HomeParentingDelapan Nasihat Mutiara Luqman untuk Perbaikan Dunia
delapan

Delapan Nasihat Mutiara Luqman untuk Perbaikan Dunia

Parenting 0 2 likes 291 views share

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

Hari-hari ini kita semua sering tersentak dan tertegun oleh berbagai kejadian dan peristiwa yang sangat mengagetkan di sekitar kita. Kisah wafatnya seorang guru oleh siswanya sendiri, merupakan mimpi buruk yang tidak terbayang oleh akal sehak manusia Indonesia. Dunia pendidikan seakan tercoreng, namun sesungguhnya yang lebih tertampar adalah kualitas keluarga dalam mendidik dan mengarahkan anak-anaknya. Sedemikian parah kondisi keluarga kita, sedemikian lemah sistem pendidikan kita, sehingga belum mampu mencetak generasi terbaik untuk kebaikan bangsa dan negara.

Tidak terbayang seperti apa masa depan bangsa dan negara Indonesia, jika generasi penerus tidak mendapatkan pendidikan terbaik sejak dari dalam rumah, sekolah dan masyarakat. Kebaikan keluarga akan menjadi pondasi kebaikan bangsa dan negara, dan kebaikan suatu bangsa dan negara akan menjadi pondasi kebaikan dunia. Maka tidak ada jalan lain yang lebih pasti dalam menciptakan perbaikan dunia, kecuali harus memulai dengan perbaikan kualitas keluarga kita. Salah satu sisi penting dalam sebuah keluarga adalah pendidikan anak.

Setiap kali kita memperbincangkan pendidikan dalam keluarga, tidak pernah bisa melupakan dan melepaskan dari seorang tokoh pendidikan, Luqman Al Hakim. Nasihat Luqman Al Hakim kepada anaknya sedemikian fundamental, sampai diabadikan dalam Al Qur’an untuk menjadi pelajaran dan pedoman untuk umat manusia. Hal ini memberikan pelajaran, betapa penting peran pendidikan anak-anak dalam keluarga, untuk kebaikan masyarakat, bangsa bahkan peradaban dunia.

Mencermati Delapan Nasihat Mutiara

Butir-butir nasihat tersebut benar-benar mutiara berkilau, yang menjadi pondasi bagi perbaikan diri, keluarga, masyarakat, bangsa, negara dan peradaban dunia. Delapan nasihat mutiara telah diabadikan Allah dalam untaian ayat-ayat dalam surat Luqman berikut:

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, “Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar (13).  (Luqman berkata), “Wahai anakku! Sungguh, jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya balasan. Sesungguhnya Allah Mahahalus lagi Mahateliti (16).

Wahai anakku! Laksanakanlah shalat dan suruhlah (manusia) berbuat yang ma’ruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting (17). Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri (18). Dan sederhanakanlah dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai (19).

Dalam rangkaian ayat-ayat tersebut, terkandung delapan nasihat mutiara dari Luqman Al Hakim. Berikut kita bahas satu persatu.

Pertama, Keyakinan Tauhid sebagai Pondasi

Kehidupan manusia harus berada dalam pondasi keimanan yang kokoh akan keesaan Allah Ta’ala. Inilah hakikat dari tauhid, yaitu mengesakan Allah dalam Dzat, Sifat dan PerbuatanNya. Manusia harus mengenal Allah dengan pengenalan yang benar, yang akan menghantarkan dirinya menjadi manusia yang berperilaku benar dalam kehidupan keseharian. Segala penyimpangan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, pada dasarnya bermula dari lemah atau salahnya pemahaman iman. Jika pondasinya salah atau lemah, bisa dibayangkan sekuat dan sebaik apapun bangunan yang ada di atasnya, akan mudah hancur dan roboh.

Maka Luqman mendidik anaknya untuk memiliki keimanan akan keesaan Allah, mentauhidkan Allah dalam semua bidang kehidupan, sekaligus menjauhi syirik yang menjadi lawan dari tauhid. Ketika manusia berlaku syirik, jangan dibayangkan bahwa mereka secara verbal selalu menyembah patung berhala. Dalam kenyataan keseharian, patung itu di zaman modern bisa berwujud ideologi, paham, isme, termasuk segala sesuatu yang dikejar manusia dalam kehidupan mereka. Tidak selalu menyembah secara fisik seperti membungkukkan badan atau meletakkan kepala di tanah, namun meyakini, membela, memperjuangkan, mengagung-agungkan, mencintai dengan sepenuh jiwa raga, adalah perbuatan yang setara dengan menyembah.

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13).

