HomePernikahanEmpat Konsep Penunaian Peran Kerumahtanggaan
www.pinterest.com

Empat Konsep Penunaian Peran Kerumahtanggaan

Pernikahan 0 2 likes 821 views share

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

 

Ada hal yang sangat berbeda antara jomblo yang belum menikah dengan mereka yang telah menikah. Di antara hal yang membedakannya adalah tanggung jawab. Ya, sebuah tanggung jawab yang semula belum ada, semula tidak dimiliki, namun karena akad nikah maka beban tanggung jawab itupun harus diambil sepenuhnya. Di antara tanggung jawab yang muncul dalam pernikahan adalah hak dan kewajiban yang melekat pada diri suami dan istri. Ini yang tidak dimiliki oleh jomblo, meskipun ada jomblo yang pacaran sampai sepuluh tahun sekalipun.

Akad nikah mewajibkan suami memberi nafkah kepada istri, dan memberikan hak kepada istri untuk menerimanya. Tentu saja hak dan kewajiban suami istri bersifat timbal balik. Masing-masing pihak memiliki hak serta kewajiban. Masing-masing pihak memiliki peran untuk ditunaikan. Ada pasangan halal yang bisa diajak untuk bersenang-senang, namun juga sekaligus pasangan untuk ditunaikan semua hak-haknya.

Pondasi Peran Kerumahtanggaan

Di antara peran yang muncul akibat pernikahan adalah adanya kepemimpinan, serta pemenuhan nafkah keluarga. Allah Ta’ala telah berfirman:

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain, dan karena mereka telah memberi nafkah sebagian dari harta mereka”. (QS. An-Nisa’: 34)

Dalam ayat ini, Allah menunjuk laki-laki sebagai pemimpin dalam kehidupan rumah tangga, sekaligus meletakkan kewajiban memenuhi nafkah keluarga kepada para suami. Nafkah adalah segala yang dibutuhkan oleh seorang manusia, baik bersifat lahir maupun bersifat bathin. Nafkah lahir adalah terpenuhinya kebutuhan makanan, pakaian dan tempat tinggal. Allah Ta’ala telah berfirman:

Dan kewajiban ayah (yakni suami) memberi makan dan pakaian kepada para ibu (istri) dengan cara ma’ruf.” (QS Al-Baqarah : 233).

Besaran kewajiban memenuhi nafkah keluarga ini disesuaikan dengan kesanggupan suami, karena kondisi sosial ekonomi setiap orang yang berbeda-beda. Tidak ada standar minimal atau maksimal jika dibuat angka nominal nafkah lahir. Semua disesuaikan dengan kondisi dan situasi. Allah telah berfirman:

Hendaklah orang (yakni suami) yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya”. QS Ath-Thalaq : 7.

Sedangkan nafkah bathin adalah terpenuhinya kebutuhan bathiniyah istri. Salah satunya adalah kebutuhan biologis berupa kepuasan seksual. Jadi yang disebut sebagai nafkah bathin bukanlah sekedar hubungan suami istri, namun terpenuhinya kepuasan seksual istri secara patut. Jika dalam hubungan suami istri yang mendapat kepuasan hanya suami, berarti suami belum memenuhi nafkah bathin untuk istri.

Selain kepuasan seksual, nafkah bathin juga berupa perlakuan dan pergaulan yang patut sebagaimana diisyaratkan dalam ayat, “Dan bergaullah dengan mereka dengan cara yang ma’ruf”. (QS. An Nisa: 19). Juga dalam ayat, “Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf”. (QS. Al Baqarah: 228). Perlakuan yang baik terhadap istri, akan membuat ketenangan dan kebahagiaan bathin pada istri.

Ibnu Katsir memberikan penjelasan mengenai ayat tersebut, “Berkatalah yang baik kepada istri kalian, perbaguslah amalan dan tingkah laku kalian kepada istri. Berbuat baiklah sebagaimana engkau suka jika istri kalian bertingkah laku demikian kepada kalian”. (Lihat : Tafsir Al Quran Al Azhim, 3: 400).

