HomePernikahanCara Keluar Dari Konflik Level Pertama
ilustrasi : www.pinterest.comilustrasi : www.pinterest.com

Cara Keluar Dari Konflik Level Pertama

Pernikahan 0 0 likes 2K views share

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

 

Sudah sering saya sampaikan, bahwa pada umumnya konflik suami istri terjadi dalam tiga level. Level pertama adalah the unvisible conflict, yaitu konflik yang masih ada di dalam batin atau perasaan dan belum diekspresikan. Level kedua adalah the perceived / experienced conflict, yaitu konflik yang sudah sama-sama diketahui, dialami atau sudah tampak di permukaan. Suami dan isteri sudah sama-sama mengalami perbedaan yang muncul dalam bentuk percekcokan, pertengkaran atau perlawanan. Level ketiga adalah the fighting, yaitu konflik yang sudah berubah menjadi tindakan fisik, seperti pukulan, tendangan, tamparan, atau tindakan lain yang bersifat fisik.

Saat suami dan isteri mulai memasuki konflik level satu, sesungguhnya tanda-tandanya sangat banyak dan mudah dikenali. Berikut adalah contoh gejala atau tanda-tanda bahwa pasangan suami istri sudah mengalami konflik level satu.

  1. Komunikasi macet total, atau mengalami hambatan yang parah

Isteri tidak nyaman atau bahkan tidak berani berbicara kepada suami. Takut menyinggung, takut dimarahi, takut tidak ditanggapi. Demikian pula suami tidak nyaman atau tidak berani berbicara dengan isteri. Takut tidak nyambung, takut salah paham, takut direspon dengan berlebihan. Akhirnya suami dan istri memilih untuk diam, namun memendam perasaan yang tidak nyaman.

  1. Berada dalam suasana sensitif yang berlebihan

Kata-kata kecil yang diucapkan suami atau isteri, mudah memunculkan suasana emosi. Suami dan istri cepat salah paham atas apa yang diucapkan atau diperbuat pasangan. Hal-hal sepele bisa berbuntut panjang, karena suami atau istri merasa diperlakukan secara tidak patut oleh pasangan. Hal-hal yang membuat tidak nyaman dibiarkan bertumpuk-tumpuk dan potensiap menimbulkan ledakan pada suatu ketika nanti.

  1. Muncul suasana ketegangan hubungan

Ada suasana saling tidak nyaman, cenderung mengarah kepada ketegangan hubungan antara suami dan isteri, namun hanya dipendam di dalam hati. Saat suami berada di dekat istri, yang dirasakan adalah aura ketidaknyamanan. Demikian pula saat istri berada di dekat suami, lebih merasakan ketertekanan. Masing-masing merasa lebih nyaman saat sendirian, justru menjadi tegang dan tidak nyaman saat bersama pasangan.

Stop! Jangan biarkan berlama-lama suasana ketegangan dan ketidaknyamanan itu. Jika dibiarkan, maka konflik akan berkembang ke level kedua. Dan jika di level kedua masih dibiarkan, maka konflik akan berkembang ke level ketiga. Bisa dimengerti mengapa ada peristiwa KDRT, karena mereka membiarkan terjadinya konflik sejak level pertama tanpa ada upaya untuk keluar dari suasananya.

Keluar Dari Konflik Level Satu

Jika gejala konflik tingkat pertama ini sudah dirasakan, segeralah mencari jalan keluar. Jangan biarkan perasaan tidak nyaman kepada pasangan ini bercokol dan bertahan berlama-lama dalam jiwa. Itu akan sangat menyakitkan dan menyiksa hati serta perasaan. Bahkan dikhawatirkan lama-lama akan menggerogoti cinta yang sudah ditanam dalam dada.

Segeralah keluar dari zona tidak nyaman ini, agar tidak membahayakan keharmonisan hubungan anda bersama pasangan tercinta. Caranya, sederhana saja. Yang penting ada kemauan dari kedua belah pihak.

  1. Cari waktu dan suasana yang tepat

Cari waktu dan suasana yang tepat untuk bercengkerama berdua saja dengan pasangan. Mungkin di waktu malam saat anak-anak sudah tidur. Mungkin pada waktu libur dimana suasana tengah santai dan tidak lelah oleh urusan pekerjaan. Ketepatan memilih waktu dan suasana memiliki pengaruh yang besar dalam menentukan keberhasilan keluar dari konflik level satu.

  1. Ajak pasangan anda berbicara dari hati ke hati

Dalam suasana jiwa yang bening, pikiran yang jernih dan hati yang tidak diliputi emosi, anda berdua bisa berbincang dengan leluasa. Tidak penting tema pembicaraannya apa, karena tujuannya adalah memecah kebekuan yang terjadi selama ini. Mulai dari bicara hal-hal ringan-ringan saja terlebih dahulu. Yang penting kedua belah pihak sama-sama merasa nyaman dan happy saat berkomunikasi. Ini awal yang bagus untuk diteruskan lain kali.

  1. Sampaikan permintaan maaf anda kepada pasangan

Ya benar, sampaikan permintaan maaf kepada pasangan karena anda sempat menyimpan perasaan yang tidak nyaman kepadanya. Sampaikan kepada pasangan anda tidak ingin lagi memiliki ganjalan perasaan dan ketidaknyamanan perasaan kepada pasangan. Jangan gengsi dan jangan malu untuk mendahului meminta maaf, karena maaf adalah bahasa cinta. Bukan bahasa hukum. Meminta maaf akan membuat suasana cooling down.

  1. Tahan untuk terlalu cepat melakukan konfirmasi

Jika perasaan itu berupa praduga tertentu kepada pasangan, anda harus mengkonfirmasikan hal itu kepadanya. Tapi ingat, kapan waktu yang tepat untuk melakukannya? Jangan terlalu ‘bernafsu’ untuk melakukan konfirmasi, karena salah salah justri merusak suasana komunikasi yang sedang dibangun. Target pertama adalah memecah suasana kebekuan yang selama ini sudah terjadi. Jadi, target pertama bukanlah konfirmasi. Anda akan leluasa mengkonfirmasi saat sudah berhasil keluar dari konflik level satu ini.

  1. Jangan menyalahkan pasangan

Jangan menyalahkan pasangan atas apa yang terjadi selama ini. Suasana salah menyelahkan, tuduh menuduh, justru hanya memperburuk keadaan dan berpoyensi menimngkatkan level konflik. Obrolan pada tahap ini hanyalah untuk menyalurkan ganjalan yang selama ini mengendap di hati. Bukan forum untuk menghakimi, atau saling menyalahkan di antara suami dan isteri.

  1. Gunakan canda untuk mencairkan suasana

Agar suasana lebih cair dan nyaman bagi semua, gunakan canda yang anda kenal berdua. Ada banyak kelucuan yang selama ini disimpan dalam kehidupan berumah tangga, yang bisa diungkapkan agar suasana menjadi santai dan tidak tegang. Dalam kenyamanan suasana, saling tertawa, saling menampakkan canda, perlahan-lahan kebekuan hubungan akan tercairkan. Berbagai hal yang mengganjal bisa dikeluarkan dan disalurkan, sehingga hati tidak lagi menyimpan sesuatu yang mengganjal dan tidak mengenakkan dari pasangan.

 

 

Sumber Bacaan

Cahyadi Takariawan, Wonderful Couple, Era Adicitra Intermedia, Solo, 2016