HomePernikahanDuh, Isteriku Cerewet Sekali!
e6b788878d8ac6beb2ffb0dd79a92fce

Duh, Isteriku Cerewet Sekali!

Pernikahan 0 5 likes 1.5K views share

DUH, ISTERIKU CEREWET SEKALI!

 

Oleh : Ummu Rochimah

 

Sepasang suami istri, Teddy dan Rina terlibat dalam sebuah percakapan seperti berikut,

“Aku pusing nih,” kata Rina.

“Memangnya ada apa?” tanya Teddy

“Banyak sekali yang harus aku kerjakan,” sahut Rina dengan nada tegang.

“Jangan kuatir soal itu. “ Teddy berusaha menenangkan istrinya. “Santai saja. Ayo kita nonton TV.”

“Aku tidak bisa nonton TV!” bentak Rina. “Aku masih harus menyiapkan makan malam, mencuci piring dan membereskan perabotan bekas makan, menyiapkan tagihan listrik dan telpon, menemani anak-anak mengerjakan PR dan menyiapkan perlengkapan sekolah besok. Belum lagi ruangan ini berantakan sekali perlu dirapikan. Dan, oh! hampir lupa, aku sudah janji untuk membuatkan undangan rapat komite sekolah minggu ini.” Rina menghela napas. “Banyak sekali yang harus dikerjakan. Tidak ada waktu untuk menonton TV.”

“Jangan pikirkan makan malam. Kita beli saja nanti.” Kata suaminya berusaha membantu mengurangi daftar pekerjaan istrinya.

“Kamu tidak mengerti!” sahut Rina. “Aku banyak pekerjaan!”

“Kenapa jadi dibikin susah sekali. Kamu  tidak perlu melakukan itu semua.” kata Teddy, mengabaikan perasaan istrinya.

“Harus,” jawab Rina dengan nada frustasi. “Kamu tidak mengerti!”

 

Laki-laki terkadang sering salah dalam berasumsi bahwa membantu perempuan dalam memecahkan masalahnya akan membuatnya merasa lebih baik. Hal ini hanya berlaku untuk laki-laki tapi tidak bagi perempuan. Dari percakapan di atas, yang terjadi bukannya membantu pasangan, tetapi respon yang terlihat ringan dan usaha suami untuk membuat istrinya melihat masalah dari sudut pandang yang lain jusru membuat istri semakin stress dan merasa tidak dimengerti.

Semakin stress seorang istri, maka semakin ia merasa bingung dan gelisah. Ada banyak hal yang harus dikerjakan oleh istri sebelum dirinya merasa rileks. Dalam otak perempuan, selalu saja masih ada hal yang harus dikerjakan. Stress menyebabkan kepusingan, kepusingan mengakibatan kelelahan. Semakin lelah perempuan, semakin ia terdesak untuk menyelesaikan semua hal, hingga akibatnya membuat stress semakin tinggi. Demikianlah siklus negatif seorang perempuan terbentuk.

 

Mengenal Hormon CInta dan Ikatan

Rasa lelah yang terjadi pada seorang istri atau perempuan bukan hanya disebabkan karena melemahnya otot mereka, tetapi karena mereka tidak menghasilkan cukup banyak oksitosin. Di dalam tubuh manusia ada sebuah hormon yang disebut dengan oksitosin, dikenal juga sebagai hormon kelekatan sosial, diproduksi dalam jumlah banyak selama persalinan dan menyusui pada perempuan, serta saat orgasme pada kedua jenis kelamin. Dan dipercaya berperan penting dalam tingkah laku manusia.

Oksitosin pada perempuan dapat merangsang perilaku keibuan, juga membangkitkan gairah seksual. Hormon ini menurunkan tingkat tekanan darah, tingkat kortisol dan ketakutan. Meskipun laki-laki dan perempuan memiliki tingkat oksitosin yang sama dalam aliran darah, namun perempuan memiliki lebih banyak estrogen yang dapat meningkatkan efektifitas oksitosin. Sedangkan laki-laki memiliki lebih banyak testoteron yang sifatnya justru bertentangan dengan efek tenang yang diberikan oksitosin. Inilah yang menyebabkan perbedaaan antara laki-laki dan perempuan dalam  merespon stress. Karena bermula dari perbedaan cara oksitosin berinteraksi dengan estrogen dan testoteron.

Para peneliti menemukan bahwa oksitosin memberikan efek menurunkan stress pada perempuan, tetapi tidak berlaku pada laki—laki. Oksitosin merupakan hormon yang membuat perasaan senang pada perempuan, kadang disebut juga dengan hormon cinta dan ikatan.

