HomeParentingLima Model Efektif dalam Mendidik Anak
children-playing-on-grass_1098-504

Lima Model Efektif dalam Mendidik Anak

Parenting 0 1 likes 453 views share

Pertama, Model Keteladanan
Ada sangat banyak bentuk pendidikan anak yang dicontohkan oleh Nabi Saw. Diantara bentuk pendidikan yang paling utama adalah dengan teladan nyata. Mendidik anak akan efektif apabila ada contoh teladan yang nyata dari kedua orang tuanya. Sulit bagi anak untuk berperilaku jujur apabila orang tuanya mencontohkan kebohongan. Sulit bagi anak untuk berhenti merokok apabila menyaksikan orang tuanya selalu merokok. Demikian pula sulit bagi anak untuk rajin ibadah apabila orang tuanya tidak melaksanakan ibadah.

Kedua, Model Pembiasaan
Pembiasaan yang dilakukan sejak kecil akan mampu menjadi pondasi kebaikan bagi anak hingga mereka dewasa. Untuk itu, biasakan anak-anak dengan perasaan diawasi dan dijaga oleh Allah agar mereka selalu berada dalam kebaikan dimanapun mereka berada. Sangat penting bagi anak untuk ditanamkan kesadaran akan adanya pengawasan dan penjagaan Allah pada diri manusia.
Biasakan pula anak-anak menjalankan ibadah sejak kecil agar mereka selalu menjadi ahli ibadah. Nabi Saw memerintahkan kepada para orang tua agar memberikan pembiasaan yang baik kepada anak-anak sejak kecil. Sabda beliau:
“Suruhlah anak-anak kalian untuk melaksanakan sholat ketika mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka apabila meninggalkannya ketika mereka berumur sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka.” (HR. Abu Dawud).
Biasakan pula anak-anak membenci dan menjauhi kemungkaran serta kejahatan sejak kecil agar ketika dewasa mereka mudah menjauhinya.

Ketiga, Model Kisah
Salah satu model pendidikan anak yang efektif adalah dengan kisah. Sampaikan kisah-kisah teladan kepada anak-anak agar mereka menjadikan Nabi serta orang-orang salih sebagai panutan dan idola. Hendaknya anak-anak diajari mencintai Nabi Saw agar mereka selalu meneladani dan mengidolakan Nabi dalam kehidupan. Salah satu persoalan mendasar dalam kehidupan masyarakat modern adalah krisis keteladanan dan krisis identitas.
Orang tua harus mengerti kisah para Nabi juga kisah para sahabat Nabi Saw, agar bisa menuturkan kisah-kisah keteladanan untuk anak-anak semenjak mereka masih kecil. Kemalasan orang tua dalam mempelajari kisah-kisah para Nabi akan membuat mereka tidak bisa menuturkan kisah keteladanan yang sangat memberikan penguatan jiwa kepada anak-anak. Bimbing mereka mendapatkan mutiara hikmah yang tidak akan ada habisnya dari kisah-kisah teladan para Nabi dan sahabat Nabi.

Keempat, Model Memanfaatkan Momentum
Di antara model mendidik anak adalah dengan memanfaatkan momentum, peristiwa, atau kejadian yang dialami atau yang ada di sekitarnya. Semua peristiwa dan kejadian selalu ada nilai pendidikannya jika kita mampu mengambil hikmahnya. Bukan hanya peristiwa atau kejadian yang dialami sendiri oleh anak, namun juga kejadian yang terjadi di sekitar lingkungan kehidupannya.

Kelima, Model Reward dan Punishment
Anak memerlukan pengakuan dan pujian atas kebaikan dan prestasi yang dilakukannya. Untuk itu orang tua harus seimbang dalam memberikan reward dan punishment kepada anak, karena keduanya diperlukan dalam mendidik dengan kadar yang tepat. Jangan hanya bisa menghukum kesalahan anak, namun juga harus bisa mengapresiasi kebaikan anak. Banyak dijumpai, orang tua sangat mudah memberikan kritik atau kecaman terhadap perbuatan buruk yang dilakukan anak, namun sangat sulit untuk memberikan pujian atau apresiasi atas perbuatan baik yang dilakukan anak.

Fungsi reward and punishment :
1. Fungsi pertama ialah pendidikan. Pujian dan hukuman bertujuan untuk memberikan pendidikan kebaikan bagi anak, yaitu mendidik agar anak-anak selalu terkondisi dalam kebaikan.
2. Fungsi kedua adalah menjadi motivasi bagi anak untuk melakukan dan mengulangi perilaku positif. Melalui reward dan punishment, anak akan lebih termotivasi dalam melakukan serta mengulang perilaku positif yang diharapkan oleh keluarga, sekolah, masyarakat dan negara.
3. Fungsi ketiga adalah untuk memperkuat asosiasi anak atas perilaku positif, juga memperkuat asosiasi anak untuk menjauhi perbuatan negatif.