HomePernikahanDelapan Sumber Motivasi Keharmonisan Keluarga
ilustrasi : www.pinterest.com

Delapan Sumber Motivasi Keharmonisan Keluarga

Pernikahan 0 2 likes 1.4K views share

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

 

Kehidupan berumah tangga, selalu penuh dengan dinamika. Pada saat pengantin baru, rasanya hanya bahagia dan sangat bahagia. Namun seiring berjalannya waktu, aneka rasa mulai mengemuka. Bahkan suatu ketika harus melewati roller coaster kehidupan berumah tangga, sampai pada titik puncak ketegangannya. Di saat itu, banyak kalangan suami istri yang mulai mempertanyakan ulang tentang kebersamaan mereka, patitkah dipertahankan, atau segera diakhiri. Tidak jarang yang mengambil keputusan emosional : cerai.

Di ruang konseling kami selalu berusaha untuk menjaga dan mempertahankan keutuhan keluarga. Pasangan suami istri yang ikatan mereka mulai kondor bahkan hampir putus, kami ajak untuk mengevaluasi kembali dalam suasana jiwa yang tidak emosi. Dalam suasana hati yang damai, dalam kebeningan pikiran, dalam kedalaman perasaan, pasangan suami istri bisa menemukan kembali keping-keping kehangatan yang sudah mulai hilang. Sesungguhnya ada sangat banyak alasan dan motivasi yang sangat kuat bagi mereka berdua untuk menjaga dan mempertahankan keutuhan keluarga.

Delapan Sumber Motivasi yang Mengokohkan Ikatan Suami Istri

Sesungguhnya ada sangat banyak sumber motivasi yang bisa menjadi energi untuk mempertahankan keutuhan dan keharmonisan rumah tangga anda. Masing-masing memiliki kekuatan yang berbeda-beda dalam seberapa besar kemampuan mempertahankan keutuhan keluarga. Di antaranya adalah hal-hal berikut ini.

1.Cinta Surga, Takut AdzabNya

Cobalah anda ingat, apa motivasi mendasar yang mendorong anda melakukan pernikahan? Anda ingin hidup bahagia dunia akhirat, begitu bukan? Bahagia dunia, bahagia akhirat. Surga dunia, surga akhirat. Selamat dunia, selamat akhirat. Sukses dunia, sukses akhirat. Begitu kan? Nah, cobalah perkuat sisi cinta surga dan takut adzab Allah, dunia akhirat.

Nabi saw memberi motivasi para sahabat di medan perang di antaranya dengan surga. Ini adalah sebuah motivasi yang sangat kuat dalam diri manusia. Imam Muslim meriwayatkan bahwa saat perang Uhud berkecamuk Rasulullah saw bersabda, “Bangkitlah kalian menuju surga yang seluas langit dan bumi”.

Umair bin Hamman Al Anshari bertanya, “Ya Rasulullah, apakah surga itu seluas langit dan bumi?”

Jawab Rasulullah, “Benar! “

“Sungguh beruntung, sungguh beruntung!”

“Apakah yang mendorongmu berkata demikian?” tanya Nabi.

“Aku berharap, semoga aku dapat masuk kedalamnya” jawab Umair. Sabda Rasulullah, “Engkau termasuk orang yang masuk ke dalamnya”.

Kemudian ia mengeluarkan beberapa biji kurma dari sakunya untuk dimakan. Setelah itu berkata, ‘jika aku tunggu sampai habisnya buah kurma ini berarti terlalu aku lama menunggu. Kemudian ia melemparkan buah kurma itu dan ia berangkat perang hingga terbunuh.

Sewaktu pasukan Islam sedang berhadapan dengan musuh, Abu Bakar bin Abu Musa Al Asy’ari menyampaikan riwayat dari ayahnya bahwa Rasulullah telah bersabda, “Sesungguhnya pintu surga itu ada di bawah naungan pedang.” Ada seorang pemuda yang tampak tidak tertarik, ia bangkit dan bertanya, “Hai Abu Musa Al Asy’ari, apakah engkau benar-benar mendengar Rasulullah bersabda demikian?”

“Ya, benar!” jawab Abu Musa.

