HomeRuang KeluargaFamily Is Not An Important Thing, Family Is Everything!
home

Family Is Not An Important Thing, Family Is Everything!

Ruang Keluarga 0 0 likes 305 views share

Empat belas tahun adalah waktu yang lama. Benarkah? Saya ingin bercerita tentang makna waktu empatbelas tahun dalam kehidupan berumah tangga. Ini kisah tentang seorang lelaki yang kehilangan waktu sepanjang itu.

Sejak sebelum menikah ia sudah sangat obsesif untuk memiliki usaha sendiri. Ia bertekad tidak mau bekerja pada orang lain, namun ia ingin membangun usaha yang membuatnya bisa mandiri dan mempekerjakan orang lain. Setelah menikah, keinginan itu bertambah kuat. Ia sangat ingin membahagiakan istri dan anak-anak kelak.

Akhirnya ia mulai membangun usaha yang dirintis dengan modal seadanya. Berbekal semangat dan ilmu bisnis yang didapatkan dari berbagai forum pelatihan, ia mulai menjalankan bisnis rumahan. Ia bahagia ternyata dalam waktu cepat sudah mulai ada hasil yang bisa dinikmati. Ia pun sibuk mengikuti coaching bisnis. Hasil usahanya kian menggembirakan di bawah bimbingan coach, “Branding”, ujar sang coach. “Kamu harus mulai membranding usahamu”. Ini yang akhirnya mengurus tenaga, waktu, pikiran dan perhatian. Waktu terus berlalu dengan segala dinamika dan suka duka dalam membangun branding. Berbagai tantangan yang setiap hari ditemui semakin membuat dia asyik dalam usahanya.

Tanpa terasa empat belas tahun sudah ia serius berkonsentrasi membangun branding usahanya.  Seluruh tenaga, pikiran dan sumber daya dicurahkan untuk membangun usaha yang dirintisnya dari nol. Sangat mengasyikkan, namun juga melenakan. Sepanjang waktu itu ternyata ia telah meninggalkan keluarga. Atas nama kesibukan kerja, ia tidak memiliki waktu untuk istri dan dua anaknya. Bahkan tidak ada kamus libur dalam hidupnya.

Alhamdulillah berhasil. Usahanya sekarang berkembang pesat. Branding yang sangat kuat, membuat usaha dan dirinya sangat terkenal. Sesuai dengan cita-cita dan harapan yang sudah dibangun selama ini. Ia merasa sangat puas menyaksikan kondisi perusahaannya sekarang. Benar-benar ia berhasil membuktikan bahwa dirinya bisa mandiri, bisa membangun bisnis, bisa membangun perusaan, bisa melakukan branding, dan mempekerjakan banyak karyawan.

Namun, apakah ia berhasil membahagiakan keluarganya? Inilah berita sedihnya.

Ketika ditanya tentang keluarga, ia sangat gagap. “Keluarga? Oh ya… Aku akan segera mengurusnya…” katanya.

Ia tersentak saat diingatkan soal keluarga. Selama ini ia terlalu fokus mengurus bisnisnya. Ia tidak peduli dengan kondisi istri dan kedua anaknya. Ia tidak terlibat dalam pengasuhan kedua anak yang tidak terasa demikian cepat tumbuh kembang mereka. Rasanya belum lama menikah dan membentuk rumah tangga, tidak terasa sudah lebih dari ematbelas tahun. Semua mengalir begitu saja, sebegitu asyik dan fokus membangun bisnis, hingga ia lupa bahwa pihak yang akan dibahagiakan dengan bisnisnya adalah keluarga.

Bergegas ia pulang ke rumah, kembali mengurus keluarga.

Namun terlambat. Sang istri sudah terlalu lama merasa tidak dicintai, merasa tidak diperhatikan. Sang istri mengalami kegersangan cinta. Hatinya sudah layu. Memendam kecewa dalam waktu lama. Kendati ia perempuan setia, yang tidak mau menduakan suaminya dengan lelaki lain, namun rasa cinta yang dulu demikian membara saat masa-masa indah bulan madu, sekarang sudah menghilang. Ia tidak menemukan rasa cinta kepada suaminya. Rasanya sudah hambar.

Yang ia lakukan tinggal rutinitas mengerjakan kewajiban sebagai istri dan ibu. Hanya karena tugas untuk mendampingin dan membesarkan sang buah hati, ia rela menjalani peran seperti ini. Ia tidak tega melihat dua anak yang mungil dan lucu kehilangan sosok ayah. Mereka tidak memiliki kedekatan dengan sang ayah karena ditelan kesibukan kerja. Sang anak bahkan tidak memiliki kebanggaan terhadap sosok ayah. Empatbelas tahun melewati kehidupan tanpa kehadiran sosok ayah yang ikut mengasuh, membina, membimbing dan membina mereka.

