HomePernikahanJanji Para Laki-laki
www.pinterest.comwww.pinterest.com

Janji Para Laki-laki

Pernikahan 0 3 likes 1.7K views share

 

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

 

Janji Pertama

Bermula dari sebuah prosesi sakral bernama akad nikah, atau ijab qabul. Ijab adalah ucapan dari wali pengantin perempuan “Saya nikahkan kamu dengan putriku bernama …. dengan mahar …. tunai”. Sedangkan qabul adalah jawaban dari pengantin laki-laki “Saya terima pernikahan putri bapak bernama … dengan mahar …. tunai”.

Ini adalah janji pertama para laki-laki dalam kehidupan berumah tangga. Karena dengan adanya perjanjian inulah maka sebuah pernikahan dinyatakan sebagai sah dan resmi, baik menurut agama maupun menurut negara, serta tradisi dalam kehidupan masyarakat kita. Jika pengantin laki-laki menolak untuk menyatakan qabul, walaupun dirinya hadir di acara akad nikah, maka pernikahan dinyatakan tidak sah.

Dari janji pernikahan inilah semuanya bermula. Tidak ada peran, tidak ada kewajiban, tidak ada tanggung jawab dalam kehidupan berumah tangga, jika lelaki menolak mengucapkan janji dalam bentuk qabul. Tidak ada tuntutan, tidak ada pertanggungjawaban, jika lelaki tidak mengucapkan qabul. Maka sekali mengucapkan qabul, janji laki-laki telah dimulai, dan akan dilanjutkan dengan berbagai pelaksanaan kewajiban dan tanggung jawab yang melekat pada dirinya sebagai suami dan ayah bagi anak-anak kelak.

Janji Kedua

Dalam tradisi dan tata cara pernikahan di Indonesia, setelah akad nikah selesai, pengantin laki-laki diminta untuk mengucapkan janji berikutnya, yaitu perjanjian taklik atau sighat taklik. Menurut Kompilasi Hukum Islam (KHI), sighat taklik adalah perjanjian yang diucapkan oleh mempelai laki-laki setelah akad nikah berupa janji talak yang digantungkan kepada suatu keadaan tertentu yang mungkin terjadi di masa yang akan datang (KHI pasal 1 huruf e). Sighat taklik ini tercantum pada akta atau buku nikah.

KHI memandang perjanjian sighat taklik bukan merupakan keharusan dalam perkawinan, sebagaimana dinyatakan dalam KHI pasal 46 ayat (3), “Perjanjian taklik talak bukan suatu perjanjian yang wajib diadakan pada setiap perkawinan, akan tetapi sekali taklik talak sudah diperjanjikan tidak dapat dicabut kembali.” Jadi menurut KHI, perjanjian taklik bukanlah suatu keharusan dalam pelaksanaan pernikahan. Namun jika sudah mengucapkannya, perjanjian ini tidak bisa dicabut kembali.

Demikian pula sidang komisi Fatwa MUI tanggal 23 Rabi’ul Akhir 1417 H / 7 September 1996, menyimpulkan bahwa materi yang tercantum dalam sighat taklik pada dasarnya telah dipenuhi dan tercantum dalam UU No 1/1974 tentang Perkawinan dan UU No. 7/1989 tentang Peradilan Agama. Teks sighat taklik adalah sebagai berikut:

Bismillahirrahmanirrahim. Wa aufu bil ‘ahdi, innal ‘ahda kana mas’ula. Dan tepatilah janjimu, sesungguhnya janji itu kelak akan dituntut.

Sesudah akad nikah, saya : Cahyadi Takariawan, berjanji dengan sesungguh hati bahwa saya akan mempergauli istri saya yang bernama : Ida Nurlaila, dengan baik (mu’asyarah bil ma’ruf) menurut ajaran Islam.

