HomeRuang KeluargaHarmonisasi Hubungan Menantu dan Mertua
pak cah

Harmonisasi Hubungan Menantu dan Mertua

Ruang Keluarga 0 0 likes 1.7K views share

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

 

Dalam sebuah forum online bertema “Harmonisasi Menantu Mertua” yang kami gelar hari Jumat 29 September 2017 lalu, ada beberapa ‘temuan’ yang cukup mengagetkan. Sebenarnya secara teori, sudah cukup banyak kami mengerti tentang berbagai persoalan hidup antara menantu dan mertua. Rupanya, berbagai teori itu dikuatkan dengan realitas banyaknya benturan dan konflik antara menantu dan mertua, seakan-akan semakin memberikan konfirmasi pembenaran.

Ayu Kinanti & Fabiola Hendrati dari Fakultas Psikologi Universitas Merdeka Malang (2013) dalam studinya menyatakan, hasil survey menunjukkan bahwa 60% menantu perempuan mengalami ketegangan hubungan dengan ibu mertua akibat kurangnya komunikasi[i]. Sementara itu sebuah studi untuk masyarakat Inggris menunjukkan, 40 % menantu perempuan mengalami konflik dengan ibu mertua[ii]. Konflik tersebut banyak bermula dari kecemburuan kedua belah pihak[iii]. Harapan mertua terhadap menantu yang tidak menjadi kenyataan juga potensial menjadi sumber konflik[iv].

Kekompakan suami istri dan kesabaran dalam menghadapi mertua adalah kunci utama untuk harmonisasi hubungan menantu mertua[v]. Tentu tidak mudah mengubah mertua, apalagi yang usianya sudah tua. Menantu yang harus bisa mengaplikasikan perintah dalam Al Qur’an untuk menghormati dan bersikap baik kepada orang tua —termasuk mertua; seperti perintah untuk berlaku lembut, tidak mengucapkan kata ‘ah’, tidak membentak, serta selalu menyampaikan ucapan yang mulia[vi].

Peta Konflik Menantu – Mertua

Berikut saya ringkaskan beberapa pertanyaan dari peserta forum, dengan nama yang saya samarkan, dengan maksud untuk mengetahui jenis dan tipe persoalan yang biasa terjadi antara menantu dan mertua.

(1)

Usia pernikahan kami berjalan dua tahun. Semenjak menikah saya harus tinggal serumah dengan ibu mertua yang sudah tua. Ayah mertua  sudah lama meninggal dunia, sementara suami saya adalah anak lelaki terakhir dan sekaligus paling dekat dengan ibunya. Suami saya adalah satu-satunya anak yang bisa dekat dengan ibu mertua, maka ia merasa harus tinggal bersama ibu untuk merawat.

Masalah muncul karena karakter ibu mertua yang sangat temperamental. Di satu sisi beliau sangat sayang kepada suami saya, namun justru saking sayangnya, maka sangat mengatur terhadap kehidupan keluarga kami. Bahkan sampai kepada hal-hal teknis dan praktis. Misalnya soal mencuci pakaian suami. Sebelum menikah, saya biasa mencucikan pakaian saya ke laundry. Namun semenjak menikah, ibu mertua menyuruh saya untuk mencuci pakaian suami dengan cara ibu, tidak boleh laundry dan tidak boleh menggunakan mesin cuci. Harus dengan tangan saya sendiri.

Tidak cukup sampai di situ. Hasil cucian saya dinilai tidak bersih, sehingga setelah saya jemur, semua pakaian suami saya dicuci ulang oleh ibu mertua. Hal seperti ini terjadi setiap hari, yang membuat saya tidak betah tinggal serumah dengan ibu mertua. Setiap hari saya selalu dimarahi dan disalahkan. Segala sesuatu harus sesuai dengan keinginan dan caranya. Seperti cara memasak, cara membersihkan piring, gelas, dan peralatan dapur.

Saya tidak tahan dengan sikap ibu mertua seperti ini. Saya ingin pulang ke rumah orang tua saya sendiri. Apa yang harus saya lakukan?

Endang.

(2)

Hubungan saya dengan mertua sampai saat ini belum bisa harmonis, padahal sudah 17 tahun pernikahan. Seperti ada jarak yang dibuat oleh ibu mertua. Terlebih setelah kematian ayah mertua. Hubungan dengan anak-anak dingin-dingin saja. Saya tidak begitu mempermasalahkan hal ini, sampai suatu hari ketika sedang berkumpul bersama semua keluarga, saya  dimarahi habis-habisan dengan kata-kata kasar, tanpa alasan yang jelas.

