HomePernikahanKomunikasi yang Melegakan Hati
78b14a8fb5aa26c9892046dd00497d71

Komunikasi yang Melegakan Hati

Pernikahan 0 3 likes 1.1K views share

KOMUNIKASI YANG MELEGAKAN HATI

Oleh : Ummu Rochimah

Sepasang anak manusia yang mengikat janji untuk bersama menjalani sebuah pernikahan, tentulah dengan satu niat untuk hidup bersama selamanya. Tidak ada pembatasan waktu hingga kapan pernikahan itu akan berakhir. Semua pasangan yang memutuskan untuk menikah, pasti berpikir untuk menjadikan pernikahannya berusia sepanjang hidupnya. Sebagaimana ungkapan, pasangan sehidup semati.

Seorang perempuan, ketika baru menikah tentulah memiliki harapan dan cita-cita serta keinginan-keinginan kepada suaminya. Begitupun dengan seorang laki-laki, tentu ia juga memiliki bayangan-bayangan idealisme tentang rumah tangganya. Namun, dalam perjalanannya ternyata tidak semulus dan seideal apa yang ada dalam bayangannya ketika baru menikah.

Ternyata yang dihadapi kemudian di dalam biduk rumahh tangganya tidaklah seindah bayangan yang disimpanya dalam khayalan di masa lajang. Ada banyak ditemui kerikil-kerikil yang membuat perjalanan menjadi tidak nyaman, bahkan terkadang menemui batu besar yang menghambat perjalanan rumah tangga. Hingga tidak dapat dihindarkan munculnya konflik antara pasangan suami istri tersebut.

Setiap rumah tangga pasti memiliki konflik di dalamnya. Rumah tangga bahagia itu, bukan berarti tidak ada konflik di sana. Yang membedakan sebuah rumah tangga bahagia dengan yang tidak bahagia adalah, kemampuan pasangan suami istri dalam mengelola setiap konflik yang muncul, mampu menyelesaikannya sehingga tidak sempat untuuk berkembang menjadi konfik besar yang bisa menutupi aura kebahagiaan rumah tangga.

Secara umum, konflik terbesar yang terjadi di antara suami istri disebabkan karena kurang mahirnya pasangan dalam mengkomunikasikan segala sesuatu yang timbul sebagai akibat suatu pernikahan. Padahal seharusnya pasangan suami istri itu harus menyadari pentingnya komunikasi antara suami dengan istri, karena bentuk komunikasi inilah yang akan menjadi cermin iklim rumah tangga.

Bentuk komunikasi antara suami dengan istri dapat menggambarkan mengenai pondasi keluarga, kesehatan fisik dan jiwa anggota keluarga. Menentukan tingkat kenyamanan, ketenangan dan kepuasan semua anggota keluarga.

Dalam kenyataannya banyak pasangan suami istri yang mengalami kesulitan dalam melakukan komunikasi di antara mereka. Ada beberapa sebab munculnya ketidak lancaran dalam komunikasi antara suami dengan istri, antara lain :

Menjadi Lebih Realistis

Pasangan suami istri yang baru menikah, biasanya masing-masing masing sangat besar menenggang pasangannya, masih sangat banyak maaf dan permakluman, karena masa sesaat setelah menikah adalah masa-masa cinta yang masih menggelora, masih sangat banyak stok romantisme. Pasangan ini masih seperti berada di atas awan, semua masih terlihat indah dan nikmat. Maka tepatlah masa ini dikatakan sebagai masa cinta yang romantic.

Hingga kemudian pada saatnya mereka akan dilemparkan ke alam nyata dunia rumah tangga sesungguhnya, yang mungkin akan sangat jauh berbeda dari harapan dan cita-cita mengenai bayangan sebuah rumah tangga.

Dimulai dari munculnya sifat dan watak asli di antara mereka yang tidak mungkin dapat ditutupi secara terus menerus, karena keduanya hidup secara bersama sepanjang hari, sepanjang waktu bahkan bersama dalam satu selimut. Tidak ada lagi topeng yang mampu menutupi kekurangan yang dimiliki oleh masing-masing. Semua kelebihan dan kekurangan pasangan akan terpapar dengan sejelas-jelasnya di hadapan keduanya. Kondisi ini membuat suami atau istri menjadi lebih realistis terhadap semua kelebihan dan kekurangan pasangan. Akibatnya, keduanya akan mudah untuk mengekspresikan emosi yang muncul, entah itu emosi senang, bahagia, kecewa, sedih, dan lain-lain.