Kepada istri saya tersebut saya menyatakan sighat ta’lik sebagai berikut. Apabila saya :

  1. Meninggalkan istri saya selama 2 (dua) tahun berturut-turut;
  2. Tidak memberi nafkah wajib kepadanya 3 (tiga) bulan lamanya;
  3. Menyakiti badan atau jasmani istri saya;
  4. 4. Membiarkan (tidak memperdulikan) istri saya selama 6 (enam) bulan atau lebih,

Dan karena perbuatan saya tersebut, istri saya tidak ridho dan mengajukan gugatan kepada Pengadilan Agama, maka apabila gugatannya diterima oleh Pengadilan tersebut kemudian istri saya membayar uang sebesar Rp. 10,000,- (sepuluh ribu rupiah) sebagai ‘iwadl (pengganti) kepada saya, maka jatuhlah talak saya satu kepadanya.

Demikianlah teks sighat taklik yang tertulis pada buku atau akta nikah. Ada dua sisi janji dalam teks tersebut, yaitu janji secara umum dan janji secara spesifik. Janji yang bersifat umum adalah janji laki-laki untuk mempergauli istri secara baik (mu’asyarah bil ma’ruf) sesuai ajaran Islam. Sedangkan janji yang spesifik seperti tertuang dalam empat poin di atas.

Kewajiban Mu’asyarah Bil Ma’ruf

Para suami mendapatkan perintah langsung dari Allah Ta’ala untuk bergaul dengan istri secara patut. Allah Ta’ala telah berfirman, “Dan bergaullah dengan mereka dengan baik (QS. An Nisa’ : 19). Syaikh Muhammad Abduh menjelaskan, “Artinya wajib bagi kalian wahai orang-orang mukmin untuk mempergauli isteri-isteri kalian dengan bijak, yaitu menemani dan mempergauli mereka dengan cara yang makruf yang mereka kenal dan disukai hati mereka, serta tidak dianggap mungkar oleh  syara’, tradisi dan kesopanan. Maka mempersempit nafkah dan menyakitinya dengan perkataan atau perbuatan, banyak cemberut dan bermuka masam ketika bertemu mereka, semua itu menafikan pergaulan secara makruf”.

Mempergauli istri dengan cara yang baik (mu’asyarah bil ma’ruf) adalah perintah Allah kepada para suami. Ditambah lagi dengan pengarahan Nabi Saw untuk para suami agar selalu berlaku baik terhadap istrinya. Termasuk perbuatan baik suami adalah melindungi istri. “Ingatlah, berilah pesan yang baik terhadap isteri kalian. Sesungguhnya mereka memerlukan perlindunganmu…” (Hadits Riwayat Abu Daud dan At-Tirmidzi). Termasuk perbuatan baik suami adalah tidak berlaku kejam kepada istri. “Sedikitpun kamu jangan berbuat kejam kepada mereka…”  (Hadits Riwayat Abu Daud dan At-Tirmidzi).

Termasuk sifat kesempurnaan suami adalah berakhlak mulia terhadap istri. “Orang mukmin yang paling sempurna keimanannya ialah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baiknya kalian ialah yang terbaik kepada isterinya” (Hadits Riwayat At-Tirmidzi). Termasuk perbuatan baik suami adalah tidak memarahi istri. “Janganlah seorang mukmin memarahi isterinya ataupun seorang wanita beriman. Jika tidak suka terhadap salah satu sifatnya, maka pasti ada sifat lainnya yang menyenangkan” (Hadits Riwayat Muslim).

Termasuk perbuatan baik suami adalah menunaikan hak istri. “Bertakwalah kepada Allah pada (penunaian hak-hak) para wanita, karena kalian sesungguhnya telah mengambil mereka dengan amanah Allah dan kalian menghalalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah” (Hadits Riwayat Muslim). Termasuk perbuatan baik suami adalah berlaku lembut terhadap istri. Nabi Saw bersabda, “Irfaq bil qawarir, bersikap lembutlah kepada kaca-kaca”. Hadits Riwayat Imam Bukhari V/2294 no 5856, Imam Muslim IV/1811 no 2323, An-Nasa’i dalam Sunan Al-Kubra VI/135 no 10326.

Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari menjelaskan, “Al-Qawarir adalah bentuk jamak dari kata tunggal qarurah yang artinya kaca…. Perempuan disamakan dengan kaca karena begitu cepatnya mereka berubah dari ridha menjadi tidak ridha, dan tidak tetapnya mereka (mudah berubah sikap dan pikiran) sebagaimana dengan kaca yang mudah untuk pecah dan tidak menerima kekerasan”.

Syaikh Ibnu Utsaimin memiliki penjelasan yang sangat menarik tentang hadits ini, mengapa perempuan disebut sebagai qawarir. “Sebuah kata yang engkau ucapkan bisa menjadikannya menjauh darimu sejauh bintang di langit, dan dengan sebuah kata yang engkau ucapkan bisa menjadikannya dekat hingga tepat di sisimu”. Lihat : Asy-Syarhul Mumti’ XII/385.

Maka pandai-pandailah merawat hati dan perasaan istri. Jangan dikasari, jangan dibentak, jangan diejek, jangan dicemooh, jangan dilecehkan, jangan dibandingkan, jangan dimarahi, jangan dipukul, jangan disakiti, jangan ditinggalkan, jangan diabaikan, jangan ditelantarkan, jangan dilukai, jangan dijelek-jelekkan. Berlaku lembutlah sebagaimana telah diperintahkan oleh Nabi Saw. Berlaku lembutlah sebagaimana telah dicontohkan oleh Nabi Saw.

www.pinterest.com

Janji Wonderful Family

Para laki-laki telah mendapat tanggung jawab kepemimpinan dalam keluarga, maka harus selalu berusaha untuk melakukan yang terbaik bagi keluarganya. Agar keluarga selalu terjaga kebaikannya, hendaknya para suami berjanji kepada diri sendiri untuk melakukan hal-hal sebagai berikut.

  • berjanji untuk selalu berusaha memahami istri

Banyak kondisi dan situasi istri yang harus dipahami dengan baik oleh suami. Sejak dari hal yang sederhana dan sepele, misalnya, menyangkut waktu yang diperlukan oleh istri dalam urusan mandi, berdandan dan berpakaian. Memahami harapan istri, memahami kebutuhan dan keinginan istri, memahami hal yang menyenangkan dan tidak menyenangkan pada istri, hinga memahami kondisi dan situasi istri saat menstruasi.

Ketika mengalami menstruasi, perempuan sering  merasakan nyeri di sekitar perut. Hampir semua perempuan mengalami kram pada perut saat menstruasi, dan biasanya muncul sesaat sebelum atau hari pertama haid. Kram biasanya berlangsung satu hingga tiga hari, penyebabnya karena kontraksi pada rahim. Jika kontraksi pada rahim terlalu intens, bisa mendorong pembuluh darah akibatnya suplai oksigen ke jaringan otot rahim terhambat dan timbullah rasa kram yang mengganggu.

Selain kram, endometriosis menjadi salah satu penyebab utama timbulnya rasa sakit di perut ketika menstruasi. Kondisi ini biasanya terjadi ketika endometrium (jaringan di sepanjang garis uterus atau rahim) tumbuh keluar uterus. Tanda paling umum terjadinya endometriosis adalah rasa sakit yang tak tertahankan. Perasaan sakit seperti ini masih ditambah dengan situasi psikologis yang berubah saat menstruasi. Ini yang sering disebut sebagai Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD).