Saya benar-benar shock, karena orang tua saya tidak pernah memperlakukan saya seperti itu. Hal inilah yang membuat saya merasa trauma bila dekat dengan ibu mertua, karena apa yang saya lakukan takut salah dan membuat murka ibu mertua. Padahal sebelum kejadian itu, saya selalu berusaha menjadi menantu yang baik, selalu berusaha memberi perhatian terhadap ibu mertua. Bagaimana seharusnya saya bersikap?

Dewi.

(3)

Saya memiliki masalah dengan ibu mertua. Sejak menikah saya belum bisa memposisikan bahwa ibu mertua adalah ibu saya juga. Hal ini karena perbedaan sifat yang sangat mencolok antara ibu mertua dan ibu kandung saya. Ibu mertua kurang dekat dengan keempat anak lelakinya. Saya tidak tahu sebabnya.

Kalau saya dengar curhatan dari putra putri beliau, sepertinya memang tidak ada kedekatan sejak kecil. Beliau dahulu adalah seorang wanita karir di sebuah perusahaan nasional, sehingga pengasuhan anak-anak dilakukan sebagian besar dilakukan oleh pembantu. Ditambah lagi sikap beliau yang otoriter terhadap suami dan anak-anak. Sikap otoriter itu masih terbawa sampai sekarang.

Di masa tuanya, yang sebenarnya lebih membutuhkan anak-anak, masih saja sikap itu ada pada beliau. Saya sebagai menantu sebenarnya tidak nyaman dengan keadaan ini. Tentu saja saya ingin mendapat mertua yang bisa dekat seperti ibu sendiri. Bahkan suami pun saya rasa kurang mendorong saya untuk bisa lebih dekat dengan ibunya. Bagaimana solusinya?

Myta.

(4)

Ibu mertua saya orangnya sangat perfeksionis terhadap banyak hal. Sampai sekarang saya belum bisa menemukan kedekatan seperti dengan orang tua sendiri.  Sejak dari awal pernikahan kami 11 tahun lalu,  saya selalu berusaha untuk berpikir positip terhadap beliau dan memberikan perhatian semampu saya kepada beliau, sebagaimana kepada orang tua saya sendiri.  Saya kira beliau akan memberikan feedback yang sama terhadap saya.  Namun setelah 10 tahun berlalu, ternyata beliau justru sering membicarakan kekurangan saya kepada orang lain.

Sejak mengetahui hal itu, saya menjadi sangat kecewa dan hopeless dengan sikapnya.  Saya sekarang susah untuk mengembalikan situasi hati saya seperti dulu lagi kepada beliau.

Rina.

(5)

Kami menikah 5 tahun yang lalu. Sekarang tinggal berbeda kota dengan orang tua dan mertua. Yang saya tanyakan, ibu dari istri saya (ibu mertua saya) begitu mengontrol istri. Contohnya, ibu mertua meminta istri saya tetap bekerja, padahal saya sebagai suami tidak menyuruh istri bekerja. Saya tahu istri tidak begitu happy dengan pekerjaannya. Kepada siapa istri harus patuh? Istri saya ingin fokus untuk program kehamilan, sehingga lebih suka di rumah. Hingga saat ini kami belum dikaruniai keturunan.

Untuk diketahui, ibu mertua saya tidak bisa diajak berdialog untuk hal ini. Beliau lebih memilih diam saja, tanda tidak setuju.

Pertanyaan kedua, ayah saya non muslim, dan ibu saya (muslimah) sudah meninggal dunia. Ibu mertua saya sering kali keberatan jika kami menengok rumah ayah saya dan menginap di sana. Saya sedih untuk hal ini, karena kondisi ayah saya yang sudah sendirian, sepertinya butuh perhatian dan support saya. Mohon nasihatnya

Rony.

(6)

Usia pernikahan kami berjalan 9 tahun. Suami saya adalah anak terakhir dari tiga bersaudara. Minggu lalu, bapak mertua saya meninggal dunia. Sebelum meninggal, beliau memberi amanah kepada suami saya untuk menempati rumah orang tuanya sekaligus menjaga ibu. Saat ini ibu mertua kondisinya sakit dan sehari-hari hanya berdua dengan pembantu rumah tangga.

