HomePernikahanHormon Stres Laki-laki dan Perempuan
7a38bf9eff34a3f5c872f31457eb1bcf

Hormon Stres Laki-laki dan Perempuan

Pernikahan 0 1 likes 516 views share

HORMON STRES LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN

 

Oleh : Ummu Rochimah

 

Ketika sedang jatuh cinta, seseorang akan merasa berada di puncak dunia. Ia akan merasa penuh energi, merasakan euphoria, begitu antusias dengan cinta, sehingga lebih mudah menerima atau mengabaikan perbedaan yang ada.  Jatuh cinta dapat meningkatkan hormon bahagia yang sementara dapat menurunkan tingkat stres. Hormon adalah pembawa pesan kimia yang bertindak sebagai katalis- zat yang dapat mempercepat atau memperlambat reaksi (Kamus Besar Bahasa Indonesi)- bagi perubahan kimia di tingkat selular yang mempengaruhi pertumbuhan, perkembangan, energi dan suasana hati.

Pada tahap awal cinta, seseorang akan senang membantu kebutuhan pasangan. Memperhatikan pasangan akan meningkatkan hormon tertentu pada laki-laki, sementara menerima perhatian daapat meningkatkan hormon tertentu pada perempuan. Ketika ada banyak hormon tersebut, maka stress dan tekanan akan menurun.

Setelah kehidupan suami istri berjalan selama beberapa tahun, melewati lika-liku perjalanan, suka dan duka, kemudian muncullah kebiasaan dan rutinitas kehidupan. Istri dengan tugas-tugas rumah tangganya, suamii dengan aktifitas pekerjaannya, lama kelamaan akan memperngaruhi produksi hormon bahagia ini. Tingkat hormon bahagia ini akan mengalami penurunan sehingga efek sampingnya adalah hormon stres akan meningkat. Seakan-akan cinta telah memberikan pasangan suami istri hormon bahagia secara gratis selama masa bulan madu atau masa romantic love, kemudian setelah itu pasangan harus berjuang dan berusaha untuk mendapatkannya sendiri. Pasangan suami istri harus mengelola tingkat stres ini ketika berinteraksi satu sama lain agar hormon stress ini tidak semakin meningkat.

 

Hormon Lampu Merah

Di dalam tubuh manusia terdapat dua hormon yang merupakan fungsi pertahanan yang penting dalam situasi antara hidup dan mati, yaitu hormon adrenalin dan kortisol. Ketika seseorang dalam bahaya- misalnya sedang dikejar serigala dihutan- kelenjar adrenal mengeluarkan adreanlin, kortisol dan hormon-hormon lain untuk memberi dorongan energi dan kejernihan mental sementarea. Pilihannya saat itu adaalah lari atau dimakan serigala.

Ketika adrenalin dan kortisol dilepaskan, energi ekstra akan disalurkan ke otak dan otot, mempertajam indera serta meningkatkan kekuatan dan stamina. Saat serigala memburunya, tubuh secara otomatis akan melindungi diri dari dimakan serigala.

Tubuh manusia tidak didesain untuk mengerluatrkan kedua hormon ini  secara terus menerus. Saat berada dalam keadaaan stres yang melemahkan tetapi tidak mengancam, hormon ini masih dikeluarkan. Namun bila stres menjadi berkepanjangan, maka kedua hormon ini akan menghasilkan fluktuasi yang tidak sehat pada kadar gula darah yang bisa merusak suasana hati, mengakibatkan depresi ringan, mudah marah, kecemasan, gangguan mental maupun ketergesaan. Yang kesemuanya itu dapat mempengaruhi hubungan suami dengan istri.

Berikut beberapa contoh pengaruh stress terhadap hubungan suami istri :

  1. Depresi ringan, dapat mempengaruhi kegairahan
  2. Gangguan mental, kecemasan; sangat mempengaruhi kapasitas untuk merasa bahagia
  3. Mudah marah, dapat mengalihkan perasaan kasih ssayang dan kelembutan
  4. Ketergesaan, menghilangkan kesabaran dan keluwesan

Dengan mengetahui pengaruh stress terhadap perilaku sehari-hari, maka pasangan suami istri akan termotivasi untuk mampu mengelola dan menurunkan kadar stres dalam diri mereka. Dengan terus berupaya memperbaharui ketrampilan dalam menjalani hubungan suami dengan istri, maka keduanya akan dapat mengubah hubungan sebagai suatu bentuk terapi untuk menurunkan kadar stres dalam diri, bukan sebagai sumber dari stres.

 

Efek Samping dari Peningkatan Hormon Stres

Para ilmuwan telah menemukan hubungan antaera kortisol, obesitas dan penumpukan lemak dalam tubuh. Stres dan peningkatan kadar kortisol cenderung mengakibatkan lemak untuk tertimbun dalam tubuh, terutama di bagian perut.

Kortisol tingkat tinggi juga dapat mempengaruhi pola makan. Para peneliti menemukan bahwa perempuan dengan tingkat kortisol yang tinggi akibat stres cenderung untuk lebih banyak mengemil makanan berlemak tinggi atau berkarbohidrat tinggi. Dengan hasil penelitian ini dapat dipahami mengenai bagaimana pengaruh stres terhadap dorongan untuk makan makanan tertentu yang berakibat pada pola makan yang buruk.

Perbedaan besar antara laki-laki dan perempuan adalah, bahwa ketika dalam keadaan stres seorang perempuan lebih banyak menghasilkan kortisol dibanding laki-laki. Hal ini dapat menjelaskan mengapa perempuan biasanya mengalami masalah dalam hal kenaikan berat badan. Ketika kortisol meningkat, tubuh hanya membakar karbohidrat atau gula untuk energi, bukan kombinasi sehat karbohidrat dna lemak.

Selain itu, ada lagi bahaya lain dari peningkatan hormon kortisol yang tinggi pada tubuh perempuan, yaitu hasil samping dari pembakaran karbohidrat yaitu asam laktat. Semakin banyak karbohidrat yang dibakar dalam tubuh, maka kadar asam laktat akan semakin tinggi sehingga akan mengakibatkan terjadinya penimbunan asam laktat. Untuk menetralkan asam laktat ini, maka kalsium akan diluruhkan dari tulang. Ini lah penjelasan mengapa 80% orang yang mengalami pengeroposan tulang adalah para perempuan.

Karena itu, pasangan suami istri dituntut untuk dapat mengelola stress agar bisa tumbuh bersama dalam cinta hingga menua dan tubuh tetap sehat. Segala macam penyakit yang timbul, seperti penyakit jantung, diabetes, obesitas semuanya secara langsung berhubungan dengan kortisol tinggi dalam tubuh.

Ketika suami istri mampu mengelola dan menurukan kadar stres dalam diri mereka, maka bukan hanya mereka akan menjadi lebih sehat secara fisik, namun juga akan mampu meningkatkan potensi untuk menjadi lebih bahagia, bergairah, berenergi dan lebih bersabar dalam menjalani hubungan antara suami dengan istri.