Kemudian pemuda itu balik menuju kawan-kawannya dan berkata, “Aku kemari hanya untuk mengucapkan selamat tinggal saja kepada kalian”. Setelah itu ia patahkan sarung pedangnya dan segera maju ke barisan musuh dengan pedang sampai ia mati sebagai syahid.

Dua kisah di atas adalah contoh dalam peperangan, bahwa kecintaan kepada surga mampu mendorong dan melejitkan motivasi kaum muslimin untuk bangkit dan melakukan perjuangan. Demikian pula kejadian dalam kehidupan kerumahtanggaan, salah satu bahan bakar yang menyelakan lentera motivasi adalah kecintaan kepada surga serta takut akan adzab Allah di neraka.

Ketika seorang suami memimpin rumah tangga, ia takut berlaku zhalim kepada anak dan isterinya, karena ia sangat ingin masuk surga. Ia khawatir kalau berperilaku jelek, akan menyebabkan masuk neraka. Demikian pula seorang isteri yang cinta surga, akan berlaku baik dalam rumah tangga. Ia takut kalau Allah murka kepadanya karena pembangkangan kepada suami.

Cobalah saya ajak anda menengok keluarga Anwar. Ia mendapatkan cobaan berat dalam hidup. Tati, isteri Anwar, menderita depresi semenjak hamil anak pertama, karena ada permasalahan dengan orang tua, hingga berlanjut kepada kegilaan. Jika ada pemicu tertentu pada Tati, langsung tampak gejala kegilaannya. Ia bicara sendiri, tertawa sendiri, berperilaku aneh dan tidak terkendali. Sudah berapa dokter jiwa dikunjungi Anwar untuk menyembuhkan sang isteri, sudah berapa rumah sakit jiwa didatangi untuk menuntaskan kelainan sang isteri, namun belum ada hasil yang memuaskan. Masyarakat menyebut, Tati gila musiman.

Sehari-harinya Anwar bekerja di sebuah instansi pemerintah, dan jika sampai di rumah ia berlaku sebagai pengasuh isteri dan tiga anak-anaknya. Kondisi Tati tidak memungkinkan untuk bisa mengelola anak-anak. Semua urusan anak dan kerumahtanggaan dilakukan oleh Anwar dengan penuh tanggung jawab sebagai suami dan bapak.

Hal yang kadang membuat Anwar sedih adalah apabila ada undangan dari instansi tempatnya bekerja untuk menghadiri acara yang melibatkan keluarga. Ia hadir bersama tiga anaknya, karena tidak bisa membawa sang isteri, sementara teman-teman kantor hadir beserta isteri dan anak-anak. Kondisi ini akhirnya dimaklumi semua teman kerjanya. Mereka bahkan berempati terhadap kondisi keluarga Anwar.

Suatu saat ada seorang teman yang bergurau, “Sudahlah pak Anwar, nikah lagi saja, daripada punya isteri tapi tidak berfungsi”

Ada lagi yang bahkan menyarankan, “Ceraikan saja Tati, pak Anwar, dan kirim ia ke rumah sakit jiwa…..”

Apa jawaban Anwar ? Coba dengarkan baik-baik…..

“Saya tidak pernah berpikir menceraikan Tati. Saya juga tidak berpikir akan menikah lagi. Saya berharap, dengan cara inilah Allah akan memberikan surga bagi saya….”

“Kalau saya menikah lagi, atau saya ceraikan Tati, siapa yang akan mengurus dia nanti. Bagaimanapun kondisinya sekarang ini, saya pernah menikmati kebahagiaan optimal bersamanya, terutama saat dulu ia masih normal. Saya tidak mau menyakiti hatinya…” lanjut Anwar.

Subhanallah….

Saya menangis pertama kali mendengar kisah keluarga Anwar. Saya tidak membayangkan ada lelaki berhati sebersih Anwar. Dengan posisi di instansi tempatnya mengabdi, sangat mudah bagi dia untuk menikah lagi, apalagi ada “alasan” yang bisa dipahami terkait kondisi Tati.

Masih adakah lelaki di dunia ini yang berjiwa besar seperti Anwar ? Saya berharap andalah orangnya.

Cobalah sekali lagi memahami jawaban Anwar atas berbagai saran yang ditujukan kepada dirinya: “Saya tidak pernah berpikir menceraikan Tati. Saya juga tidak berpikir akan menikah lagi. Saya berharap, dengan cara inilah Allah akan memberikan surga bagi saya….”