Kami sembilan tahun tinggal berdekatan dengan kedua orang tua saya. Kedua adik saya tinggal di luar kota. Anak-anak kami juga sudah terbiasa dengan lingkungan ini  sejak kecil.

Sekarang suami ingin menjalankan amanah dari bapak dan menginginkan kami sekeluarga untuk pindah ke rumah ibunya. Untuk diketahui, kami semua tinggal dalam satu kota yang sama, dan hanya memerlukan waktu 15 menit saja perjalanan dari rumah kami ke rumah orang tua suami.

Saya membutuhkan kesiapan mental untuk bisa menerima keputusan suami, tinggal dengan ibu mertua. Pada dasarnya saya taat kepada suami untuk tinggal bersama ibunya. Ke depan, suami akan lebih banyak berada di rumah ibunya. Sedangkan saya yang mengalah untuk kesana kemari, karena saya tidak tega jika harus meninggalkan orang tua saya.

Rencana saya, tiga malam saya menginap di rumah mertua, agar bisa kumpul dengan suami. Namun saya minta suami untuk menginap di rumah kami sendiri di saat weekend. Apakah langkah seperti ini sudah benar?

Nadia.

(7)

Usia pernikahan kami baru 1 tahun lebih 6 bulan. Kami tinggal serumah dengan mertua sejak menikah. Bagaimana jika menantu dan mertua berbeda pendapat dan masing-masing mempunyai dasar pembenaran? Apakah menantu yang harus selalu mengalah? Sedangkan menurut menantu, pendapatnya yang benar. Bagaimana agar bisa menjelaskan dengan baik kepada mertua terhadap pemikiran kita?

Bambang.

(8)

Saya baru menikah 9 bulan. Suami saya anak pertama dan kembar. Saya serumah dengan mertua dikarenakan saya sedang hamil, saat ini masuk bulan ketujuh kehamilan. Sebelumnya saya tinggal dengan ibu kandung saya, namun ibu masih aktif bekerja, sehingga saat siang hari tidak ada yang menemani saya yang sedang hamil.

Akhir-akhir ini saya jarang ikut menjaga toko milik mertua, karena kandungan saya yang semakin besar. Saudara kembar suami saya menikah baru dua bulan dan istrinya juga sedang hamil muda. Sekarang mereka tinggal serumah dengan mertua, juga bersama saya.

Untuk urusan agama, saya memang bukan dari keluarga yang sangat religius, sedangkan istri dari adik ipar berasal dari keluarga yang agamanya kuat. Saya berusaha menjalankan kewajiban saya sebagai istri yang baik. Ketika adiknya yang baru menikah ini kesulitan uang untuk membeli rumah, suami saya sangat mudah untuk membantu. Padahal keluarga kami sendiri belum membeli apa-apa, termasuk rumah.

Saya merasa, semenjak istri adik ipar ada di sini, istri adik ipar tidak pernah dipermasalahkan atau disuruh apapun oleh mertua. Sedangkan saya berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik, saya berusaha hijrah. Keluarga kecil kami lebih mementingkan biaya haji. Kebutuhan kami berbeda dengan adik kami tersebut.

Bagaimana saya harus bersikap? Sedangkan istrinya adik ipar saya tipe orang yang “urusan lo urusan lo, urusan gue urusan gue. Jadi gue ga peduli sama lo”. Selama ini selalu saya yang memulai menyapa duluan, dia tidak pernah. Dia bertanya hanya kalau ada maunya saja.

Ketika saya kelak melahirkan, suami menyuruh saya tetap d rumah mertua karena alasan kondisi agamanya lebih bagus. Suami berencana tidak membeli rumah dulu karena suami saya sedang bekerja di luar kota hingga habis kontrak.

Lusi.

(9)

Ini tahun kedua pernikahan kami. Ibu mertua awalnya tidak setuju dengan pernikahan kami, namun tidak disampaikan secara terang-terangan. Saya pun hanya mendengar berita ini dari suami menjelang hari pernikahan. Hubungan saya dan calon ibu mertua sangat dingin saat itu.