Untuk itu, para suami hendaknya selalu berbuat dan bersikap yang terbaik agar bisa memenuhi kebutuhan kesenangan bathin istri. Dari Aisyah, Nabi Saw bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang berbuat baik kepada keluarganya. Sedangkan aku adalah orang yang paling berbuat baik pada keluargaku”. HR. Tirmidzi no. 3895, Ibnu Majah no. 1977, Ad Darimi 2: 212, Ibnu Hibban 9: 484. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.

Beda Pendapat Para Ulama dalam Pembagian Peran Kerumahtanggaan

Jika kita runut dalam khazanah keilmuan Islam tentang hak dan kewajiban atau peran kerumahtanggaan, dengan mudah kita jumpai adanya perbedaan pendapat di kalangan ulama sejak zaman dulu kala sampai ulama zaman now. Hal ini karena dalam hal-hal yang bersifat teknis kegiatan kerumahtanggaan, tidak ada nash yang dengan tegas memberikan beban kewajiban kepada suami atau kepada istri. Wajar jika muncul ijtihad yang beragam di kalangan para ulama.

Di antara hal yang sangat banyak dijumpai perbedaan di kalangan ulama adalah tentang hal-hal teknis kerumahtanggaan, seperti pekerjaan memasak, membersihkan rumah, mencuci dan menyeterika baju, dan hal-hal teknis lainnya semacam itu. Apakah hal-hal teknis seperti itu menjadi kewajiban suami, ataukah menjadi kewajiban istri. Banyaknya pendapat ini justru menjadi ragam “pilihan’ yang bisa diambil sesuai dengan situasi dan kondisi setiap keluarga.

Berikut saya nukilkan beragam pendapat ulama zaman dulu maupun ulama zaman now, mengenai peran kerumahtanggaan tersebut, agar menjadi pengetahuan yang komprehensif bagi kita.

  1. Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah

Dalam kitab AI Fatawa (2/234 – 235), Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah menjelaskan, “Para ulama berbeda pendapat tentang kewajiban para istri dalam membantu mencuci baju, memasak makanan, menyiapkan minuman, membuat adonan, memberi makanan untuk hewan ternaknya, dan yang sejenisnya. Sebagian dari ulama ada yang berpendapat bahwa istri tidak wajib melakukan hal-hal tersebut.”

  1. Al Hafizh Ibnu Hajar Al Atsqalani

Dalam Kitab Fathul Bari dijelaskan tentang kehidupan keluarga Asma’ binti Abu Bakar, dimana seluruh pekerjaan kerumahtanggaan dilaksanakan sendiri oleh Asma’. Ia mengadoni roti, mengambil air, mengambil kurma dari kebun, bahkan memberi makan kuda milik Az Zubair, suaminya.

“Tetapi yang menjadikan Asma’ bersabar melakukan hal itu ialah karena kesibukan suami dan ayahnya melaksanakan jihad dan sebagainya yang diperintahkan dan ditegakkan oleh Nabi saw; dan mereka tidak mempunyai kesempatan untuk melaksanakan urusan rumah tangga sendiri, serta tidak mempunyai kemampuan untuk mengambil pelayan. Oleh karena itu, diserahkanlah urusan itu kepada isteri-isteri mereka, maka isteri-isteri itulah yang menggantikan mereka mengurusi rumah tangga mereka agar dapat berjuang secara optimal dalam membela Islam, disamping tradisinya sendiri tidak menganggap yang demikian sebagai suatu cela”.

“Kisah ini, telah dijadikan dalil untuk menetapkan bahwa wanita harus melakukan semua pelayanan yang dibutuhkan oleh suami, demikian pendapat Abu Tsaur. Akan tetapi ulama-ulama lain mengatakan bahwa yang demikian itu bagi wanita bersifat suka rela, bukan suatu keharusan, demikian pendapat Al Mahlab dan lain-lain. Namun yang jelas peristiwa ini dan yang semacamnya terjadi dalam kondisi darurat sebagaimana dijelaskan di muka. Oleh karena itu hukumnya tidak dapat diberlakukan bagi orang yang kondisinya tidak seperti itu”.