Ia hanya berharap surga. Dan menurut saya, ia pantas mendapatkannya….

2.Amal Spiritual

Ada sangat banyak aktivitas spiritual atau ibadah yang akan menenteramkan jiwa anda. Berdzikir, mengingat Allah sepanjang waktu, adalah amal spiritual yang akan menenangkan jiwa, menjauhkan dari kegelisahan dan kekacauan perasaan. Jiwa menjadi tenang dan tenteram dengan dzikrullah. Hati menjadi nyaman karena selalu mengingat Allah dalam semua kondisi. “Ingatlah, hanya dengan berdzikir kepada Allah hati menjadi tenang”.

Anda membaca Al Qur’an, mentadaburi makna ayat-ayat yang tengah anda baca, sembari merenungkan kehidupan yang tengah anda jalani, adalah bagian dari bahan bakar spiritual. Misalnya, anda baca pernyataan Allah:

Dan Aku tidaklah menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah” (Adz Dzariyat: 51).

Kewajiban kita hanyalah beribadah kepada Allah, dalam segenap langkah kehidupan kita. Selanjutnya, mencetak generasi baru untuk beribadah kepadaNya, agar risalah kebenaran senantiasa ditegakkan di sepanjang zaman. Artinya, misi hidup anda bukanlah untuk bersenang-senang, namun untuk melakukan perjuangan dalam kerangka ibadah kepadanya.

Anda mengkaji hadits Nabi saw, dan menemukan banyak arahan agar senantiasa hidup dalam kelurusan orientasi. Misalnya anda mendapatkan pernyataan Nabi saw dalam hadits arba’in berikut:

Jagalah agama Allah niscaya engkau akan mendapati Allah dihadapanmu, kenalilah Allah dalam keadaan lapang niscaya Dia akan mengenalmu ketika kamu dalam keadaan susah, ketahuilah apa yang ditaqdirkan tidak akan mengenaimu niscaya tidak akan kau dapatkan, dan apa yang ditaqdirkan menimpamu tidak akan meleset, ketahuilah kemenangan itu dengan kesabaran, kelapangan itu bersama kesusahan dan kemudahan itu bersama kesulitan.”

Nabi saw mengajarkan kepada sikap hidup yang senantiasa dekat dengan Allah dalam segala keadaan. Semestinya anda tidak perlu terjebak dalam kesempitan urusan hidup berumah tangga, apabila senantiasa memiliki kedekatan dengan Allah. Pada kondisi dimana anda bertepuk sebelah tangan, anda ingin berlaku baik kepada pasangan tetapi disalahpahami, anda ingin membahagiakan pasangan tetapi tidak ditanggapi, anda ingin bermesraan dengan pasangan tetapi merasa tidak diperhatikan, maka ingatlah anda masih memiliki tempat untuk mencurahkan semua kesedihan anda: kepada Allah!

Suatu ketika anda merasa dizhalimi, suatu saat anda merasa disakiti dan dianiaya oleh pasangan anda, dan anda tidak berdaya menghadapinya. Suatu saat anda merasa dikasari fisik dan perasaan anda, suatu ketika anda merasa dilecehkan dan dihina pasangan anda, pada kondisi seperti itu ingatlah bahwa anda memiliki Allah yang siap untuk mendengarkan keluhan anda, yang siap menyembuhkan luka hati anda, yang siap mengabulkan doa anda, yang siap memberikan pahala besar atas kesabaran dan kaikhlasan anda menghadapi perilaku pasangan anda. Maka, pengorbanan anda tidak akan pernah sia-sia di sisi Allah.

3.Kejadian dan Pengalaman

Ada banyak pesan moral yang bisa kita dapatkan dalam kehidupan keseharian. Suatu saat saya mengikuti program Latihan Dasar Kepanduan, yang salah satu menu acaranya adalah naik lereng gunung Merapi. Saya merasakan betapa berat kegiatan naik lereng gunung ini, padahal program tersebut tidak untuk mendaki puncak Merapi, hanya lerengnya saja.

