HomeParentingCinta Berbatas Layar
Ilustrasi: pixabay.com

Cinta Berbatas Layar

Parenting 0 0 likes 85 views share

Oleh: Widitra Maulida*

“Kak, Jangan main di luar ya! Nanti kotor.”

“Dek, Jangan main air terus! Semua bajunya basah tuh.”

“Kak, hati-hati! Nggak usah panjat-panjat, nanti jatuh.”

Si Ibu masih saja mengandalkan ‘kekuatan’ multitasking-nya. Sesekali tangan dan mata fokus dengan gadget, sepuluh detik kemudian mengomentari apa saja yang dikerjakan si anak tanpa benar-benar mengetahui aktivitas si anak. Hanya teriakan-teriakan semacam itu yang menjadi komunikasi mereka. Sementara dalam situasi lain waktu dan tempat, keadaan sunyi senyap. Tidak ada yang berbicara, apalagi berteriak. Mereka ada, dua orang itu berdekatan dalam satu sofa panjang. Hanya terdengar suara-suara samar dengan volume rendah yang keluar dari genggaman mereka. Sesekali mereka bicara atau tertawa sendiri.

Dua situasi yang berbeda namun memiliki satu kesamaan. Setiap ibu yang pernah mengalami dua situasi di atas tentu akan mudah menemukan kesamaannya, termasuk saya. Apa kesamaan dua situasi tersebut? Jawabannya akan ditemukan saat para ibu diberi pertanyaan “Setiap harinya apakah ibu sudah menemani anak bermain?” Tentu jawaban para ibu ”Ya”. Mereka telah menemani anak bermain setiap harinya. Dengan alibi sebuah teriakan atau duduk bersama di satu sofa, itu menandakan mereka telah menemani anak bermain.

Ibu dan anak sama-sama bermain, namun tidak bermain sama-sama. Ibu main gadget, anak main air. Atau ibu dan anak sama-sama main gadget, tapi masing-masing pegang satu gadget. Ibu hanya hadir secara fisik, namun tidak sepenuh jiwa.

Abu Ya’la meriwayatkan dari Umar bin Khatab r.a. Bah­wa ia berkata, “Saya melihat Hasan dan Husain berada di atas kedua pundak Rasulullah saw. Maka aku berkata, ‘Sebaik-baik tunggangan (kuda) adalah yang berada di bawah kamu berdua!” Maka Ra­sulullah saw. bersabda, ‘Sebaik-baik penunggang kuda adalah mereka berdua.”

Berangkat dari hadis tersebut, saya mulai merasakan ‘gretek’ dalam hati bahwa ada yang salah dalam dua situasi itu. Ada yang harus dibenahi dalam diri saya. Mulai dari manakah? Setidaknya ada tiga hal yang dapat dilakukan sebagai langkah awal perbaikan diri.

Pertama, meminta maaf

            Menyampaikan permintaan maaf dengan ketulusan hati kepada anak. Tidak perlu berpikir apakah anak sudah dapat mengerti dan memahami. Sampaikan saja dan beri pelukan hangat.

“Ah, saya ga biasa begitu-begituan sama anak.”

Setiap ibu tentu pernah memeluk anaknya saat masih bayi mungil dan menggemaskan. Hanya karena bayi mungil itu membesar setiap tahunnya, membuat pelukan itu memudar. Saya telah membuktikan bahwa ungkapan emosional seperti pelukan akan memberi makna lebih bagi si anak. Pembuktian itu bukan karena pengalaman saya sebagai ibu, melainkan pembuktian saya sebagai anak.

Peluklah anak saat ia sadar dan terjaga. Sampaikan  bahwa ibu minta maaf karena masih sering lalai dalam mendampingi tumbuh kembangnya, karena masih sering terpancing emosi ketika menegur tingkah-lakunya, karena masih sering mengabaikan panggilan cintanya, karena membuatnya kalah penting dari urusan media sosial, dan karena kesalahan ibu yang lainnya.

