HomePernikahanJika Saling Mencintai, Mengapa Saling Menyakiti ?
ilustrasi : www.pinterest.com

Jika Saling Mencintai, Mengapa Saling Menyakiti ?

Pernikahan 0 2 likes 2.6K views share

Oleh : Ummu Rochimah

 

 

Bersama cinta ada kelembutan, bersama kasih sayang ada sentuhan hangat

— Sheikh Abu Al Hamd Rabee’.

 

 

Pernikahan adalah sebuah ikatan sakral yang akan melahirkan cinta dan kasih sayang, seperti Allah nyatakan, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir” (QS. Ar Rum : 21).

Suasana cinta dan kasih sayang ini mengharuskan suami dan istri untuk saling menjaga kebaikan interaksi di antara mereka. Interaksi dalam kehidupan keluarga yang penuh kelembutan ini telah menjadi bagian dari ajaran islam. Rasulullah s.a.w telah memberikan pengarahan, “Janganlah seorang mukmim memarahi seorang mukminah jika ia tidak menyukai satu akhlak, insyaAllah ia akan senang dengan akhlak yang lain” (HR. Muslim).

Islam telah mengatur hubungan antar sesama muslim sebagai bersaudara, dimana satu sama lain harus saling mendukung dan tidak boleh saling menyakiti. Apalagi dalam hubungan antara suami dan istri, tentu harus semakin lebih dijaga lagi. Namun realitas yang terjadi, cinta tidak selalu berjalan mulus dan romantis. Suasana cinta antara suami dan istri selalu penuh warna dan dinamika, yang harus dijaga dan dipelihara kebaikannya oleh mereka berdua.

Pada saat suami dan istri sedang menghadapi masalah, ada semakin banyak hal yang harus dijaga; salah satunya yaitu kata-kata yang hendak keluar dari mulut. Jangan sampai seseorang berkata-kata yang menyakitkan hati pasangannya yang juga akan menjadi penyebab munculnya keretakan dalam rumah tangga. Kata ibarat pedang yang dapat menyayat hati. Lidah memang tidak bertulang sehingga dengan mudahnya berkata hal-hal yang tanpa disadar kadang menyakiti hati orang lain atau bahkan kekasih hati sendiri.

Pada dasarnya sebuah pernikahan berdiri di atas dasar cinta, dan bersama cinta ada sikap lebih mendahului kepentingan orang lain daripada kepentingan pribadi. Bersama sikap ini, suami dan istri dapat memberikan haknya lebih banyak kepada pasangan melebihi hak yang diberikan untuk dirinya sendiri.

Cinta di antara suami istri adalah perasaan yang mulia yang Allah titipkan ke dalam hati siapa saja yang dikehendakiNya. Cinta ini bukanlah sekedar revolusi perasaan yang cepat memudar, akan tetapi merupakan sebuah perasaan yang tertancap kuat di lubuk hati yang paling dalam. Ada pasangan suami istri yang diawal pernikahan masih kaku dalam menunjukkan rasa cintanya, tapi seiring perjalanan waktu dan pergaulan yang baik di antara keduanya, maka cinta mereka semakin tumbuh bersemi.

Namun ada juga pasangan suami istri yang awalnya begitu menggebu-gebu dalam rasa cinta kepada pasangan, namun dikarenakan adanya kekeliruan dalam pergaulan di antara keduanya, cinta itu semakin memudar bahkan lama-lama menghilang. Untuk tetap dapat mempertahankan kecintaan kepada pasangan, salah satunya adalah dengan tidak saling melukai hati pasangan dengan kata-kata sekalipun sedang marah.

Dalam beberapa postingan sebelumnya telah saya sampaikan tips pertama hingga tips keempat dari sepuluh tips merawat cinta kasih di antara suami istri. Pada postingan kali ini, akan saya sampaikan tips kelima.

Tips Kelima :

Tidak Saling Menyakiti

Ketika terjadi konflik yang berkepanjangan antara suami dan istri, kadang mucul kata-kata yang menyakitkan hati pasangan. Biasanya, suami dan istri memilih kata-kata yang ekstrem dan berlebihan untuk menjatuhkan atau menyerang pasangan. Semakin hebat konflik mereka, semakin ekstrem pula pilihan kata-katanya. Kata=kata menyakitkan seperti ini sering muncul dalam pertengkaran suami istri:

“Dasar perempuan bodoh. Apa kamu tidak punya otak?”

“Kamu selalu menyakitiku. Dasar laki-laki tidak punya perasaan”.

“Kamu tidak pernah memahami keinginanku. Kamu selalu mau menang sendiri. Aku benar-benar muak melihat kamu”.

“Aku belum pernah melihat orang yang lebih jahat dan lebih buruk daripada kamu”.

Kata-kata di atas adalah sesuatu yang buruk dan dapat menyakiti pasangan. Mengapa pasangan suami istri yang saling mencintai tapi melakukan hal yang saling menyakiti? Salma Prabhu, seorang psikolog asal India mencoba menjelaskan fenomena kejiwaan ini. Salma menyebutkan bahwa “kebutuhan” seseorang untuk menyakiti orang-orang terdekatnya baik secara emosional maupun fisik dapat disebabkan oleh dua faktor.

