HomePernikahanKomunikasi Suami Istri: Sepatu Warna Biru atau Emas?
ilustrasi : www.pinterest.comilustrasi : www.pinterest.com

Komunikasi Suami Istri: Sepatu Warna Biru atau Emas?

Pernikahan 0 2 likes 2.7K views share

Oleh : Ummu Rochimah

 

 

 

Istri berkata, “Kamu tidak mendengarkan”, atau “Kamu tidak mengerti”. Suami mencoba menjelaskan bahwa dia mendengarkan, namun tidak bisa memberikan saran yang hebat. Istri terus menuduh bahwa suaminya tidak sungguh-sungguh mendengarkan, dan bahwa suaminya tidak memahami dirinya. Suami mulai merasa frustrasi dan mencoba membuktikan bahwa dirinya sungguh mengerti dan memberikan solusi. Mereka pun mulai bertengkar.

—- John Gray : Mars and Venus, Together Forever.

Penggambaran tersebut ditulis oleh John Gray dalam subjudul “Anatomi Sebuah Kesalahpahaman”. Menurutnya, komunikasi menjadi tidak efektif antara suami dan istri disebabkan mereka tidak saling mengerti satu dengan yang lainnya. Suami dan istri berada dalam suatu jarak ketidakpahaman, yang menyebabkan sering muncul salah paham dan kemalasan dalam mengembangkan obrolan. Dari sinilah masalah mulai menumpuk yang siap membesar dan menimbulkan ledakan dahsyat.

Pada beberapa postingan terdahulu telah saya sampaikan tips pertama hingga tips kelima dari sepuluh tips merawat cinta kasih suami istri. Dalam kesempatan kali ini akan saya bahas tips keenam dalam upaya merawat cinta kasih suami istri, yaitu Biasakan Selalu Komunikasi di Setiap Waktu.

Sepatu Biru atau Sepatu Emas?

Allan dan Barbara Pease memberikan saran tentang “Strategi Sepatu Biru atau Sepatu Emas”. Menurutnya, jika seorang istri bertanya “sepatu yang biru atau yang warna emas?” suami tidak perlu memberi jawaban. Justru dia seharusnya bertanya, “Kalau kamu sendiri suka yang mana?” Istri merasa senang dengan pertanyaan ini, karena semula ia mengira sang suami akan langsung memberikan keputusan untuknya. Pertanyaan suami ini akan segera direspon, walaupun sang istri tampak tidak terlalu yakin.

“Yah, aku rasa, aku lebih cenderung dengan sepatu warna emas”, jawab istri. Kenyataannya, ia sudah memiliki pilihan sebelum bertanya kepada suami.

“Mengapa memilih yang warna emas?” tanya suami menguji.

“Sebab aku mengenakan gaun dan asesoris yang juga ada motif warna emas”, jawab istri. Nah kan, ia sebenarnya sudah memiliki pilihan sebelumnya. Hanya ia ingin mendapat dukungan sepenuhnya dari sang suami.

“Waw, itu pilihan yang sangat pas, dan menakjubkan. Aku suka sekali dengan pilihanmu itu”. Jawaban ini membuat sang istri menjadi sangat bahagia dan bangga.

Apa maksud dialog tentang sepatu warna biru dan warna emas yang ditulis oleh Allan dan Barbara Pease di atas? Pada saat istri bertanya tentang pilihan warna sepatu, sebenarnya ia sudah memiliki pilihan. Hanya saja istri ingin mendapatkan dukungan dan penghargaan, bahwa pilihannya itu bagus dan tepat. Maka begitu suami segera memberikan apresiasi positif atas pilihan sang istri, ini merupakan komunikasi yang membahagiakan hati. Sebuah seni komunikasi yang semestinya diketahui oleh semua pasangan suami istri.