“Telah dijelaskan pula bahwa Fatimah, penghulu para wanita sedunia, mengadu karena tangannya melepuh akibat memutar penggiling, lalu ia meminta pembantu kepada ayahnya (yakni Nabi saw), kemudian Nabi menunjukkan kepada sesuatu yang lebih baik, yaitu berdzikir kepada Allah. Pendapat yang kuat ialah memberlakukan hal itu sesuai dengan kebiasaan negeri setempat, karena kebiasaan di satu negeri dalam hal ini berbeda dengan negeri lain”, demikian Imam penjelasan Al Hafizh.

  1. Imam An-Nawawi

Imam Nawawi berkomentar atas kisah keluarga Asma’ binti Abu Bakar, “Semua ini termasuk kepatutan dan kelakuan yang dipraktikkan manusia, yaitu bahwa wanita melayani suaminya dengan hal-hal yang disebutkan itu dan sebagainya. Membuat roti, memasak, mencuci pakaian dan lain-lain, semua itu merupakan sumbangan dan kebaikan wanita kepada suaminya, pergaulan yang bagus, pergaulan yang makruf, yang tidak wajib sama sekali atasnya, bahkan seandainya ia tidak mau melaksanakannya, maka ia tidak berdosa”.

  1. Atsar dari Khalifah Umar

Adz Dzahabi dalam kitab Al Kaba’ir dan Al Haitami dalam kitab Az Zawajir menceritakan bahwa suatu ketika seorang laki-laki mendatangi Umar ra untuk mengadukan perilaku isterinya. Ia menunggu Umar di depan pintu rumahnya. Tiba-tiba laki-laki tersebut mendengar isteri Umar sedang memarahinya, dan Umar diam saja tidak menanggapi. Laki-laki itu akhirnya pulang dan berkata dalam hatinya, “Jika keadaan Amirul Mukminin seperti itu, lalu bagaimana dengan saya?”

Tidak lama kemudian Umar keluar dan melihatnya berpaling. Umar memanggil laki-laki tersebut. “Apa keperluanmu?” tanya Umar.

“Wahai Amirul Mukminin, sebenarnya saya datang untuk mengadukan sikap dan perbuatan isteri saya kepada saya, namun saya mendengar hal yang sama pada isteri anda, akhirnya saya pulang dan berkata (dalam hati): Jika keadaan Amirul Mukminin seperti ini lalu bagaimana dengan saya?”

“Wahai saudaraku! Saya tetap sabar (atas perbuatannya), karena memang itu kewajiban saya. Isteri sayalah yang memasakkan makanan saya, membuatkan roti untuk saya, mencucikan pakaian, dan menyusui anak saya, sedang semua itu bukanlah kewajibannya. Disamping itu hati saya merasa tenang (untuk tidak melakukan perbuatan haram). Karena itulah saya tetap bersabar atas perbuatannya itu”, jawab Umar.

“Wahai Amirul Mukminin, isteri sayapun demikian”, kata laki-laki tersebut.

“Karena itu, bersabarlah wahai saudaraku. Ini hanya sebentar,” kata Umar.

Kisah di atas memberikan sebuah perspektif dalam relasi suami dan isteri menyangkut pekerjaan kerumahtanggaan. Dalam pandangan Umar bin Khathab, memasak makanan, membuat roti, mencuci baju suami, bukanlah kewajiban isteri. Umar melihat isterinya telah melakukan banyak kebaikan dengan melakukan kegiatan kerumahtanggaan untuk dirinya. Maka wajib bagi suami untuk bersabar atas perangai istrinya.

  1. Syaikh Nashiruddin Al Albani

Bahwasanya hadits-hadits yang baru saja saya paparkan ke hadapan para pembaca menunjukkan dalil yang jelas tentang kewajiban wanita untuk taat kepada suami mereka, membantu suami, dan mengabdi kepadanya dalam batas batas yang sesuai dengan kadar kemampuannya. Tidak diragukan lagi, bahwa diantara kewajiban-kewajiban yang dibebankan kepada wanita dalam hal ini adalah mengurus urusan rumah tangganya dan hal-hal yang berhubungan dengan pengurusan keluarga, seperti mendidik anak dengan pendidikan yang baik, dan yang sejenisnya.

