HomePernikahanJika Pillow Talk Tak Seindah yang Dibayangkan
Ilustrasi: pixabay.com

Jika Pillow Talk Tak Seindah yang Dibayangkan

Pernikahan 0 3 likes 861 views share

Oleh: Ratih Wisnu Sari*

Hampir setiap malam Deny dan Ike berselisih karena sesuatu yang tidak jelas.

Malam menjelang tidur, Ike galau menunggu suaminya di tempat tidur sambil membaca buku yang ada di hadapannya dan kadang-kadang bermain gadget. Sedangkan Deny menunggu juga di ruang tengah sambil nonton televisi. Sama-sama menunggu dan tidak ada yang memulai untuk mengobrol. Maksud Ike, ia ingin mengobrol bersama suaminya di tempat tidur yang biasa dikenal dengan istilah pillow talk.

Ike enggan datang ke ruang tengah, kenapa? Karena di sana ada televisi yang memecah konsentrasi mengobrol. Sementara Deny pun memilih tetep berada di tempatnya. Belakangan setelah semuanya dibicarakan, baru ketahuan bahwa Deny akan pergi ke tempat tidur jika sudah ngantuk dan pasti akan tidur. Ketika ingin mengobrol, ya di ruang tengah, pikirnya. Perbedaan inilah yang membuat sering terjadinya miskomunikasi antara Ike dan Deny.

Benarkah Pillow Talk Tak Seindah yang Dibayangkan?

Inti dari pillow talk adalah komunikasi dengan pasangan. Pasangan yang sudah seharian tidak bertemu, suami yang sibuk kerja, istri yang sibuk dengan anak-anak, mengurus rumah, atau sibuk karena ada kegiatan lain di luar rumah, menyebabkan tidak ada waktu bagi mereka untuk mengobrol. Untuk pasangan yang seperti ini, pillow talk bisa menjadi solusi. Rasulullah pun mencontohkan hal ini. Dalam sebuah hadis disebutkan, “(Suatu malam) aku menginap di rumah bibiku Maimunah (istri Nabi). Rasulullah berbincang-bincang dengan istrinya (Maimunah) beberapa saat kemudian beliau tidur” (H.R. Bukhari)

Hadits lain menyebutkan, “Adalah dahulu Nabi jika berkumpul bersama Aisyah di malam hari maka Rasulullah berbincang-bincang dengan putri Abu Bakar r.a.” (H.R. Bukhari)

Demikianlah Rasulullah memberi teladan bahwa beliau pun melakukan bincang-bincang dengan istri beliau. Salah satunya, ketika menjelang tidur.

Pillow Talk Hanya Salah Satu Cara Berkomunikasi

Komunikasi dengan pasangan selalu menjadi topik yang hangat. Ia adalah sumber perselisihan dan sumber kebahagiaan bagi suami dan istri. Menjadi sumber perselisihan jika suami istri sama-sama tidak mengerti maksud komunikasi masing-masing dan tidak ada yang bersedia untuk meluruskannya. Menjadi sumber kebahagiaan jika suami istri lancar berkomunikasi, pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik.

Apa yang Seharusnya Dilakukan agar Pillow Talk Mereka Berakhir Indah?

  1. Ada kesepakatan diawal

Ada kesepakatan khusus antara istri dan suami untuk sekedar menikmati paling lama satu jam untuk mengobrol hal yang tidak jelas. Bukan yang berat-berat apalagi membahas visi dan misi kehidupan.

  1. Tidak berekspektasi terlalu tinggi

Kondisi suami istri tidak selalu sama. Istri terkadang sedang fit, tidak ngantuk dan sedang ingin untuk bercerita panjang lebar tentang kondisi anak-anak hari ini dan apa pun yang menarik. Harapan seorang istri tentunya ingin berintim-intim dengan suami setelah seharian ditinggal kerja. Sedangkan bagi suami, pulang kerja dalam kondisi sudah terlalu lelah dan ingin segera istirahat. Jangankan pillow talk, senyum dan sekedar menyapa seperti sudah terlalu lelah. Jadi, berdamai dengan kondisi pasangan mungkin lebih membuat situasi terkendali. Pun, pillow talk tidak harus dilakukan setiap malam. Jika malam ini rencana pillow talk gagal, bisa diganti dengan malam berikutnya atau di malam-malam di akhir pekan.

  1. Mencari alternatif cara mengobrol yang lain

Tidak harus pillow talk. Kalau salah satu merasa keberatan, sebaiknya dicari cara mengobrol yang lain yang sama-sama nyaman dan happy menjalaninya. Kalau kita lihat cerita di atas, sepertinya tidak nyambung antara keinginan suami dan istri. Istri ingin mengobrol di tempat tidur, sementara suami ingin mengobrol di ruang tengah. Maka, harus ada titik tengah di antara keduanya.

  1. Perlunya mengomunikasikan sesuatu dengan lugas dan jelas

Istri menyampaikan pesan terhadap orang lain dalam hal ini suami, maka istrilah yang bertanggung jawab terhadap tersampaikannya pesan dengan baik. Jika suami tidak mengerti apa yang dibicarakan istri, maka istri harus mengubah strategi berkomunikasi. Begitu juga sebaliknya.

Adakah cara lain?

Jika tidak dengan pillow talk, masih banyak cara lain untuk berkomunikasi, dan cara mengobrol yang enak. Yang terpenting, kenali terlebih dahulu kemauan masing-masing dan diskusi bersama di waktu yang pas. Bisa juga dengan ngeteh bareng, salat berjamaah, atau ngobrol selama dalam perjalanan atau saat kondisi tubuh sedang fit. Setiap pasangan memiliki waktu terbaik untuk bercengkerama yang mungkin berbeda satu dengan yang lain. Andai tidak menemukan keasyikan dengan pillow talk, carilah cara lain untuk happy bareng. 🙂

*Penulis adalah peserta Wonderful Writing Class yang diampu oleh Ust. Cahyadi Takariawan dan tim.