HomePernikahanJangan Biarkan Rutinitas Menjebak Pasangan Suami Istri
18519491_10154764743483789_7572257127557962599_n

Jangan Biarkan Rutinitas Menjebak Pasangan Suami Istri

Pernikahan 0 2 likes 680 views share

JANGAN BIARKAN RUTINITAS MENJEBAK PASANGAN SUAMI ISTRI

Oleh : Ummu Rochimah

 

Dalam kehidupan rumah tangga yang telah berjalan selama lebih dari 10 tahun, salah satu godaan yang dapat muncul bagi pasangan suami istri adalah munculnya “hambarisme” atau kehambaran. Yaitu hubungan antara suami dangan istri dilalui dengan perasaan hambar, tanpa rasa, dingin.

Perjalanan kehidupan yang begitu-begitu saja, tidak ada warna warni yang indah, tidak ada aneka rasa yang memperkaya khasanah perbendaharaan rasa, membuat kehidupan rumah tangga menjadi tanpa rasa hingga berujung pada hambarisme. Seperti halnya sayur yang tanpa garam, tidak enak disantap karena tidak ada rasa.

Kehambaran juga dapat muncul karena adanya perasaan-perasaan yang dipendam. Misal ada istri atau suami yang terlalu lama disakiti oleh pasangannya, terlalu sering diremehkan, terlalu sering dikecewakan. Lama kelamaan ia mati rasa, tidak merasa ketika disakiti, tidak merasa ketika diremehkan, tidak merasa ketika dikecewakan. Tidak mampu lagi mengekspresikan wujud emosionalnya. Wajahnya menjadi datar tanpa memiliki suatu ekspresi. Tak nampak garis mukanya apakah itu wajah sedih, teraniaya atau wajah kecewa.

Bentuk kehambaran ini dapat melebar tidak hanya kepada pasangan, tapi juga bisa berimbas kepada anak-anak. Tidak ada rasa hangat kepada anak-anak, tidak ada rasa kasih dan sayang kepada anak-anak, tidak ada lagi rasa cinta yang menjadi landasan dalam pengasuhan dan pendidikan anak.

Padahal rumah adalah simbol cinta dan kasih sayang. Di dalam rumah ada cinta, ada kasih, ada sayang. Inilah yang membuat rumah menjadi salah satu tujuan utama dari seseorang manakala ia bepergian. Selalu ada perasaan ingin segera sampai di rumah setelah beraktifitas di luar rumah.

Namun pada keadaan terjadinya kehambaran dalam rumah tangga, yang muncul justru perasaaan tidak bersemangat untuk pulang, tidak ada kerinduan untuk bisa segera sampai di rumah, enggan untuk bertemu dengan pasangan atau anak-anak. Lebih senang berada di lingkungan di luar keluarga, misalnya teman-teman komunitas, perkumpulan hobi dan lain-lain. inilah ciri-ciri muculnya kehambaran dalam rumah tangga.

Cahyadi Takariawan dalam bukunya Wondrful Couple menyebutkan setidaknya ada lima sebab munculnya “hambarisme” dalam hubungan suami istri, yaitu :

Terjebak Rutinitas Hidup

Suami istri yang sudah menjalani kehidupan lebih dari 10 tahun, mudah dihinggapi oleh kejenuhan akibat rutinitas harian. Misalnya, suami yang berangkat ke kantor di pagi hari, pulang kerja sore bahkan sampai malam hari. Begitu setiap hari, Senin sampai Jumat, Sabtu-Minggu libur inginnya benar-benar istrirahat di rumah karena rasa letih dan penat selama di kantor dan dalam perjalanan dari rumah ke kantor. Demikian seterusnya, hari demi hari, minggu ketemu minggu, tahun berbilang tahun, hingga tidak terasa ia berada dalam situasi seperti itu selama lebih dari 10 tahun.

Istri yang memilih menjadi ibu rumah tangga penuh waktu. Pagi hari bangun tidur, menyiapkan keperluan suami dan anak-anak, membuatkan bekal dan sarapan untuk mereka, membereskan rumah dan perabotan, mengurus anak-anak yang belum sekolah, menyiapkan makan siang, menjemput anak pulang sekolah, menemaninya main di rumah.

Sore hari, mempersiapkan anak-anak mandi dan persiapan dirinya untuk menyambut suami pulang kerja, menyambut dan menemani suami sepulang kerja, menyiapkan makan malam, menemani anak-anak belajar, menidurkan anak yang masih kecil, membereskan perabotan yang tertinggal, menemani suami melewati malam-malamnya.

Begitu seterusnya setiap hari, sepanjang pekan, dan selama bertahun-tahun. Tanpa terasa ia sudah melewati masa yang sangat lama dalam rutinitas keseharian.

Inilah rutinitas keseharian yang dapat menjebak pasangan suami istri dalam menjalani kehidupan pernikahannya. Hingga pada akhirnya dapat menyebabkan kehambaran dalam rumah tangga.

