HomePernikahanDari Belahan Peran Menuju Belahan Jiwa
360651294a54158ad73cddfe3b368613

Dari Belahan Peran Menuju Belahan Jiwa

Pernikahan 0 1 likes 394 views share

DARI BELAHAN PERAN MENUJU BELAHAN JIWA

 

Oleh : Ummu Rochimah

 

Menjalani kehidupan rumah tangga sejak dimulainya akad nikah hingga kemudian melalui perjalanan panjang berkeluarga tentu bukan perkara mudah untuk membuat biduk rumah tangga dapat berjalan dengan tenang, tetap focus pada tujuan pernikahan, dan tetap berlayar dengan penumpang yang sama hingga akhir tujuan.

Selayaknya sebuah bahtera yang mengarungi samudera luas, bukan hanya perbekalan dan kesiapan material dari bahtera untuk berlayar yang dibutuhkan, namun juga perlu kecakapan dan ketrampilan dalam mengelola arah angin yang tidak dapat dihindari sepanjang perjalanan. Karena kita tidak bisa mengatur arah angin.

Ketika angin bertiup dengan pelan dan berhembus ringan, bahtera dapat berlayar dengan tenang dan damai. Namun dalam perjalanannya, tidak selamanya angin akan bertiup pelan dan berhembus ringan. Ada kalanya tiupan angin menjadi sangat kuat dan kencang, dan membuat gelombang laut naik. Sehingga bahtera akan mengalami oleng dan terguncang,  yang tentunya akan mempengaruhi semua penumpangnya. Kemampuan bahtera untuk bertahan dalam hempasan angin yang kuat dan kencang tergantung pada sikap dan ketrampilan penumpang dalam mengelola arah angin.

Begitu pun halnya kehidupan rumah tangga, ada kalanya angin begiitu lembut dan ringan berhembus menciptakan keharmonisan yang begitu indah, semua terasa tenang, tentram, begitu mudah dan ringan. Namun, sautu saat pasti angin akan bertiup menjadi kencang bahkan terkadang menimbulkan gelombang lautan yang mengakibatkan olengnya bahtera rumah tangga. Tiupan angin kencang itu bisa berupa perasaan bahwa pasangan sudah tidak lagi mencintainya, anak-anak yang sulit diatur, keuangan rumah tangga yang morat-marit hingga menimbulkan hutang di sana-sini, kehadiran orang ketiga yang membuat tidur tak lagi nyenyak, atau penyakit yang sedikit demi sedikit menggerogoti  kesehatan, dan lain-lain.

Inilah dunia rumah tangga sejati, sangat tidak ideal, dan tidak bisa diprediksi. Dan kita tidak perlu menyalahkan angin untuk semua masalah yang timbul.

 

Dari Hubungan Belahan Peran ke Hubungan Belahan Jiwa

Pada beberapa seminar yang dilakukan oleh John Gray, Ph.D ia bertanya kepada peserta, “Siapa yang memiliki orang tua yang masih bersatu dan tidak bercerai?”

Separuh peserta mengangkat tangannya.

Kemudian kepada kelompok tersebut, ia bertanya lagi, “Siapa yang menganggap dirinya memiliki kecakapan hubungan dan komunikasi yang lebih baik dibandingkan orangtuanya?” Dan hampir setiap orang mengangkat tangannya.

Respon tersebut kemudian memunculkan pertanyaan, “Jika memiliki kecakapan yang lebih baik, mengapa saat ini pasangan suami istri banyak yang memiliki tantangan dalam hubungan? Mengapa begitu banyak terjadi perceraian?

 

Hubungan Belahan Peran

Dalam kurun waktu lima puluh tahun terakhir, dunia mengalami perubahan yang begitu besar pengaruhnya pada tingkat stress manusia. Sehingga membuat apa yang diinginkan dalam hubungan juga mengalami perubahan. Orang tua atau kakek nenek kita sering kali sudah puas selama pasangannya sudah memenuhi peran spesifik mereka. Itu yang disebut hubungan Belahan Peran. Hubungan ini didasarkan pada peran stereotip laki-laki sebagai kepala rumah tangga dan pencari nafkah sedang perempuan sebagai pengurus rumah tangga dan pengasuh anak. Tujuan utama hubungan belahan peran ini adalah membagi tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan untuk memastikan keberlangusngan kehidupan rumah tangga.

Namun pasangan masa kini mendambakan jenis hubungan yang baru. Mereka memiliki harapan serta tuntutan yang lebih tinggi dan kekecewaan yang lebih besar ketika  kebutuhan mereka tidak terpenuhi.

 

Hubungan Belahan JIwa

Pasangan masa kini ingin mengalami tingkat kepuasan emosi yang lebih tinggi yang berasal dari hubungan yang memungkinkan seseorang mengungkapkan dirinya yang sejati dan unik secara bebas. John Gray menyebutnya sebagai Hubungan Belahan Jiwa.

Dalam hubungan Belahan Jiwa ada sebuah kebutuhan masing-masing yang memungkinkan untuk mengungkapkan  diri yang sejati dan unik untuk mengurangi peningkatan stress yang ditimbulkan oleh perubahan dunia di luar rumah. Salah satu cara yang paling efektif bagi pasangan untuk bisa tetap tegak mengahdapi tiupan angin kencang yang menyapa kehidupan rumah tangganya adalah dengan bersatu sebagai Belahan Jiwa.

Pasangan masa kini tidak lagi hanya membutuhkan terpenuhinya kebutuhan sandang dan pangan, laki-laki dan perempuan sedang mencari tahap baru dari kepuasan emosional dalam hubungan rumah tangga. Mereka ingin tetap berada dalam cinta.

Cinta dan berbagai ungkapannya menjadi faktor penentu dalam memilih pasangan dan memelihara hubungan. Berakhirnya hubungan pada masa kini banyak yang berkaitan dengan tidak terpenuhinya kepuasan emosional bagi pasangan.

Perhatikan contoh percakapan di sebuah ruang konseling berikut :

Nelly ingin menceraikan pasangannya.

Dia berkata, “Saya memberi dan terus memberi, tapi tak mendapat balasan.”

Terapisnya bertanya, “Apa balasan yang tidak didapatkan?”

Nelly berkata, “Dia sudah tidak menunjukkan kasih sayang lagi. Saya kecewa karena dia bahkan tidak berminat pada hidup dan perasaan saya. Semuanya berubah. Semua percintaan sudah hilang. Saya masih mencintainya, tapi saya tidak sedang jatuh cinta lagi.”

“Awalnya dia tidak seperti ini. Sekarang kami seperti dua orang yang tinggal bersama, tapi tidak terhubung dan menjalani kehidupan sendiri-sendiri. Saya menginginkan lebih banyak dalam hidup. Saya ingin merasa dicintai dan dihargai.”

Saat itu Nelly tidak mengeluhkan bhawa pasangannya telah gagal dalam Belahan Peran. Ia tidak mengeluhkan tentang kebutuhan sandang atau pangan yang tidak tercukupi. Nelly tidak bahagia karena kebutuhan emosionalnya tidak terpenuhi. Ia menginginkan pasangannya lebih menunjukkan kasih sayang dan peduli pada hidupnya. Ia ingin merasa terhubung, ia ingin merasa istimewa dan ada dalam cinta pasangannya.

 

Sumber Bacaan :

John Gray, Ph.D., 2018. Beyond Mars and Venus. Membangun Hubungan Ideal di Zaman yang Semakin Kompleks. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.