HomeRuang KeluargaKonfirmasi, atau Menebar Opini ?
socialmedia-2-1024x547

Konfirmasi, atau Menebar Opini ?

Ruang Keluarga 0 0 likes 672 views share

Paradoks Media Sosial

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

Kita sering menerima postingan tentang berbagai macam hal —sering kali kontroversial atau bombastis— melalui grup-grup WhatsApp yang kita ikuti. Hampir setiap hari, ada saja anggota grup yang memposting hal-hal yang seakan-akan sebuah informasi akurat, dengan menyebut nama penulis bahkan sumber rujukan. Namun di bagian bawah postingan tersebut, ada kalimat dan pertanyaan yang menggelitik, seperti ini:

“Saya menerima postingan seperti itu, apakah teman-teman juga menerima?”

“Saya ingin konfirmasi, apakah isi postingan tersebut benar?”

“Saya posting di sini, karena saya ingin mengetahui apakah itu berita hoax atau benar terjadi”.

“Saya ingin mendapatkan klarifikasi atas informasi ini, maka saya posting di sini”.

Saya ikut terpengaruh oleh postingan semacam itu, buktinya sekarang saya komentari. Saya melihat ada sisi-sisi paradoks dari kehidupan kita bermedsos. Kita sekarang bukan hanya bergaul secara langsung di alam nyata, namun lebih banyak bergaul di dunia maya. Teman-teman kita lebih banyak dan lebih intens berkomunikasi melalui jejaring sosial. Dalam konteks inilah, kita menjadi sangat sulit untuk membedakan sebuah informasi sebagai akurat atau abal-abal.

Dunia Nyata vs Dunia Maya

Jika bertemu secara langsung dengan teman-teman dalam satu forum pengajian, atau rapat, atau arisan, atau sekedar ngopi, kita bisa melihat mimik wajah, sorot mata, gestur tubuh, dan semua gerak-gerik badan yang tak bisa disembunyikan. Kita mudah mengetahui apakah teman kita sedang bergurau atau sedang serius. Apakah informasi yang disampaikan itu dimaksudkan sebagai berita, narasi, perintah, ajakan, himbauan, atau sekedar canda dan kelakar yang akan segera disambut dengan gelak tawa bersama.

Di dunia maya, kita tidak melihat respon langsung dari sang pemosting. Bisa jadi ada seorang teman yang bingung menerima sebuah informasi, lalu dengan lugu dia me-forward atau men-share informasi tersebut di suatu grup, dalam rangka untuk mendapatkan klarifikasi dan konfirmasi. Dengan cara itu ia berharap akan mendapatkan jawaban dari pihak yang terkait atau pihak yang memiliki informasi valid atas postingan tersebut. Sebagian yang lain mempercayai dan satu ide dengan isi postingan, maka dengan sangat bersemangat dia menyebarkan informasi tersebut ke seluruh grup WA yang dia ikuti. Tentu bermaksud untuk semakin memviralkan informasi yang sesuai dengan keyakinannya.

Sebagian yang lain, tidak peduli dengan kebenaran informasi dalam postingan tersebut, namun merasa postingan itu mewakili isi hatinya, mewakili keberpihakannya. Maka ia pun sengaja memposting ulang informasi tersebut ke berbagai grup WA, disertai dengan pertanyaan kepada anggota grup, “Apakah informasi ini benar atau hoax”. Tujuan pertama, ia telah menyebarluaskan informasi yang sesuai dengan kondisi jiwanya, terlepas apakah isi informasi tersebut benar atau salah. Tujuan kedua, ia bisa mengelak tatkala ada yang menyerang dan menuduh dirinya, “Mengapa kamu posting di sini informasi hoax tersebut?” Dengan mudah ia menjawab, “Saya kan ingin konfirmasi, masa’ ga boleh…” Maka selesailah urusan.

Terlepas dari situasi dan kondisi seperti apa yang sedang terjadi dan dimiliki oleh para pemosting, namun ada dampak yang serupa akibat dari disebarkannya postingan tersebut, yaitu : sosialisasi opini. Tidak penting apakah opini itu benar atau salah, namun begitu tersebuar luas di berbagai jejaring sosial, juga tersebar luas di grup-grup WA, maka nilai informasi tersebut menjadi semakin kuat. Terbentuk opini yang berkembang dari satu komunitas kepada komunitas yang lainnya, tanpa ada yang jawaban. Seakan-akan itu adalah berita benar, informasi valid, opini yang lurus. Padahal bisa jadi justru sebaliknya.

Mengapa tidak ada jawaban? Karena sebuah tuduhan, untuk dijawab tentu memerlukan pemeriksaan, memerlukan telaah dan pendalaman. Persoalannya, siapa yang akan sempat melakukan pemeriksaan mendalam, sementara produksi berjuta berita, informasi, dan tulisan hoax bisa terjadi dalam hitungan detik. Tidak seimbang antara produksi para pembuat isu, dengan pihak yang diminta untuk melakukan klarifikasi. Di sinilah letak paradoks media sosial, dimana masyarakat kita terlibat di dalamnya tanpa edukasi yang memadai.