 

Volume Kesibukan yang Berlebihan

Di masa kekinian, saat semua orang merasa sibuk. Ayah sibuk dengan pekerjaaannya, ibu sibuk dengan pekerjaan rumah tangganya dan pada sebagian ibu bekerja juga sibuk dengan tugas-tugas kantornya. Anak-anak sibuk dengan sekolah, kuliah dan tugas-tugasnya. Seolah semua berada pada dunia masing-masing dan mejalani kehidupan dengan beban masing-masing.

Pada sebagian suami istri ada yang memiliki tingkat kesibukan yang sangat luar biasa. Sedemikian sibuknya suami istri, hingga keduanya tidak memiliki waktu untuk bertemu, berkomunikasi dan bermesraan. Tidak ada kesempatan untuk bercengkerama, bercanda dan berekreasi dengan keluarga.

Keduanya tenggelam dalam kesibukan yang berlebihan sehingga membuat kehidupannya menjadi tidak seimbang. Jika hal ini dibiarkan terus menerus, suami istri yang memiliki volume kesibukan yang berlebihan dan tidak ada upaya dan tindakan untuk mengurangi sebagain kesibukan lama kelamaan akan membuat hubungan suami istri menjadi hambar, tidak memiliki lagi rasa dan getar-getar ketika bertemu.

 

Merasa cukup dengan “Begini Saja”

Kehambaran dalam rumah tangga, ternyata tidak selalu disebabkan oleh adanya kesibukan yang luar biasa. Tapi juga dapat muncul karena adanya pemahaman dari suami atau istri yang merasa cukup dengan kondisi yang sedang dihadapi.

Beranggapan bahwa hidup berumah tangga “cukup seperti ini” tidak perlu “neko-neko” tidak perlu “aneh-aneh”. Hidup berumah tangga seperti yang sudah dijalani saat ini, seperti yang dialami oleh kebanyakan rumah tangga lainnnya. Demikian anggapan yang sering dijadikan alasan pembenaran dan pembiaran terhadap gejala munculnya “hambarisme”

Merasa cukup dengan yang “begini-begini saja” membuat suami atau istri tidak berusaha untuk melakukan hal yang lebih baik bagi pasangan. Interaksi dan komunikasi keduanya bersifat monoton, dan standar, tanpa ada variasi atau bumbu-bumbu. Dampaknya, mudah dihinggapi “hambarisme”

 

Membiarkan Masalah Menumpuk

Kadangkala masalah itu tampak besar dan berat bukan karena bobot masalah itu yang memang besar dan berat, tetapi karena adanya pembiaran-pembiaran dari masalah-masalah kecil yang terus menerus muncul dan tidak diselesaikan. Sehingga lama kelamaan terjadi penumpukan masalah. Seperti pepatah mengatakan, sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit.

Begitupun dengan masalah, mulanya sedikit dan kecil. Tapi ketika yang sedikit dan kecil ini tidak segera diselesaikan. Lalu datang lagi masalah lain yang juga sedikti dan kecil, tidak terselesaikan lagi, menimpa masalah yang sudah ada. Begitu seterusnya hingga akhirnya masalah itu menjadi seperti gunung yang besar. Pada titik tertentu, gunung masalah ini siap meledak menjadi sebuah masalah yng dapat merusak kebahagian hidup berumah tangga.

Jika masalah terus bertumpuk tanpa penyelesaian, suami dan istri akan mudah dihinggapi perasaan hambar. Merasa lelah menjalani hidup berumah tangga karena penuh dengan masalah tanpa penyelesaian.

 

Terkena sindrom zona nyaman

Suami istri pada kondisi tertentu kadang sudah berada dalam zona nyaman. Secara financial sudah tidak memiliki masalah, anak-anak tercukupi kebutuhannya, rumah sudah milik sendiri, kendaraan untuk keperluan keluarga sudah terpenuhi, inilah zona nyaman secara materi.

Ada juga zona nyaman dalam hubungan suami dengan istri, suami sangat percaya kepada istri hingga ke tingkat tanpa garansi. Istri juga sangat percaya pada suami sehingga tidak merasa perlu untuk mengetahui apa yang  dilakukan suaminya, inilah zona nyaman hubungan suami dan istri. Kondisi ini terkadang diikuti dengan tidak adanya kecurigaan dan kecemburuan atas pasangan. Hal ini dapat membahayakan hubungan keduanya.

Sekalipun suami dan istri harus saling percaya, tetapi mereka juga harus saling menjaga satu sama lain. tidak boleh begitu saja membiarkan pasangan melakukan perbuatan yang tidak pantas. Kepercayaan harus diimbangi dengan penjagaan sehingga tidak membiarkan pasangan melakukan tindakan yang dapat melahirkan kesalahan.

Zona nyaman ini, baik secara materi maupun dalam hubungan antara suami dan istri dapat berubah menjadi kebosanan. Yang pada akhirnya memunculkan kehambaran dalam kehidupan berumah tangga. Sudah tidak memiliki rasa apapun terhadap pasanngan.

Inilah kelima sebab yang dapat menimbulkan kehambaran dalam kehidupan berumah tangga. Maka setiap pasangan suami istri harus bisa menghindarkan diri dari sebab dan gejala hambarisme ini dengan sikap saling menjaga dan merawat cinta dan kasih sayang di antara mereka