Oksitosin menciptakan perasaan kelekatan. Kadarnya akan meningkat saat seorang perempuan berhubungan dengan orang lain melalui persahabatan, berbagi, memerhatikan dan merawat. Sedangkan kadarnya akan menurun saat ia merindukan seseorang atau mengalami kehilangan, atau ketika ia sendirian, diabaikan, tidak mendapat dukungan atau dirinya merasa tidak berarti.

 

Cara Perempuan Berinteraksi dengan Masalah

Ketika perempuan merasa terbebani atau memikirkan suatu permasalahan atau berbagai permasalahan, ia akan merasa perlu untuk menemukan seseorang yang dapat diajak untuk berbicara. Bisa kepada perempuan atau laki-laki. Ia bisa menceritakan sebagian masalahnya atau bahkan seluruh masalahnya kepada lawan bicaranya bahkan terkadang pembicaraannya melenceng keluar dari masalah yang sedang dihadapinya.

Di antara sifat dan tabiat perempuan adalah ketika sedang membicarakan berbagai permasalahan, ia akan menceritakan semua masalahnya ngalor ngidul, ke mana-mana tanpa membuat skala prioritas, mana masalah yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Ia akan bercerita panjang lebar tak beraturan dan seingatnya saja.

Pada saat perempuan melakukan hal ini, sebenarnya tujuan utamanya bukanlah mencari pemecahan atas permasalahannya. Tetapi yang diinginkan adalah mengungkapkan semua yang ada dalam hatinya, mencari kepuasan pikiran, untuk kemudian dia merasakan ketenangan.

Untuk bisa tenang, perempuan tidak hanya membicarakan masalah yang sedang dialami, tapi ia juga akan menceritakan masalah yang telah dialami, juga masalah yang mungkin akan terjadi di kemudian hari. Inilah mengapa, terkadang seorang suami sering mendengar cerita yang sama dari istrinya berkali-kali hingga mungkin ada yang sampai hafal dengan jalan ceritanya.

Namun, meskipun ketika perempuan terlihat sedang membicarakan semua permasalahannya, tapi sebenarnya ia tidak konsentrasi dan tidak terpikir untuk mendapatkan pemecahan atas masalah-masalahnya. Yang terpenting bagi perempuan adalah, “membicarakan masalahnya, bukan mendapatkan solusinya.” Ini cara perempuan dalam menyikapi permasalahan-permasalahan, dan bila kaum laki-laki atau para suami mengingkari hal ini berarti mengingkari diri dan keberadaannya.

Dikatakan, bahwa perempuan atau istri dapat berbicara dalam satu waktu tentang lima belas hal sepele yang dialaminya. Hal ini dilakukan semata hanya untuk dimengerti, namun terkadang suami sibuk mengabaikan hal tersebut, karena menganggap sebagai persoalan yang tidak penting dibandingkan persoalan besar lain, misalnya seperti merencanakan pekerjaan yang bisa meningkatkan penghasilan dan sebagainya.

 

Bentuk Uluran Tangan Suami yang Dibutuhkan Istri

Sementara istri perlu berbicara tentang segala hal untuk melepaskan stresnya, namun ternyata suami sibuk memikirkan persoalan besarnya yang lain, sehingga kualitas percakapan antara suami dengan istri lama kelamaan akan menurun. Istri sulit untuk mendapatkan perhatian suami, sedangkan suami sulit menfokuskan perhatiannya. Lama kelamaan istri menjadi enggan untuk berbagi cerita kepada suaminya.

Sementara istri sebagai seorang perempuan butuh, berbicara dan didengarkan untuk mencapai sebuah ketenangan dan meningkatkan hormon oksitosinnya. Sehingga ketika hal itu tidak diperolehnya dari pasangannya, maka ia akan mencarinya di luar rumah.

Hal ini lah yang menjawab akan sebuah pertanyaan, mengapa perempuan sering nampak terlihat banyak bicara, jika tidak kepada suaminya mungkin ia akan berbicara kepada teman-temannya di luar rumah.

Jadi, seringkali istri hanya ingin berbicara tentang perasaannya dan suami hanya perlu mendengarkan serta mencoba memahami apa yang sedang dialaminya. Terkadang istri atau perempuan tidak membutuhkan pemecahanan dari masalah yang sedang ia alami.

Dengan mencurahkan perasaan yang sedang dialaminya, sebenarnya ia sedang berusaha untuk menurunkan tingkat stress nya dengan cara meningkatkan oksitosinnya. Dengan demikian ia akan mendapatkan ketenangan. Setelah memperoleh ketenangan, ia akan dengan sendirinya mampu menyelesaikan daftar pekerjaan yang semula tampak panjang dan seperti tidak ada habisnya.

 

Sumber bacaan :

John Gray, Ph.D, Why Mars and Venus Collide, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2008

Thariq Kamal An Nu’aimi, Psikologi Suami Istri, Mitra Pustaka, Yogyakarta, 2005