Pernikahan pada dasarnya dibangun oleh dua anak manusia yang memiliki hati dan perasaan yang utuh. Mereka memiliki sifat kemanusiaan, bukan seperti mesin atau robot. Adalah suatu yang aneh ketika mendengar ada pasangan suami istri yang tinggal seatap, tidur sekasur, bisa bicara normal tapi tidak pernah mengobrol satu sama lain, apalagi saling  curhat. Masing-masing sibuk dengan dunianya sendiri, tidak mempunyai bahan obrolan ketika mereka sedang bersama, sehingga tidak ada bahan perbincangan yang dapat mendekatkan hati keduanya. Masing-masing merasa tidak menyambung ketika berada dalam suatu obrolan, sehingga obrolan itu menjadi tidak asyik, bahkan terkesan menjadi seperti ceramah.

Obrolan atau komunikasi menurut Onong Uchjana Effendy adalah proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberitahu, mengubah sikap, pendapat, atau perilaku, baik secara lisan (langsung) ataupun tidak langsung (melalui media). Proses seperti inilah yang harus selalu terbangun di antara suami dan istri dalam kehidupan sehari-hari. Karena pernikahan seharusnya dapat mengakrabkan dua insan yang mungkin pada awalnya belum saling mengenal. Bagaimana dapat mengakrabkan diri jika keduanya tidak pernah mengobrol santai dari hati ke hati?

Tidak boleh ada jarak bagi keduanya untuk mengungkapkan apa yang tersimpan dalam hati. Tidak ada rasa sungkan untuk membicarakan apapun di antara mereka, bahkan mulai dari pembicaraan yang sangat sepele hingga pembicaraan yang sangat penting. Tidak ada keberatan dari seorang suami untuk mendengarkan dan menanggapi istri ketika ia berbicara tentang kegiatannya berbelanja ke pasar. Atau sang istri yang begitu setia mendengarkan dan sesekali menanggapi ketika suami berbicara tentang hobinya.

Dari obrolan-obrolan yang sifatnya ringan ini  ternyata dapat menambah kekuatan ikatan hati di antara keduanya. Kenyamanan berkomunikasi di antara suami istri justru akan didapat ketika keduanya intens dalam melakukan obrolan-obrolan yang ringan. Tidak ada perasaan sungkan atau merasa jatuh harga dirinya manakala keduanya terlibat dalam suatu obrolan ringan. Ketika suami istri sudah merasa nyaman dalam berkomunikasi, maka apapun masalah yang datang dalam perjalananan rumah tangganya akan dapat diselesaikan dengan baik. Namun bila di antara mereka tidak merasakan kenyamanan dalam komunikasi, seringan apapun masalah yang menghampiri akan menjadi sulit untuk diselesaikan.

Maka menjadi sesuatu yang penting bagi pasangan suami istri untuk membangun komunikasi yang efektif untuk kebaikan rumahtangganya. Bicaralah, karena semua akan menjadi jelas dengan berbicara atau mendengarkan.

Membangun Komunikasi Efektif di Antara Suami Istri

“Mama bicara apa sih dari tadi, Papa ngga ngerti deh apa yang Mama bicarakan….”

Bagaimana rasanya bila pasangan berbicara seperti itu kepada kita? Tentu akan menimbulkan rasa sakit hati mendengarnya, sudah berbicara panjang lebar ternyata pasangan tidak mengerti apa yang dibicarakan. Sakitnya tuh di sini! Ini adalah sesuatu hal yang mudah terjadi dalam komunikasi antara suami dan istri, karena perbedaan sifat dan karakter di antara keduanya.

Seorang wanita dengan emosi dan perasaan yang lebih dominan akan lebih banyak mengeluarkan kata-kata  yang berasal dari hatinya sehingga terkesan bertele-tele. Sedangkan seorang laki-laki yang dominan akal dan logikanya akan lebih sering mengatakan sesuatu secara to the point, tanpa basa basi. Bila keduanya tidak saling memahami perbedaan ini maka dapat timbul kesalahpahaman di antara suami istri.

