagiaan hidup berumah tangga yang diidamkan.

Coba perhatikan dan ingat-ingat. Pada saat resepsi pernikahan, pengantin baru banyak mendapatkan hadiah serta ucapan selamat dari para hadirin. Banyak orang mengucapkan kalimat “Selamat Menempuh Hidup Baru” kepada pengantin berdua. Ucapan dan harapan seperti itu muncul dengan tulus dari keluarga, sanak saudara, serta sahabat-sahabat saat melaksanakan upacara resepsi pernikahan. Ucapan itu memiliki pesan yang mendalam, bahwa usai akad nikah, pengantin lelaki dan perempuan benar-benar telah menempuh sebuah kehidupan yang baru sama sekali. Sebuah dunia yang bertanggung jawab dan unik.

Di antara yang baru dalam kehidupan setelah pernikahan adalah kejiwaan yang baru, hasil bentukan dari jiwa suami serta jiwa istri yang terikat dengan rumus tertentu yang tepat. Jiwa baru ini tidak terbentuk dengan sendirinya hanya karena ada akad nikah, namun ia terbentuk dengan sebuah proses. Suami dan istri berinteraksi setiap hari dan menyusun puzle jiwa dalam satu bidang kehidupan. Suami membawa keping puzle jiwanya, istri membawa keping puzle jiwanya, lalu mereka berdua bekerja sama menyusun keping-keping puzle jiwa mereka untuk memenuhi bidang kehidupan rumah tangga mereka berdua.

Kenyataannya keping puzle yang mereka bawa berbentuk tidak beraturan, maka ketika disusun untuk memenuhi bidang kehidupan, selalu ada rongga sisa. Ada ruang kosong yang tidak terisi. Satu-satunya cara untuk memenuhi ruang-ruang kosong tersebut adalah dengan mengubah bentuk keping puzle bersama-sama. Suami bersedia mengubah bentuk keping puzle-nya, istri bersedia mengubah bentuk keping puzle-ya. Dengan cara ini, semua bidang akan terisi dan terpenuhi oleh keping puzle mereka berdua. Berapa lama waktu yang mereka perlukan untuk memenuhi bidang tersebut, tergantung dari berapa lama waktu yang mereka sediakan untuk berubah, menerima pengaruh dari pasangan.

Keduanya Berusaha Berubah

Dalam contoh kasus suami suka durian dan istri benci durian, maka kedua belah pihak harus berusaha untuk menyesuaikan diri dan sekaligus menerima pengaruh pasangan. Suami yang suka durian harus bersedia menurunkan kadar kesukaannya. Istri yang benci durian harus bersedia menurunkan kadar kebenciannya. Pasti akan ketemu di satu titik. Suami yang suka durian harus berusaha untuk menahan keinginannya sering-sering makan durian, karena itu mengganggu sang istri. Sebaliknya, istri yang benci durian harus belajar beradaptasi dengan aroma durian. Karena saat suami makan durian di luar rumah sekalipun, akan tetap tercium aromanya oleh sang istri saat ia pulang.

Bagi suami yang hobi makan durian, mungkin akan lebih mudah baginya untuk mengurangi kadar kesukaannya. Namun bagi istri yang benci durian, harus berusaha beradaptasi dengan menghilangkan ‘trauma’ terhadap bau dan aroma durian secara perlahan. Ia belajar untuk menerima bau durian, tidak pusing dan mual saat mencum aroma durian. Kalaupun dalam proses penyesuaian ia tetap tidak bisa makan durian, yang penting ia bisa menerima suaminya menikmati durian. Bahkan dalam proses berikutnya, ia mulai bisa menemani suami  makan durian, tanpa harus ikut memaksanya.

Nah, konsekuensi seperti ini harus sudah dimengerti oleh calon suami dan calon istri saat mereka belum menikah. Pada saat ta’aruf menjelang pernikahan, mereka sudah membuka diri tentang berbagai macam hal dalam rangka untuk penjajagan dan penyesuaian. Ini bukan saja soal durian, namun menyangkut berbagai soal yang lainnya. Suami dan istri harus menyediakan ruang yang cukup dalam dirinya untuk berkorban, berubah, menyesuaikan diri dengan harapan pasangan, sekaligus menerima pengaruh pasangan. Seberapa besar ruang yang disediakan dalam diri suami dan istri untuk hal-hal tersebut, akan semakin mempercepat pula proses harmonisasi dan terwujudnya kebahagiaan keluarga.

Jika lelaki dan perempuan lajang sudah membuka ruang yang besar dalam dirinya  untuk berkorban, berubah, menyesuaikan diri dengan harapan pasangan, sekaligus menerima pengaruh pasangan, maka mereka akan bisa harmonis dan bahagia walau memiliki sangat banyak perbedaan yang mencolok. Yang menjadi masalah adalah apabila suami dan istri sama-sama menutup diri untuk berubah, atau hanya satu pihak saja yang mau berubah. Maka nikmati kebahagiaan hidup berumah tangga anda, dengan atau tanpa aroma durian.