Di awal kehidupan pernikahan, hubungan saya dengan ibu mertua tidak terlaku dekat, hingga kami dikaruniai anak pertama. Sejak bayi saya lahir, ibu mertua menjadi sangat akrab dengan saya, sering berkunjung ke rumah dan membawakan banyak oleh-oleh. Hingga lama kelamaan, ibu mertua sering mengolok-olok sikap istri dari adik suami saya. Begitu sering beliau menceritakan kejelekan adik ipar saya tersebut.

Hingga saya khawatir, jangan-jangan ibu mertua saya pun di luar sana sering membicarakan kejelekan saya kepada orang lain. Hal ini yang membuat saya membuat jarak dengan ibu mertua. Bagaimana saya harus bersikap dengan ibu mertua?

Linda.

(10)

Dalam waktu dekat ini ibu mertua saya mau datang ke rumah saya. Tapi yang saya dengar dari adik, ibu mertua ke rumah saya ada misi. Ibu akan memberikan saya hadiah, tapi juga akan mengungkap persoalan yang sudah lebih duapuluh tahun tahun berlalu. Persoalan itu tidak pernah diselesaikan hingga sekarang. Saya khawatir hal itu akan membuka luka lama antara menantu, anak dengan ibu.

Menurut saya, ibu mertua masih memendam rasa bersalah atas persoalan lama tersebut, karena beliau tidak pernah menjelaskan duduk perkaranya hingga sekarang. Beliau tidak mau disalahkan atas persoalan itu, dan yang disalahkan adalah menantu. Pertanyaan saya: Bagaimana besok saya harus bersikap jika masih tetap disalahkan, rasanya amat sangat berat jika harus menerima hadiah, tetapi diungkit-ungkit lagi masalah yang sudah sangat lama berlalu. Seandainya saya harus menjelaskan dengan versi saya sesuai dengan keadaan yang terjadi waktu itu, bagaimana ya?

Ani.

Menuju Harmonisasi Hubungan

Luar biasa dinamisnya corak hubungan menantu dan mertua. Dari beragam corak persoalan hubungan menantu dan mertua tersebut, pada dasarnya banyak berakar dari ketiadaan kedekatan emosional antara menantu dan mertua. Kurang adanya usaha untuk saling mendekat yang dilakukan secara proaktif oleh pihak mertua maupun menantu dan pasangannya. Perbedaan karakter, ketidaknyamanan sikap dan perlakuan, menjadi alasan untuk munculnya perasaan tidak nyaman. Dampaknya, semakin tercipta jarak psikologis antara menantu dan mertua.

Memang ada pula persoalan yang sangat spesifik, seperti misalnya ada kasus yang terjadi lebih dari duapuluh tahun lalu, yang menyebabkan menantu dan mertua saling menyalahkan, seperti pada contoh kasus nomer 10. Ada pula persoalan karakter yang ekstrem pada ibu mertua yang sudah tua, seperti pada contoh kasus nomer 1 dan nomer 3. Namun di luar persoalan-persoalan yang spesifik tersebut, tampak adanya kegagalan komunikasi yang disebabkan oleh karena kurangnya kedekatan secara emosional antara menantu dan mertua.

Kita tidak sedang berbicara tentang benar dan salah dalam sepuluh contoh kasus tersebut. Namun kita sedang mencoba membangun harmoni interaksi antara menantu dengan mertua. Pertama, harus didudukkan dulu secara tepat, bahwa posisi mertua pada dasarnya adalah orang tua kedua bagi menantu. Setelah menikah, suami dan istri memiliki dua pasang orang tua, yaitu orang tua kandung dan mertua. Keduanya wajib untuk dihormati dan mendapatkan perlakuan yang baik dari anak serta menantu. Maka jangan membeda-bedakan dalam hal kebaktian dan perhatian, karena keduanya adalah orang tua yang berhak mendapatkan birrul walidain.

Yang harus menjadi prioritas dan perhatian utama adalah kekompakan suami istri dalam rumah tangga mereka. Hal ini menjadi sangat penting untuk menjadi pondasi dalam menemukan solusi terbaik saat ada konflik dengan mertua. Sikap yang harus dibangun antara suami dan istri adalah : kita hadapi bersama. Mereka berdua meletakkan diri pada posisi yang sama. Sehingga problem dengan mertua bisa dibicarakan berdua dengan cara baik-baik, dan mencari solusi terbaik.

