HomeRuang KeluargaIbu Bekerja, Bagaimana Dengan Anak?
pexels-photo-271560

Ibu Bekerja, Bagaimana Dengan Anak?

Ruang Keluarga 0 0 likes 359 views share

Oleh: Khairunisa Maslichul*

Bagi wanita, tetap bekerja setelah berumah tangga termasuk pilihan yang penuh tantangan. Saat belum menikah saja, urusan pekerjaan sudah lumayan menyita perhatian. Nah, ditambah dengan kesibukan sebagai isteri dan ibu.  Sudah terbayang kan, tiga kali repotnya?

Tak heran, banyak wanita memilih mundur dari pekerjaannya setelah resmi menyandang status nyonya.  Namun, banyak pula yang tetap bertahan dengan pekerjaan yang sudah dilakukannya saat masih lajang.  Tentu saja dengan konsekuensi yang cukup menantang, khususnya setelah buah hati lahir. Setelah masa cuti berakhir, pekerjaan di kantor menanti kembali.

Umumnya ibu bekerja akan mengandalkan keluarga dekat dan asisten rumah tangga untuk membantu pengasuhan buah hati dalam kehidupan sehari-hari.  Mulai dari sang nenek, bibi, semuanya turut serta dalam menemani anak-anak yang memiliki ibu bekerja di luar rumah.

Wajarlah saat banyak ibu bekerja merasa bersalah karena tidak bisa melewatkan waktu kesehariannya bersama para buah hatinya. Waktu yang paling bisa dioptimalkan mayoritas di akhir pekan yaitu Sabtu dan Minggu.  Lalu, bagaimana dengan hari Senin hingga Jum’at?

Cara menyiasatinya antara lain dengan mengoptimalkan kecanggihan teknologi.  Saat istirahat makan siang, ibu bekerja dapat menghubungi pengasuh di rumah atau sekolah sehingga perkembangan anak-anak dapat terus terpantau meskipun ibu berada di kantor.

Pilihan lainnya adalah mencari lokasi tempat penitipan anak (daycare) yang terdekat dari lokasi bekerja.  Lebih baik lagi jika kantor tempat sang ibu bekerja menyediakan daycare bagi stafnya.  Ada baiknya bagi para wanita yang tetap ingin bekerja setelah menikah untuk pindah bekerja di perusahaan dan lingkungan kantor yang ramah terhadap ibu serta anak.

Alternatif lainnya yaitu mempercayakan pengawasan mengenai pengasuhan anak kepada salah satu anggota keluarga.  Cara ini banyak dipilih oleh para ibu bekerja di Indonesia sehingga anak tidak 100% diasuh oleh asisten rumah tangga setiap harinya.  Baik ibu kandung maupun ibu mertua dapat dipercaya dalam mengawasi cucu mereka.

Saat jam kantor dari pagi hingga sore hari, secara fisik, kehadiran ibu bekerja di samping buah hatinya memang tidak memungkinkan.  Maka itulah, waktu selepas pulang kantor hingga keesokan paginya sebelum ibu berangkat untuk bekerja lagi harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Cara yang bisa dilakukan seperti membacakan dongeng sebelum anak tidur, memeriksa PR anak-anak yang sudah masuk usia sekolah, menanyakan jadwal sekolah dan lesnya untuk esok harinya, ataupun mengucapkan selamat malam.  Makan malam dan beribadah bersama, misalnya sholat berjama’ah bersama di malam hari seperti sholat Maghrib dan Isya’, atau  do’a bersama sebelum tidur  di malam hari sangat efektif dilakukan untuk menambah keeratan serta keakraban hubungan dalam satu keluarga.

Ibu bekerja juga patut mencatat jadwal penting kegiatan anak di sekolah maupun tempat kursus atau lesnya yang harus dihadiri oleh orang tua.  Pengambilan raport, acara kelulusan, pentas seni, pertandingan olahraga, dan kegiatan sejenisnya yang melibatkan partisipasi aktif baik siswa maupun wali murid jangan sampai dilewatkan oleh para ibu bekerja.

Memang kegiatan tersebut dapat pula diwakilkan kepada anggota keluarga lainnya.  Tetapi, para ibu bekerja harus menyadari, bersama sang ayah yang juga bekerja, bahwa orang tua bukan sekedar penyedia nafkah lahir dan fisik untuk para anak. Para buah hati juga sangat memerlukan perhatian secara kehadiran dan kebersamaan dengan orang tua.

Selama konsisten dilakukan, anak tetap akan merasakan perhatian dari orang tuanya, khususnya dari ibu yang bekerja.  Sering terjadi, anak lebih mengerti saat ayah yang jauh lebih sibuk di luar rumah daripada ketika ibunya yang disibukkan dengan urusan pekerjaan kantor karena ayah dianggap sebagai kepala keluarga.  Oleh itulah, para ibu bekerja harus mampu menyusun waktu dan prioritas yang seimbang antara di rumah dan tempat mencari nafkah.

*Penulis adalah seorang dosen dan juga blogger yang aktif dalam aktivitas kerelawanan. Anda dapat berbincang melalui blog http://www.kompasiana.com/nisasan atau melalui akun twitter: @genogramklinis