Pendapat ini (—yakni pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah yang menyatakan “Sebagian dari ulama ada yang berpendapat bahwa istri tidak wajib melakukan hal-hal tersebut”), adalah dhaif (lemah), sebagaimana lemahnya pendapat yang mengatakan bahwa tidak wajib bagi laki-laki berhubungan seks dengan istri, sebab hal ini bukan termasuk ke dalam perilaku yang muasyarah bil ma’ruf. Sebagian lagi mengatakan –dan inilah pendapat yang benar– bahwa istri wajib berbuat hal yang demikian, sebab seorang laki-laki adalah tuan bagi kaum wanita, sebagaimana yang diungkap dalam Al Qur’an”.

  1. Konsultasi Syariah Islam Al Khoirot

Dalam web resmi Konsultasi Syariah Islam (KSI) Al Khoirot, yang dikelola oleh Dewan Pengasuh dan Majelis Fatwa Ponpes Al Khoirot Malang, dinyatakan: Adapun soal tugas-tugas keseharian dalam rumah tangga, tentang siapa yang harus mengerjakan apa, maka pembagian tugas itu bersifat fleksibel dan saling mengisi. Sebagaimana diriwayatkan dalam hadits sahih riwayat Bukhari dari Aisyah ia berkata:
كان صلى الله عليه وسلم يكون في مهنة أهله، يعني خدمة أهله، فإذا حضرت الصلاة خرج إلى الصلاة

Rasulullah Saw biasa membantu istrinya. Apabila tiba waktu shalat, maka ia keluar untuk shalat. Hadits Riwayat Imam Bukhari 2/129; 9/418; At-Tirmidzi dalam Mukhollas 3/314, 1/66; Ibnu Saad 1/366.

At-Tirmidzi (dalam Asy-Syama’il 2/185), meriwayatkan sebagai berikut:

كان بشراً من البشر؛ يفلي ثوبه، ويحلب شاته، ويخدم نفسه

Nabi saw adalah seorang manusia seperti yang lain. Ia membersihkan bajunya, memeras susu unta, dan melayani dirinya sendiri.

Namun pada kesempatan yang lain, Rasulullah Saw juga menyuruh Aisyah mengambil dan mengasah pisau. Dalam sebuah hadits riwayat Muslim, Nabi Saw menyuruh A’isyah untuk memasak daging qurban:

: يا عائشة ، هلمي المدية ، ثم قال : اشحذيها بحجر ، ففعلت ، ثم أخذها وأخذ الكبش ، فأضجعه ثم ذبحه ، ثم قال : بسم الله اللهم تقبل من محمد ، وآل محمد ، ومن أمة محمد ، ثم ضحى به
Wahai Aisyah, bawakan pisau, kemudian beliau berkata : Tajamkanlah (asahlah) dengan batu. Aisyah pun melakukannya. Kemudian Nabi Saw mengambil pisau tersebut dan mengambil domba, lalu menidurkannya dan menyembelihnya dengan mengatakan : Bismillah, wahai Allah! Terimalah dari Muhammad dan keluarga Muhammad dan dari umat Muhammad, kemudian menyembelihnya.

  1. Al Ustadz Ahmad Syarwat, Lc

Al Ustadz Ahmad Syarwat, Lc, pengasuh Rumah Fiqih, dalam web resminya beliau mengutipkan pendapat para ulama dari empat madzhab fiqih terkait peran kerumahtanggaan, yang menyatakan bahwa istri tidak memiliki kewajiban untuk menunaikan hal-hal praktis kerumahtanggaan. Berikut adalah kutipan beliau:

Pendapat Madzhab Al-Hanafiyah

Al-Kasani dalam kitab Badai’ush-Shanai’ menyebutkan, “Seandainya suami pulang membawa bahan pangan yang masih harus dimasak dan diolah, namun istrinya enggan memasak atau mengolahnya, maka istri itu tidak boleh dipaksa. Suaminya diperintahkan untuk pulang membawa makanan yang siap santap.

