HomeRuang KeluargaBunda, Bahagiakah Dirimu?
4962596cef4497055bb0387443fd1bb2

Bunda, Bahagiakah Dirimu?

Ruang Keluarga 0 3 likes 983 views share

Bunda, Bahagiakah dirimu?

 

Oleh Ummu Rochimah

 

Ketika seorang ibu ditanyakan, apakah ia bahagia mempunyai anak? Hampir semua ibu akan menjawabnya ‘ya’. Benarkah?

 

Seorang psikolog dan peneliti perilaku, Peter Ubel yang merupakan guru besar psikologi di Unervitas Michigan, Amerika Serikat melakukan penelitian terhadap 900 orang dengan status sebagai ibu yang memiliki anak. Dan hasil penelitiannya melaporkan bahwa ibu dari anak-anak di bawah usia 3 tahun mengalami kondisi tertekan. Terlalu letih, frustasi dan terkadang mudah marah menjadi menjadi jawaban terbesar para ibu dalam penelitian tersebut. Akibat negatif lainnya yaitu menjadi mudah cekcok dan konflik dengan pasangan.

 

Alhasil, ternyata mengurus anak hanya sedikit lebih menyenangkan ketimbang pekerjaan rumah tangga. Begitulah hasil penelitian yamg dilakukan oleh Peter Ubel di Universitas Michigan.

 

Sementara pekerjaan sebagai ibu adalah sesuatu yang akan terus melekat pada diri seseorang yang memiliki anak. Apakah kemudian seorang istri atau ibu tidak berhak bahagia?

 

Kebahagian seorang ibu bukanlah hasil pemberian dari orang lain, suami sekalipun. Tapi ia harus diupayakan oleh si ibu sendiri. Karena secara turun temurun, laki-laki atau suami hanya memberikan sedikit bantuan yang diburtuhkan oleh seorang perempuan atau istri. Suami berperan dalam memberikan nafkah dan pelindung. Namun dalam kenyataannya suami hanya dapat memberi dalam porsi kecil bantuan yang dibutuhkan oleh istri saat mengalami stres.

 

Bila diibaratkan kebutuhan hormon bahagia seorang istri atau ibu itu seperti sumur yang harus diisi, maka suami atau ayah hanya dapat mengisi kurang lebih 10%nya saja. sedang sisanya sebesar 90% menjadi tanggung jawab istri atau ibu untuk mengisinya.

 

Ketika seroang istri hampir terpenuhi sumur kebahagiaannya, maka suami akan termotivasi secara alami untuk melengkapinya hingga mencapai 100%. Namun, di sisi lain,  bila sumur itu sama sekali kosong, dan suami mengisinya 10%, maka sang istri akan tetap merasa kosong. Dengan bertanggung jawab sebesar 90% terhadap kebahagiaannya sendiri sebagai istri atau ibu dan hanya berharap mendapatkan 10% saja dari suami, seorang istri atau ibu akan mempu memposisikan diri dan pasangan dalam suatu hubungan yang jauh lebih berhasil. Bila sumur kebahagiaan istri atau seorang ibu hampir penuh dan suami memberikan yang 10%nya maka hal tersebut akan memberi pengaruh yang sangat besar terhadap perasaan istri atau ibu. Ketika perasaan seorang istri atau ibu yang awalnya baik-baik saja, kemudian karena dipenuhi sumur kebahagiaannya sehingga perasaaannya menjadi sangagt luar biasa, maka ia akan memberi pujian kepada suaminya, dan suami pun akan termotivasi untuk terus memberikan yang 10%nya itu. Karena bila hal kecil saja dapat membuat pengaruh yang sangat besar bagi pasangannya , yaitu membuatnya begitu bahagia, tentu hal tersebut akan memotivasinya untuk leibh banyak melakkukan hal-hal kecil tersebut.

 

Untuk mencapai kebahagiaan seorang istri atau ibu, maka ia juga harus berusaha untuk melakukan hal-hal yang dapat mendorong pasangannya untuk melengkapi sehingga “sumur kebahagiaan” menjadi terisi penuh. Karena itu aada banyak hal yang dapat membantu  istri atau ibu dalam memenuhi tangki bahagianya. Beberapa hal-hal berikut dapat dilakukan agar kebahagiaan senantiasa melingkupi dirinya :

 

Mulai dari Diri Sendiri

 

Langkah pertama untuk menjadi seorang istri atau ibu yang bahagia adalah menghargai apa yang dilakukan saat ini. Menjadi seorang istri itu adalah penting, menjadi ibu itu penting. Setelah itu, mencari cara agar dapat melakukan pekerjaan itu dengan lebih menyenangkan. Ketika seorang istri atau ibu sudah menemukan cara yang menyenangkan dalam melakukan pekerjaannya, maka bukan saja ia akan melakukan hal terbaik untuk diri sendiri, tapi juga akan menjadi istri dan ibu yang lebih menyenangkan bagi suami dan anak-anak.

 

Sebagai contoh misalnya, saat anak yang masih kecil menginginkan minum susunya dengan gelas yang berwarna merah, sementara saat itu gelas merahnya terselip entah di mana. jika hati sedang kusut, mungkin saja sang ibu akan mengatakan, “Duh, mau minum aja pakai pilih-pilih gelas, pakai yang ada aja!” Tentu hal ini akan membuat suasana hati keduanya menjadi tidak nyaman, hati ibu dan anak.