Kedua, Menanamkan Kesadaran akan Pengawasan Allah

Setelah memiliki keyakinan tauhid yang benar, maka Luqman mendidik anaknya agar memiliki kesadaran penuh akan adanya pengawasan dari Allah Ta’ala. Ma’iyatullah atau kebersamaan Allah dalam kehidupan manusia, akan membuat manusia selalu berada di jalan yang lurus, di jalan yang benar, dan menolak mengikuti paham hidup, gaya hidup dan pola hidup yang salah serta menyimpang dari kebenaran. Pencurian aset negara, korupsi, manipulasi, gratifikasi, dan berbagai penyimpangan lainnya, semua bersumber dari ketiadaan perasaan dan kesadaran pengawasan Allah.

Manusia berbuat semena-mena, semau-maunya, mengekpresikan syahwat dengan tanpa merasa dosa, karena tidak menyadari adanya pengawasan Allah. Manusia jatuh ke jurang kehinaan serta kesengsaraan dunia akhirat, karena merasa bebas, merasa berkuasa, merasa hebat, sehingga melakukan kesewenangan tanpa batas, melakukan kejahatan dengan seluruh kekuatan dan kekuasaan yang ada pada mereka. Tidak merasa diawasi oleh Dzat Yang Maha Teliti. Maka Luqman menanamkan aspek ma’iyatullah ke dalam jiwa anaknya agar memiliki kehidupan yang lurus, terarah, terbimbing dan bermartabat.

“(Luqman berkata), “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha mengetahui.” (QS. Luqman: 16).

Ketiga, Mendirikan Shalat sebagai Bukti Ketaatan kepada Allah

Bukti ketaatan dan kecintaan manusia kepada Allah Ta’ala adalah bersedia melaksanakan ibadah kepadaNya. Ibadah sesuai dengan perintah Allah dan teladan dari Nabi mulia Saw. Shalat adalah tiang agama, yang menjadi ibadah pokok dalam kehidupan seorang muslim. Shalat menjadi satu dari lima rukun Islam yang tidak boleh ditinggalkan dalam suasana apapun. Shalat adalah penghubung antara hamba dengan Allah Ta’ala.

Maka bagaimana kita bisa menyatakan bahwa seseorang itu baik, jika tidak mau menunaikan shalat, atau bermalas-malasan melakukan shalat? Bagaimana seseorang mengaku taat kepada Allah jika tidak mau menyembahNya sesuai tuntunan agama? Maka shalat adalah ibadah yang sangat fundamental, yang akan membuat setiap muslim selalu terhubung dengan Allah. Minimal sehari semalam lima kali berinteraksi dengan Allah, munajat, mengingat, berkomunikasi dengan Allah melalui shalat.

Keempat, Melaksanakan Amar Ma’ruf

Amar ma’ruf adalah upaya mengajak manusia kepada kebaikan, mengajak manusia kepada keimanan, kepada kebenaran, kepada ketaqwaan. Kita tidak hanya diperintahkan untuk hidup baik seorang diri, namun kita juga diperintahkan untuk mengajak serta orang lain agar melakukan kebaikan. Tidak cukup sekedar baik secara individual, namun harus menciptakan kebaikan kolektif. Tidak cukup hanya menjadi salih dalam perilaku pribadi, namun harus menciptakan kesalihan dalam perilaku sosial, ekonomi, budaya, politik, dan semua bidang kehidupan.

Kita bahkan tidak bisa untuk baik secara sendirian. Sebaik apapun kita, jika lingkungan kita sangat jahat, akan bisa mempengaruhi kita untuk menerima kejahatan tersebut. Maka untuk menjadi salih, harus dilakukan secara bersama-sama. Harus ada kolektivitas kebaikan, yang akan bersama-sama mengusung dan membela kebaikan secara sistemik. Untuk itulah kita harus melakukan proses amar ma’ruf agar semakin banyak orang berada dalam kebaikan, dan semakin banyak kebaikan bisa diciptakan.

Kelima, Menjalankan Nahi Munkar

Tidak cukup hanya dengan mengajak orang lain melakukan kebaikan, namun harus ada pula upaya untuk menolak kemunkaran. Apabila ada sangat banyak manusia melakukan kejahatan dan tidak ada yang mencegah mereka, maka kejahatan akan semakin terkuatkan. Pengaruh perbuatan jahat akan bisa mempengaruhi semakin banyak orang untuk bergabung dan mendukung mereka, seperti kisah pelanggaran hari Sabtu yang dilakukan oleh Bani Israel terdahulu.

Keburukan, kejahatan, kemungkaran itu serupa penyakit menular. Memiliki kekuatan pengaruh yang cepat tersebar. Apalagi di zaman cyber saat ini, segala sesuatu mudah menyebar melalui teknologi. Jika kejahatan tersebar secara luas dan sistematis, harus dihadang dan dicegah dengan kekuatan yang seimbang. Kebaikan harus dihadirkan, kemungkaran harus dihilangkan. Maka amar ma’ruf selalu satu paket dengan nahi munkar, agar kemungkaran bisa dihilangkan dan kebaikan bisa dihadirkan.