Kedua, patuhi jam main

            Tentu saja pekerjaan seorang ibu bukan hanya urusan anak. Ada setumpuk pekerjaan lain yang wajib dituntaskan oleh ibu. Mulai dari urusan dapur, cucian baju, lantai yang belum disapu hingga urusan pekerjaan di luar rumah yang banyak menyita waktu ibu. Akan tetapi, bukankah anak menjadi prioritas pertama bahkan jauh hari sebelum ia terlahir dari rahim ibunda?

Ada hak anak dalam 24 jam waktu ibu. Bukan hanya saat menyusui anak, memandikannya, memberinya makan, mengantarnya ke sekolah, namun juga “waktu bersama”. Waktu ketika raga dan jiwa ibu benar-benar hadir seutuhnya untuk membersamai anak.

Jika anak sudah dapat berkomunikasi dengan baik, ibu dapat membuat kesepakatan bersama anak untuk menentukan kapan saja jadwal jam main bersama. Setelah ibu menyampaikan permohonan maaf, perbanyak memberikan apresiasi terhadap aktivitas anak, sehingga “ruang komunikasi” ibu dan anak mudah terbentuk. Ketika anak merasakan kembali “kehadiran” sang ibu seutuhnya, perasaannya akan terbuka untuk mengungkapkan apa saja yang tersimpan di hati.

            Jika anak belum dapat berkomunikasi dengan baik, maka jam main bersama dapat dibuat berdasarkan observasi atau pengamatan mendalam ibu terhadap aktivitas anak setiap harinya. Dari hasil observasi akan nampak kapan saja jam aktif anak bermain, aktivitas apa yang selalu membuat matanya berbinar dan bagaimana gaya belajarnya.

            Setelah mendapatkan jam main bersama, masukkan dalam jadwal agenda harian ibu, lalu patuhi waktu tersebut. Jam main ini yang akan menjadi penguat simpul-simpul ikatan ibu dan anak. Konsistensi dan kejujuran akan senantiasa menguji peran setiap ibu.

Ketiga, letakkan gadget  

            Saat mengawali jam main bersama, ibu mungkin masih cukup “kaku” melakukannya. Ia belum terbiasa membiarkan gadget tergeletak lebih dari satu jam, kecuali saat ia tidur. Meskipun ia sudah bertekad menghadirkan jiwa raganya di hadapan anak, namun pikirannya masih sering berpetualang. “Si dia sudah membalas pesanku belum ya? Semoga masih kebagian flash sale di lapak hijab. Foto-foto liburan kemarin belum sempat di-upload juga.” Dan seliweran pikiran lainnya. Padahal semua pikiran itu bukan sesuatu yang mendesak untuk dilakukan saat itu juga.

Menyimpan gadget di tempat yang mudah dijangkau merupakan salah satu pemicu yang dapat mengganggu jam main bersama. Maka, jauhkan gadget dari jangkauan ketika sedang bermain. Kejujuran ibu akan teruji di sini. Apakah ibu masih sering tergoda dan mencuri waktu jam main? Pengalaman saya, iya. Maka menyimpan gadget di tempat yang cukup repot untuk mengambilnya merupakan satu langkah tepat untuk menyukseskan jam main. Misalnya, gadget disimpan di dalam tas lalu tas disimpan dalam lemari dan lemari berada di ujung kamar belakang. Jika ibu merasa ada kepentingan dengan gadget, maka minta ijinlah dengan baik kepada anak. Misalnya, “Kak, ibu belum masak, ibu mau kirim pesan ke ayah dulu ya, supaya ayah belikan martabak dan terang bulan.” Bagaimana jika ada sesuai yang penting? Untuk mengatisipasinya, jangan silent handphone kita agar ketika ada telpon masuk, kita tetap bisa segera mengetahuinya.

Selamat mencoba. Setiap keluarga memiliki gaya khas sendiri dalam pola pengasuhan anak. Jadilah teman dan sahabat terbaik bagi mereka, sebelum mereka akan menemukannya di luar sana.

*Penulis adalah peserta Wonderful Writing Class yang diampu oleh Ust. Cahyadi Takariawan dan tim.