Pertama, karena orang tersebut merasa terlalu dekat dengan dengan seseorang yang disakiti sehingga ia tidak sungkan untuk menunjukkan sisi terburuk dalam dirinya.  Faktor kedua adalah biasanya “kebutuhan” menyakiti ini menimpa mereka yang memang terbiasa untuk tidak dicintai, sehingga ketika ada orang lain yang menghujani mereka dengan kasih sayang, merasa tidak layak untuk mendapatkannya dan muncullah rasa tidak nyaman. Ia pun akan mencoba untuk menyakiti atau melawan orang-orang yang menyodorkan cinta sehingga pada akhirnya mereka bisa kembali ke status atau situasi sebelumnya.

Seringkali kita mendenar banyak kisah sakit hati yang justru dilakukan oleh orang-orang terdekat seperti orangtua, pasangan, teman dan saudara. Kondisi itu membuat kita merasa prihatin. Padahal tanpa disadari, bisa jadi diri kita juga adalah salah satu korban ataupun pelaku dari sebuah kisah sakit hati lainnya. Menurut Salma, hal ini memang sering terjadi di antara pasangan serta orang-orang terdekat di dalam keluarga.

Dalam kehidupan berumah tangga, tak mungkin selamanya berjalan tanpa ada pertengkaran, karena perbedaan karakter dan sifat antara laki-laki dan perempuan dalam menyikapi suatu persoalan. Seorang laki-laki akan lebih mengedepankan logika dalam bertindak, sedangkan wanita lebih banyak menggunakan perasaan dan emosinya dalam mengambil tindakan, maka ketika kedua hal ini tidak dapat di selaraskan di antara suami istri, terkadang pertengkaranlah yang akan muncul.

Terkadang hanya karena masalah sepele, misalnya istri pulang telat tanpa izin, suami  langsung marah-marah, menyakiti istrinya dengan kata-kata pedas, seperti, “Dari mana saja, jam segini baru pulang!!!”  diucapkan dengan nada tinggi. Atau seorang istri yang mengucapkan kata-kata, “Dasar lelaki pemalas, kerja nya tidur saja!” Bila pasangan tidak menerima perkataan buruk seperti di atas, tidak tertutup kemungkinan akan muncul balasan atas perkataan tersebut yang kemudian akan melahirkan pertengkaran di antara keduanya.

Kata-kata dengan nada tinggi yang diucapkan oleh seseorang yang dicintai akan memberikan efek lebih menyakitkan hati dari pada bila kata itu keluar dari orang yang tidak ada keterikatan dengan dirinya, dan dapat menimbulkan trauma negatif yang mendalam bagi penerimanya. Itulah mengapa Rasulullah s.a.w sangat melarang seorang muslim mengucapkan perkataan buruk kepada muslim yang lain.

Dampak Menyakiti Pasangan

Allah memerintahkan kepada manusia untuk bersabar dalam menghadapi perilaku pasangan yang tidak disukai, sebagaimana firmannya, “Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai seseuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak” (QS. An Nisa : 19).

Obyek dari ayat tersebut di atas ditujukan untuk kaum laki-laki, namun bisa juga ditujukan untuk kaum perempuan. Hendak lah seorang suami atau istri memperlakukan pasangannya dengan cara yang baik. Karena dalam kehidupan rumah tangga masing-msing mempunyai hak untuk mendapatkan kasih sayang dari pasangan hidupnya. Bagian dari kasih sayang antara suami istri adalah toleransi dalam memperoleh sebagian hak secara timbal balik.

Maka ketika suami atau istri menyakiti pasangannya akan menimbulkan beberapa dampak sebagai berikut. Dampak pertama, ia akan menjadi orang yang dimurkai oleh Allah, sebagaimana firman Allah, “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata” (QS.Al Ahzab : 58).

Dampak kedua, ia menjadi pribadi yang tidak dicintai Allah dan sesama manusia. Karena menyakiti hati orang lain adalah termasuk suatu perbuatan dosa, maka ia akan termasuk orang-orang yamg tidak dicintai oleh Allah. Begitu pula di mata manusia, orang-orang yang sering menyakiti orang lain akan dijauhi oleh siapa saja, karena tidak ada orang yang merasa nyaman berdekatan dengan orang seperti ini. Bila pasangan suami istri sering saling menyakiti, dapat dipastikan lama kelamaan hubungan di antara keduanya akan mengalami kegersangan cinta kasih, karena timbul rasa benci dan tidak suka satu sama lain, yang kemudian rasa ini akan mendominasi hubungan keduanya.

Dampak ketiga, selalu merasa tidak tenang dan dihantui perasaan bersalah. Ketika seseorang telah menyakiti hati orang lain, maka ia akan merasakan suatu perasaan yang membuat gelisah hatinya, merasa tidak tenang. Terlebih bila yang disakiti adalah seseorang yang sebenarnya sangat ia cintai. Ada suatu perasaan bersalah yang muncul dalam hatinya. Karena pada dasarnya perasaan cinta tidak dapat berdampingan dengan rasa benci atau kemarahan.