Dalam kitab Al-Fatawa Al-Hindiyah fi Fiqhil Hanafiyah juga disebutkan hal yang serupa, “Seandainya seorang istri berkata, ‘Saya tidak mau masak dan membuat roti’, maka istri itu tidak boleh dipaksa untuk melakukannya. Dan suami harus memberinya makanan siap santap, atau menyediakan pembantu untuk memasak makanan”.

Pendapat Madzhab Al-Malikiyah

Ad-Dardir dalam kitab Asy-Syarhu Al-Kabir menyebutkan, “Wajib atas suami melayani istrinya walau istrinya punya kemampuan untuk berkhidmat Bila suami tidak pandai memberikan pelayanan, maka wajib baginya untuk menyediakan pembantu buat istrinya”.

Pendapat Madzhab As-Syafi’iyah

Al-Imam Asy-Syairazi dalam kitab Al-Muhadzdzab menuliskan, “Tidak wajib bagi istri membuat roti, memasak, mencuci dan bentuk khidmat lainnya untuk suaminya Karena yang ditetapkan (dalam pernikahan) adalah kewajiban untuk memberi pelayanan seksual (istimta’), sedangkan pelayanan lainnya tidak termasuk kewajiban”.

Pendapat Madzhab Al-Hanabilah

Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat, “Seorang istri tidak diwajibkan untuk berkhidmat kepada suaminya, baik berupa mengadoni bahan makanan, membuat roti, memasak, dan yang sejenisnya, termasuk menyapu rumah, menimba air di sumur. Karena aqadnya hanya kewajiban pelayanan seksual. Dan pelayanan dalam bentuk lain tidak wajib dilakukan oleh istri, seperti memberi minum kuda atau memanen tanamannya”.

Hak dan Kewajiban Suami Istri Menurut Undang-undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974

Undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, telah mengatur secara ringkas beberapa aspek terkait pembagian peran kerumahtanggaan. Pengaturan tentang hak dan kewajiban suami istri dapat ditemukan pada Bab VI pasal 30 hingga pasal 34. Berikut beberapa kutipannya.

Pasal 30 menyatakan:

Suami isteri memikul kewajiban yang luhur untuk menegakkan rumah tangga yang menjadi sendi dasar dari susunan masyarakat.

Pasal 31 menyatakan:

  1. Hak dan kedudukan isteri adalah seimbang dengan hak dan kedudukan suami dalam kehidupan rumah tangga dan pergaulan hidup bersama dalam masyarakat
  2. Masing-masing pihak berhak untuk melakukan perbuatan hukum
  3. Suami adalah kepala keluarga dan isteri ibu rumah tangga.

Pasal 32 menyatakan:

  1. Suami isteri harus mempunyai tempat kediaman yang tetap
  2. Rumah tempat kediaman yang dimaksud dalam ayat (1) Pasal ini ditentukan oleh suami isteri bersama.

Pasal 33 menyatakan:

Suami isteri wajib saling cinta mencintai, hormat menghormati, setia dan memberi bantuan lahir bathin yang satu kepada yang lain.

Pasal 34 menyatakan:

  1. Suami wajib melindungi isterinya dan memberikan segala sesuatu keperluan hidup berumah tangga sesuai dengan kemampuannya
  2. Isteri wajib mengatur urusan rumah tangga sebaik-baiknya
  3. Jika suami atau isteri melalaikan kewajibannya masing-masing dapat mengajukan gugatan kepada Pengadilan.

Empat Konsep Penunaian Peran Kerumahtanggaan

Terlepas dari beragam pendapat para ulama hadits dan ulama fiqih terkait penunaian peran kerumahtanggaan, hendaknya pasangan suami istri lebih mengedepankan kebersamaan, bukan ego keilmuan, ego madzhab, ego kelelakian ataupun ego keperempuanan. Perbedaan pendapat dalam hal-hal yang bersifat ijtihadiyah adalah lumrah dan harus disikapi dengan wajar serta saling menghormati, bukan saling mencela atau saling menyalahkan.