Jika suami dan istri tidak kompak, maka masing-masing akan berdiri pada posisi yang berbeda. Saat terjadikonflik hubungan menantu dan mertua, suami akan membela orang tuanya sendiri, demikian pula istri akan membela orang tuanya sendiri. Dampaknya mereka berdua semakin menjauh, dipisahkan oleh masalah yang muncul dari hubungan menantu dan mertua. Hal seperti ini tidak boleh terjadi. Jaga selalu kekompakan dan keharmonisan suai dan istri, karena inilah yang akan menjadi pokok penyelesaian setiap konflik dan masalah menantu dan mertua.

Dengan kata lain, untuk menuju harmonisasi menantu dan mertua, nomer satu adalah menciptakan harmonisasi pasangan suami dan istri. Sepanjang suami dan istri selalu kompak dan harmonis, masalah sebesar apapun dengan orang tua dan mertua, akan lebih mudah dicarikan solusi terbaik. Persoalan dan konflik menantu mertua tidak berimbas kepada munculnya konflik antara mereka berdua.

Selalu Bersikap Positif terhadap Mertua

Mohon maaf, saya kutipkan ulang tulisan lama saya terkait dengan sikap hidup positif. Hal ini sangat relevan dengan pembicaraan terkait problematika hubungan menantu dan mertua. Banyak menantu merasa mendapat perlakuan yang tidak baik dari mertua. Banyak menantu yang merasa sudah berusaha berbuat yang terbaik, namun tidak mendapatkan feedback yang positif dari mertua. Sikap dan tindakan mertua yang menyakitkan, sering kali dijadikan alasan untuk menjauh dari mertua.

Hal ini saya sampaikan, karena pembahasan kita kali ini, dari perspektif menantu, bukan dari perspektif mertua. Insyaallah lain waktu akan saya bahas dari perspektif mertua. Saat ini kita fokus dari perspektif menantu dulu. Coba kita baca ulang kisah berikut ini, untuk menjadi pondasi memahami mengapa kita harus selalu bersikap positif terhadap mertua.

Berikut kisahnya:

Dua orang lelaki singgah di sebuah kedai kopi di pinggir jalan yang mereka lalui. Rasa haus dan lapar membuat mereka sejenak menghentikan perjalanan untuk sekedar istirahat dan sekaligus menyantap makanan ringan serta kopi panas di kedai tersebut.

Kedai kopi itu sepi saja, tak ada pengunjung lainnya. Hanya mereka berdua yang datang pada saat itu. Segera mereka mendekat ke counter tempat pemesanan. Namun penjaga kedai tampak sangat cuek dan tidak mempedulikan kehadiran dua tamunya. Si penjaga asyik dengan urusannya sendiri dan sama sekali tidak menyapa kepada dua lelaki yang datang.

“Kopi hitam dua bang, tanpa gula”, kata lelaki pertama memesan minuman.

Penjaga kedai tidak menjawab apapun. Wajahnya cemberut. Ia masih tampak asyik mengerjakan urusannya sendiri tanpa peduli pesanan pembeli.

Merasa lama tidak segera dilayani, lelaki pertama kembali mengulang pesanannya.

“Maaf bang, bisa dibuatkan dua gelas kopi hitam tanpa gula ?”

Sambil bersungut-sungut akhirnya penjaga kedai mulai melayani pesanan tersebut. Tanpa berkata-kata, dan tanpa menunjukkan sikap yang ramah kepada kedua tamunya.

Lelaki kedua tampak emosi. Ia merasa marah melihat perlakuan penjaga kedai tersebut. Ia tidak terima mendapat perlakuan yang tidak sopan seperti itu.

“Ayo kita pergi saja dari tempat ini. Masih banyak kedai kopi lainnya di sepanjang jalan ini. Kita sama sekali tidak dihargai”, kata lelaki kedua kepada temannya.

“Sabarlah sebentar. Kau lihat ia sedang mengerjakan pesanan kita. Nanti juga selesai pesanan kita. Ayo kita ambil tempat duduk”, jawab lelaki pertama kalem, sambil menuju kursi tempat duduk yang telah disediakan.

“Tapi penjaga itu sangat tidak sopan. Harusnya ia menghargai dan menghormati kita sebagai pembeli. Kamu terlalu baik kepada penjaga itu”, bantah lelaki kedua dengan ketus dan nada tinggi.

