HomePranikahKetika Calon Berbeda Status Ekonomi, Bisakah Hidup Bahagia?
ilustrasi : www.pinterest.com

Ketika Calon Berbeda Status Ekonomi, Bisakah Hidup Bahagia?

Pranikah 0 2 likes 832 views share

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

Pernikahan dalam ajaran Islam, telah diatur dengan berbagai perangkat yang dimaksudkan untuk mendatangkan kemaslahatan seluas-luasnya serta menghindari berbagai kemudharatan yang mungkin muncul sejak awal proses hingga akhirnya. Salah satu faktor yang akan menghadirkan kebaikan, kebahagiaan dan keharmonisan hidup berumah tangga adalah apabila pernikahan dilakukan dengan mentaati semua tuntunan syariat, sehingga kedua belah pihak —calon pengantin laki-laki dan calon pengantin perempuan— benar-benar terjauhkan dari dominasi hawa nafsu serta syahwat dalam semua prosesinya.

Selain ketaatan terhadap aturan agama, kebahagiaan hidup berumah tangga juga ditentukan oleh kesediaan suami serta istri dalam menyesuaikan diri dengan harapan pasangan pasangan, menyesuaikan diri dengan kondisi dan situasi pasangan, serta kesediaan untuk menerima pengaruh pasangan. Kadang, dalam upaya untuk untuk menyesuaikan diri dengan harapan, kondisi dan situasi pasangan, seorang lelaki atau perempuan harus rela mengorbankan berbagai keinginan dan harapan pribadinya. Kelenturan seperti inilah yang akan mnyempurnakan hadirnya kebahagiaan dan keharmonisan hidup berumah tangga.

Perbedaan Status Sosial Ekonomi yang Ekstrem

Tidak bisa dipungkiri, faktor finansial menjadi salah satu unsur yang turut membentuk kebahagiaan hidup manusia. Tidak selalu terkait dengan besaran nominal, namun lebih kepada sikap terhadap situasi finansial tersebut. Misalnya, dalam contoh adanya perbedaan status sosial ekonomi yang sangat mencolok antara calon pengantin laki-laki dan calon pengantin perempuan, bisakah mereka membentuk keluarga rukun dan bahagia? Baik pihak lelaki yang lebih tinggi secara sosial ekonomi, ataupun pihak perempuan yang lebih tinggi. Apakah ada keharusan dan ketentuan dalam ajaran agama terkait tingkat sosial ekonomi calon pengantin?

Dalam fiqih munakahat, dikenal ada ajaran tentang kufu atau kafa’ah, yaitu kesesuaian antara calon pengantin laki-laki dan calon pengantin perempuan. Namun tidak ada ketentuan detail soal kufu atau kafa’ah yang mengharuskan kesetaraan dalam sisi sosial ekonomi antara calon pengantin lelaki dan perempuan. Misalnya, lelaki kaya raya harus mendapatkan perempuan kaya raya. Atau lelaki tidak mampu harus mendapatkan perempuan tidak mampu. Tidak ada keharusan seperti itu.

Oleh karena itu, secara pandangan agama, tidak ada halangan bagi lelaki dan perempuan yang memiliki perbedaan tingkat sosial ekonomi untuk menikah. Kerelaan dan kesediaan kedua belah pihak atas realitas adanya perbedaan itu, menjadi sangat penting sebelum mereka memutuskan menikah. Sehingga dari awal proses, kedua belah pihak sudah mengetahui realitas adanya perbedaan yang mencolok tersebut. Saat memutuskan untuk menikah, sudah mengerti konsekuensi yang akan muncul di kelak kemudian hari.

Namun demikian, meskipun tidak ada halangan syar’i untuk menikah, hendaknya kondisi tersebut dipertimbangkan masak-masak oleh pihak laki-laki dan pihak perempuan. Ketika mereka secara mantap memutuskam untuk menikah, harus  disertai dengan persiapan lebih matang. Karena peluang muncul masalah dalam situasi perbedaan status ekonomi seperti itu sudah terbayang di depan mata. Misalnya saja, terkait gaya hidup masing-masing yang sangat jauh berbeda sebelum menikah.

