HomePernikahanKelembutan Suami Mengokohkan Rumah Tangganya
ilustrasi : www.pinterst.com

Kelembutan Suami Mengokohkan Rumah Tangganya

Pernikahan 0 2 likes 858 views share

KELEMBUTAN SUAMI DAPAT MENGOKOHKAN RUMAH TANGGANYA

Oleh : Ummu Rochimah

 

Cinta di antara suami dan istri adalah suatu perasaan yang mulia, yang Allah titipkan di dalam hati keduanya, dan berharap bahwa cinta itu akan terus menyelimuti keduanya di sepanjang perjalanan pernikahan.

Cinta ini bukan lah cinta sesaat, yang hanya merekah di awal-awal pernikahan kemudian lama kelamaan menjadi pudar bahkan menghilang. Yang diharapkan dari cinta antara suami dan istri adalah sebuah perasaan yang semakin lama semakin tertancap kuat di dalam lubuk hati dan di sepanjang usia pernikahan.

Untuk mendapatkan cinta yang seperti itu, bukanlah sebuah perkara yang mudah. Cinta seperti itu tidak dapat diperoleh tanpa ada usaha dari pasangan suami istri. Ia tidak akan begitu saja jatuh dari langit kemudian tumbuh. Ibarat menanam benih tanaman, ia tidak tumbuh menjadi sebuah pohon yang dapat berbunga atau berbuah tanpa melalui perawatan dan pemeliharaan. Sekalipun ada kalanya benih itu dapat tumbuh, namun tanpa adanya perawatan dan pemeliharaan, boleh jadi pertumbuhannya menjadi tidak maksimal atau bahkan bisa menjadi cacat.

Dalam upaya merawat dan memelihara sebuah pernikahan agar dapat berjalan dengan baik, maka suami dan istri harus memahami bahwa ada hak suami atas istri, begitu pun sebaliknya ada hak istri atas suami. Masing-masing harus dapat memahami hal ini supaya keduanya berupaya untuk memenuhi hak pasangannya.

Ketika seorang suami sudah memenuhi hak istrinya, hal ini berarti bahwa ia sudah menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami. Begitu pun bila seorang istri sudah memenuhi hak suaminya, berarti ia sudah melaksanakan kewajibannya. Menunaikan hak orang lain yang terkena pada diri kita akan mendorong kita untuk memiliki lebih banyak empati dan simpati kepada orang lain maka kemudian nilai positif yang terus tumbuh dalam diri kita.

Di antara hak suami dan istri adalah hak mendapat kelembutan. Dalam al Quran Allah mengajarkan tentang pergaulan antara  suami dan istri, “…Dan bergaullah dengan mereka menurut cara yang patut.” (QS. An Nisa : 19)

Sikap lemah lembut antara suami dan istri dapat memelihara kebaikan dan menjauhkan rumah tangga dari sebuah guncangan. Dalam hal ini Nabi Muhammad saw. bersabda,”Apabila Allah azza wa jalla menghendaki kebaikan bagi penghuni rumah, ia akan menanamkan kepada mereka sikap lemah lembut.”

 

Sikap Lembut Suami kepada Istri

Sikap lemah lembut sering diidentikan sebagai sikap seorang perempuan atau istri. Padahal sikap ini juga dimiliki oleh kaum laki-laki atau para suami. Salah satu sifat yang menjadi karakter dari sosok Nabi Muhammad adalah Al Hilm atau lemah lembut. Dan beliau digambarkan sebagai sosok seorang suami yang memiliki kelembutan kepada para istrinya.

Salah satu ciri suami yang ideal, ia menebarkan kelembutan dan kasih sayang pada istri dan keluarganya. Begitu pentingnya arti kasih sayang, kelembutan dan sikap baik suami pada istri, sampai-sampai Rasulullah saw bersabda,”Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri. Dan aku adalah sebaik-baiknya orang di antara kalian terhadap istri.”

Sebagai seorang pemimpin yang bijak dalam keluarga, kelembutan dan kasih sayang suami akan memancarkan kebahagiaan ke setiap sudut kehidupan rumah tangga. Dari sikap ini akan tertanam kepekaan perasaan dan kelembutan hati. Hingga akhirnya kata-kata dan tindakan suami memberi kekuatan bagi istri saat rumah tangga diguncang masalah.