Beberapa saat kemudian dua gelas kopi hitam telah selesai dibuat dan dihidangkan. Lagi-lagi, penjaga kedai menghidangkan kopi ke meja kedua tamunya itu tanpa keramahan sama sekali. Wajahnya masih tampak cemberut dan tidak ada satu kalimatpun keluar dari bibirnya.

“Terimakasih telah membuatkan kopi. Ada pisang goreng keju ?” kata lelaki pertama.

Penjaga kedai hanya mengangguk kecil.

“Saya minta dua porsi pisang goreng keju”, lelaki pertama melanjutkan.

Penjaga kedai itu kembali ke posisi kerjanya, membuatkan pisang goreng keju. Lelaki kedua bertambah kesal dan jengkel atas sikap penjaga kedai itu.

“Aku heran, mengapa engkau mau berkata dan bersikap sopan seperti itu kepada penjaga kedai yang kurang ajar dan tidak tahu sopan santun. Kalau aku mending pergi mencari kedai lain yang penjaganya lebih sopan dan mau menghargai tamu. Terus terang aku tersinggung dengan sikapnya yang tidak memiliki penghormatan”, kata lelaki kedua, masih dengan emosi.

“Jika begitu, engkau sama saja dengan penjaga kedai itu,” jawab lelaki pertama kalem.

“Tapi mengapa engkau bersikap sopan kepada dia, sedangkan dia tidak bersikap sopan keda kita?” bantah lelaki kedua.

“Mengapa aku membiarkan dia mengatur sikapku ? Perkara dia bersikap tidak sopan dan tidak menghormati, itu urusan dia sendiri. Namun aku memiliki sikap sendiri yang tidak tergantung dari sikap orang lain”, jawab lelaki pertama.

“Kalau kita marah dan emosi melihat sikap dia kepada kita, berarti sikap kita diatur oleh penjaga kedai itu. Artinya sikap hidup kita telah diatur oleh orang lain, bukan oleh diri kita sendiri. Padahal kitalah yang harus menentukan sikap kita sendiri, karena kita yang harus mempertanggungjawabkan setiap sikap dan tindakan yang kita lakukan”, jawab lelaki pertama.

Ya benar. Tentukan sendiri sikap anda. Mengapa menunggu orang lain berbuat baik kepada kita, baru kita mau berbuat baik kepada orang lain ? Mengapa menunggu orang lain menghormati kita, baru kita mau menghormati orang lain ? Mengapa menunggu orang lain bersikap sopan kepada kita, baru kita mau bersikap sopan kepada orang lain? Padahal kalaupun orang lain kurang ajar kepada anda, itu urusan dia sendiri yang harus ia pertanggungjawabkan di hadapan manusia dan di hadapan Allah.

Anda adalah pemilik otoritas atas sikap hidup yang harus anda ambil, bukan orang lain. Karena kita yang harus mempertanggungjawabkan semua sikap dan perbuatan kita sendiri, bukan orang lain. Maka, berbuat baiklah, tanpa harus menunggu orang lain berbuat baik kepada kita. Bersikap ramahlah, tanpa harus menunggu orang lain ramah kepada kita. Berlaku sopanlah, tanpa menunggu orang lain sopan kepada kita. Minta maaflah, tanpa menunggu orang lain meminta maaf kepada kita. Maafkanlah, tanpa menunggu orang lain memaafkan kita.

Jaga diri anda, jangan sampai perbuatan buruk orang lain mempengaruhi diri anda. Karena ada orang bersikap kasar kepada anda, tiba-tiba anda bertindak lebih kasar lagi kepada dia. Karena ada orang marah kepada anda, tiba-tiba anda lebih marah lagi kepada dia. Karena ada orang pelit kepada anda, tiba-tiba anda lebih pelit lagi kepada dia. Anda telah dipengaruhi dan diatur oleh sikap orang lain. Sikap anda reaktif menunggu apa sikap orang kepada diri anda, baru anda mengikuti atau membalasnya. Anda tidak boleh kalah oleh keburukan orang, anda harus menjadi diri anda sendiri.

“Maka tentukan sikap yang jelas. Karena kita adalah penentu sikap hidup kita sendiri. Jangan sampai orang lain mengatur sikap hidup kita sehari-hari”, kata lelaki pertama, santai sekali.