Adaptasi dan Titik Temu

Gaya hidup bukanlah hal yang mudah untuk berubah. Seorang perempuan yang hidup dari kalangan keluarga menengah ke atas, terbiasa makan di restoran mewah, tidur di hotel berbintang, mengenakan mobil mewah kemanapun pergi, biasa berlibur ke Eropa dan Amerika, naik pesawat terbang kelas eksekutif bersama orang tuanya, tentu membentuk sebuah gaya hidup dan standar tersendiri. Seorang lelaki yang berasal dari keluarga tidak mampu, terbiasa hidup susah, makan nasi sehari sekali dengan singkong dua kali sehari, rumah tanpa keramik dan eternit, bepergian dengan bus ekonomi dan naik sepeda kayuh setiap hari, juga membantuk gaya hidup dan standar tersendiri.

Perbedaan status sosial ekonomi yang sangat ekstrem pada contoh ini, bukanlah penghalang untuk melaksanakan pernikahan. Mereka berdua tetap bisa menikah dan mendapatkan kehidupan keluarga yang harmonis serta bahagia. Yang diperlukan oleh mereka berdua adalah dua hal. Pertama, sifat kelenturan dalam adaptasi. Kedua, kesediaan untuk memiliki titik temu yang melegakan kedua belah pihak.

Pertama, sifat kelenturan dalam adaptasi

Salah satu faktor penting untuk membangun kebahagiaan dan keharmonisan hidup berumah tangga adalah adanya sifat kelenturan dalam proses adaptasi. Menikah adalah mempertemukan dan mengelola banyak hal yang berbeda antara suami dan istri. Bukan hanya sifat, karakter, kebiasaan, namun juga gaya hidup dan standar dalam kehidupan keseharian. Kata ‘sederhana’ secara teknis bisa dipahami secara berbeda oleh orang kaya dan orang tidak mampu; karena adanya perbedaan dalam gaya hidup dan standar masing-masing.

Yang dimaksud dengan sifat kelenturan adalah, kesediaan kedua belah pihak untuk menyesuaikan diri dengan harapan, situasi dan kondisi pasangan. Keduanya harus berubah menyesuaikan diri. Bukan hanya satu pihak yang berubah untuk menyesuaikan dengan pasangannya, namun keduanya harus berubah saling menyesuaikan diri. Kemampuan berubah dengan cepat inilah yang disebutsebagai kelenturan. Karena adaptasi adalah keharusan, maka prosesnya harus ditopang dengan sifat kelenturan.

Dalam contoh istri berasal dari keluarga kaya dan lelaki berasal dari keluarga tidak mampu, keduanya harus memiliki sifat lentur untuk mudah beradaptasi. Standar yang ada pada diri mereka yang terbentuk dari pengalaman hidup sebelumnya, harus bersedia diubah demi mendapatkan standar kehidupan baru yang mereka sepakati berdua. Pihak istri harus bersedia menurunkan standar hidupnya, sedangkan pihak suami harus lebih meningkatkan standari hidupnya. Dengan demikian keduanya melakukan usaha dan menunjukkan kelenturan sifatnya untuk berubah, menyesuaikan dengan harapan, situasi dan kondisi yang mereka hadapi.

Kedua, kesediaan untuk memiliki titik temu

Faktor kedua ini tidak kalah penting. Dalam proses adaptasi akan muncul pertanyaan pada pihak istri, “sebanyak apa aku harus menurunkan standar hidup”. Sedangkan pada pihak suami akan muncul pertanyaan, “seberapa banyak aku harus meng-up grade standar hidup”. Yang harus mereka gunakan sebagai standar bukanlah dari pihak istri yang terbiasa hidup mewah, bukan pula dari pihak suami yang terbiasa hidup susah.

Sebagai keluarga baru, mereka harus memiliki standar sendiri, memiliki nilai sendiri, memiliki ukuran sendiri, yang bisa saja berbeda dari standar orang tua mereka. Mereka adalah sebuah keluarga yang harus mandiri, mencukupi kebutuhan hidup sendiri, terlepas dari ketergantungan dan bayang-bayang orang tua masing-masing. Sebagai keluarga baru, mereka harus memiliki titik temu dari adanya perbedaan yang mencolok dalam sisi status sosial ekonomi.