Namun, di sisi lain seorang istri juga membutuhkan  sikap tegas dari suami, terutama saat menghadapi suatu permasalahan. Di balik ketegasan suami, seorang istri merasa terlindungi. Suami yang tak bisa tegas dapat mengurangi penghargaan istri terhadapnya. Karena dalam pandangan seorang istri, suami dianggap sebagai sosok yang dapat menyelesaikan permasalahan.

Hanya saja, sikap tegas seorang suami bukan berarti ia seorang yang keras atau mudah melakukan kekerasan. Suami yang tegas dan berwibawa sedapat mungkin harus dapat menghindari kekerasan fisik maupun lisan. Suami yang tegas akan meletakkan sesuatu pada tempatnya, mengerti pembagian tugas dan tanggung jawab masing-masing.

 

Istri Tercipta dari Tulang Rusuk Suami

Para suami perlu mengetahui mengenai karakter seorang perempuan dalam pandangan Rasulullah saw. Bahwa kaum perempuan amat mudah tersentuh dan diumpamakan sebagai ‘tulang yang bengkok’. Rasulullah saw bersabda,” Sesungguhnya perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Engkau tidak akan bisa meluruskannya dengan satu cara. Jika engkau bersenang-senang dengannya, maka engkau melakukannya dalam keadaan ia tetap bengkok.” ( HR. Muslim )

Hadits ini memberi arahan kepada para suami untuk bersabar atas apa yang lahir dari perilaku istrinya. Hendaknya para suami ingat bahwa para istri itu tidak sengaja berbuat demikian, tapi itu berasal dari ketetapan Allah atas diri seorang perempuan. Dan tabiat ini akan diperlukan bagi seorang perempuan ketika melaksanakan tugas pokoknya, seperti  hamil, menyusui, dan membesarkan anak-anaknya kelak.

Jika suami tak menyenangi satu sifat dari istrinya, hal tersebut tak bisa dijadikan alasan untuk berlaku kasar pada istrinya. Suami seharusnya adil juga dalam melihat sifat-sifat baik lainnya dari seorang istri, sehingga mencegahnya dari berlaku kasar ketika menghadapi perangai buruk istri. Sebagaimana Rasulullah bersabda,”Janganlah sekali-kali seorang mukmin lelaki benci pada istrinya yang mukminah walaupun ada perangai yang tidak ia suka, boleh jadi ia senang dengan perangai yang lain.” (HR. Muslim)

Kalaupun misalnya seorang suami sudah sangat tidak tahan terhadap sifat dan perangai istrinya, maka ia harus menegurnya dengan sangat lemah lembut, tidak berkata keras apalagi dengan membentaknya. Memilih waktu dan tempat yang tepat untuk menegurnya. Tidak memarahi istri di depan umum, karena hal ini dapat menjatuhkan harga dirinya dan sangat menyakiti perasaannya. Bukan perubahan kebaikan yang akan diperoleh, namun justru dapat menimbulkan kebencian seorang istri kepada suami.

Dalam sebua kisah disebutkan, Syaikh Abu Muhammad bin Abu Zaid memiliki kedudukan tinggi dalam ilmu dan agama, tapi ia memiliki istri yang buruk perangainya, ketus dan tajam perkataannya. Suatu ketika, Syaikh ditanya mengenai perilaku buruk istrinya dan mengapa Syaikh masih sabar tidak menceraikannya. Beliau menjawab,”Aku seorang lelaki yang diberi nikmat secara sempurna oleh Allah dalam hal kesehatan badan dan pengetahuan serta budak yang kumiliki. Boleh jadi, istriku diutus sebagai hukuman atas dosa-dosaku. Aku takut jika aku menceraikannya, akan turun hukuman yang lebih keras dari ini.”

Kata-kata Syaikh Abu Muhammad yang penuh hikmah mencerminkan sikap lemah lembut dan rendah hati suami yang derajat keilmuannya amat tinggi. Mungkin, sebagian suami beranggapan bila seorang suami mengalah pada istri akan merendahkan martabatnya sebagai suami. Padahal, mengalah menjadi bagian dari wujud sikap lemah lembut seorang suami yang akan melanggengkan perjalaan rumah tangganya.

Wallahu’alam