  • berjanji untuk memberikan perhatian kepada istri

Para suami hendaknya selalu berusaha memberikan perhatian untuk istri, sesibuk apa pun dirinya. Perhatian ini kadang berupa sesuatu yang sangat sederhana, atau sesuatu yang dianggap kecil dan remeh oleh suami, padahal itu dianggap besar dan penting bagi istri. Misalnya saja mengenai status “lajang” atau “menikah” di profil fesbuk. Walau dianggap sepele, namun bisa memicu persoalan di antara suami dan istri hanya karena suami menulis status “lajang” di profil fesbuknya.

Termasuk perhatian yang penting bagi para istri adalah alokasi waktu untuk dirinya. Ketika suami memberikan waktu yang cukup untuk berkegiatan bersama sang istri, maka ini menjadi bentuk perhatian yang sangat istimewa. Di tengah kesibukan suami, selalu mengalokasikan waktu untuk bertemu, bercengkerama, mengobrol dan berkegiatan bersama istri. Sang istri merasa dinomorsatukan, merasa menjadi penting di sisi suami. Dengan cara itu istri merasa mendapatkan perhatian dari suami.

  • berjanji untuk memberikan cinta kepada istri

Rasa cinta antara suami dan istri memang bersifat fluktuatif. Kadang terasa begitu kuat menggelora, namun ada saat mengalami pelemahan hingga titik dimana tidak bisa lagi dirasakan kehadirannya. Maka cinta tidak hanya untuk dirasakan oleh masing-masing pihak, tetapi harus dihadirkan, dijaga bahkan ditumbuhkembangkan senantiasa. Menghadirkan dan menjaga rasa cinta adalah bagian yang utuh dan bukti dari kesungguhan hidup berumah tangga.

Untuk itu, para suami hendaknya selalu menyediakan cinta dalam jiwa untuk istri sesuai dengan tipe bahasa cinta sang istri. Tiap suami dan istri memiliki ‘bahasa cinta’ yang berbeda-beda. Tidak sama antara satu orang dengan orang lainnya. Setiap bahasa cinta, memiliki karakteristik dan tuntutan sikap yang berbeda pula. Oleh karenanya, apabila anda mampu mengenali bahasa cinta anda dan bahasa cinta pasangan, kemudian mampu mengekspresikan cinta sesuai tipe pasangan, maka rumah tangga anda akan  langgeng dan bahagia.

Menjadi sangat penting bagi kita semua untuk mengenali bahasa cinta pasangan. Karena inilah bahan yang sesuai untuk memenuhi tanki cinta pasangan kita.

  • berjanji untuk membantu kerepotan istri

Jika suami senang dan ringan membantu istri, bisa dipastikan istri akan merasa bahagia. Bukan saja merasa terbantu karena suami ikut terlibat dalam menunaikan kegiatan yang menjadi tanggung jawab istri, namun juga membuat istri merasa tersanjung dan merasa dicintai suami. Senang membantu ini sesungguhnya sudah menjadi watak orang yang mencintai, bukan sesuatu yang sulit dilakukan. Gambaran paling mudah adalah pada pasangan yang tengah jatuh cinta dan dimabuk asmara.

Sepasang kekasih yang tengah jatuh cinta, akan berlomba memberikan bantuan apapun yang diminta oleh kekasihnya. Bahkan tidak perlu sampai diminta, seseorang akan menawarkan bantuan kepada kekasih yang dicintainya. Rela mengantar kemanapun ia mau pergi, rela menunggui si dia berlama-lama, rela mengerjakan apa yang ia minta. Saat mengerjakan bantuan untuk kekasih, rasanya sangat bahagia karena bisa membantu si dia yang sangat dicintainya. Tidak ada rasa mengeluh, tidak ada rasa menyesal, tidak ada rasa lelah dalam membantu kekasih hatinya.

  • berjanji untuk memenuhi kebutuhan istri

Istri adalah sosok manusia yang sempurna, lengkap dengan segala potensi kemanusiaannya. Ia memiliki kebutuhan yang utuh untuk membuat keseimbangan dalam kehidupan. Istri tidak akan bahagia hanya dengan dipenuhi sisi materialnya saja. Misalnya dicukupi nafkah lahiriyah dengan sejumlah uang belanja yang berlimpah, rumah megah, mobil mewah, banyak tanah dan sawah. Istri tidak akan bahagia jika hanya dikurung di dalam rumah tanpa boleh berinteraksi dan bersosialisasi dengan orang lain.

