HomePernikahanMaha Samara Gita: Delapan Pengikat Suami Istri
source : bridestory.com

Maha Samara Gita: Delapan Pengikat Suami Istri

Pernikahan 0 0 likes 548 views share

Pernikahan adalah sebuah ikatan sakral atas nama Allah. Dalam ajaran Islam, calon suami dan calon istri melaksanakan akad nikah dengan mengucap janji setia yang dikenal sebagai ijab qabul. Sejak itu mereka menjadi pasangan suami istri yang sah.

Paling tidak ada delapan pengikat suami istri dalam kehidupan berumah tangga, yang membuat kehidupan keluarga menjadi harmonis dan bahagia. Agar mudah diingat, delapan pengikat itu disingkat dengan istilah “Maha Samara Gita”. Apa itu Maha Samara Gita? Maha Samara Gita adalah singkatan dari Mahabbah, Sakinah, Mawaddah, Rahmah, Amanah, Ghayah, Ibadah, dan Tarbiyah, yang menjadi delapan unsur pengikat suami istri dalam kehidupan berumah tangga.

1. Mahabbah

Pernikahan dan hidup berumah tangga harus dilandasi oleh mahabbah atau cinta. Bukan sembarang cinta. Karena cinta utama setiap hamba adalah kepada Sang Pencipta. Manusia harus mencintai Allah di atas segalanya. Kecintaan kepada Allah ini harus diikuti dengan cinta kepada Nabi mulia, Muhammad Saw.
Telah lengkap teladan dari Nabi Saw, termasuk dalam hal membina kehidupan rumah tangga. Inilah esensi mahabbah. Di atas landasan kecintaan kepada Allah dan Rasul, suami dan istri saling mencintai satu dengan yang lainnya. Mencintai suami, mencintai istri dalam rangka mencintai Allah. Itulah mahabbah.
2. Sakinah

Suami istri terikat oleh suasana sakinah yang muncul di antara mereka. Pernikahan telah menumbuhkan ketenteraman, ketenangan atau kedamaian. Sebuah suasana yang nyaman dan sejuk, yang hanya bisa didapatkan oleh orang yang sudah menikah secara sah.
Allah menciptakan laki-laki dan perempuan sebagai pasangan, yang dengan menikah mereka dikarunia rasa cenderung, tenang dan tenteram. Sebuah perasaan yang tidak akan bisa didapatkan oleh pasangan yang tidak menikah secara sah. Keberadaan suami membuat isteri tenang dan tenteram, demikian pula keberadaan istri membuat suami tenang dan tenteram.

3. Mawaddah

Suami dan istri juga terikat oleh mawaddah, yaitu gairah cinta membara. Cinta yang menggebu-gebu dan berkobar-kobar kepada pasangan. Cinta ini bercorak sangat fisik. Interaksi dan kontak fisik yang sangat intim, yang hanya boleh dilakukan oleh orang yang sudah menikah. Mawaddah adalah cinta yang tanpa batas dan tanpa jarak. Hanya bisa didapatkan oleh pasangan yang telah menikah secara sah. Rata-rata gambaran mawaddah ini muncul pada pasangan muda. Ekspresi cinta mereka demikian menggelora, seakan tidak mau terpisahkan satu dengan yang lainnya.

4. Rahmah

Suami istri terikat oleh rahmah, yaitu perasaan kasih sayang yang mendalam. Kasih sayang yang dewasa dan tidak lagi bercorak fisik. Mereka sudah berada dalam kondisi kesejiwaan, bahkan tidak lagi mampu menyebutkan atas alasan apa mereka saling mencinta. Dengan perasaan rahmah ini membuat suami istri bisa menikmati kebahagiaan dan kebersamaan hingga usia tua. Kontak fisik sudah tidak dominan, namun lebih dominan saling mengerti, saling memahami, saling menghormati dan saling memberi yang terbaik untuk pasangan.

5. Amanah

Suami istri terikat oleh prinsip amanah yaitu tanggung jawab dan saling percaya. Hal ini karena ada mas’uliyah atau tanggung jawab yang melekat pada mereka berdua. Mas’uliyah menghajatkan sifat amanah. Ada peran dan tanggung jawab yang harus dilaksanakan oleh suami dan istri sejak mengucapkan ijab qabul. Perasaan tanggung jawab ini menjadi ikatan yang kokoh agar suami dan istri tidak saling mengkhianati. Mereka akan berlaku sebaik-baiknya terhadap pasangan karena menyadari bahwa ada mas’uliyah yang harus mereka tunaikan dengan sepenuh amanah.

6. Ghayah

Suami dan istri terikat oleh ghayah, yaitu tujuan-tujuan mulia dalam pernikahan dan berumah tangga. Pernikahan adalah sarana untuk mewujudkan tujuan-tujuan yang utama baik bagi pribadi, keluarga, masyarakat, negara bahkan peradaban dunia.

7. Ibadah

Menikah adalah bagian utuh dari ibadah. Bukan semata dorongan syahwat atau instink manusia dewasa. Menikah harus dilandasi dengan motivasi yang kuat, lurus dan benar, yaitu untuk beribadah kepada Allah. Niat ini yang membedakan antara suatu pernikahan yang bernilai ibadah dan mendapatkan pahala dari setiap titik imteraksinya, dengan pernikahan yang semata-mata menjalani keinginan.

8. Tarbiyah

Suami dan istri terikat oleh proses tarbiyah, yaitu saling memberikan pembinaan, pendidikan, pengingatan dan pengokohan dalam kebaikan. Pada dasarnya semua manusia memerlukan pendidikan, pembinaan dan pengingatan. Pendidikan yang paling fundamental harus terjadi dalam keluarga. Suami dan istri berkolaborasi untuk menguatkan suasana tarbiyah dalam kehidupan rumah tangga.
Demikianlah delapan ikatan antara suami dan istri yang membuat kehidupan keluarga menjadi kokoh dan bahagia. Semoga kita bisa mendapatkan dan menjaga Maha Samara Gita dalam kehidupan keluarga.