Karena itu keduanya harus mempelajari cara berkomunikasi yang efektif bagi mereka. Tidak ada suatu aturan baku dalam komunikasi di antara suami istri, karena masing-masing pasangan memiliki cara tersendiri yang cocok bagi pola komunikasi di antara mereka. Namun, secara umum ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam komunikasi, khususnya bagi suami istri, antara lain :

  1. Pahami Kekhasan Suami dan Istri

Hendaknya suami dan istri saling memahami kekhasan karakter pasangan. Bahwa suami dan istri memiliki sejumlah kebiasaan dan karakter yang khas, berbeda satu dengan yang lainnya. Sangat banyak daftar perbedaan karakter ini, dan masing-masing harus bersedia membuka diri untuk memahami kekhasan pasangan. Jika tidak mau tahu tentang hal-hal yang khas pada laki-laki dan perempuan, akan menyebabkan tidak akan pernah nyaman dalam membangun komunikasi. Sudah ada ‘block’ yang menutup atau menyekat suami dan istri.

‘Anatomi Sebuah Kesalahpahaman’ yang diungkapkan oleh John Gray di atas menjadi contoh, betapa mudah kesalahpahaman terjadi antara suami dan istri, karena saling tidak mengerti kekhasan pasangan. Sebagaimana ’strategi’ sepatu warna biru atau warna emas yang dikemukakan oleh Allan dan Barbara Pease, menunjukkanpentingnya bagi suami dan istri untuk mengetahui seni berkomunikasi dengan pasangan, yang dialndasi oleh pengertian terhadap situasi khas pada diri masing-masing.

  1. Membiasakan untuk Selalu Berkomunikasi di Setiap Waktu

Di dalam beberapa riwayat hadits digambarkan bagaimana Rasulullah s.a.w, sebagai seorang suami yang terbiasa berbincang-bincang dan bercengkerama dengan istri-istrinya di sela-sela kewajiban beliau menunaikan tugas-tugas kenabiannya, namun sebagai seorang manusia beliau tidak melupakan sisi-sisi kemanusiaan dalam menjalankan fungsinya sebagai seorang suami dan ayah bagi anak-anaknya.

Di antaranya seperti yang di riwayatkan dalam shahih Bukhari Bab Nikah, ketika Rasulullah s.a.w mendengarkan Aisyah berkisah tentang Ummu Zara’ yang redaksinya begitu panjang digambarkan dalam hadits tersebut, dan Aisyah baru berhenti berbicara sesaat setelah terdengar suara adzan, karena Rasulullah langsung beranjak untuk melaksanakan shalat. Dari hadits yang panjang ini didapat suatu gambaran bagaimana Rasulullah tidak sedikitpun memotong pembicaraan istrinya ketika sedang berbicara, beliau mendengarkan dengan begitu seksama setiap perkataan istrinya.

Pada masa kini sering ditemui suatu kondisi dimana pasangan suami-istri sulit menemukan waktu untuk berkomunikasi satu sama lain dikarenakan kondisi, misalnya suami istri bekerja di luar rumah, atau suami istri yang tinggal berjauhan satu sama lain, waktu menjadi sesuatu yang sangat berharga. Ditambah lagi ketika sudah memiliki anak, maka waktu yang sudah terbatas untuk mengobrol semakin sulit saja untuk didapat. Keterbatasan waktu untuk bersama ini tentunya bisa mendatangkan masalah. Apalagi jika ternyata pasangan tidak melakukan komunikasi yang berkualitas saat akhirnya bisa punya waktu bersama.

  1. Berbicara Perlahan dan Jelas

Dalam suatu riwayat hadits oleh Aisyah, r. a. disebutkan,”Rasulullah tidaklah berbicara seperti yang biasa kamu lakukan (yaitu berbicara dengan nada cepat). Namun beliau berbicara dengan nada perlahan dan dengan perkataan yang jelas dan terang lagi muda dihafal oleh orang yang mendengarnya” (HR. Abu Daud).

Bahkan, jika ada suatu pembicaraan yang bersifat sangat penting, Rasulullah s.a.w mengulangnya sampai tiga kali dengan maksud agar apa yang dibicarakan benar-benar dimengerti, seperti yang dikatakan oleh Anas bin Malik r.a, ”Rasulullah Saw sering mengulangi perkataannya hingga tiga kali agar dapat dipahami” (HR. Bukhari).