Untuk itu, hendaknya pasangan suami istri menunaikan peran kerumahtanggaan dengan tetap bergandengan tangan, penuh keterbukaan, mengedepankan musyawarah agar semua pihak merasakan suasana nyaman. Jangan ada paksaan atau keterpaksaan, karena hidup berumah tangga bisa dikelola dengan sepenuhnya menghadirkan cinta.

Berikut empat konsep penunaian peran kerumahtanggaan yang bisa menjadikan perasaan yang damai dan nyaman pada semua pihak, tanpa ada keterpaksaan.

  1. Menunaikan Peran yang Sudah Ditetapkan oleh Syari’at

Ada peran kerumahtanggaan yang disepakati para ulama, dan ada pula peran yang menimbulkan perbedaan pendapat di kalangan ulama. Hal yang telah menjadi kesepakatan para ulama adalah tentang kewajiban memenuhi nafkah keluarga, bahwa itu merupakan kewajiban suami, karena suami adalah pemimpin dalam rumah tangga sebagaimana dinyatakan Allah dalam surat An Nisa’ ayat 34.

Dalam hal-hal yang sudah menjadi kesepakatan ulama seperti ini, tinggal dilaksanakan oleh masing-masing pihak dari suami dan istri. Tidak perlu mempersoalkan hal yang sudah menjadi ketentuan agama, karena dengan cara inilah hidup kita akan bahagia. Sebagai manusia yang beriman, kita patuh kepada ketentuan agama, agar hidup kita bahagia dunia dan akhirat.

Namun dalam hal-hal yang terdapat khilaf di kalangan para ulama, hendaknya disepakati bersama oleh suami dan istri dengan cinta dan kasih sayang. Bukan dengan pemaksaan kehendak. Bicarakan baik-baik antara suami dan istri, bagaimana membagi peran yang mereka sepakati. Apabila suami menghendaki untuk menyelesaikan semua urusan praktis kerumahtanggaan dan istri rela dengan itu, tidak ada masalah. Apabila istri menghendaki untuk menyelesaikan semua urusan praktis kerumahtanggaan dan suami rela dengan itu, tidak ada masalah.

Bahkan apabila keduanya tidak berkenan menunaikan sendiri, bisa diselesaikan semua hal praktis dan teknis itu oleh pembantu rumah tangga. Intinya, jangan berdebat, jangan salah menyalahkan, jangan adu argumen sampai menimbulkan konflik antara suami dan istri, dalam menata peran kerumahtanggaan, yang para ulama pun berbeda pendapat sejak zaman dulu kala.

Al Hafizh Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari menukilkan riwayat Ahmad, bahwa Ali berkata kepada Fatimah, “Demi Allah, aku selalu menimba air dari sumur sehingga dadaku terasa sakit”. Fatimah menjawab, “Dan aku, demi Allah, memutar penggiling hingga kedua tanganku melepuh”. Pernyataan Ali dan Fatimah di atas menunjukkan, kedua belah pihak saling bekerja sama menyelesaikan pekerjaan “domestik” kerumahtanggaan. Mereka berdua telah bekerja sama dengan harmonis untuk menyelesaikan pekerjaan praktis di rumah.

  1. Menunaikan Peran sebagai Bahasa Cinta yang Umum

Suami dan istri harus saling mengembangkan perasaan cinta dan kasih sayang dalam kehidupan berumah tangga. Istri memberikan pelayanan terbaik kepada suami, karena cinta dan sayang. Suami memberikan pelayanan terbaik kepada istri, karena cinta dan sayang. Bukan karena hak dan kewajiban. Bukan karena mereka adalah pembantu rumah tangga. Namun karena sebagai sepasang kekasih yang saling mencinta.

Ketika pagi hari istri memasak untuk sarapan sang suami, hal itu karena dorongan rasa cinta dan kasih sayang. Ketika suami membereskan rumah yang kotor, hal itu karena dorongan rasa cinta dan kasih sayang. Masing-masing dari suami dan istri berusaha untuk memberikan bantuan dan pelayanan untuk pasangannya, karena mereka ingin mengungkapkan cinta dengan cara yang nyata. Jika demikian cara memaknainya, maka akan sangat menyenangkan bagi suami dan istri dalam menjalani rutinitas kehidupan sehari-hari.