Kurang Memahami Latar Belakang Pengasuhan Pasangan

Pasangan suami istri itu berasal dari dua keluarga yang sama sekali berbeda, tentu akan ada perbedaan dalam karakter dan budaya keduanya. Corak dan sikap hidup keduanya akan tergantung pola pengasuhan dan pendiidikan kelaurga. Bila dalam satu keluarga saja banyak ditemui perbedaan sifat dan karakter dari dua orang kakak beradik, apatah lagi bila berasal dari dua kelaurga yang jelas-jelas berbeda.

Maka hal pertama yang harus dilakukan oleh pasangan suami isitri adalah mencari tahu tentang pola pengasuhan pasangan dalam keluarga besarnya. Bagaimana hubungan pasangan dengan kedua orang tuanya. Hubungan dengan saudara, kakak atau adiknya. Sehingga masing-msing dapat menyesuaikan diri di lingkungan keluarga pasangan.

Sejatinya pernikahan itu bukannya hanya bertemunya dua orang individu laki-laki dan perempuan, tapi ia mempersatukan dua keluarga, yang mau tidak mau akan saling memberikan pengaruh satu sama lain. Jadi masing-masing harus bisa segera menyesuaikan diri ketika berada dalam keluarga pasangan. Jangan pernah menyesal dan meratapi kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan.

Kurang Memahami Perbedaan Antara Laki-laki dan Perempuan

Allah telah menciptakan laki-laki dan perempuan itu berbeda, baik secara fisik dan emosi. Laki-laki memiliki struktur otot yang lebih banyak dibandingkan perempuan, sehingga secara fisik laki-laki leibh kuat daripada perempuan. Struktur otak laki-laki dirancang untuk berpikir secara tunggal, sehingga lebih menguasai pemikiran yang sifatnya global. Sedangkan otak perempuan memiliki struktrur majemuk, yang menyebabkan perempuan leibh pandai dalam hal detail dan mampu melakukan beberapa hal dalam satu waktu.

Secara emosi, laki-laki dan perempuan juga memiliki perbedaan. Laki-laki akan lebih sedikit mengekspresikan emosinya dibanding dengan perempuan. Laki-laki dan peremepuan juga memiliki perbedaan dalam hal keinginan, perasaan, dan lain-lain.

Maka suami istri harus menyadari hal ini. Bahwa perbedaan antara laki-laki dan permepuan itu adalah sunnatullah yang tidak dapat dihilangkan. Jangan meminta pasangan untuk berpikir dan berlaku seperti dirinya. Suami isttri harus mempelajari akibat yang akan timbul dari adanya perbedaan ini.

Tidak Memiliki Ketrampilan Berbicara dan Mendengar yang Baik

Walaupun bentuk komunikasi antara suami dengan istri bukan hanya dalam bentuk verbal, ada komunikasi non verbal seperti bahasa tubuh, namun secara umum komunikasi verbal masih mendominasi sebagian besar bentuk komunikasi antara suami dengan istri.

Karena itu keterampilan berbicara dan mendengar yang baik harus selalu dilatih dan oleh suami istri agar keduanya dapat menemukan bentuk komunikasi yang pas dan ‘ngeklik’ sehingga keduanya mampu memahami maksud dan tujuan dari pembicaraan pasangan. Bahkan kalau perlu bisa memahami apa yang ada dalam pikiran dan akan diucapkan oleh pasangan sebelum ia membuka mulutnya. *smile

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam ketrampilan mendengar yang baik, antara lain :

  1. Menghindari penghalang di mana penghalang ini bukan saja secara fisik namun dapat berupa malas berkomunikasi, memikirkan jawaban, mencari-cari tanda bahaya dari ucapan pasangan.
  2. Mendengar dengan benar, menjadi pendengar yang baik bukan hanya diam mendengarkan tetapi harus dapat mencari tahu maksud omongan pasangan. Tunjukkan bahwa kita mengerti apa yang dibicarakan oleh pasangan.
  3. Adanya komitmen dan komplimen/hadiah, komitmen berupa kesepakatan dengan diri sendiri, bahwa dalam mendengar kita berusaha untuk mengerti, memahami, menyisihkan minat dan kebutuhan pribadi. Menjauhkan prasangka dan berusaha untuk belajar melihat dari sudut pandang pasangan. Sedangkan komplimen/hadiah itu berupa sikap yang menunjukkkan kekpada pasangan bahawa, “Saya peduli kamu.” “Saya ingin tahu apa yang kamu pikirkan, apa yang kamu rasakan, dan apa yang kamu butuhkan.”