HomePernikahanKehilangan Kesejiwaan Sebagai Godaan Kesetiaan
fcfc7eb163a618c855b3a014d12fd4eb

Kehilangan Kesejiwaan Sebagai Godaan Kesetiaan

Pernikahan 0 1 likes 302 views share

KEHILANGAN KESEJIWAAN SEBAGAI GODAAN KESETIAAN

Oleh : Ummu Rochimah

 

Di antara godaan-godaan kesetiaan dalam pernikahan seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, kehilangan kesejiwaan menjadi salah satunya. Kehilangan kesejiwaan berarti hilangnya rasa kebersamaan, hilangnya bonding atau kelekatan antara suami dan istri.

Salah satu bentuk kehilangan kesejiwaan yaitu hilangnya rasa cemburu. Tidak ada lagi rasa cemburu suami atau istri terhadap pasangan, ketika pasangan melakukan sesuatu yang tidak pantas untuk dilakukan oleh pasangan suami istri. Rasa cemburu menunjukkan adanya kesejiwaan antara suami dan istri.

Ketika pasangan suami istri sudah kehilangan kesejiwaan, maka hilanglah rasa memiliki, hilang rasa kepeduliannya, hilang rasa rindu. Sering terucap dari mulutnya, “Terserah dia mau apa” atau “Aku ngga peduli dia mau bagaimana.” atau “Terserah….” Atau lebih merasa nyaman dengan kondisi LDM (Long Distance Marriage)

Sebelum godaan ini semakin meluas dan membesar dampaknya bagi perjalanan pernikahan pasangan suami istri, hendaknya keduanya harus memahami tentang konsep kesejiwaan ini. Sehingga segala godaan yang muncul dalam perjalanan rumah tangga dapat segera dikendalikan dan dihilangkan.

 

Dua Tubuh Satu Jiwa

Pasangan suami istri itu sejatinya adalah dua manusia yang memiliki satu jiwa. Pada awal pernikahan, keduanya membawa sifat dan karakter masing-msing yang sudah mereka simpan selama berpuluh tahun kehidupan mereka. Bertemu dalam biduk pernikahan, saling mempengaruhi satu sama lain, saling memberikan sifat kepada pasangan dan menerima sifat dari pasangan. Tidak lagi meng-‘aku’ dan meng-‘kamu’ tetapi sudah menjadi ‘kita’. Hingga tidak salah jika kemudian orang mengatakan bahwa pasangan suami istri itu memiliki kemiripan wajah satu sama lain.

Yang sebenarnya terjadi bukanlah pergantian wajah satu sama lain, namun karena keduanya telah menyatu bukan hanya dari segi lahiriyah, seperti bersatu di rumah, bersatu di kamar, hingga bersatu di tanjang. Sejatinya mereka telah menyatu dalam kesejiwaan mereka, memikili rasa senang bersama hingga dapat tertawa bersama, memiliki rasa sedih bersama dan menangis bersama. Hingga lama kelamaan raut wajah memiliki tarikan garis yang sama. Inilah yang menyebabkan seolah-olah wajah mereka memikili kemiripan bahkan ekstrimnya dikatakan sebagai kembaran.

Semakin bertambah usia pernikahan, seharunya semakin menyatu jiwa keduanya. Penyatuan jiwa ini sering disebutkan sebagai chemistry atau istilah yang dipopulerkan oleh Cahyadi Takariawan, seorang konselor pernikahan yaitu kesejiwaan.

Untuk mencapai kesejiwaan bukanlah perkara yang mudah bagi pasangn suami istri. Karena suami dan istri adalah dua jiwa, dua nyawa, dua tubuh, dua pikiran, dua hati, dua keinginan, dua harapan, dua visi, dua misi dan dua cita-cita yang dicoba untuk disatukan. Menyatukan dua bagian yang berbeda dalam satu wadah bernama keluarga tentulah menjadi suatu hal yang tidak mudah.

Pada kenyataannya, banyak suami istri yang mengalami kesulitan dalam proses penyatuan itu. Proses ini terkadang tidak berbanding lurus dengan usia pernikahan. Pada sebagian pasangan, proses ini dapat terjadi dalam waktu yang singkat. Namun pada pasangan lain, butuh waktu yang sangat panjang, tidak cukup waktu pernikahan lima tahun, bisa memakan waktu sepuluh tahun, bahkan ada yang butuh dua puluh tahun untuk sampai kepada kesejiwaan ini.

Proses menuju kesejiwaan, harus bermula dari rasa mencinta satu sama lain dari pasangan suami dan istri. Mencinta berarti memberi. Dengan mencinta seseorang telah menghilangkan keegoisan dalam dirinya. Dengan mencinta bukan berarti mengorbankan kemerdekaan sebagai inividu, tetapi dengan mencinta justru akan memperkaya diri karena dapat menumbuhkan kepercayaan diri dengan memberikan sesuatu kepada orang lain.

Cinta bukanlah unsur tunggal yang dapat berdiri sendiri, tetapi terdiri dari beberapa komponen yang saling melengkapi. Bang Fromm dalam bukunya The Art of Loving menyebutkan unsur-unsur dasar cinta yang terdiri dari :

Perhatian (Care)

Cinta adalah perhatian aktif pada kehidupan dan pertumbuhan dari apa yang kita cintai. Tidaklah disebut mencinta jika seseorang tidak memiliki perhatian terhadap apa yang ia cintai. Contohnya adalah perhatian seorang ibu kepada anaknya, yang didasarkan dari rasa cintanya. Perhatian suami atau istri kepada pasangan hidupnya di mana mereka saling mencinta.

 

Tanggung Jawab(Responsibility)

Tanggung jawab dalam arti sesungguhnya adalah suatu tindakan yang sepenuhnya bersifat sukarela. Bertanggung jawab berarti sanggup dan mampu untuk menerima beban. Bagaimana bisa seseorang dikatakan mencintai bila ia tidak memiliki rasa tanggung jawab? Karena suami atau istri mencintai pasangan hidupnya maka ia akan bertanggung jawab terhadap keselamatan dan kebahagiaan pasangannya.

 

Rasa Hormat(Respect)

Rasa hormat merupakan kemampuan seseorang untuk melihat orang lain apa aadanya, bukan perasaan takut dan terpaksa. Rasa hormat berarti menyadari dan menerima keunikan dari setiap individu. Rasa hormat berarti kepedulian bahwa seseorang itu tumbuh dan berkembang sebagai mana adanya menjadi pribadi yang memiliki cirri khas. Ketika suami atau istri memiliki rasa hormat kepada pasangannya, saat itulah ia memiliki rasa cinta.

 

Pengetahuan(Knowledge)

Cinta itu ilmiah, ada unsur ilmu dan pengetahuan yang menyertainya. Cinta itu tidak membabi buta. Mem-babi saja sudah jelek, apalagi tambah buta, pasti tambah jelek lagi!

Perhatian, tanggung jawab, rasa hormat dan pengetahuan mempunyai keterkaitan satu sama lain. Semuanya merupakan bentuk sikap yang terdapat dalam pribadi yang dewasa, yaitu pribadi yang mengembangkan potensi dirinya ke arah yang positif.

 

Godaan-godaan kesetiaan dalam pernikahan haruslah segera diselesaikan. Jangan sampai godaan-godaan ini menghancurkan kehidupan rumah tangga karena ketidak pedulian kedua pasang suami istri untuk mempertahankan rumah tangganya.