Masih banyak di antara masyarakat kita yang sangat mudah percaya oleh sesuatu yang viral, padahal tolok ukur kebenaran bukanlah viral atau tidak viral. Sangat banyak kebenaran yang tak terungkap, dan sangat banyak kebatilan yang tersebar meluas.

Berita Hoax Ilmuwan Yahudi Masuk Islam

Mari saya ambil sebuah contoh informasi hoax, yang disebarkan melalui web, medsos dan berbagai grup WA beberapa waktu yang lalu. Bahkan banyak dari kalangan orang-orang ‘salih’ yang ikut menyebarkan informasi ini, karena merasa sejiwa dengan isi informasi tersebut. Saya ambil satu informasi ini, benar-benar sekedar contoh saja, supaya memudahkan dalam memahami konteksnya. Karena saking banyaknya berita hoax, maka saya ambil satu contoh saja.

Berikut isi postingan HOAX tersebut:

Robert Guilhem seorang pakar genetika, pemimpin Yahudi di Albert Einstain College mendeklarasikan dirinya masuk Islam ketika ia mengetahui hakikat empiris ilmiah dan kemukjizatan Al-Quran tentang penyebab penentuan iddah (masa tunggu) perempuan yang dicerai suaminya dengan masa 3 bulan. Beliau terperangah kagum oleh ayat-ayat Al-Quran yang berbicara tentang iddah (masa tunggu) wanita Muslimah yang dicerai suaminya seperti yang diatur Islam, dalam QS. Ath Thalaq ayat 4.

Guilhem, pakar yang mendedikasikan usianya dalam penelitian sidik pasangan laki-laki baru-baru ini membuktikan dalam penelitiannya bahwa jejak rekam seorang laki-laki akan hilang setelah tiga bulan. Bukti-bukti itu menyimpulkan bahwa hubungan persetubuhan suami istri akan menyebabkan laki-laki meninggalkan sidik (rekam jejak) khususnya pada perempuan. Jika pasangan ini setiap bulannya tidak melakukan persetubuhan maka sidik itu akan perlahan-lahan hilang antara 25-30 persen. Setelah tiga bulan berlalu, maka sidik itu akan hilang secara keseluruhan. Sehingga perempuan yang dicerai akan siap menerima sidik laki-laki lainnya.

Bukti empiris ini mendorong pakar genetika Yahudi ini melakukan penelitian dan pembuktian lain di sebuah perkampungan Afrika Muslim di Amerika. Dalam penelitiannya ia menemukan bahwa setiap wanita di sana hanya mengandung dari jejak sidik pasangan mereka saja. Sementara penelitian ilmiah di sebuah perkampungan lain yang bukan muslim di Amerika membuktikan bahwa wanitanya yang hamil memiliki jejak sidik beberapa laki-laki dua hingga tiga. Artinya, wanita-wanita non Muslim di sana melakukan hubungan intim selain pernikahan yang sah.

Yang mengagetkan sang pakar ini adalah ketika dia melakukan penelitian ilmiah terhadap istrinya sendiri. Sebab ia menemukan istrinya memiliki tiga rekam sidik laki-laki alias istrinya berselingkuh. Dari penelitiannya, hanya satu dari tiga anaknya saja berasal dari dirinya. Setelah penelitian-penelitian yang dilakukan ini akhirnya meyakinkan sang pakar Guilhem ini memeluk Islam. Ia meyakini bahwa hanya Islamlah yang menjaga martabat perempuan dan menjaga keutuhan kehidupan social. Ia yakin bahwa wanita Muslimah adalah wanita paling bersih di muka bumi ini.

Demikian berita hoax yang sempat beredar luas dan viral beberapa waktu yang lalu.

Perhatikan, betapa tulisan ini terkesan sangat ilmiah dan akurat serta terpercaya. Karena bisa menyebut nama orang, nama lembaga, peristiwa, kejadian, bahkan lengkap dengan foto orang. Berita tersebut menyebar dengan sangat cepat, karena banyak orang yang merasa sejiwa dengan isi berita tersebut. Merasa bahagia karena ada bukti empiris kebenaran Al Qur’an melalui sains yang ditemukan oleh seorang ilmuwan Yahudi, yang secara umum mereka memusuhi Islam. Ada perasaan sejiwa, karena menyentuh aspek paling dasar dari sisi emosional dan spiritualnya.

Penelusuran Fimadani Terhadap Berita Robert Guilhem

Web Fimadani merasakan kejanggalan atas berita tersebut, maka mereka segera melakukan penelusuran untuk mendapatkan konfirmasi. Berikut saya kutipkan hasil penelusuran Fimadani atas beredarnya informasi tersebut, yang akhirnya ditemukan kesimpulan bahwa berita tersebut hoax adanya.

Berikut laporan Fimadani:

Jika ditelusuri, informasi ini masuk ke Indonesia melalui sebuah situs bernama Spirit Islam yang mengambil informasi dari situs-situs berbahasa Arab, kemudian disebarkan lagi oleh Republika, dan berlanjut jadi pembicaraan di situs jejaring.

