HomePranikahJangan Menikah Muda!
Ilustrasi: pixabay.com

Jangan Menikah Muda!

Pranikah 0 3 likes 584 views share

Oleh: Nida Muthi A*

Dewasa ini, semakin banyak pihak yang menggembor-gemborkan untuk menikah muda, daripada pacaran. Seperti beberapa waktu lalu, kabar menikahnya anak Ustadz Arifin Ilham, Alvin, yang saat itu masih berusia tujuh belas tahun, meminang seorang gadis yang menjadi mualaf setelah banyak berdiskusi dengannya. Ada pula kisah putri Aa Gym yang ramai diperbincangkan, Ghaitsa dan Ghina yang masing-masing menikah dengan seorang yang belum dikenalnya, namun begitu dikenal oleh ayah mereka hingga menjalani proses pernikahan dengan cara taaruf. Tentu saja ini adalah hal yang positif dan dapat dijadikan panutan oleh kaum muda.

Ya, menang benar menikah adalah solusi terbaik bagi pemuda-pemudi yang ingin meluapkan rasa cintanya kepada lawan jenis. Dengan semakin maraknya berita mengkhawatirkan tentang perzinaan yang terjadi pada remaja, daripada berdosa karena pacaran dan khawatir akan jatuh dalam lubang perzinaan, menikah muda memang cocok menjadi solusi. Tapi, sudahkah benar-benar siap untuk menjalani kehidupan rumah tangga?

Saran saya, jangan menikah muda kalau masih belum mempersiapkan atau berpikiran seperti di bawah ini:

Pertama, kurang ilmu pernikahan
Pernikahan bukan perkara yang sepele. Bukan hari ini menikah, lalu beberapa bulan kemudian cerai. Pernikahan adalah amanah besar, tidak hanya kepada orangtua, tapi juga kepada Allah swt. Amanah ini harus digenggam sekuat-kuatnya. Karena itu, untuk menjalaninya perlu ilmu yang mumpuni, tak boleh seadanya. Mulai dari bagaimana cara yang baik ketika mencari jodoh, prosesi menuju pernikahan, komunikasi efektif bersama pasangan, sampai dengan manajemen konflik suami-istri.

Dengan ilmu pernikahan, kita akan tahu bagaimana rangkaian proses pernikahan yang baik dalam islam, tahu apa saja perbedaan psikologis pada suami-istri, sampai tahu macam-macam konflik dan cara mengatasinya. Tanpa ilmu? Mungkin kita akan melewatkan keberkahan yang Allah hadirkan selama proses menuju pernikahan, atau akan kesulitan untuk menyelesaikan konflik yang dihadapi. Sayang sekali kan?

Kedua, masih banyak keinginan yang ingin dicapai sebelum menikah.
Bagi mahasiswa, setelah lulus kuliah akan ada beberapa pilihan hidup. Kerja, melanjutkan kuliah, atau menikah. Maka sebaiknya, buatlah planning dengan matang dan difikirkan secara serius. Buatlah plan A, B, C, dan seterusnya. Menikah bias saja menjadi plan utama, asalkan siap dengan segala konsekuensi yang akan didapatkan di kemudian hari. Mungkin beberapa keinginan hidup kita tertunda karena mengutamakan keluarga. Hal tersebut dapat menjadi masalah ketika diri belum siap untuk menikah. Namun jika memang sudah siap, hal tersebut dapat dijalani dengan bahagia dan lapang dada.

Bagaimana jika masih banyak keinginan yang ingin dicapai? Saran saya, jangan terburu-buru menikah, dengan catatan kita masih bisa menjaga diri dari hal-hal yang dilarang Allah. Menikah memang bukan menjadi penghalang, namun seperti yang sudah saya sebutkan di atas, jika telah menikah, akan ada pertimbangan keluarga yang tak jarang harus menjadi pilihan utama, sehingga harus merelakan keinginan pribadi.

Ketiga, ingin selalu bahagia tanpa konflik.
Dalam pernikahan akan selalu ada konflik, karena katanya konflik adalah bunga cinta. Jadi jangan pernah berharap dalam pernikahan tidak pernah ada konflik. Dengan siapa pun kita akan menikah, konflik pasti akan kita temui. Justru aneh rasanya jika tidak ada konflik, bisa jadi ini adalah pertanda bahwa banyak hal yang dipendam, tidak dapat diungkapkan. Hal ini bisa bahaya karena akan menjadi “bom waktu”. Hal terpenting adalah kita mengetahui pemecahan masalah apa yang sesuai dengan masalah yang sedang dihadapi. Itulah pentingnya ilmu manajemen konflik rumah tangga.

Keempat, berharap untuk mendapatkan dunia, bukan beribadah kepada Allah swt.
Sejatinya, tujuan utama menikah adalah untuk beribadah kepada Allah swt. Dengan begitu, apa pun yang terjadi dan apa pun pilihan yang ditetapkan oleh Allah, kita terima dengan ikhlas. Tapi bagaimana kalau kita hanya berharap akan dunia? Seperti berharap ada seseorang yang melindungi, menjadi teman jalan-jalan, dan sebagainya. Ketika harapan kita masih sebatas untuk mendapatkan dunia, maka kita harus kembali meluruskan niat, menjadikan akhirat sebagai tujuan utama. Karena nantinya dunia akan mengikuti. Sebagaimana sebuah hadits, “Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai dunia, maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup, akan mencerai beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh kecuali yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai akhirat, maka Allah akan memberikan kecukupan dalam hatinya, Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai berai, dunia pun akan dia peroleh dan tunduk hina padanya.” (H.R. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, dan lain-lain dengan sanad yang sahih)

Kelima, tidak mau mengurus anak.
Setelah menikah, amanah selanjutnya adalah memiliki anak. Ternyata, mengurus anak juga bukanlah perkara yang mudah. Masa depan anak ada di tangan kita, akan menjadikannya anak yang saleh penegak islam, ataukah sebaliknya. Allah pun mengingatkan melalui ayat ini, “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh karena itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (Q.S. An-Nisa: 9)

Ada seseorang yang siap menikah namun tidak siap untuk punya anak. Maka, ketika amanah itu datang, dia amat gagap. Lalu semuanya diserahkan kepada ibu, mertua, bahkan pembantu. Menjadi orangtua adalah tanggung jawab yang besar. Karenanya perlu bekal persiapan menjadi orangtua dan ilmu untuk mendidik anak. Jika tidak mau, silahkan pertimbangkan kembali keinginan untuk menikah.

Karena pernikahan tidak boleh dilakukan dengan terburu-buru, ia perlu persiapan yang matang. Maka, jangan menikah muda hanya karena terpengaruh tren. Menikahlah ketika kita siap menikah. Menikahlah karena untuk mencari rida-Nya. Jika ingin menikah muda namun belum melakukan persiapan, maka yang terbaik adalah bersegera memperbaiki diri. Agar kapan pun jodoh datang, kita sudah mempunyai bekal untuk mengarungi bahtera rumah tangga. Wallahua’lam..

 

*Penulis adalah peserta Wonderful Writing Class yang diampu oleh Ust. Cahyadi Takariawan dan tim.