Bagi peserta program yang lemah motivasi dirinya, akan sangat cepat merasa lelah dan lemah dalam melakukan pendakian lereng gunung. Saya termasuk salah seorang di antara mereka yang lemah. Dengan punggung dipenuhi beban ransel, perjalanan mendaki lereng ini sungguh merupakan aktivitas yang amat melelahkan bagi saya. Pada titik tertentu, bahkan kadang saya merasa heroik, bahwa saya mampu mengikuti pendakian lebih dari separohnya.

Keringat saya telah membanjiri tubuh, kepenatan telah menghinggapi jiwa, dan perjalanan masih setengahnya lagi, sementara semakin tinggi lereng yang harus didaki. Mendadak saya dikejutkan oleh munculnya dua ibu tua yang keluar dari balik hutan sembari membawa rumput untuk makanan ternak. Mereka tidak tampak kelelahan, wajah mereka biasa saja, padahal beban rumput dipunggung mereka menggunung, saya perkirakan dua kali lebih berat daripada beban ransel saya.

Rupa-rupanya mereka penduduk asli lereng Merapi yang pekerjaan setiap hari adalah beternak sapi, sehingga harus mencarikan rumput untuk makan ternak mereka. Menilik usia ibu-ibu tersebut, rupanya sudah hampir mencapai 50 tahun, sementara usia saya pada waktu itu belum sampai 30 tahun. Setiap hari mereka naik turun gunung untuk mencari rumput dan kayu bakar, toh mereka merasa ringan saja. Kuncinya adalah, mereka memiliki motivasi yang kuat untuk hidup, sehingga berbagai beban terasakan ringan. Mereka merasa gembira dengan apa yang mereka jalani.

Pesan moral yang saya dapatkan dengan sangat kuat dari peristiwa tersebut adalah, bahwa hidup bisa dilalui dengan bahagia apabila kita mampu melewatinya dengan sikap yang positif, dengan sebuah motivasi yang tinggi. Tiba-tiba saya menjadi termotivasi oleh kejadian tersebut. Ada perasaan malu dalam hati saya, namun juga takjub. Yang saya lakukan belum ada apa-apanya dibanding dua ibu tua tersebut. Saya hanya mengikuti program Kepanduan tahunan, sedang mereka bekerja harian. Begitulah dalam kehidupan sehari-hari, amat banyak kejadian dan pengalaman yang bisa menjadi bahan bakar lentera motivasi kita.

Cobalah sesekali anda perhatikan kehidupan masyarakat desa yang jauh dari keramaian ibukota, yang hidup mereka teramat sangat sederhana, namun teramat banyak kebahagiaan bisa mereka dapatkan dalam rumah tangga. Untuk bisa mendapatkan kebahagiaan hidup berumah tangga, rupa-rupanya, tidak harus menempuh pendidikan tinggi. Lalu bagaimana dengan anda yang mengenyam bangku pendidikan tinggi? Semestinyalah anda lebih bisa menikmati kebahagiaan hidup berkeluarga, karena relatif lebih mengerti secara teoritis, tentang bagaimana harus membangun rumah tangga.

Kadang anda terbangkitkan motivasi anda melihat dan mendengar penderitaan orang lain. Saya sering mendengar penuturan permasalahan dalam rumah tangga. Seorang isteri menyampaikan betapa ia menderita karena sikap suami yang sangat kaku, tidak mau mengalah dan kasar kepada isteri. Memang tidak pernah melakukan pemukulan atau menyakiti fisik isteri, namun suami tersebut sering menyakiti perasaannya. Ia mencertitakan sering tidak bisa tidur malam, dan menangis seorang diri, karena perlakuan suaminya.

Cerita tersebut, di satu sisi menuntut saya menyampaikan penyelesaian masalah, sebagai seorang konsultan keluarga, namun pada sisi yang lain menumbuhkan pengertian dan rasa empati  pada saya. Ada sebuah bahan bakar bagi lentera motivasi saya, bahwa saya bisa menzhalimi isteri saya apabila melakukan hal yang demikian, oleh karenanya sebagai suami harus berlaku sebijak mungkin dalam berinteraksi.

ilustrasi : www.pinterest.com

4.Keluasan Wawasan dan Ilmu Pengetahuan

Perbanyaklah ruang bagi penambahan ilmu anda. Secara intelektual, banyak wacana yang bisa menghantarkan anda menuju kebangkitan motivasi. Saya sendiri menemukan banyak hal baru dari membaca dan mendengarkan ilmu. Semestinya kita tidak boleh berhenti belajar, justru karena kita senantiasa menghajatkan kebaruan dalam kehidupan.

