HomePernikahanLima Kelelahan dalam Pernikahan
couple

Lima Kelelahan dalam Pernikahan

Pernikahan 0 2 likes 4.8K views share

Lelah adalah salah satu kondisi dan perasaan yang biasa dialami oleh manusia dalam kehidupan keseharian. Saat olah raga berat, kita bisa merasa lelah. Saat melakukan perjalanan jauh, kita bisa merasa lelah. Saat bekerja keras, kita bisa merasa lelah. Saat melakukan aktivitas terus menerus, kita bisa merasa lelah. Apakah kehidupan pernikahan bisa mengalami kelelahan? Ternyata bisa.

Rutinitas hidup berumah tangga bisa menyebabkan rasa jenuh dan lelah. Sebagaimana dalam semua kegiatan hidup lainnya, berumah tangga juga bisa mengalami rasa kelelahan. Suami dan istri merasa lelah,sehingga mudah menimbulkan sejumlah komplikasi dalam hidup mereka. Semacam rasa bosan yang kadang menghinggapi orang yang setiap hari mengkonsumsi nasi, lalu ia pengen ada variasi dengan mengkonsumsi roti atau singkong. “Lelah makan nasi”, kira-kira begitu ungkapannya.

Ungkapan kelelahan biasa kami dengarkan di ruang konseling, sebagai ekspresi atas kekecewaan terhadap pasangan dan akumulasi masalah dalam waktu yang panjang. Suami dan istri yang menghadapi konflik dan tidak mampu menyelesaikan, atau mengalami kekecewaan yang tidak bisa terobati, atau sengaja menumpuk konflik tanpa diselesaikan, berakibat menimbulkan tumpukan rasa berat dan tertekan pada perasaan. Akumulasi perasaan tertekan dalam waktu lama inilah yang menimbulkan kelelahan.

Berikut beberapa ungkapan kelelahan yang biasa terjadi dalam kehidupan pernikahan.

1. Saya Lelah Hidup Bersamanya

Pasangan suami-istri yang mengalami konflik berkepanjangan dan tidak bisa menemukan jalan keluar, membuat mereka merasa tidak bahagia. Padahal harapan semua orang yang menikah adalah untuk mendapatkan kebahagiaan, bukan penderitaan. Jika yang mereka rasakan lebih banyak penderitaan, dan tidak bisa segera menemukan penyelesaian, ungkapan yang biasa muncul adalah “Saya lelah hidup bersamanya”.

Suami atau istri atau keduanya merasa lelah, capek, bete, tertekan dan sangat tidak nyaman hidup bersama pasangan. Impian tentang kebahagiaan yang dibayangkan sebelum menikah rupanya jauh panggang dari api. Alih-alih mendapatkan kebahagiaan, bahkan yang terjadi adalah menumpuknya kekecewaan.

Kekecewaan dan permasalah yang menekan ini harus dihadapi dan diselesaikan secara nyata. Jangan dibiarkan menumpuk yang berdampak perasaan lelah makin mendera dan makin menyiksa.

2. Saya Lelah Menghadapi Sifatnya

Suami yang kecewa dengan sifat tertentu dari sang istri, membuatnya tidak nyaman. Demikian pula istri yang kecewa dengan sifat suami, membuatnya tertekan dalam waktu yang lama.

Suami yang cuek dan dingin, tidak romantis, tidak mau mengerti perasaan istri, membuat istri merasa tertekan setiap hari. Setiap kali istri meminta suami untuk memahami perasaannya, sikap suami justru semakin menjadi-jadi dalam diam dan dinginnya. Istri merasa seperti hidup di alam antah berantah yang tidak diinginkannya. Hidup bersama seseorang yang tidak mau mengerti dan memahami dirinya, terasa sangat menyiksa.

Istri yang pemarah, emosional, terlalu mengatur, membuat suami merasa tertekan dan stres setiap hari. Di rumah, yang didapatkan suami bukan ketenangan, tetapi keributan. Sifat istri yang terlalu dominan, terlalu mengatur, judes, cerewet, membuat suami tidak mendapatkan rasa sakinah yang diharapkan. Hidup bersama seseorang yang selalu menekan perasaan setiap hari, membuatnya tidak bahagia.