 

Tapi, jika sang ibu bersikap positif, maka bisa saja ia menggunting kertas merah dan menempelnya pada gelas tersebut. terbitlah kebahagiaan di hati keduanya, ibu dan anak.

 

Mengakui Saat Stres

 

Perasaan stres atau tertekan dapat bermula dari perasaan dalam diri sendiri berupa harapan atau ekspektasi menajdi seorang istri atau ibu yang sempurna. Sehingga, ketika timbul ketidak sesuaian antara harapan dan kenyataan, sekecil apa pun hal itu dapat mengakibatkan stres.

 

Maka mulailah untuk berhenti mengharapkan menjadi istri atau ibu yang sempurna, karena dengan itu maka hidup menjadi istri atau ibu menjadi lebih mudah. Tidak mengapa jika terkadang istri atau ibu merasa lelah, katakan terus terang kepada pasangan atau kepada anak-anak, “Ibu lelah, boleh ngga istirahat dulu..” atau “Aku lelah mas mau istrirahat dulu.” Tak mengapa terkadang menjadi istri atau ibu yang mudah tersinggung, atau terkadang nampak frustasi. Itu bukan berarti bahwa Anda menjadi seorang istri atau ibu yang buruk.Istri atau ibu itu kan juga manusia.

 

Istirahat Yang Cukup

 

Menurut Norbert Schwart, PhD dari Universitas Michigan, uang yang banyak tidak terlalu berpengaruh terhadap kebahagiaan ketimbang istirahat atau tidur yang cukup.

 

Seorang ibu dari anak berusia satu tahun bercerita, suatu ketika suaminya mengambil alih tugas pengasuhan anak selama dua jam di akhir pekan sehingga ia bisa istirahat dengan tidur siang yang nyenyak. Ketika diminta tanggapannya terhadap apa yang telah dilakukan oleh suaminya, ia mengatakan, “Nyata sekali bedanya. Ia menjadi lebih siap melakukan sesuatu secara lebih aktif.

 

Mempertimbangkan Prioritas

 

Kelihatannya seperti sesuatu yang sangat sepele. Tapi, ternyata menentukan skala prioritas menjadi satu kunci untuk seseoerang berada dalam suasana hati yang lebih positif sehingga ia bisa melakukan belih banyak hal ynag disukai.

 

Ketidak mampuan seseorang dalam menetapkan skala prioritas dalam kehidupannya akan membuat ia selalu berada dalam keadaan hectic, seolah-olah perkerjaan tidak ada habisnya, bingung harus memulai dari mana, semua menjadi penting atau semua menjadi tidak penting.

 

Menggunakan Lebih Banyak Kualitas Terbaik Dan Kekuatan Yang Dimiliki Dalam Tugas Membesarkan Anak

 

Seorang ibu yang mencintai dunia olah raga dan sangat tertarik untuk menjelaskan tetnang atlet-atlet tersohor saat bermain dengan anaknya yang berusia 3 tahun. Mungkin si anak hanya mendengaran saja dan tidak menangkap semua pembicaraan ibunya saat itu, namun hal ini ternyata dapat menghibur sang ibu dan juga anaknya.

 

Nikmati Saat Ini

 

Salah satu cara untuk memberi makan emosi positif adalah dengan meluangkan waktu untuk menghargainya. Ambillah kegiatan dua atau tiga menit yang dapat dilakukan hari itu untuk menikmati waktu. Pada pagi hari misalnya, dari pada memilih untuk mencoba menyelesaikan sepuluh hal seperti belanja ke pasar, memasak, mencuci baju, menyetrika dana seterusnya. cobalah ambil segelas kopi atau teh, duduklah sejenak untuk menyeruputnya dengan nikmat sambil melihat si kecil bermain.

 

Apakah cara ini akan mengubah hidup kita? Tidak, tapi mungkin cara ini akan membuat istri atau ibu merasa lebih tenang dan nyaman. Ini akan memperpanjang hormon bahagaia bersemayam dalam diri istri atau ibu.

 

Teman-Teman dan Keluarga yang Mendukung adalah Salah Satu Fondasi Kehidupan Bahagia

 

Pada sebagian istri atau ibu, pusat lingkaran sosial itu adalah suami. Itulah mengapa sangat penting untuk menjaga agar komunikasi tetap terbuka, terutama selama “tahun popok” yaitu masa bayi hingga usia 3 tahun. Dan ini biasanya menjadi masa yang cukup menegangkan bagi pasangan suami istri.

 

Karena itu cari tahu apa saja yang bisa dilakukan bersama selama beberapa jam, suatu kegiatan yang menarik minat bersama. Misalnya jalan-jalan berdua, berenang berdua atau makan di luar berdua. Tujuannya adalah untuk membangun dukungan dari pasangan agar ketika suatu saat menghadapi sebuah persoalan dapat diselesaikan bersama.

 

Senantiasa Bersyukur

 

Senantiasa bersyukur dengan apa yang sudah dimiliki saat ini adalah salah satu pendongkrak semangat. Dengan bersyukur memiliki suami saat ini akan menghantarkan seorang istri lebih menghargai dan menghormati suaminya. Bersyukur dengan anak-anak yang dimiliki saat ini, akan membuat seorang ibu menghargai setiap waktu yang mereka miliki untuk senantiasa mengisinya dengan kebaikan-kebaikan sebagai jejak cintanya kepada anak-anak.