Terkadang kita membaca buku, yang dengan itu terbangkitkanlah motivasi hidup kita. Teramat banyak hal yang belum kita ketahui, padahal ia sangat penting bagi kebaikan hidup berumah tangga. Dengan banyak menambah wawasan, akan semakin terbukalah cakrawala pemikiran, yang membuat kita tidak sempit hati menghadapi permasalahan kehidupan berkeluarga.

Cobalah anda ke toko buku bersama pasangan anda, dan carilah berdua buku-buku yang sekiranya akan menjadi bahan bakar bagi lentera motivasi anda, sejak dari buku-buku agama, psikologi, manajemen hidup, biografi tokoh, sampai hal-hal ringan seperti buku resep masakan dan cara menata taman. Cobalah mengikuti seminar dan pelatihan keluarga, parenting, couple, untuk mendapatkan penyegaran dan peremajaan cinta bersama pasangan.

Cobalah berdialog, berdiskusi dengan berbagai kalangan pakar, untuk memperluas cakrawala pemikiran dan wawasan anda tentang pengelolaan keluarga dari berbagai sisinya. Bisa pula anda berdua mengikuti sesi bimbingan dan coaching keluarga, agar mendapatkan penguatan dan pencerahan bagi wacana intelektual anda.

Kadang-kadang sebuah keluarga berada dalam jurang kehancuran dan seperti tidak menemukan jalan keselamatan. Pada titik tertentu, jawaban-jawaban intelektual yang didapatkan dari berbagai referensi sangat bermanfaat untuk membantu mereka keluar dari krisis. Sejumlah teori dan manajemen kehidupan, diperlukan untuk membantu keluarga dalam menemukan kebahagiaan dan menjaga keutuhan rumah tangga. Dengan berbekal luasnya ilmu dan pengetahuan, akan memudahkan suami dan isteri untuk menyelesaikan masalah dengan pendekatan ilmiah.

Maka, jangan pernah lupa, asah terus sisi intelektual anda.

5.Memori Indah Kebersamaan

Menjalani hidup dalam masa yang panjang dengan orang yang sama, memerlukan seni untuk menciptakan keindahannya. Pasangan suami istri telah terikat oleh akad yang sangat kuat atas nama Allah, disahkan oleh agama dan hukum negara. Mereka akan menjalani hidup bersama dalam rumah tangga untuk waktu yang tidak ada batasnya. Sepanjang usia mereka masing-masing.

Jika tidak pandai untuk menciptakan keindahan dalam sepanjang hidup berumah tangga, akan mudah mengalami kebosanan, kelelahan, kehambaran dan kejenuhan. Oleh karena itu, hendaknya pasangan suami istri pandai menciptakan momentum indah bersama, momentum romantis berdua, dan momentum yang sangat mengesankan dalam kehidupan mereka.

Sekedar berjalan-jalan di kota berdua, atau duduk di taman menikmati suasana, atau bertamasya ke pantai atau hutan, merupakan pilihan yang bisa membuat suasana bahagia dan mengesankan. Hal apa yang membahagiakan anda berdua bisa berbeda-beda untuk satu pasangan dengan pasangan yang lainnya. Namun intinya adalah : ciptakan sebanyak mungkin momentum keindahan dan momentum romantis bersama pasangan.

Tidak terlalu penting dimana momentum itu diciptakan, karena yang lebih penting adalah kemampuan untuk menikmati momentum itu bersama pasangan, dan merasakan kebahagiaan serta keceriaan bersama pasangan. Lakukan berbagai hal untuk memanjakan dan membahagiakan pasangan, sehingga pada momentum tersebut anda berdua benar-benar berada dalam suasana yang sangat bahagia dan menyimpan memori keindahan yang sangat dalam.

Semakin banyak memori keindahan dan memori romantis anda ciptakan, akan semakin banyak cara bagi anda berdua untuk memanggilnya kembali dalam sepanjang perjalanan kehidupan anda. Kelak anda akan merasakan manfaat yang sangat besar, ketika perjalanan keluarga anda sudah mulai memasuki tahun kesepuluh, apalagiu tahun keduapuluh dan seterusnya. Anda akan mengerti betapa pentingnya menciptakan memori keindahan dan memori romantis bersama pasangan, justru saat anda mulai menemukan titik-titik kejenuhan dan kelelahan hidup berumah tangga.

