HomePernikahanMemahami si Gelombang Laut
5b3536478a343594623cf83645c6e757

Memahami si Gelombang Laut

Pernikahan 0 1 likes 1.4K views share

MEMAHAMI SI GELOMBANG LAUT

 

Oleh : Ummu Rochimah

 

Pada tulisan yang lalu kita telah membahas mengenai gejolak perasaan laki-laki yang membutuhkan pengasingan diri.Yang dengan itu kemudian laki-laki mendapat julukan sebagai si karet gelang. Seorang laki-laki atau suami yang tanpa suatu sebab bisa tiba-tiba menyendiri dan mengasingkan diri, menjauh dari orang-orang yang dicintainya. Namun setelah mencapai puncak fase ini, lalu secara cepat ia kembali kepada orang-orang yang dicintainya. Dan saat itu ia akan diliputi oleh perasaan yang paling baik, siap membahagiakan dan mengabulkan permintaan orang yang dicintainya yaitu isterinya.

Apakah gejolak perasaan ini hanya milik laki-laki atau para suami saja? Sedangkan perempuan atau isteri tidak akan mengalaminya? Ternyata jawabannya adalah, bahwa perempuan atau siteri juga mengalami pergolakan perasaan seperti yang dialami oleh laki-laki atau para suami. Namun, sebab dan bentuknya berbeda dengan yang dialami oleh laki-laki.

 

Perempuan Seperti Gelombang Laut

Perumpamaan yang tepat untuk menggambarkan kondisi pergolakan perasaan perempuan atau isteri adalah seperti gelombang laut. Gelombang laut, itu akan meningkat secara perlahan hingga kemudian sampai pada puncak gelombang untuk kemudian pecah dan menurun sampai menuju garis pantai, kemudian gelombang akan terdorong lagi ke tengah laut secara perlahan membentuk lagi puncak gelombang begitu seterusnya.

Ketika isteri merasa dicintai dan disenangi oleh suaminya, maka semangat jiwanya akan naik, dan nampak pada raut wajahnya yang senantiasa merona dan selalu tersenyum. Keadaan jiwanya saat itu seperti berada di puncak gelombang. Maka fase berikutnya adalah fase penurunan gelombang akibat pecahnya puncak gelombang. Hingga kemudian saat gelombang itu mencapai garis pantai ia berada di titik terendah.

Isteri yang sedang berada di titik terendah ini akan merasakan hatinya kosong saat itu. Thariq Kamal menyebutkan fase ini sebagai “fase pembersihan hati perempuan”. Agar kekosongan ini tidak berlangsung lama, sehingga gelombang itu bisa kembali mencapai puncaknya, maka kekosongan itu perlu di isi oleh suaminya dengan cinta dan kasih sayang.

Saat berada di titik terendah ini, isteri mengalami kekurangan oksitosin sehingga kesulitan untuk menampakkan rona kebahagiaan. Maka menjadi hal yang wajar, ia kemudian mencari bantuan kepada orang-orang terdekatnya untuk meningkatkan oksitosin atau hormon bahagianya. Cara yang digunakan oleh isteri agar mendapatkan kembali hormon bahagianya adalah dengan membicarakan semua permasalahannya. Mulailah ia mengelukan segala hal tanpa henti dan mencari orang yang mau mendengarkannya, memahami dan menghargai semua yang ia katakan dan ia keluhkan.

Keadaan seperti ini dapat disamakan seperti terjatuh dalam sumur yang gelap. Tenggelam dalam ketidak sadaran dan pikirannya terpecah belah. Terkadang isteri merasakan dalam hati ada perasaan yang tertutup dan dia sendiri tidak memahaminya. Merasa putus asa, gelisah, sendirian dan tidak ada bantuan sama sekali. Isteri bisa menangis yang ia sendiri kebingungan ketika ditanya sebab tangisannya. Atau ia akan menyebutkan sebab-sebab tangisannya yang terkadang sesuatu yang tidak rasional. Bisa juga ia mendadak menjadi pemurung dan kehilangan gairah.

Namun ketika sampai pada dasar sumur lalu ia merasa ada orang di sana, atau berdiri di sampingnya dan bersedia menolongnya, maka secara otomatis dan cepat keadaan jiwanya akan kembali menjadi baik. Perasaan senang dan bahagia akan mulai tumbuh, bertambah dan meningkat hingga mencapai puncaknya kembali.

Tapi tidak selamanya kondisi seperti itu, yang terkadang terjadi adalah ketika isteri sedang berada di dasar sumur dan sudah ada suaminya yang akan membantunya di sana, namun ia memilih untuk tidak menerima bantuan tersebut. Ia memilih untuk tetap berada di dasar sumur tersebut, hingga akibatnya ia tidak akan bisa kelaur dari kegelapan sumur itu.

Kesiapan isteri untuk menerima bantuan dari suaminya akan sangat bergantung pada penghargaan kepada dirinya sendiri. Ketika penghargaan terhadap dirinya sendiri negatif, maka ia akan sulit dan tidak siap menerima cinta dan kasih sayang yang dapat membantunya keluar dari dasar sumur.

