HomeKisah InspiratifEngkaukah Pejuang Itu?
daun maple

Engkaukah Pejuang Itu?

Kisah Inspiratif 0 2 likes 94 views share

Engkaukah Pejuang Itu?

Oleh : Ummu Rochimah

Menyusuri lorong-lorong unit rawat jalan di RS Cipto Mangunkusumo sebagai sebuah institusi rumah sakit terbesar di Indonesia, diri ini seperti terlempar ke dalam suatu lembah yang cukup asing, yang belum pernah di singgahi sebelumnya.

Merasakan semua ini sebagai sebuah bentuk karunia lain yang Allah berikan, begitu baiknya Allah menempatkanku berada di antara mereka. Hal ini seperti mendapat sebuah kesempatan untuk  mengambil hikmah kehidupan yang terserak di sana.

Banyak kutemui sosok-sosok pejuang kehidupan dalam dimensinya masing-masing. Entah mereka sebagai tokoh pelaku utama skenario fragmen sebagai si sakit, atau mereka sebagai tokoh yang berperan membantu para tokoh pelaku utama tersebut.

Satu kesamaan cita-cita yang tampak dari wajah-wajah mereka semua, yaitu ingin memperoleh kesembuhan dari semua penyakit yang mereka derita.

Mereka semua sedang berjuang untuk menggapai suatu kehidupan yang lebih baik dari kondisi saat ini. Seperti halnya kehidupan yang dinikmati oleh jutaan orang-orang di luar mereka, yang dapat dengan mudahnya menikmati lezatnya sepotong pisang goreng di kala masih hangat, menyesap hangatnya teh yang melewati kerongkongan. Ah! Terkadang itu menjadi sebuah ilusi bagi sebagian mereka.

Bagi sebagian mereka, tak perlu seporsi hidangan mewah dan mahal dari restoran ternama untuk dapat dinikmati, sebungkus nasi padang yang dibeli di kantin rumah sakit sudah dapat menjadi suatu hidangan yang mewah. Karena sebelumnyadi antara mereka hanya dapat memasukkan nutrisi atau makanan ke dalam tubuhnya melalui selang yang dimasukkan lewat rongga hidung ke saluran pencernaan mereka. Dan selang itu harus menempel di tubuh mereka selama 24 jam dalam sehari, entah untuk berapa lama. Pilu rasanya ketika harus menyaksikan itu semua di depan mata.

Mereka lah pahlawan-pahlawan kehidupan sesungguhnya yang terus berjuang dalam upaya menjemput kesembuhan dan takdir yang akan berlaku bagi mereka.

 

JEJAK-JEJAK PERJUANGAN

Diri ini dipertemukan dengan seorang wanita pejuang kehidupan yang memperkenalkan dirinya dengan nama Ibu Yuli Cianjur, karena beliau berasal dari Cianjur. Salah seorang penyintas kanker payudara sejak tahun 2011,  dan pada tahun 2013 sel jahat tersebut sudah menyebar ke tulangnya. Namun hingga kini beliau masih tetap tegar  berjuang untuk menggapai kesembuhan.

Tak nampak raut kesedihan atau kekecewaan atas apa yang terjadi padanya. Yang tampak hanya rona keikhlasan di wajah dan gerak tubuhnya dalam menghadapi semua yang terjadi pada dirinya. Tidak terlihat diwajahnya seperti seseorang yang sedang memikul sebuah beban berat, justru terlihat seperti seseorang yang sedang mengalami sebuah masalah kecil dan ringan saja. Senda gurau lepas begitu saja dari mulutnya. Ringan saja mengalir dari lisannya kisah kehidupannya tanpa berusaha mendramatisasi semua yang telah dijalani. Tak ada wajah sendu meminta belas kasihan orang lain. Padahal ia sedang menderita sebuah penyakit yang mungkin bagi sebagian orang mendengar nama penyakitnya pun tak mau. Sakit kanker!

Ah, sebentuk ketegaran yang menjelma dalam sosok seorang perempuan.

Dalam perjuangannya mencari kesembuhan ia harus rela berpisah dengan keluarganya; suami dan anaknya yang tetap tinggal di Cianjur. Sementara ia tinggal di rumah singgah yang banyak bertebaran di sekitar rumah sakit, yang umumnya diperuntukkan bagi pasien-pasien dari daerah. Sudah hampir 2,5 tahun ia menjalani kehidupannya sendiri di rumah singgah jauh dari keluarga yang dicintai dan mencintainya, demi sebuah cita-cita kesembuhan bagi dirinya.

Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, ia tidak mengandalkan kiriman uang dari suaminya yang bekerja sebagai peternak ikan di kampung. Ia berusaha mengais sendiri sumber penghasilan untuk sekedar memenuhi kebutuhan hariannya membeli sebungkus nasi pengganjal perut dan penopang tubuhnya selama berada di rumah singgah. Itu ia lakukan dengan cara berjualan manisan buah, yang ia tawarkan kepada sesama pasien atau kepada pegawai rumah sakit. Suatu perjuangan yang berat bagi seorang perempuan.

Dengan biaya sewa Rp. 15.000 per hari untuk satu kamar di sebuah rumah singgah, dimana dalam satu kamar itu ia harus berbagi ruang dengan 4 orang pasien lain beserta pendamping pasien, yang mereka satu sama lain tidak saling mengenal sebelumnya.

Kita dapat membayangkan bagaimana kondisi mereka, dalam keadaan seorang yang sehat saja, kondisi kamar yang seperti itu sangat membuat tidak nyaman. Dari sisi fisik, mereka harus berbagi kamar dengan pasien lain. Berbagi kamar mandi, berbagi lampu, berbagi keleluasaan. Belum lagi dari sisi psikis, di mana mereka tidak saling kenal sebelumnya, tidak mengetahui sifat dan karakter satu sama lain, berasal dari latar belakang budaya yang berbeda, ada yang berasal dari Papua, Pandeglang, Palembang, dan sebagainya. Cara hidup dan kebiasaan yang berbeda, namun karena kondisi saat ini, memaksa mereka harus siap untuk secara cepat beradaptasi dengan segala sifat dan karakter teman sekamar.

Sungguh! Satu perjuangan yang sangat berat. Hanya orang-orang dengan jiwa pejuang sajalah yang akan sanggup melewati semua itu.

Ah! Tak pantaslah rasanya diri ini mengeluh terhadap kondisi yang sedang dialami saat ini, bila di luar sana masih banyak orang-orang yang untuk menikmati kehidupan secara normal saja masih harus berjuang dengan keras, berpacu dengan waktu dan takdir yang mungkin telah Allah gariskan atas mereka.

Sementara kita, masih diberi kesehatan yang jauh lebih baik, berada bersama orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita. Untuk apa pula bersedih dan meratapi takdir yang saat ini sedang berlaku pada kita. Allah pasti akan mempergilirkan takdir pada tiap-tiap hamba Nya. Manusia hanyalah berpindah dari satu takdir kepada takdir lain.

Untuk semua pejuang kehidupan di sana, saya hanya  mampu mengucapkan selamat berjuang wahai para pahlawan kehidupan, hingga kau raih apa yang kau cita-citakan.

SELAMAT HARI PAHLAWAN

#MydestinyMylesson

Jumat, 10 November 2017

Taman Integritas, RS Cipto Mangunkusumo

RS Cipto Mangunkusumo