HomeKeuanganEnam Faktor Penyeimbang Ekonomi Keluarga
money

Enam Faktor Penyeimbang Ekonomi Keluarga

Keuangan 0 0 likes 511 views share

Sebuah keluarga adalah kesatuan terkecil yang dikepalai oleh seorang suami. Di dalamnya terdapat rangkaian kasih sayang dan pengertian antara suami dengan istri dan juga anak-anak. Komunikasi yang baik, terlebih dalam pengaturan keuangan keluarga akan membantu keluarga dalam menghadapi permasalahan ekonomi.

Di Indonesia sendiri, sudah banyak kasus hancurnya keluarga karena masalah ekonomi. Permasalahan ekonomi lagi-lagi bukan karena kebutuhan yang tidak dicukupi, melainkan lebih kepada penyikapan kondisi ekonomi keluarga. Hal ini bisa dilihat dengan tingginya kasus perceraian, tidak hanya keluarga kalangan menengah ke bawah tetapi juga kalangan menengah ke atas, menjadi bukti bahwa pengelolaan perekonomian rumah tangga yang tidak baik akan berdampak pada kualitas keluarga itu sendiri.

Perekonomian rumah tangga akan menjadi lebih baik dengan adanya faktor-faktor berikut:

1. Memiliki nilai akidah
Yang paling penting dalam pengelolaan ekonomi rumah tangga adalah jika di dalamnya terdapat nilai-nilai akidah yang kuat. Setiap anggota keluarga memiliki keyakinan bahwa harta dan barang-barang yang dimiliki merupakan titipan-Nya. Sehingga berapapun rezeki yang diberikan oleh Tuhan tidak membuat sebuah rumah tangga kehilangan pijakan. Jika belum dicukupkan maka tidak berputus asa dengan rahmat-Nya, dan jika dilebihkan tidak lupa untuk menyedekahkan sebagian hartanya.

2. Berakhlak mulia
Perekonomian harus ditopang dengan akhlak mulia, kejujuran, lapang dada, kesabaran, dan penerimaan. Seorang suami haruslah menyadari kewajibannya menafkahi istri dan anak-anaknya sehingga bertanggungjawab untuk memenuhi hal itu. Seorang istri hendaknya mensyukuri berapapun yang suami berikan untuk rumah tangga dan bersabar ketika ada permasalahan ekonomi dalam rumah tangga. Pola komunikasi yang baik antara suami-istri serta kejujuran dan tanggungjawab akan menjadi penopang kuat perekonomian rumah tangga.

3. Bersifat pertengahan dan seimbang
Dalam mengelola perekonomian rumah tangga, diperlukan keseimbangan dalam memenuhi segala kebutuhan rumah tangga. Jangan terlalu berhemat sehingga terkesan pelit untuk membelanjakan keuangan padahal sedang dibutuhkan. Jangan pula terlalu boros sehingga menghamburkan uang untuk membeli hal-hal yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Dalam memenuhi kebutuhan setiap anggota keluarga juga hendaknya seimbang. Anak, Istri, perlu diperhatikan kebutuhannya masing-masing.

4. Berdiri di atas usaha baik
Usaha yang baik untuk menghidupi keluarga akan mendapatkan hasil yang baik pula. Seorang kepala keluarga akan benar-benar mempertimbangkan usaha yang dilakukannya apakah halal atau tidak. Hal ini sebenarnya didasari dengan akidah yang baik dan pemahaman tentang agama yang baik, sehingga usaha yang dilakukan untuk mendapatkan rezeki akan melalui jalan yang baik pula.

5. Memprioritaskan kebutuhan primer
Ada banyak sekali kebutuhan rumah tangga, baik itu kebutuhan akan sandang-pangan-papan, atau kebutuhan lain seperti alat komunikasi dan transportasi. Diluar itu ada pula kebutuhan akan pendidikan dan kesehatan yang memadai. Semua itu menuntut untuk dipenuhi. Oleh karena itu, perlu adanya skala prioritas agar manajemen keuangan dalam rumah tangga bisa terkelola dengan baik.
Kebutuhan primer harus dipenuhi terlebih dahulu, baru kemudian kebutuhan sekunder bahkan tersier. Selain itu, pengeluaran juga harus menyesuaikan dengan pemasukan agar tidak terjadi defisit dan pembengkakan dana seperti pepatah “lebih besar pasak daripada tiang”. Hindari gaya hidup hedonisme dan foya-foya. Jika itu terjadi maka perekonomian rumah tangga akan terganggu.

6. Memiliki perbedaan antara keuangan laki-laki dan wanita
Kepemilikan harta laki-laki dan wanita berbeda, terlebih jika sudah menikah dan berumah tangga. Kepemilikan harta individu diatur dalam agama, sehingga bukan berarti jika sudah menikah semua harta dari suami atau istri akan melebur menjadi milik bersama. Kecuali dalam hal menafkahi, penghasilan suami digunakan untuk menafkahi seluruh anggota keluarga sedangkan hasil kerja istri adalah haknya sendiri. Namun hendaknya bisa dilakukan komunikasi secara baik antara suami-istri agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam pengelolaan ekonomi keluarga.

Sumber bacaan : Buku Ekonomi Rumah Tangga Islam karya Dr. Husain Syahatah