HomePernikahanKamu Kecanduan Game Online? Sembuhkan Dulu Sebelum Menikah
ilustrasi : www.pinterest.com

Kamu Kecanduan Game Online? Sembuhkan Dulu Sebelum Menikah

Pernikahan 0 0 likes 820 views share

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

Di ruang konseling Jogja Family Center (JFC) kami kerap menjumpai konflik yang muncul akibat salah satu pihak mengalami kecanduan game online. Pertengkaran dari yang bercorak ringan hingga konflik besar bisa muncul akibat suami atau istri keranjingan game online. Saya merasa sangat penasaran dengan fenomena ini, karena bukan sekali dua kali menjumpai kasus konfli akibat game online di ruang konseling. Saya mencoba searching, dan ternyata menemukan banyak studi terkait dampak game online dalam kehidupan.

Salah satunya, saya menemukan penelitian yang dilakukan oleh mas Dony M. Sugiyanto untuk memenuhi tugas skripsi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya (2013). Penelitian bertajuk “Konflik Online Gamers dalam Hubungan Pernikahan” itu memberikan penegasan bahwa hobi game online berpotensi menimbulkan konflik dalam pernikahan. Penelitian ini telah memberikan informasi akademis yang sangat menarik.

Game Online Memicu Konflik Dengan Pasangan

Seperti diketahui, game online memiliki sifat seductive, yang membuat orang menjadi adict (kecanduan) untuk terpaku di depan monitor berjam-jam. Para  gamers mampu duduk berlama-lama demi game dan tidak ingin ada gangguan apapun yang akan memecah konsentrasi mereka dalam bermain game. Beberapa gamers yang telah kecanduan game online ini menghabiskan sangat banyak waktu demi game. Mereka rela tidak mandi, tidak makan, apalagi untuk bekerja serta melaksanakan tugas yang merupakan kewajibannya.

Para online gamers ini bukan hanya anak-anak dan remaja saja, bahkan orang dewasa dan orang yang sudah berumah tangga pun banyak yang menyukai  serta kecanduan game online. Survey yang dilakukan oleh Pew Internet & American Life Project, sebuah lembaga riset di Washington DC, menemukan bahwa pengguna  game berasal dari berbagai usia, meskipun orang berusia muda lebih banyak bermain game dibandingkan orang yang sudah tua.

Banyaknya intensitas waktu yang dihabiskan di dunia maya sering menimbulkan reaksi penolakan dari pasangan. Seorang suami yang kecanduan game online, bisa melalaikan dari kewajiban untuk memenuhi hak-hak istri serta anak-anak. Sebagian orang menyatakan, dirinya butuh main game online untuk melepaskan kepenatan selepas pulang kerja. Padahal di rumah, istri dan anak-anak memerlukan perhatian dari dirinya. Sebagai ayah ia ditunggu anak-anak untuk membersamai mereka dalam permainan, pembelajaran dan tumbuh kembang. Ternyata hal sangat penting itu terkalahkan oleh game online.

Selain itu, game online juga dapat membentuk interaksi sosial baru yang sangat luas antar sesama pengguna. Kemudahan berinteraksi dengan sesama pemain menambah antusias para gamer untuk bermain game online bersama, maka tidak jarang dari mereka yang kemudian menjalin hubungan intens walaupun tidak  pernah bertemu secara langsung. Kondisi seperti itu bisa menyulut kecemburuan pasangan, bukan saja karena merasa diabaikan, namun karena suaminya terlibat affair dengan teman bermain game online.

Kesimpulan Peneltian

Penelitian yang dilakukan Dony M. Sugiyanto ini relah memberikan beberapa kesimpulan penting, di antaranya adalah:

Pertama, Tipe Konflik

Konflik yang dialami online gamers dalam hubungan pernikahan merupakan veridical conflict, yaitu jenis konflik yang sering terjadi dan kedua belah pihak menyadari bahwa terdapat konflik di antara mereka. Pelaku online gamers dan pasangannya menyadari sepenuhnya bahwa mereka telah mengalami konflik yang disebabkan oleh kecanduan game online.

Kedua, Faktor Penyebab Konflik

Konflik pada keluarga pelaku online gamers ini disebabkan oleh beberapa faktor sebagai berikut :

  1. Intensitas bermain game online yang berimplikasi pada melalaikan kewajiban berumah tangga
  2. Interaksi rutin dan intens dengan pelaku game online lain (laki-laki dan perempuan), telah memicu munculnya kecemburuan pada pasangan
  3. Emosional gamer, yaitu suasana emosi yang muncul akibat game online yang dimainkannya, terbawa dalam kehidupan nyata
  4. Aspek pembiayaan (game online cost), karena bermain game secara online tentu tidak gratis, yang berarti menambah pos pengeluarab harian dalam keluarga
  5. Perbedaan pandangan antara suami dan istri terhadap game online, misalnya terkait dengan aspek hukum dalam agama (fiqih), aspek kesehatan, maupun kemanfaatan.

Ketiga, Penyelesaian yang Tidak Produktif

Upaya penyelesaian konflik yang dilakukan oleh para online  gamers dalam penelitian ini, tergolong tidak produktif. Dari penelitian ini didapatkan data bahwa para online gamers cenderung menyelesaikan konflik dengan tipe avoidance (penghindaran). Mereka cenderung menghindar agar untuk menghindari konflik yang berkepanjangan. Cara seperti ini hanya efektif untuk meredakan konflik sesaat, namun tidak menyelesaikan akar persoalan yang sedang mereka hadapi.

Penutup

Oleh karena kecanduan game online terbukti menimbulkan konflik dalam kehidupan pernikahan, maka hal ini harus dihindari, karena sesungguhnya memang bisa dihindari. Bagaimana cara menghindari?

Pertama, hentikan kecanduan game online sebelum menikah. Pastikan anda sudah bebas dari kecanduan game online sebelum memulai proses menuju pernikahan. Bagaimana akan bisa membangun keluarga yang sakinah mawaddah warahmah kalau menghentikan kecanduan game saja tidak bisa? Bagaimana akan bisa mendidik anak menjadi salih dan salihah kalau orang tua selaku pendidik justru mengalami kecanduan game online?

Kedua, jika masih memilili kecanduan game online setelah menikah, segeralah melakukan terapi dengan serius hingga benar-benar terbebas dari kecanduan game online. Ada banyak terapis yang bisa membantu anda untuk menyembuhkan kecanduan game online, yang penting anda memiliki itikad baik untuk memperbaiki diri. Jaga dan rawat keluarga dengan sebaik-baiknya, jangan terkalahkan hanya oleh game online.

 

Referensi

Dony Marriel Sugiyanto, Konflik Online Gamers dalam Hubungan Pernikahan : Studi Deskriptif Kualitatif pada Online Gamers di Kota Malang dan Surabaya, Jurusan Ilmu Komunikasi, Peminatan, Manajemen Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Brawijaya, Malang, 2013