Melewati waktu yang panjang bersama pasangan, di tengah berbagai kesibukan mengurus anak, menjalani profesi, mencari nafkah, menjalankan organisasi, bermasyarakat dan lain sebagainya, bisa membuat kejenuhan dan kelelahan. Cinta yang dulu sedemikian kuat dan membara, perlahan bisa meredup bahkan hilang sirna di telan masa. Kata-kata mesra yang dulu demikian mudah terucap, bisa hilang dan tidak pernah terdengar lagi dalam hidup berumah tangga. Semua berjalan serba rutin dan mekanis, seperti mesin atau robot yang tidak memiliki hati dan jiwa seni. Mengalir tanpa arah, hingga akhirnya merasa lelah dan ingin berhenti untuk menepi.

Di saat seperti itu, panggillah satu per satu memori indah dan memori romantis bersama pasangan. Anda bisa mengulanginya lagi. Kini anda kencan pacaran dengan pasangan. Melakukan hal yang sama, di tempat yang sama, dengan sarana yang sama, namun dalam suasana dan kondisi yang sangat berbeda. Dulu anda berdua masih muda belia, berlarian di pantai hingga senja tiba. Anda bergandengan tangan menyusui tepi pantai, seakan tiada lelahnya. Anda berpelukan sembari menatap matahari yang turun ke peraduannya.

Kini anda sudah lebih tua. Kenangan itu masih kuat anda ingat. Anda kembali bergandengan tangan, menyusuri pantai, bercerita berdua sambilo mengenang masa-masa muda. Mungkin bahkan rambut anda sudah memutih kini. Mungkin kulit anda mulai berkeriput saat ini. Namun Anda berdua bisa berpelukan lagi, sembari menatap matahari yang mulai tenggelam. Kenangan itu anda abadikan dengan selfie. Anda bisa membandingkan foto saat ini dengan sepuluh atau bahkan duapuluh tahun silam.

6.Posisi Sosial dan Beban Moral

Cobalah anda renungkan posisi diri anda, di tengah keluarga besar, di masyarakat, di kantor tempat anda bekerja, bahkan dalam rumah tangga anda sendiri. Sudah barang tentu sebagai suami atau isteri, anda menempati posisi sentral, tempat bergantungnya segala kebaikan. Apakah tega anda mengecewakan ribuan sorot mata yang mengarahj kepada anda?

Ada beban moral bagi anda, sebagai seseorang yang dipercaya dan mendapatkan harapan untuk menjadi contoh teladan dalam kehidupan. Mungkin anda orang biasa saja, bukan pemimpin, bukan atasan, akan tetapi bukan berarti anda tidak menjadi contoh teladan dalam posisi seperti itu. Minimal, anda adalah teladan bagi anak-anak dan kerabat dekat anda. Apabila bahtera rumah tangga anda dilanda bencana permasalahan yang menyebabkan kehancuran, bayangkan, betapa kecewa ayah ibu anda, anak-anak, adik dan kakak anda. Semua kecewa.

Sulit bagi anda untuk melepaskan diri dari beban moral seperti ini. Mungkin rasanya memang membebani, tetapi sesungguhnya ia merupakan salah satu bahan bakar yang efektif untuk memperbesar nyala lentera motivasi anda. Cobalah anda perhatikan,  seseorang bisa memenangkan perlombaan lari, semata-mata karena merasa malu kalau kalah. Seseorang bersedia belajar giat demi sukses ujian, karena malu kalau sampai gagal. Seorang gadis bersedia mengeluarkan biaya besar untuk operasi plastik, karena malu wajahnya dipenuhi jerawat. Nah, sekedar beban moral bernama “malu”, mampu memperbesar nyala lentera motivasi seseorang.

Tentu saja, masalahnya bagi anda bukan sekedar  malu kalau sampai terlihat keluarga anda tidak harmonis. Lebih dari itu, beban moral tersebut terkait dengan masa depan yang lebih panjang. Masa depan anak-anak, sangat dipengaruhi oleh suasana yang mereka dapatkan dalam rumah tangga. Apabila suasana rumah tangga dipenuhi cinta dan kasih sayang, niscaya berbagai potensi kebaikan akan teroptimalkan. Sebaliknya, apabila suasana rumah dipenuhi oleh amarah dan permusuhan, anak-anak akan mendapatkan trauma yang membuat potensi mereka tidak teroptimalkan.