Cinta yang menyakiti itu bukanlah sebuah cinta sejati, yang menyakiti dalam sebuah hubungan adalah hawa nafsu dan keegoisan yang masih ditanam dalam diri individunya, dan kekuatan itu sendiri lebih besar dibanding cinta yang hadir. Jadi apabila seseorang memilih untuk mencintai maka ia harus berani untuk melepas hawa nafsu dan keegoisan sebagai makhluk individu, karena cinta adalah menyatukan hati yang berbeda agar berjalan bersama-sama.

Apabila ada cinta yang saling menyakiti mungkin harus dipikir kembali, ada sesuatu yang salah dalam hubungan tersebut. Bisa jadi mereka tidak melandaskan cinta mereka kepada kecintaan kepada Allah dan RasulNya. Jika suami dan istri sama-sama melabuhkan cinta tertinggi mereka kepada Allah dan RasulNya, pasti akan ketemu pada suasana yang saling memuliakan, saling menghormati, saling menghargai, serta tidak saling melukai dan tidak saling menyakiti.

Cara Agar Tidak Saling Menyakiti Antara Suami Istri

Agar suami istri terhindari dari perilaku menyakiti pasangan, maka jangan sampai seseorang mengeluarkan apapun yang dapat menyakiti pasangan, baik ucapan maupun tindakan. Berikut adalah cara agar tidak menyakiti hati orang lain.

  1. Biasakan Berpikir Sebelum Bertindak atau Berbicara

Agar tidak terjebak dan menyakiti hati orang lain maka yang harus dilakukan pertama kali adalah selalu memikirkan apakah yang akan dikatakan atau dilakuakn dapat membuat sakit hati orang lain. Terkadang sikap mudah mengeluarkan kata-kata kasar atau tindakan kasar lebih banyak disebabkan oleh pendeknya pemikiran, karena sikap yang reaksioner, terlalu cepat dalam merespon sesuatu. Tidak memperhitungkan akibat yang akan muncul karena ucapan atau tindakannya.

Pasangan suami istri harus saling mengingatkan agar tidak cepat melakukan hal-hal yang dapat mengakibatkan pertengkaran di antara keduanya. Ketika seorang suami sedang dikuasai oleh rasa tidak suka terhadap sikap atau perkataan istrinya, maka ia harus mampu menahan diri untuk tidak terbawa kondisi sang istri.

  1. Jangan Melakukan atau Mengatakan Apapun Saat Emosi

Selain itu, agar tidak menyakiti hati orang lain adalah jangan sampai seseorang itu berbicara atau melakukan sesuatu dalam keadaan emosi. Emosi dapat membuat seseorang kurang jernih berpikir dan membuat menjadi tidak tenang. Maka tenangkan diri terlebih dahulu, ambillah posisi duduk manakala emosi itu datang saat berdiri, dan jangan melakukan apapun sampai keadaan benar-benar tenang. Rasulullah menganjurkan untuk segera berwudhu ketika emosi datang. Emosi adalah saat seseorang dikendalikan oleh perasaan marah.

Maka jangan sampai seseorang itu melakukan tindakan atau mengeluarkan kata-kata apapun saat emosi. Dalam keadaan emosi, seseorang itu sedang dikuasai oleh hawa nafsunya, setan sedang menari-nari di depan nya dan membujuk untuk melakukan sesuatu yang ia sukai, yaitu perbuatan menyakiti orang lain.

  1. Selalu Mengingat Kaidah ‘Jika Tak Ingin Disakiti, Maka Jangan Menyakiti

Tidak ada seorang pun yang senang apabila disakiti, karena hati yagn pernah tersakiti akan meninggalkan luka yang tidak dapat hilang, bahkan  pada beberapa orang luka itu akan terbawa sepanjang hidupnya. Hati itu sangat sensitif, ia akan sangat mudah tersakiti dan merasakan sakit. Ucapan-ucapan kasar pun sudah dapat melukai hati seseorang. Maka dengan mengingat kaidah ini, seseorang akan mampu meredam keinginannya untuk menyakiti orang lain terlebih bila orang lain itu adalah seseorang yang lebih pantas untuk dicintai.

Ketika cinta antara suami istri sudah mulai memudar, maka harus segera melirik asas kedua dalam kehidupan pernikahan yang dapat membuat tegaknya keluarga, yaitu rahmah (kasih sayang). Jangan pernah ada lintasan  pikiran untuk menyakiti pasangan baik dengan ucapan atau perbuatan. Tinggalkan ucapan-ucapan dan tindakan-tindakan yang dapat menyakiti hati pasangan, munculkan dari dalam diri ungkapan-ungkapan dan perbuatan-perbuatan yang dapat melahirkan kasih sayang di antara keduanya.

“Hati tidak memilih. Hati dipilih. Karena hati tidak perlu memilih, ia selalu tahu kemana harus berlabuh” (Dee Lestari).

Wallahu a’lam bish shawab.

 

 

Setiabudi, 8 Juli 2017