3. Saya Lelah dengan Kelakuannya

Suami yang kecewa dengan perbuatan negatif sang istri, membuatnya tidak bahagia. Demikian pula istri yang kecewa dengan perbuatan menyimpang sang suami, membuatnya menderita. Misalnya, perbuatan selingkuh yang dilakukan secara terus menerus, perbuatan bohong yang dilakukan dengan ringan, kebiasaan berhutang dalam jumlah besar, gaya hidup yang tidak seimbang antara pemasukan dan pengeluaran, bahkan kekerasan secara fisik yang dilakukan dengan mudah.

Seorang istri yang bergaya hidup boros, borju, hobi belanja dan berfoya-foya, menghabiskan uang belanja keluarga untuk memenuhi kesenangan dirinya, membuat suami merasa kecewa. Gaya hidup istri seperti ini membuat suami menderita dalam waktu lama. Perasaan lelah mudah mendera pada dirinya.

Ungkapan yang mudah terucapkan adalah, “Saya lelah menghadapi kelakuannya”. Suami dan istri merasa lelah dengan kelakuan pasangan yang negatif dan menyimpang.

4. Saya Lelah Menunggunya Berubah

Sifat dan perbuatan tidak menyenangkan yang ditampakkan oleh pasangan dalam waktu lama, membuat seseorang merasa lelah menunggunya berubah. Ketika harapan menyaksikan perubahan suami/istri ini tidak segera menjadi kenyataan, pasangan menjadi kehilangan harapan. Lama menunggu perubahan dan keajaiban dari suami/istri yang tidak segera ada kenyataan, membuat pasangan meletakkan harapannya. Pada titik kelelahan ini, maka akan ada pikiran apakah masih ada manfaatnya ikatan pernikahan dipertahankan. Perceraian menjadi solusi yang dipikirkannya.

“Saya lelah menunggunya berubah. Sampai kapan saya harus sabar menunggu perubahan?” demikian keluhan yang biasa kami dengarkan dari suami atau istri yang tidak sabar menghadapi sifat dan sikap negatif pasangan.

5. Saya Lelah Harus Selalu Mengalah

Dalam kehidupan sehari-hari, suami dan istri bisa berada dalam situasi yang sama-sama tertekan akibat dari merasa selalu mengalah. Suami merasa terlalu lama memilih bersikap mengalah demi menghindari pertengkaran dengan istri. Uniknya, istri juga merasa hanya dirinya yang mengalah demi keutuhan keluarga. Ketika perasaan selalu mengalah ini dialami setiap hari dalam waktu yang lama, membuat mereka merasa lelah untuk mengalah. Mengapa hanya aku yang mengalah?

“Saya lelah harus selalu mengalah”, demikian ungkapan yang sering dijumpai di ruang konseling. Walaupun hidup berumah tangga bukan untuk menang-menangan, namun juga tidak untuk kalah-kalahan. Yang semestinya terjadi adalah saling menghormati dan menghargai pasangan, sehingga keduanya merasa nyaman. Merasa selalu mengalah memang menyakitkan, seakan-akan dirinya demikian rendah dan tidak berharga. Maka wajar jika menimbulkan perasaan lelah jika harus selalu mengalah.

Menikah untuk Bahagia

Dalam hidup berumah tangga, suami dan istri hendaknya selalu berusaha untuk bisa mendapatkan kebahagiaan bersama pasangan dan seluruh anggota keluarga lainnya. Bukan bahagia untuk dirinya sendiri namun menyakiti pasangan. Bukan pula hanya membahagiakan pasangan namun menyakiti diri sendiri. Menikah dan berumah tangga itu untuk mendapatkan kebahagiaan dan ketenangan dalam kehidupan, bukan untuk menderita, bukan untuk mendapat kesengsaraan dan penindasan.

Jika suami dan istri mampu mendapatkan kondisi keluarga yang sakinah, mawadah wa rahmah, hidup mereka akan bahagia. Selama apapun mereka hidup berumah tangga, tidak akan menimbulkan kelelahan, karena bahagia. Seperti pengantin baru dimana sang suami tak pernah merasa lelah menggendong dan menggandeng istri, karena hatinya bahagia; dan istri yang tak lelah melayani keperluan suami karena hatinya bahagia.

Jika hati bahagia, semua yang dilakukan untuk pasangan tidak ada yang melelahkan.