Jika diumpamakan bahwa kebutuhan oksitosin seorang isteri adalah seperti sebuah botol yang harus diisi, maka sebenarnya suami hanya mampu mengisinya sekitar 10% saja. Sisanya adalah tanggung jawabnya sendiri. Namun nilai 10% yang menjadi tanggung jawab suami ini akan memberi pengaruh yang sangat besar agar isteri memiliki motivasi untuk mencapai 90% lainnya. Disinilah suami harus memahani keadaan isteri yang membutuhkan perlakuan lembut dan penuh kasih dari orang yang dicintainya.

 

Mengembalikan Isteri ke Puncak Gelombangnya 

Pergolakan yang terjadi pada seorang perempuan atau isteri ini, apakah ada kaitannya dengan suami? Adakah suami merasa bertanggung jawab atas perubahan-perubahan itu? Apakah ia akan menyalahkan dirinya ketika sang isteri mengalami kegelisahan? Apakah ia merasa senang dan tersanjung ketika isterinya merasa bahagia?

Jawabnnya adalah, “Ya.” Seorang suami akan membayangkan bahwa ia bertanggung jawab atas perubahan-perubahan yang erjadi pada isterinya. Ketika isterinya bahagia, ia yakin bahwa kebahagiaan itu karena interaksi dan sikapnya  yang baik kepada isterinya. Begitu pula ketika ia melihat isterinya berada dalam keadaan gelisah dan jiwanya lemah, ia akan berpikir bahwa itu akibat sikap negatifnya ketika bergaul dengan iserinya.

Kemudian ia akan berupaya mengetahui penyebab dari kegelisahan yang dialami isterinya dan berusaha dengan segenap daya untuk menghilangkan penyebab itu, sehingga ia berharap isterinya akan kembali bahagia. Namun segala upaya tersebut umumnya dilakukan dengan menuruti kebiasaan dan cara laki-laki.

Isteri yang sedang menuju dasar sumur akan menjadi sangat sensitif perasaannya, mudah marah, tidak sabaran, segala sesuatu dapat mempengaruhi emosinya. Ia akan mengeluhkan segala sesuatu, bahkan mengeluhkan sesuatu yang dulunya biasa saja baginya. Ia merasa tidak tenang dan mencari-cari masalah apa yang bisa ia keluhkan. Dan ia tidak akan berhenti mengeluh.

Suami yang tidak memahami keadaan penurunan gelombang laut isterinya, akan meresponnya dengan kata-kata menghibur, seperti “semua akan baik-baik saja”, “semua akan berjalan lagi seperti biasa” atau membantu mengupayakan agar isteri menerima semua masalah ini sebagai sesuatu yang biasa saja.

Cara seperti ini jelas salah, tidak akan membuat isteri menjadi tenang jiwanya dan terkumpul kembali kebahagiaannya. Justru cara ini akan menghalangi arah gelombang turun hingga ke dasar. Bagaimana ia akan naik ke atas, bila belum sampai ke dasarnya?

Yang dibutuhkan isteri dalam keadaan ini adalah adanya seseorang yang diam di sampingnya, yang mau mendengar keluhannya tanpa menyangkal perasaan yang sedang dialaminya saat itu.

Suami harus memahami bahwa keadaan jiwa isterinya saat itu bukan disebabkan karena suatu permasalahan atau karena kesalahan tindakan dari suami. Ini keadaan biasa yang terjadi pada isteri karena begitulah tabiat perempuan.

Untuk itu suami harus memberikan rasa cinta, kasih sayang, perlindungan, perhatian, kesabaran dan memahami keluhannya, dengan cara perempuan bukan dengan cara laki-laki.

Satu hal lagi yang harus dipahami oleh para suami, yaitu sebagaimana gelombang, ia tidak dapat dengan cepat kembali ke posisi puncak, ia bergerak secara perlahan. Maka, bagi para suami, ketika menemui keadaan isteri seperti ini, jangan ingin melihat perubahan yang terjadi pada isterinya secara cepat.

Yang harus diingat adalah suami harus memiliki kesabaran yang banyak dan telaten menghadapi keadaan ini, agar isterinya dapat kembali benar-benar mencapai puncak gelombang.

Terdapat beberapa tanda-tanda verbal, ketika isteri akan menuju ke dasar sumur. Suami yang pandai akan mengetahui keadaan ini melalui cara bicaranya. Beberapa tanda verbal itu, seperti, “Pekerjaan ngga pernah habis, selalu saja ada pekerjaan yang harus aku selesaikan,” Kalimat ini menunjukkan keadaan jiwanya yang sedang sedih. Atau contoh lain, “Aku yang melakukan semua pekerjaan…” ini menunjukkan tanda ia sedang jengkel. Bisa juga, “Aku ngga ngerti penyebabnya, mengapa…” ini kondisi jiwa yang sedang bingung, dan ungkapan-ungkapan sejenis lainnya.

Dalam keadaan-keadaan seperti ini, bila suami memahaminya, ia akan membantu isterinya untuk membebaskan diri dari pengaruh-pengaruh negatif yang menguasai jiwa isterinya saat itu. Sentuhan dan pelukan, bahkan belaian dan usapan lembut dari suami akan memberikan kekuatan bagi isteri untuk mampu melalui keadaan terpuruknya, hingga ia siap untuk kembali menuju puncak gelombangnya.