Tak berapa lama, pesanan pisang goreng keju pun dihidangkan. Penjaga kedainya tetap yang tadi. Wajahnya cemberut, tidak menunjukkan sikap ramah sama sekali. Ia menaruh dua piring pisang goreng keju di atas meja kedua tamunya, dan segera berlalu. Tanpa satu kalimatpun diucapkan, tanpa sedikitpun senyuman.

“Terimakasih telah membuatkan pisang goreng keju”, kata lelaki pertama.

Lelaki kedua menghela nafas panjang…….

Panjang sekali !

Demikian kisah lama yang pernah diposting di berbagai blog dan web. Kisah ini saya posting ulang, untuk kita bawa ke dalam pembahasan relasi menantu mertua. Dalam kisah di atas, kisah relasi antara penjaga warung dan pembeli. Coba kita aplikasikan dalam konteks relasi menantu dan mertua. Pesan moral dari kisah tersebut jika kita bawa ke dalam bahasan ini adalah, “Tetaplah berbuat baik kepada mertua, walaupun mertua tidak membalas kebaikan yang engkau berikan”.

Ikhlas Karena Allah

Salah satu konsep indah dalam ajaran Islam adalah tentang ikhlas. Bahwa kita berbuat baik, adalah karena ketaatan kita kepada Allah. Motivasi kita melakukan kebaikan adalah karena Allah, untuk Allah, demi Allah. Bukan karena manusia. Inilah yang dimaksud sebagai ikhlas. Bahwa kita melakukan suatu perbuatan, atau meninggalkan suatu perbuatan, adalah karena Allah semata-mata. Bukan karena ingin dipuji manusia, bukan karena ingin mendapat balasan dari manusia.

Dalam konsep ikhlas, kita diajarkan untuk berharap balasan hanya dari Allah. Ini adalah konsep yang sangat dahsyat, karena pada dasarnya hanya Allah yang bisa memberikan balasan terbaik atas perbuatan yang kita lakukan. Tidak ada manusia yang bisa memberikan balasan atas apa yang kita lakukan. Maka kaidahnya, “Barang siapa berharap dari manusia, maka dia akan kecewa; dan barang siapa berharap kepada Allah, tidak akan pernah kecewa”.

Kisah para menantu yang merasa tersakiti hatinya oleh karena perkataan, perbuatan dan sikap mertua terhadap dirinya, harus dikembalikan dalam bingkai ikhlas ini. Jika dia ikhlas karena Allah, maka harapan kebaikan hanya dari Allah pula. Jangan berharap dari manusia, jangan berharap dari mertua, karena bisa jadi mereka akan mengecewakan kita. Tetaplah berbuat baik kepada mertua, karena itu perintah agama. Saat berbuat baik kepada mertua, jangan berharap akan mendapatkan balasan kebaikan dari mertua. Berharaplah balasan kebaikan berlipat, hanya dari Allah.

Maka tatkala perbuatan baik tidak ditanggapi dan tidak dibalas dengan kebaikan oleh mertua, hal ini tidak membuat menantu menjadi putus asa dan berhenti melakukan kebaikan. Jika itu yang terjadi, harus ditinjau ulang konsep ikhlasnya. tetaplah berbuat baik, karena itu perintah agama. Jika mertua belum memberikan respon berupa kebaikan, doakan agar Allah berikan kebaikan kepada mertua. Jaga keikhlasan, insyaallah akan sangat memudahkan dan meringankan dalam menghadapi setiap permasalahan.

 

[i]https://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&rct=j&url=https://media.neliti.com/media/publications/127093-ID-hubungan-tipe-kepribadian-dengan-komunik.pdf&ved=0ahUKEwi56O-f28nWAhXLvo8KHdNXCkQQFghJMAk&usg=AFQjCNG_c5hB0_qGyLdrLz0Xh_sjDagXrg

[ii]http://www.beritasatu.com/keluarga/82801-4-dari-10-menantu-perempuan-tidak-akur-dengan-ibu-mertua.html

[iii]https://m.detik.com/wolipop/read/2013/05/26/143704/2256102/854/ini-penyebab-utama-istri–ibu-mertua-sering-tidak-akur

[iv]https://m.detik.com/wolipop/read/2017/07/13/073544/3558143/852/survei-ini-yang-diinginkan-orangtua-dari-calon-menantunya

[v]http://www.kompasiana.com/pakcah/menantu-versus-mertua-siapa-yang-lebih-kuasa_552a547ff17e61317ad623a6

[vi]“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al- Isra’ [17]: 23).