Pasangan suami istri harus dapat menerapkan ini dalam kehidupan rumah tangganya. Mereka sebagai dua orang yang akan menghabiskan sebagian besar hidupnya secara bersama, harus mampu membuat pola komunikasi yang membuat masing-masing pasangan merasa nyaman ketika berbicara satu sama lain. Pembicaraan atau perkataan yang terburu-buru dan tidak jelas dapat mengakibatkan kesalahpahaman yang melahirkan suatu pertengkaran. Kedua belah pihak harus saling mengingatkan pasangan agar berbicara dengan perlahan dan jelas agar maksud dan tujuan pembicaraan dapat tercapai.

  1. Berbicara yang Baik

Terkadang, saat lelah sepulang kerja, seorang suami atau juga seorang istri tidak mampu mengendlkikan diri, sehingga keluar kata-kata yang tidak nyaman didengar oleh pasangannya. Hal ini tentu sangat tidak baik dan dapat menimbulkan pertengakaran di antara suami istri. Terlebih bila salah satu dari mereka seorang yang sangat sensitif perasaannya. Sehingga ucapan yang terdengar sedikit kasar akan dapat melukai hatinya.

Rasulullah mengajarkan kepada umatnya untuk hanya berbicara sesuatu yang baik, seperti dalam hadits, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari-Muslim)

Walaupun hadits ini bersifat umum, tapi akan sangat indah manakala hadits ini juga diterapkan kepada pasangan hidup, karena sejatinya pasangan hidup adalah seorang yang paling berhak menerima setiap ucapan baik yang keluar dari mulut seorang suami atau istri, dan sedapat mungkin ia tidak mendengar perkataan buruk yang keluar dari mulut seorang suami atau istri.

Maka pengendalian diri dari berkata-kata tidak baik harus selalu diupayakan oleh pasti pasangan suami istri, agar tidak melukai hati pasangan. Jangan sampai terjadi, seseorang dapat berbicara baik-baik kepada orang lain, baik teman atau rekan kerjanya, tapi terhadap pasangan hidupnya justtru berbicara yang tidak baik.

  1. Hindari Menggunakan Bahasa Negatif

Pasangan suami istri adalah dua orang yang sedang bersama-sama membangun kebaikan dalam kehidupannya. Terlebih lagi bagi seorang muslim, pernikahan adalah suatu bentuk ibadah dalam kerangka ketaaatan kepada Allah s.w.t, maka sepanjang perjalanan pernikahan haruslah senantiasa mengupayakan segala bentuk kebaikan baik untuk dirinya maupun keluarga yang sedang dibangun.

Bahasa emosional seperti, “Kamu tidak pernah mendengarkan apa yang saya katakan!” atau “Kamu selalu mengatakan itu” semua ini merupakan contoh bahasa emosional yang negatif. Bahasa seperti ini sangat tidak baik untuk didengar oleh pasangan hidup. Selain menunjukkan sikap tidak menghargai pasangan juga merupakan bahasa yang dapat melukai perasaan. Bahasa negatif akan mmelahirkan balasan sikap negatif pula, maka pasangan suami istri harus mampu mengendalikan lisannya dari perkataan-perkataan negatif, agar rumah tangganya diliputi oleh kebaikan.

Demikianlah lima tips berkomunikasi efektif dengan pasangan. Di tengah kesibukan suami istri dalam mencari nafkah dan mengelola kehidupan rumah tangganya, keduanya harus memiliki waktu untuk mengobrol, berbincang-bincang hal-hal yang ringan, agar perjalanan kehiddupan rumah tangganya tidak melulu hanya berisi pencapaian-pencapaian target yang pastinya akan melelahkan fisik dan jiwa. Dengan berbincang-bincang ringan sambil ditemani segelas teh hangat dan sepiring pisang goreng di bawah sinar rembulan, maka dua hati akan senantiasa bertaut dan kasih sayang akan terus berkembang dalam hati suami istri.

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Dan akulah yang paling baik di antara kalian dalam bermuamalah dengan keluargaku.” (HR. Tirmidzi)

 

 

Setiabudi, 11 Juli 2017

 

Bahan Bacaan

Allan Pease & Barbara Pease, Mengapa Pria Tidak Bisa Mendengarkan dan Wanita Tidak Bisa Membaca Peta? PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2016

John Gray, Mars And Venus Together Forever, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2000