Jadikan beban moral tersebut sebagai pembakar nyala lentera motivasi anda.

ilustrasi : www.pinterest.com

7.Masa Depan Anak

Penelope Leach, seorang psikolog, menyatakan bahwa ada dampak yang sangat besar dalam sebuah perceraian. Ketika anak-anak masih kecil, pemikiran mereka belum cukup berkembang untuk memahami mengapa orang tua mereka berpisah dan mengapa mereka harus memilih untuk ikut ayah atau ibu. Menurut Leach, anak-anak selalu berpikir, perpisahan itu adalah kesalahan mereka. Anak-anak cenderung menyalahkan diri mereka atas perceraian orang tuanya.

“Seorang gadis kecil pernah mengatakan pada saya: Mereka berpisah pasti karena saya bukan anak laki-laki,” ujar Leach. Anak tersebut menganggap bahwa orang tuanya ingin anak laki-laki, dan berpikir bahwa itu adalah kesalahan dirinya karena lahir sebagai anak perempuan. Sementara itu, anak-anak lain yang ditangani oleh Penelope mengatakan bahwa mungkin ayahnya berpisah dari ibu karena menganggap sang anak nakal dan tidak bisa diam. Sedangkan anak lainnya berpikir orang tuanya bercerai karena dirinya sering bangun terlalu pagi.

Jika perasaan bersalah ini tertanam dan terbawa hingga dewasa, akan menjadi gangguan tersendiri dalam kehidupan mereka. Anak-anak yang pada dasarnya tidak bersalah atas perceraian itu, ikut menanggung beban berat akibat perceraian orang tua. Dalam batas tertentu, bahkan mereka bisa menghukum diri sendiri atas perasaan bersalah tersebut. Hal ini semakin buruk bagikehidupan anak-anak.

Sangat banyak jeritan hati anak-anak yang menjadi korban perceraian orang tua mereka. Saya merasa mencukupkan dengan tulisan mbak Ella Zulaeha di Kompasiana beberapa waktu lalu. Berikut petikan tulisan mbak Ella yang bertajuk Jeritan Hati Anak Korban Perceraian:

“Papa, mengapa kau pergi meninggalkan kami? Mengapa kau tega membiarkan kami hidup penuh dengan derita dan airmata? Aku tak pernah membayangkan sedikitpun bahwa perceraian yang menimpa kehidupan kalian akan menjadi trauma yang begitu dahsyat dalam jiwaku? Bagaikan sebuah mimpi buruk yang menghiasi perjalanan hidupku.

Masih terbayang jelas dalam ingatanku, saat mama berurai airmata mendengar keputusanmu untuk bercerai darinya. Tak terlukiskan duka yang dalam terpancar dari sosok wanita yang dulu sempat kau cintai. Sejak kecil aku tidak pernah percaya diri di tengah lingkunganku. Aku terkungkung dalam ketakutan besar bahwa mereka di luar sana akan menyakitiku, aku sangat membutuhkan sosok pelindung dalam kehidupanku dan itu tak pernah aku dapatkan darimu.

Di saat aku tumbuh remaja, rasa tak percaya diri itupun tak pernah hilang dari diriku. Tak tahukah kau papa, mengapa aku dulu begitu ketakutan saat ada seorang pria menyatakan cintanya kepadaku. Aku sungguh takut! Takut pria itu nantinya akan berbuat hal yang sama sepertimu, pergi meninggalkan aku. Trauma itu hingga kini masih tertanam di benakku. Aku tak pernah mempercayai pria manapun.

Rasa nyaman yang selama ini aku impikan dari seorang yang kelak menjadi pendamping hidupku tak kunjung aku temukan. Hubungan demi hubungan yang kujalin selalu kandas di tengah jalan. Aku tumbuh menjadi wanita yang tak pernah bisa mempercayai pasanganku. Kecurigaan, kecemburuan dan rasa frustasi selalu menghantui pikiranku.

Hal ini sungguh menjadi beban bagi hidupku makin bertambah. Harus kemanakah aku untuk menyembuhkan trauma ini, Papa?”