Akan menjadi keberatan bagi istri apabila ia harus turun ke standar ekonomi suami; dan akan menjadi keberatan bagi suami apabila ia harus naik ke standar ekonomi istri. Maka mereka berdua harus memiliki titik temu yang disepakati, di titik mana mereka harus mengupayakan perubahan. Titik temu seperti ini bisa saja berubah sewaktu-waktu, seiring dengan perubahan situasi ekonomi keluarga baru yang mereka bangun bersama.

Bisa jadi mereka justru mencapai tingkat kemakmuran yang melebihi keluarga istri, karena usaha yang mereka kembangkan berhasil dengan gemilang. Namun bisa jadi, justru mengarah ke standar keluarga suami yang serba kekurangan. Semua kemungkinan dalam hidup bisa saja terjadi. Berbagai kemungkinan itu sudah harus masuk dalam pertimbangan mereka sejak awal memutuskan untuk menikah, sehingga keduanya memiliki kesiapan yang sama untuk berhasil ataupun ketika terpaksa harus mengalami kegagalan dalam membangun bisnis atau usaha.

Perbincangan Saat Ta’aruf

Menjadi sangat penting untuk mendialogkan berbagai situasi dan kondisi yang berbeda secara nyata tersebut pada saat ta’aruf sebelum menikah. Calon pengantin laki-laki dan calon pengantin perempuan bertemu untuk mendialogkan berbagai hal, sehingga tidak ada lagi keraguan pada keduanya. Perbincangkan segala sesuatu terkait kondisi sosial ekonomi keluarga masing-masing, gaya hidup, persepsi atas kesederhanaan dan kemewahan, harapan dalam membangun rumah tangga, sharing dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi, standar hidup baru, dan lain sebagainya.

Calon pengantin laki-laki dan perempuan mempertemukan visi, motivasi, persepsi, dan harapan masing-masing, sehingga mendapatkan kecocokan sejak masa ta’aruf. Hal-hal penting dan mendasar, seperti nilai-nilai Islam dalam kehidupan, harus menjadi acuan utama. Standar tentang benar salah, halal haram, boleh tidak boleh, semua harus didasarkan kepada ajaran agama. Dengan demikian, pembahasan di saat ta’aruf tidak lagi membuat definisi dan standar tentang nilai-nilai, namun lebih kepada penjabaran dalam aspek teknisnya.

Misalnya dalam mendefinisikan teknis tentang ‘hidup sederhana’. Karena standar kehidupan sosial ekonomi mereka berdua yang berbeda jauh selama ini, maka perlu membahas definisi yang lebih teknis operasional tentang makna sederhana. Rumah sederhana, makan sederhana, kendaraan sederhana, pakaian sederhana, hidup sederhana, itu yang seperti apa? Tentu saja, semua akan bisa berkembang kelak, sesuai dengan situasi dan kondisi yang akan terus berubah. Namun paling tidak, dalam pembahasan saat ta’aruf hal-hal seperti itu sudah bisa mendapatkan jawaban yang menenteramkan kedua belah pihak.

Pernyataan dari kedua belah pihak saat ta’aruf, untuk bersedia memiliki sifat kelenturan dalam adaptasi, dan bersedia untuk memiliki titik temu dalam standar kehidupan, menjadi modal penting untuk menjalani kehidupan berumah tangga. Jika kedua belah pihak sudah merasa cocok, merasa mendapatkan titik temu dari berbagai macam hal, maka bisa dilanjutkan ke langkah berikutnya menuju jenjang pernikahan. Namun jika masih ragu, tidak ada kenyamanan, tidak menemukan kepastian, maka belum cukup alasan untuk meneruskan ke jenjang pernikahan. Menikah baru bisa dilakukan dalam situasi kedua belah pihak merasa mantap dan yakin.

Mumpung masih ta’aruf dan belum melaksanakan akad nikah, maka masih ada opsi untuk lanjut ke jenjang pernikahan atau mengakhiri proses ta’aruf dan tidak meneruskan ke jenjang pernikahan. Namun jika sudah mantap dan yakin, bismillah, lanjutkan segera ke jenjang pernikahan. Dengan niat ikhlas, motivasi yang tulus untuk ibadah, serta visi surga, insyaallah keluarga yang dibangun akan harmonis dan bahagia, walau memiliki perbedaan sangat ekstrem dari latar belakang sosial ekonomi mereka.