Kesuksesan membangun bisnisnya harus ditebus dengan harga sangat mahal. Kekosongan jiwa pada istri dan dua anaknya karena ditinggal 14 tahun membangun bisnis tidak bisa digantikan dengan uang sebanyak apapun juga.

Seimbang, Tidak Ada yang Ditinggalkan

Membangun keluarga dan membangun usaha, bukanlah dua kegiatan yang terpisah atau berurutan. Namun keduanya harus dilakukan dengan seimbang dan bersamaan. Bahkan bukan hanya dua hal itu, termasuk harus membangun hubungan sosial dengan keluarga besar, membangun hubungan kemasyarakatan, membangun peran di organisasi, dan lain sebagainya. Semuanya harus dilakukan dengan proporsional dan seimbang, Cara melakukannya bukan satu persatu secara berurutan, namun dilakukan dengan berbarengan. Tentu saja ada hal yang prioritas, namun tidak ada yang diabaikan atau ditinggalkan.

Membangun bisnis hingga mencapai puncak kejayaan, menjadi tidak memiliki makna jika harus kehilangan keluarga. Padahal cita-cita membesarkan bisnis adalah untuk membahagiakan keluarga. Bagaimana keluarga bisa merasakan kebahagiaan, jika tidak pernah dirwat dan diperhatikan?

Betapapun sibuk mengurus dan membesarkan bisnis, sekalipun itu bagian dari prioritas, namun tidak bisa dilakukan dengan meninggalkan perhatian terhadap keluarga. Justru keluarga yang semestinya diutamakan agar bisnisnya lancar dan berkembang. Siapa yang akan bisa dibahagiakan, jika keluarga justru berantakan? Mungkin saja secara posisi usaha, popularitas, branding dan hasilnya sudah sesuai yang diharapkan dan dicita-citakan. Namun ironisnya, pihak-pihak yang semula ingin dibahagiakan justru merasa tersingkirkan. Tentu saja mereka tidak bisa bahagia.

Family Is Not An Important Thing

Benarlah ungkapan bahwa “Family Is Not An Important Thing, Family Is Everything”. Mungkin selintas tampak berlebihan memandang keluarga, namun hal itu akan benar-benar dirasakan pada saat seseorang kehilangan keluarga yang sangat dicintainya. Bukan saja kehilangan karena kematian atau perceraian, namun termasuk pula kehilangan kehangatan, kehilangan harmonis, kehilangan cinta, kehilangan kemesraan dalam keluarga, akan memiliki dampak yang sangat panjang dalam kehidupan manusia di waktu-waktu berikutnya.

Apalah artinya bisnis yang besar, penghasilan berlimpah, kekayaan terus bertambah, popularitas makin membuncah, namun tidak disertai kehangatan keluarga. Di saat ia menghabiskan waktu empatbelas tahun, setelah ada hasil seperti yang diharapkan, ternyata ia harus kehilangan harta yang paling berharga, yaitu keluarga. Sayangnya waktu tidak bisa diputar mundur ke belakang. Waktu akan terus berjalan maju ke depan, dengan meninggalkan situasi dan kondisi apapun yang telah terjadi di masa lalu.

Yang bisa dilakukan oleh lelaki ini menurut kacamata konselor adalah, menyatakan penyesalan dan permintaan maaf yang sebesar-besarnya kepada istri dan anak-anak. Jangan gengsi untuk menyatakan penyesalan dan perasaan bersalah karena telah mentelantarkan mereka selama empatbelas tahun. Jangan malu untuk meminta maaf kepada istri dan anak-anak, dan meminta kepada mereka untuk memberikan kesempatan kedua baginya. Kesempatan yang akan dia gunakan untuk membangun kembali puzle kebahagiaan keluarga.

Luka yang terlanjur tertoreh pada hati istri dan anak-anak tidak akan bisa sembuh begitu saja, namun perlu perawatan intensif yang dilakukan sendiri oleh sang suami. Tidak bisa diwakilkan kepada siapapun. Jika ia sabar merawat, mengobati, membersamai istri dan kedua anaknya, secara perlahan cinta mereka bisa tumbuh kembali. Luka hati bisa disembuhkan, walaupun tidak akan bisa sempurna, namun akan bisa membuat mereka kembali utuh sebagai satu keluarga bahagia.