HomeKeuanganKetika Penghasilan Istri Lebih Tinggi Dari Suami
womanworking

Ketika Penghasilan Istri Lebih Tinggi Dari Suami

Keuangan 0 0 likes 1.4K views share

Di antara karakter istri salihah adalah mempu menghormati, memuliakan, dan menghargai suami. Ini adalah sikap standar dan mendasar dari istri terhadap suami. Tidak terpengaruh apakah istri lebih kaya dibandingkan suami, atau istri memiliki status sosial yang lebih tinggi dibanding suami, bahkan istri yang lebih berilmu dan lebih takwa dibanding suami. Hendaknya istri mampu memberikan penghormatan, pemuliaan dan penghargaan kepada suami, sebagai bagian dari upaya untuk menumbuhkan kebahagiaan dan keharmonisan hidup berumah tangga.

Penghasilan Istri Lebih Tinggi dari Suami?

Pada zaman modern saat ini, banyak dijumpai suami dan istri yang sama-sama bekerja dan berkarier di luar rumah. Selain menjawab tuntutan kebutuhan kehidupan yang semakin besar dan kompleks, juga terkait dengan aktualisasi diri dan menunjukkan eksistensi. Mungkin saja mereka tidak bermaksud berkompetisi atau berusaha saling mengalahkan dalam kenaikan gaji dan posisi, namun tanpa sengaja hal itu bisa saja terjadi.

Maka tidak jarang ditemukan istri memiliki posisi lebih tinggi dari suami, memiliki penghasilan lebih besar dari suami, memiliki karier yang menanjak lebih cepat dari suami, mencapai kedudukan, jabatan dan pangkat yang lebih hebat dari suami, memiliki gelar kesarjanaan lebih tinggi dari suami, memiliki relasi lebih luas dari suami, terbang lebih tinggi dari suami, pergi lebih jauh dari suami. Kondisi ini secara umum tampak wajar, namun bisa  memunculkan potensi masalah apabila tidak disikapi secara tepat.

Memicu Persoalan Psikologis

Penghasilan istri yang lebih tinggi dari suami, bisa memunculkan potensi masalah dalam kehidupan berumah tangga apabila tidak disikapi secara bijak oleh kedua belah pihak. Bukan hanya di Indonesia yang dianggap memiliki pola paternalistik dan tradisional dalam pengelolaan keluarga. Bahkan di negara-negara maju dan modern, yang dianggap sudah lebih terbuka dan maju pola pikirnya, perbedaan penghasilan suami-istri ini masih bisa memicu persoalan dan konflik.

Sebuah studi yang dilakukan oleh tim dari American Psychological Association menunjukkan, kesuksesan karier istri dapat menjadi sumber konflik dalam rumah tangga, karena kesuksesan tersebut bisa mengubah persepsi dan corak relasi suami-istri.Tanpa disadari oleh para suami, mereka telah memandang buruk diri sendiri saat sang istri lebih unggul dalam karier, padahal mereka tidak sedang berkompetisi dengan istri.

Hasil penelitian menunjukkan,kaum laki-laki melihat kesuksesan istri sebagai kegagalannya sendiri. Demikian penjelasan Kate Ratliff, PhD, dari Universitas California. Ini adalah contoh persoalan psikologis yang bisa muncul pada suami ketika penghasilan istri lebih besar dari suami, atau karier istri lebih melejit daripada suami, atau posisi dan kedudukan istri di tempat kerja lebih tinggi dari suami. Muncul semacam rasa minder atau rasa bersalah atau rasa gagal menempatkan diri sebagai suami, sehingga berpeluang melahirkan konflik.

Sesungguhnya persoalan utama bukan terletak pada jumlah penghasilan istri yang lebih besar daripada suami, atau posisi istri yang lebih tinggi daripada suami. Namun seringkali masalah terletak pada sikap yang berubah dari suami dan istri ketika menghadapi realitas tersebut.

Memicu Perselingkuhan?

Penelitian lain di Inggris menemukan bahwa laki-laki yang memiliki penghasilan lebih rendah dari istrinya,memiliki peluang lima kali lebih besar untuk melakukan selingkuh. Bahkan, semakin besar perbedaan penghasilan di antara keduanya, semakin besar pula kecenderungan laki-laki untuk melakukan selingkuh.Survei juga menemukan bahwa perempuan yang bergantung penuh secara finansial kepada suami memiliki kemungkinan selingkuh 75% lebih rendah dibanding perempuan yang berpenghasilan sendiri.

Christin Munsch dari Universitas Cornell di New York menyatakan, berpenghasilan lebih rendah dari istri bisa jadi mengancam identitas lelaki yang selama ini dikenal sebagai pencari nafkah. Namun, di sisi lain, lelaki yang berpenghasilan tinggi juga memiliki peluang selingkuh mengingat jam kerja yang panjang, kegiatan travelling, serta penghasilan tinggi yang membuatnya mudah untuk melakukan perselingkuhan.

Memicu Persoalan Disfungsi Seksual

Sebuah penelitian dari Olin Business School, Washington University in St. Louis mendapati bahwa laki-laki yang istrinya mempunyai penghasilan lebih tinggi cenderung memiliki masalah di tempat tidur. Kemungkinan mereka mengalami disfungsi seksual (impotensi) lebih besar dibandingkan laki-laki yang gajinya lebih tinggi daripada istri.

Para peneliti yang bekerja sama dengan tim dari Denmark sebelumnya menganalisis lebih dari 200.000 pasangan menikah di Denmark selama kurun waktu antara 1997-2006. Penelitian yang diterbitkan di buletin Personality and Social Psychology ini juga mendapatkan fakta, bahwa para istri yang penghasilannya lebih tinggi dibanding suami cenderung menderita insomnia dan menjalani pengobatan untuk mengatasi kegelisahan.

Sebuah studi yang dilaporkan di jurnal Sex Roles tahun 2014 lalu juga mendapatkan hal serupa. Patrick Coughlin dan Jay Wade dari Fordham University di Amerika mengungkapkan, laki-laki yang meyakini prinsip suami harus menjadi pencari nafkah, cenderung memiliki relasi yang lebih buruk jika istri mereka memiliki penghasilan lebih besar. Kesenjangan penghasilan ini telah menimbulkan ketegangan dalam hubungan dengan pasangan.

Bersikap Dewasa dan Bijak

Persoalan utamanya bukan terletak pada jumlah penghasilan istri yang lebih besar, atau pada jabatan istri yang lebih tinggi dari suami. Namun persoalan terletak pada sikap-sikap tidak dewasa dan tidak bijak pada keduanya. Istri bisa menjadi arogan karena merasa lebih kaya, merasa lebih  sukses, merasa lebih pandai, merasa lebih hebat dari suami. Istri merasa lebih berkuasa daripada suami, sehingga bersikap sombong dan tidak bisa menghargai suami. Perubahan sikap istri yang disebabkan karena kenaikan jumlah penghasilan inilah yang menjadi persoalan besar dalam membangun kebahagiaan keluarga.

Hendaknya para istri salihah tetap bisa bersikap hormat dan takzim terhadap suami, meskipun penghasilan suami lebih kecil dibanding dirinya. Ketidakmampuan istri bersikap menghormati, memuliakan dan menempatkan suami secara nyaman, membuat suami menjadi hipersensitif, menjadi minder dan akhirnya bisa memunculkan serangkaian persoalan ikutan lainnya.