Keenam, Selalu Bersikap Sabar

Sabar adalah tuntutan sikap dalam kehidupan keseharian. Sangat banyak gangguan, godaan, kendala, tantangan dan hambatan dalam melakukan kebaikan, maka sabar adalah keharusan. Sabar terjadi dalam tiga dimensi, yang pertama sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah. Kedua sabar dalam menghadapi musibah. Ketiga, sabar dari perbuatan jahat dan munkar, yaitu dengan tidak melakukan dan menyebarkannya.

Jika manusia tidak memiliki cukup kesabaran, akan mudah mengeluh, mudah patah semangat, mudah putus asa dalam menjalankan ketaatan. Jalan ketaatan bukanlah jalan yang mudah, yang semua orang akan menyukai dan memuji-muji. Bahkan jalan ketaatan sering kali membuat pelakunya dihujat dan dibenci. Menjadi orang baik tidaklah terjadi dengan mulus dan mudah, namun memerlukan pengorbanan yang sangat besar.

Maka Luqman mendidik anaknya untuk konsisten menegakkan shalat, melaksanakan amar ma’ruf, menjalankan nahi munkar, serta selalu bersikap sabar.

“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS. Luqman: 17).

Ketujuh, Tidak Sombong dan Angkuh

Di antara pelajaran dari Luqman adalah agar memiliki akhlaq terpuji dalam kehidupan sehari-hari. Meski dalam keyakinan aqidah kita harus memiliki pembelaan dan loyalitas yang tegas kepada Allah, namun dalam interaksi dengan sesama manusia, hendaknya mengedepankan budi pekerti terpuji. Sikap santun, tidak sombong, tidak angkuh akan membuat manusia menjadi simpatik dan tertarik. Inilah karakteristik pribadi muslim yang paripurna, yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw dan para sahabat beliau. Memiliki prinsip keyakinan yang kokoh, namun menampakkan akhlaq yang sangat terpuji.

Manusia bisa sombong karena ilmu dan kepandaiannya, bisa sombong karena harta dan kekayaannya, bisa sombong karena pangkat dan jabatannya, bisa sombong karena kecantikan dan ketampanan wajahnya, bisa sombong karena kepandaian retorika dan pidatonya. Maka Luqman mendidik anaknya untuk berinteraksi dengan sesama manusia, dengan sikap yang santun, juga menampilkan diri dalam kehidupan sehari-hari tanpa sikap angkuh. Kesombongan dan keangkuhan adalah salah satu penghalang kebenaran dan kebaikan.

Manusia yang sombong dan angkuh pasti memiliki banyak musuh, maka hendaknya kehidupan kita hiasi dengan budi pekerti yang luhur. Ini sekaligus merupakan wujud dari keluhuran ajaran Islam yang akan bisa dirasakan oleh seluruh umat manusia melalui akhlaq mulia. Inilah nasehat ketujuh dari Luqman Al Hakim:

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18).

Delapan, Selalu Bersikap Sederhana

Luqman juga mendidik anaknya agar selalu bersikap sederhana, tidak berlebih-lebihan. Dalam hidup sehari-hari, kesederhanaan adalah sikap yang mendatangkan banyak kebaikan lainnya. Dengan hidup sederhana, akan terjauhkan dari pemubadziran. Dengan hidup sederhana, akan bisa lebih banyak berbagi kepada sesama. Dengan sederhana, akan terjauhkan dari kesulitan hidup yang banyak bersumber dari pola kehidupan konsumtif lagi hura-hura.

Kesederhanaan yang diajarkan Luqman menjadi hal yang sangat penting dalam kehidupan modern saat ini, dimana banyak orang berlomba-lomba dengan berbagai kemewahan dan gemerlapnya pujian. Manusia bisa terjatuh ke dalam kehinaan apabila menuruti selera berlebih-lebihan, bermewah-mewahan, berbangga-banggaan, dan akhirnya tidak memiliki batas. Maka Luqman berpesan dengan jelas:

“Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (QS. Luqman: 19).

Demikianlah delapan nasihat mutiara dari Luqman Al Hakim kepada anaknya, yang sekaligus menjadi nasihat untuk perbaikan keluarga, bangsa, negara dan dunia. Jika  manusia memiliki kehidupan yang berlandaskan kepada keyakinan tauhid, merasakan pengawasan Allah, tekun menjalankan ibadah, amar ma’ruf, nahi munkar, bersikap sabar, serta memiliki akhlaq mulia, niscaya kehidupan dunia akan dipenuhi dengan kebaikan seluruhnya.