HomePernikahanJangan Biarkan Kelelahan Mengganggu Keharmonisan
029c9653e7790905a20b638ca2e05770

Jangan Biarkan Kelelahan Mengganggu Keharmonisan

Pernikahan 0 3 likes 794 views share

JANGAN BIARKAN KELELAHAN MENGGANGGU KEHARMONISAN

 

Oleh : Ummu Rochimah

Sebagaimana telah dibahas pada tulisan yang lalu, bahwa terdapat lima jenis godaan dalam kehidupan rumah tangga. Kita sudah membahas tentang godaan pertama, yaitu kejenuhan atau kebosanan, maka kini kita bahas godaan selanjutnya, yaitu;

Kelelahan

Perjalanan kehidupan rumah tangga adalah perjalanan yang batasnya adalah usia pasangan itu sendiri. Bila tidak ada halangan besar yang bisa mengakibatkan terjadinya perpisahan di antara suami istri, maka mereka akan melalui kehidupan itu dalam waktu yang lama. Dalam perjalanan panjang itu maka tidak mustahil akan muncul perasaan lelah, letih dan capek dalam menjalani kehidupan rumah tangga.

Ada dua jenis kelelahan dalam rumah tangga, iatu berupa kelelahan fisik dan kelelahan psikologis. Adapun kelelahan fisik yaitu seperti letih, tidak bertenaga dan biasanya dapat diukur secara medis, misalnya tekanan darah rendah, kekurangan zat gizi, anemia, kadar Hb rendah, hingga pada kondisi tertentu kelelahan ini dapat menimbulkan kesakitan. Kelelahan jenis ini benar-benar menimpa secara fisik.

Namun ada juga kelelahan secara psikologis; seperti ‘merasa lelah’, ‘merasa capek’. Seperti apa kelelahan secara psikologis ini? Beberapa contoh kelelahan secara psikologis, misalnya : lelah dengan perangai dan sifat pasangan. Setelah bertahun-tahun menjalani kehidupan pernikahan tentu akan mejumpai beberapa sifat dan perangai pasangan yang jauh dari harapan. Suami atau istri merasa lelah menghadapi sifat pasangan yang egois, mau menang sendiri misalnya. Atau lelah karena menghadapi perangai pasangan yang sangat kekanak-kanakan. Atau perangai yang mudah emosi, tidak mampu mengendalikan diri.

Atau kelelahan yang diakibatkan karena merasa diri harus selalu mengalah yang disebabkan dominasi suami atau istri pada pasangannya. Sehingga daripada timbul keributan dan pertengkaran, sering suami atau istri memilih untuk mengalah bila dihadapkan pada suatu persoalan. Ketika berada dalam kondisi terjadi perdebatan, salah satu lebih dominan bahkan terkadang menjadi otoriter. Lama kelamaan pasangan yang berada pada posisi lemah, harus selalu terus menerus mengalah, akhirnya jiwanya menjadi lelah.

Kelelahan lainnya yaitu lelah karena berharap pasangan berubah seperti yang diharapkannya.  Berharap pasangan menjadi lebih romantis karena ternyata ia tidak pandai mengucapkan kata-kata cinta, berharap pasangan lebih lembut karena ternyata ia seorang yang agak ‘kasar’, berharap pasangan lebih pengertian karena selalu harus dimintai tolong. Lalu akhirnya menunggu dan menunggu serta berharap adanya perubahan dari pasangan. Tapi ternyata kenyataan tidak seindah yang diharapkan. Pasangan tidak juga mengalami perubahan seperti yang diinginkan. Hal ini tentu akhirya dapat menimbulkan kelelahan dalam perjalanan kehidupan rumah tangga.

Kelelahan-kelelahan ini semua bersifat psikis, jiwanya yang diserang. Maka jadilah ia seorang yang lelah jiwanya. Hingga muncullah istilah “Hayati lelah bang…”. Kelelahan jiwa yang tidak segera diatasi lama-lama dapat mengakibatkan kelelahan fisik.

Seperti contohnya, istri yang memilih untuk menjadi ibu rumah tangga penuh waktu. Kesehariannya ia jalani hanya di rumah saja, mulai dari mengurus suami, mengurus anak-anak, mengurus rumah, mengurus semua keperluan anggota keluarga, seperti menyiapkan makanan, mencuci dan menyetrika pakaian suami dan anak=anak. Dan pekerjaan seperti itu tidak akan pernah ada habisnya. Sejak bangun tidur hingga menjelang tidur kembali di malam hari. Bahkan terkadang dalam kondisi tertentu, misalnya ada anggota keluarga yang sakit biasanya seorang ibu rumah tangga penuh waktu memiliki jam kerja selama lebih dari 12 jam dalam sehari. Mulanya kelelahan itu hanya ‘dirasakan’ secara psikis karena ada suatu kewajiban moral sebagai istri dan ibu yang harus mengurus keluarga, sehingga terkadang kelelahan fisik tidak begitu dirasakan.

Atau contoh suami yang harus bekerja keras setiap hari karena kebutuhan hidup anggota keluarga yang harus dipenuhinya. Berangkat ke kantor sejak selepas sholat subuh, hingga kemudian keembali ke rumah jauh setelah malam menyelimuti bumi. Dengan segala beban kerja dan situasi di kantor dan perjalanan yang belum tentu memberikan kenyamanan. Tentu hal ini akan sangat mudah menimbulkan kelelahan, baik lelah psikis maupun lelah fisik.

Oleh karena itu, hal-hal seperti ini perlu diperhatikan oleh suami atau istri. Jangan sampai ia berlaku zhalim terhadap pasangannya. Kelelahan seperti ini menjadi salah satu bentuk godaan dalam kehidupan rumah tangga. Kelelahan-kelelahan ini timbul karena suami istri berada dalam satu rumah, satu kamar, bahkan satu ranjang, sehingga setiap detiknya akan terhitung. Sehingga segala yang terjadi di antara mereka akan sangat mudah dirasakan, baik itu suatu kebaikan maupun keburukan yang dilakukan oleh pasangan. Perubahan-perubahan yang diharapkan terjadi pada pasangan menjadi terasa begitu lama dan sulit untuk diwujudkan hingga akhirnya menimbulkan kelelahan bagi satu sama lainnya.

 

BERSAMBUNG