Kebutuhan spiritual atau kebutuhan ruhani menjadi pondasi kebaikan seseorang. Suami harus mengajak dan membersamai istri untuk taat melaksanakan kewajiban sebagai manusia beriman. Suami membimbing istri agar mengenal dan dekat kepada Allah Yang Maha Pengasih, merasakan pengawasan dan penjagaan dari Allah di setiap tempat dan waktu. Dengan perasaan Ketuhanan seperti ini, akan membuat istri selalu terjaga dalam kebaikan, karena malu untuk melakukan tindak kejahatan.

  • berjanji untuk sabar membimbing istri

Sebagai pemimpin, suami harus sabar membimbing dan membersamai sang istri untuk menjadi seseorang seperti harapan dan keinginannya. Suami harus mengomunikasikan keinginan dan harapan tersebut secara baik kepada istri, dan mendialogkan cara untuk mewujudkannya. Suami juga harus menyediakan sarana yang diperlukan agar istri bisa sesuai dengan harapan suami. Karena semua perubahan memerlukan sarana sesuai dengan kebutuhan perubahan tersebut.

Jangan menjadi suami instan, di mana maunya melihat segala sesuatu sudah beres, sudah baik, sudah sesuai dengan keinginannya. Jangan menjadi suami sim salabim, yang penginnya melihat istri sudah berubah seperti yang ia inginkan. Semua perubahan memerlukan proses, dan semua proses memerlukan waktu. Untuk itu, suami harus memahami bahwa perubahan tidak bisa serta merta atau tiba-tiba.

  • berjanji untuk memberikan teladan kebaikan bagi istri

Suami adalah pemimpin dalam rumah tangga, maka ia harus memberikan contoh keteladanan dalam kebaikan. Keteladanan adalah cara yang sangat efektif untuk mengarahkan dan membimbing, agar semua anggota keluarga bisa menuju visi yang ingin dicapai. Semua kebaikan yang ingin diwujudkan dalam keluarga, harus diawali dengan keteladanan, dan suami adalah figur sentral dalam memberikan keteladanan.

Keteladanan merupakan karakter yang harus sangat menonjol pada diri suami, tentu saja dalam konteks yang positif. Karena kenyataannya suami tidak mungkin bisa menghindar dari tanggung jawab dalam kehidupan rumah tangga. Pernikahan telah membuatnya menjadi seseorang yang harus memimpin –mau tidak mau—kehidupan keluarga, dan seperti apakah kondisi keluarga yang terbentuk sangat bergantung kepada keteladanan dirinya. Maka ia tidak mungkin akan bisa menghindar dari tanggung jawab untuk memberikan keteladanan.

  • berjanji untuk bersedia menjadi pendengar yang baik bagi istri

Karena istri adalah makhluk yang sangat verbal, maka ada kebutuhan untuk didengarkan yang harus dipenuhi oleh istri. Para suami hendaklah memberikan kesempatan yang leluasa kepada isteri untuk bercerita apa saja, berkeluh kesah apa saja, menceritakan apa saja. Suami harus menyediakan waktu dan suasana yang nyaman bagi istri untuk berbicara, dan harus menampung serta merespon pembicaraan istri dengan bijak.

Dengarkan dengan seksama semua pembicaraan istri. Biarkan ia mengobrol dengan leluasa tentang apa saja, jangan anda melarang ia bicara. Dengan curhat dan berbicara leluasa, istri akan merasa lega. Jika istri merasa lega, ia akan optimal melayani suami. Ia merasa dicintai oleh suami. Dengan demikian istri akan bertambah baik dalam melayani dan berbakti kepada suami.