Masyaallah, miris membaca jerit tangis anak-anak seperti yang dituliskan mbak Ella. Trauma berkepanjangan bisa dirasakan anak yang menjadi korban perceraian orang tua mereka. Pada anak perempuan, mereka takut bahwa ketika menikah akan mendapatkan perlakuan yang sama dengan ibu mereka. Anak-anak ini khawatir bahwa semua laki-laki jahat, seperti bapak mereka. Pada anak laki-laki, mereka menjadi kehilangan figur yang bisa dipercaya. Mereka kehilangan pegangan dan contoh teladan dalam kehidupan.

Ayah dan ibu yang sangat dibanggakan dan diidolakan oleh anak-anak, tiba-tiba menjadi sosok yang tidak ramah bagi mereka. Apalagi pada anak remaja yang mengikuti proses persidangan cerai orang tua mereka, suasana persidangan yang saling melontarkan sisi kesalahan pasangan akan semakin melukai anak-anak. Sangat dalam membakas pada anak-anak itu, saat ayah dan ibu mereka menyatakan berbagai kesalahan dan kekurangan pasangan di persidangan. Sesuatu yang mereka sama sekali tidak ingin mendengarkannya.

8.Nasihat dan Pengingatan

Siapapun memerlukan nasihat. Tidak ada orang yang tidak memerlukan nasihat. Bahkan Nabi saw menggambarkan agama sebagai nasihat.

Dari Abi Ruqayah Tamim bin Aus Addary radhiyallahu’anhu, ia berkata bahwa Nabi shalallahu’alaihi wasallam bersabda, “Agama itu nasihat”. Kami bertanya, “Bagi siapa?” Beliau menjawab, “Bagi Allah, bagi kitabNya, rasulNya dan bagi Imam kaum muslimin serta seluruh mereka” (Riwayat Muslim).

Jangan menyalahartikan nasihat, bahwa seakan-akan yang meminta nasihat hanyalah orang yang bermasalah, dan seseorang dinasihati karena ada kesalahan. Nasihat itu mengingatkan, menyegarkan, mencerdaskan, mencerahkan dan menyejukkan. Kaum muslimin setiap kali melaksanakan shalat Jumat senantiasa mendengarkan nasihat dari para khathib agar mereka bertaqwa kepada Allah. Demikianlah nasihat menjadi tradisi di kalangan masyarakat beriman, bahkan menjadi salah satu ciri orang yang tidak merugi:

Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran” (Al Ashr: 1-3).

Apabila kita menyiapkan diri untuk menerima nasihat, sungguh akan banyak hal baru kita dapatkan. Seringkali nasihat itu berulang dari segi isi, kendati demikian tetap memberikan manfaat, justru karena manusia memiliki sifat lalai dan lupa. Untuk itu jangan sungkan meminta nasihat kepada orang lain yang dipercaya kebaikan mereka. Tidak mesti kepada konsultan keluarga, psikolog, orang tua atau ulama. Bahkan kepada teman dekat anda, kepada pasangan hidup anda, dan anak-anak anda. Mereka semua bisa memberikan kontribusi pengingatan kepada kita.

Yang menjadi masalah justru apabila masing-masing pihak sudah tidak mau menerima nasihat orang lain. Benteng keangkuhan diri telah dibangun sedemikian kuat, dengan bersikukuh tidak mau mendengarkan pendapat dan masukan apapun. Sikap seperti ini menandakan tidak ada kemauan untuk islah. Cobalah anda berdua sesekali waktu sialturahim kepada orang-orang yang anda percaya kebaikannya, untuk mendapatkan pencerahan.

Demikianlah delapan sumber motivasi yang bisa anda gunakan untuk menjaga keutuhan, keharmonisan dan kebahagiaan hidup berumah tangga bersama pasangan tercinta. Kendati hidup berumah tangga kadang harus melalui masa-masa berat, bertahanlah. Gunakan delapan sumber motivasi ini untuk bertahan dan terus bertahan dalam kebaikan.

 

Bahan Bacaan

 

  1. Cahyadi Takariawan, Menjadi Pasangan Paling Berbahagia, Sygma Media, Bandung, 2006
  2. Cahyadi Takariawan, Wonderful Couple, Era Adicitra Intermedia, Solo, 2016