HomeRuang KeluargaHidup tanpa ART, Bisakah?
Ilustrasi: pixabay.com

Hidup tanpa ART, Bisakah?

Ruang Keluarga 0 0 likes 302 views share

Oleh: Erni Nuryati*

No house maid culture, budaya hidup tanpa ART adalah hal yang lumrah di keluarga-keluarga Australia. Upah tenaga kerja yang tinggi adalah salah satu penyebab mereka enggan untuk mempekerjakan orang lain di rumah-rumah mereka, kecuali mereka adalah orang yang sangat butuh dan sangat kaya.

Kemudian apakah ibu-ibu di Australia tidak menggunakan jasa ART karena mereka ibu rumah tangga? Tidak. Rilis The Organisation for Economic Co-operation and Development (OEDC) pada awal Maret 2017 lalu menunjukkan bahwa 65% ibu-ibu di Australia adalah wanita karier di berbagai bidang. Mulai dari karyawan di pemerintahan, sekolah, rumah sakit bahkan sopir truk tronton sampai pekerja konstruksi jalan pun ada.

Pemerintah Australia memang mendorong para ibu untuk tetap produktif bekerja. Ibu yang baru saja melahirkan mendapatkan tunjangan yang cukup besar dari pemerintah dan cuti enam bulan. Sementara, ayah mendapatkan cuti dua pekan dan mendapatkan tunjangan juga sebagai pengganti dua pekan tidak bekerja. Ketika anaknya usia 1-3 tahun bisa dititipkan di long day care atau family day care, 3-4 tahun bisa dimasukkan ke TK yang teregistrasi child care dan ketika usia SD, anak-anak bisa dititipkan di outside school hours care yang bertempat di sekolah. Orang tua yang bekerja mendapat potongan biaya yang cukup besar di semua child care tersebut. Selain itu, tumbuh kembang anak dan imunisasinya pun tercatat dengan baik. Sehingga, orang tua bisa aman nyaman bekerja, anak pun terawat dengan baik.

Untuk pekerjaan rumah tangga, mereka terbiasa melakukan semua pekerjaan rumah tangganya secara mandiri. Berbagi tugas dengan suami, adalah peran yang sering terlihat. Tidak jarang saya melihat para ayah bergantian mengantar dan menjemput anak sekolah, berbelanja, menemani anak-anak bermain di playground, mengasuh bayi di taman, bahkan ada juga ayah yang menemani anaknya sekolah, sekaligus mengasuh bayi, tanpa ada ibunya. Mereka membentuk team work yang bagus dalam keluarga. Team work ini akan membuat suami istri saling memahami, saling membantu sehingga menciptakan komunikasi yang sehat antara suami istri. Siapa yang mampu dan siapa yang luanglah menjadi panduan mereka berbagi tugas sehari-hari.

Fasilitas rumah yang lengkap, menjadikan pekerjaan rumah tangga menjadi lebih mudah. Standar perabot di setiap rumah tangga adalah mempunyai mesin cuci, mesin pengering, setrika, kulkas, oven, microwave, dan vacum cleaner. Beberapa rumah tangga, bahkan mempunyai mesin cuci piring sendiri.

Manajemen waktu yang baik juga merupakan hal yang sangat krusial dalam hal ini. Waktu yang paling banyak dipakai untuk urusan domestik biasanya adalah dalam urusan memasak dan menyetrika. Untuk memasak, mereka sangatlah praktis, lebih banyak menggunakan oven dibandingkan berminyak-minyak seperti mayoritas orang Indonesia. Lebih sehat juga kan? Untuk bekal anak-anak, mereka biasanya membawakan sandwich dan buah-buahan. Tidak perlu waktu lama, hanya sekitar lima belas menit. Air minum juga tidak perlu masak, karena air kran di rumah pun sudah layak untuk  diminum.

Untuk urusan menyetrika pakaian, mayoritas mereka memilih bahan yang tidak mudah kusut dan rata-rata rumah di sini mempunyai lemari pakaian yang lebih banyak bagian partisi untuk menggantung baju dibanding untuk pakaian lipat. Sehingga, ketika pakaian kering, bisa langsung digantung di dalam almari pakaian tanpa menyetrikanya terlebih dahulu.

Dengan manajemen waktu yang baik, mereka masih bisa menggunakan waktu luang mereka untuk membacakan buku ataupun bermain bersama anak di playground.

Nah, gambaran tentang manajemen rumah tangga di Australia ini bisa menjadi acuan kita ketika ingin mengelola pekerjaan rumah tangga tanpa perlu bantuan ART.

Pertama, manajemen waktu yang baik. Tulis semua aktivitas kita yang akan dilakukan setiap hari, kemudian kelompokkan pekerjaan menurut prioritas kepentingannya.

Kedua, standardisasi waktu pekerjaan. Buatlah waktu standar untuk mengerjakan suatu pekerjaan rumah tangga, sehingga kita tidak berlama-lama pada satu pekerjaan dan membuat pekerjaan lain justru terbengkalai.

Ketiga, sederhanakan standar hidup. Sikap perfeksionis terkadang justru membuat lelah fisik. Tak apa makan dengan menu seadanya, asal tetap gizi seimbang. Tak apa kondisi rumah tidak terlalu rapi, asal tetap dalam keadaan bersih.

Keempat, delegasikan pekerjaan. Ibu bukanlah super woman yang bisa mengerjakan pekerjaan dalam satu waktu. Libatkan anggota keluarga untuk bertanggung jawab dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Buatlah super team, team work yang baik di dalam keluarga.

Kelima, investasi standar fasilitas rumah. Pekerjaan bisa menjadi lebih mudah dan cepat, bila ada fasilitas yang mendukung.

Keenam, perangi rasa malas. Pekerjaaan rumah tangga tidak akan ada habisnya, apalagi jika tidak dikerjakan. Jadi, perangi rasa malas yang ada dalam diri kita dan yakinkan diri bahwa banyak pahala yang terus mengalir, ketika kita ikhlas menjalani pekerjaan rumah tangga.

Bagi keluarga di Indonesia, memiliki ART adalah pilihan. Ada yang lebih memilih memiliki ART supaya bisa lebih produktif pada urusan yang lain, tidak harus dipusingkan  pada urusan domestik. Tapi jangan dilupakan juga, ART hanyalah sebagai sarana agar pekerjaan rumah tangga menjadi lebih ringan, tapi anak tetaplah menjadi tanggung jawab orangtuanya. Ada juga yang memilih tanpa ART, walau sebenarnya mampu untuk memakai jasanya, demi kemandirian anggota keluarga. Akhirnya, selamat memilih ya bu!

*Penulis adalah peserta Wonderful Writing Class yang diampu oleh Ust. Cahyadi Takariawan dan tim