  • berjanji untuk bisa menerima kekurangan istri

Mungkin istri anda sangat cantik jelita, bagi anda kecantikan istri anda bernilai sempurna. Namun pasti ia memiliki sisi kelemahan dan kekurangan pada sisi lainnya. Mungkin istri anda sangat cerdas dan pintar dari segi pemikirannya, bagi anda otak istri anda bernilai sempurna. Namun ia tetap manusia, yang pasti memiliki sisi kelemahan dan kekurangan pada sisi lainnya. Mungkin istri anda sangat hebat prestasi dan potensinya, di mata anda hal itu bernilai sempurna. Namun sekali lagi, ia tetaplah manusia, yang pasti memiliki sisi kelemahan dan kekurangan.

Tidak ada satupun istri yang tak memiliki sisi kelemahan dan kekurangan. Sebagaimana tidak ada istri yang tidak memiliki sisi kelebihan dan keutamaan. Itulah manusia, yang selalu memiliki dua sisi dalam kehidupannya. Positif dan negatif, baik dan buruk, kekuatan dan kelemahan. Justru disitulah letak ‘kesempurnaan’ manusia, bahwa mereka mendapatkan potensi yang utuh untuk dikelola secara baik dan benar.

  • berjanji untuk siap berkorban untuk istri

Suami harus bersedia berkorban demi istri dan istri harus rela berkorban demi suami. Suami dan istri harus sama-sama rela berkorban demi keutuhan, keharmonisan dan kebahagiaan keluarga mereka. Suami yang merasa lelah sepulang dari kerja yang menguras tenaga, sampai di rumah masih harus mengurus keluarga. Harus menyediakan waktu untuk mendengarkan curhat istri, harus menyediakan waktu untuk mengajak bermain anak-anak, harus menyediakan waktu untuk menemani anak-anak belajar. Masih ditambah dengan menyediakan waktu untuk tetangga dan kegiatan kemasyarakatan.

Pengorbanan untuk istri tentu saja lahir dan batin. Korban jiwa dan raga. Suami semestinya menyediakan diri untuk mengorbankan apa yang dimiliki demi membahagiakan keluarga, sepanjang tidak melanggar syariat agama. Berkorban dengan apa yang bisa dilakukan untuk istri dan anak-anak. Inilah konsekuensi dari cinta. Tidak akan ada cinta jika tidak ada pengorbanan. Betapa bahagia jiwa istri jika memiliki suami yang rela berkorban untuk dirinya. Pengorbanan ini akan sangat membekas kuat dalam hati istri, ia merasakan dicintai suami dengan sepenuh hati.

Karena Itu….

Karena perintah untuk mempergauli istri dengan baik, karena arahan Nabi Saw untuk berlaku lembut terhadap istri, maka hendaknya para laki-laki berjanji dalam dirinya sendiri untuk tidak menyakiti hati, perasaan dan badan sang istri. Hendaknya para laki-laki berjanji dalam dirinya sendiri untuk tidak melukai psikis dan fisik sang istri. Hendaknya para laki-laki berjanji dalam dirinya sendiri untuk tidak berlaku kasar dan aniaya terhadap istri. Hendaknya para laki-laki berjanji dalam dirinya sendiri untuk tidak berlaku zalim dan semena-mena terhadap istri.

Karena itu, maka hendaknya para laki-laki berjanji dalam dirinya sendiri untuk tidak melakukan tindakan yang bisa membahayakan jiwa dan raga sang istri. Hendaknya para laki-laki berjanji dalam dirinya sendiri untuk tidak melakukan tindakan yang bisa mengancam keselamatan sang istri. Semarah apapun, seemosi apapun, jangan melakukan hal-hal yang menakutkan, mengerikan dan membahayakan istri.

Justru karena anda adalah belahan jiwa istri anda yang harus melindunginya dari segala marabahaya.