Untuk informasi dan temuan hebat semacam ini, harusnya nama Robert Guilhem sudah masuk dalam pemberitaan media dan website jurnal internasional. Namun ketika Fimadani coba menelusuri melalui Google, tidak satupun situs berbahasa asing muncul di halaman hasil pencarian Google (Google Result), yang muncul hanyalah puluhan daftar situs berbahasa indonesia yang isinya sama, pemberitaan yang sama.

Fimadani juga coba menulusuri ke situs jurnal seperti bioline.org.br, doaj.org, dan ncbi.nlm.nih.gov yang semuanya bersifat Open Access dan selalu mengupdate kontennya. Namun tidak satupun menampilkan nama Robert Guilhem. Kemudian dicoba mencari direktori jurnal online milik Google, ada 1 nama muncul, Robert Guilhem, namun tokoh ini lebih banyak berbicara tentang teknologi Radio dan Gelombang Radio (radiowave).

Langkah terakhir, Fimadani coba cek langsung ke direktori Albert Einstein College, dan hasilnya tetap nihil. Kesimpulannya, Robert Guilhem si ahli genetika itu merupakan tokoh fiktif yang dibuat oleh oknum tidak bertanggung jawab.

Hebatnya lagi, dalam informasi yang menyebar itu menggunakan foto seseorang. Lalu foto siapakah sebenarnya yang digunakan sebagai ilustrasi gambaran Robert Guilhem itu? Sudah coba ditelusuri, namun masih sulit diverifikasi foto siapa yang digunakan dalam ilustrasi gambar tersebut.

Demikian Fimadani melaporkan hasil penelusurannya. Sebagai seorang muslim, kita percaya dan yakin secara mutlak akan kebenaran Al Qur’an, tanpa harus ada pengakuan dari para ilmuwan. Bahkan seandainya ada ilmuwan melakukan penelitian dan hasilnya menunjukkan hal yang bertentangan dengan Al Qur’an, sebagai muslim kita meyakini bahwa ilmu manusia belum bisa mencapai ilmu Allah. Penelitian manusia sangat mungkin salah, karena kebenarannya nisbi. Sedangkan firman Allah kebenarannya mutlak,

Namun persoalan lainnya adalah, sedemikian rapi, serius, dan terstruktur penuturan narasi ilmiah tersebut. Banyak kalangan terlanjur ikut menyebarluaskan berita Guilhem masuk Islam yang ternyata hoax, karena mengira itu adalah berita yang valid. Di balik narasi sehebat itu, pasti ada pihak yang menyiapkan dengan detail. Ada ‘perusahaan’ berita dan informasi hoax, yang melibatkan banyak kalangan ilmu, sehingga informasi tersebut seakan-akan valid dan terpercaya. Siapa para pihak itu? Saya tidak tahu. Tapi pasti ada, buktinya ada produk yang terus bertebaran di dunia maya.

Konfirmasi, atau Menebar Opini?

Sekarang bayangkan kejadiannya. Apabila seseorang memposting informasi tentang Robert Guilhem yang masuk Islam tersebut melalui jejaring sosial, kemudian di bagian paling bawah ia menambahkan catatan : “Apakah berita ini benar?” Muncul paradoks dalam perilaku si pemosting. Pertanyaan itu menandakan ia belum yakin akan kebenaran isi berita, namun sudah memposting, dengan alasan ingin konfirmasi di grup. Padahal tidak semua anggota grup membaca pertanyaan konfirmasi tersebut, yang dibaca adalah postingan utama yang bombastis dan kontroversial.

Anggota grup yang membaca isi berita merasa terwakili keyakinannya, maka tanpapikir panjang ia pun memposting di berbagai grup lainnya. Jadilah berita itu viral. Ketika pihak yang memposting ditegus admin atau anggota yang lain, ia dengan mudah menyatakan : “Saya posting di grup ini agar mendapat konfirmasi”. Nah, itulah perilaku kita di media sosial hari-hari ini. Kita sangat sulit membedakan mana yang benar mana yang salah dalam setiap postingan di media sosial. Sangat banyak postingan yang terkesan sangat logis dan meyakinkan, hingga menyihir pembaca, dan para pembaca tergerak ikut menyebarkannya.

Maka, jika memang ingin konfirmasi, lakukan secara japri. Kirim kepada orang tertentu yang dianggap memiliki kapasitas untuk memberikan jawaban atau verifikasi. Langsung kirimkan berita atau informasi yang meragukan tersebut kepada pihak yang bisa dipercaya dan diyakini memiliki akses yang cukup untuk bisa memberi penjelasan. Apabila pihak yang kita tanya juga tidak tahu, mungkin ada orang lain lagi yang bisa kita konfirmasi secara japri. Dan jika tetap tidak ada yang tahu, alangkah baiknya kalau kita menahan diri untuk tidak ikut menyebarkan informasi tersebut.

Jangan melakukan konfirmasi melalui forum terbuka. Karena jika disebar melalui jejaring sosial terbuka, maka sesungguhnya itu bukan sebuah tindakan konfirmasi. Itu adalah tindakan menebar opini.

Maafkan saya.

 

 

Yogyakarta 13 Maret 2018