Al Aswad bertanya kepada Aisyah, “Apakah yang dikerjakan Rasulullah saw di rumah?” Dia menjawab, “Beliau biasa dalam tugas sehari-hari keluarganya –yakni melayani keluarganya— maka apabila telah datang waktu shalat, beliau keluar untuk menunaikan shalat” (riwayat Bukhari). Al Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Dalam hadits itu terdapat anjuran untuk bersikap tawadhu dan tidak sombong, serta menganjurkan laki-laki untuk melayani isterinya”.

  1. Menunaikan Peran sebagai Bahasa Cinta yang Khusus

Pelayanan yang dilakukan dengan tulus dan karena dorongan cinta, secara umum akan sangat menyenangkan  bagi pasangan. Terlebih lagi bagi suami atau istri yang memiliki tipe bahasa cinta pelayanan, akan teramat sangat membahagiakan hatinya. Ini yang disebut sebagai bahasa cinta yang khusus, yaitu suami atau istri yang tipe bahasa cintanya adalah pelayanan. Maka dirinya sangat mengharapkan pelayanan dari pasangan dalam berbagai bentuknya.

Sebagaimana diketahui, ada lima bahasa cinta yang biasanya dimiliki suami dan istri, yaitu kata-kata apresiasi, waktu berkesan, pelayanan, hadiah dan sentuhan fisik. Jika pasangan memiliki bahasa cinta pelayanan, maka berikan pelayanan lebih sempurna untuk membahagiakan dirinya. Seorang suami atau istri yang tipe bahasa cintanya pelayanan, akan merasa dicintai sepenuh hati oleh pasangan apabila dirinya mendapatkan berbagai bentuk pelayanan. Maka pahami, apa tipe bahasa cinta pasangan anda.

  1. Menunaikan Peran sebagai Kebiasaan Adat Setempat

Setiap daerah dan wilayah bisa memiliki adat yang berbeda dalam pembagian peran kerumahtanggaan. Ini adalah sebentuk kearifan lokal yang bisa diambil untuk ‘standar kepatutan’ dalam konteks adat. Sepanjang tidak sampai melanggar syari’at, dan dilakukan atas dasar kesukarelaan, maka tidak masalah mengikuti adat setempat. Sebagai contoh, apa yang sudah lazim dilakukan di sebagian besar wilayah Indonesia dalam memahami peran kerumahtanggaan, bahwa perempuan mengurus dan mengampu pekerjaan kerumahtanggaan. Hal ini tidak masalah untuk diikuti, selain karena menjadi pendapat sebagian ulama, namun juga sudah mendarah mendaging dalam kehidupan di masyarakat secara turun temurun.

Namun jika kita hidup di sebuah masyarakat yang secara turun temurun memahami bahwa pekerjaan kerumahtanggaan dilakukan sepenuhnya oleh suami, maka hal itupun bisa ditolerir. Selain karena ada pendapat sebagian ulama yang menguatkan hal tersebut, juga karena hal itu yang dianggap patut oleh masyarakatnya. Di Indonesia, jika kita ke pasar mayoritas isi pasar adalah perempuan. Namun di beberapa negara Arab, isi pasar mayoritas adalah laki-laki. Ini menunjukkan adanya kebiasaan yang berbeda di setiap daerah.

Demikianlah empat konsep dalam menunaikan peran kerumahtanggaan. Jangan sampai suami dan istri bersitegang dalam urusan hak dan kewajiban atau pembagian peran kerumahtanggaan. Hal-hal yang sudah menjadi kesepakatan para ulama, hendaknya dilaksanakan sesuai dengan ketentuan. Namun untuk hal-hal yang menimbulkan perselisihan pendapat di kalangan ulama, maka menunaikan peran bisa dilakukan dengan nyaman apabila dilandasi oleh rasa cinta dan kasih sayang.

Hal itu dilakukan bukan karena definisi wajib atau tidak wajib, namun sebagai sepasang kekasih yang saling mencintai dan berusaha untuk membahagiakan pasangan dengan pelayanan terbaik.

 

Surabaya, 25 November 2017