HomeRuang KeluargaMembangun Keluarga Tangguh Melalui Konsep Keluarga Jawa Jogja
sultan-dan-keluarga-kerajaannusantara

Membangun Keluarga Tangguh Melalui Konsep Keluarga Jawa Jogja

Ruang Keluarga 0 0 likes 274 views share

Setiap akar budaya memiliki konsep keluarga tersendiri. Begitu pula dengan budaya jawa di Yogyakarta atau sering disebut dengan jawa jogja. Konsep keluarga pada budaya jawa jogja memiliki berbagai nilai yang dapat diadopsi pada zaman sekarang dan menjadi pegangan bagi keluarga modern. Meski terkesan tradisional, namun konsep keluarga jawa menawarkan nilai-nilai yang merupakan jawaban atas permasalahan keluarga modern.

Jika menilik pada fenomena saat ini. Semakin banyak masalah sosial yang berawal dari permasalahan keluarga. Perceraian, KDRT, anak terlantar, kenakalan anak dan remaja, miras, prostitusi, penyalahgunaan narkoba, dan kelahiran tidak diinginkan, semua itu diawali dengan tidak berfungsinya fungsi keluarga di dalam masyarakat. Keluarga seharusnya dapat menjadi tempat membina dan membimbing para anggotanya. Khususnya dalam aspek-aspek keagamaan, sosial-budaya, perlindungan, reproduksi, sosialisasi & pendidikan, ekonomi, dan pembinaan lingkungan. Kedelapannya sesuai dengan fungsi keluarga yang tercantum dalam Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2014.

Kembali pada konsep keluarga jawa jogja. Setidaknya terdapat empat prinsip yang harus dipegang oleh keluarga jawa agar menjadi keluarga tangguh . Pertama adalah prinsip sawiji. Sawiji dalam Bahasa Indonesia berarti menyatu, sehingga suatu keluarga harus menyatu bukan hanya secara fisik tetapi juga rasa dan pikiran. Peran komunikasi dalam keluarga disini sangat penting agar suatu keluarga tidak hanya dirasakan dengan keberadaan fisiknya saja, tetapi juga saling memahami dan memiliki diantara anggotanya. Ketika suatu keluarga sudah bersatu dalam konteks fisik, rasa serta pikiran, maka akan tercipta visi bersama yang akan menjadi pegangan keluarga tersebut.

Prinsip kedua adalah greget yang berarti bersemangat. Utamanya semangat dalam mewujudkan visi keluarga. Greget merupakan semangat jiwa untuk menjalani kehidupan berkeluarga dengan sempurna, sehingga tercipta keserasian antara perilaku dengan penjiwaan. Ketiga adalah sengguh, yang berarti sikap percaya diri tanpa didasari sikap jumawa. Prinsip ini melahirkan kemandirian untuk menghadapi segala permasalahan dalam keluarga sebagai sebuah tim. Kesadaran bahwa keluarga merupakan sebuah tim yang saling bersinergi dan memahami inilah bentuk dari pengimplementasian prinsip sengguh. Prinsip terakhir adalah prinsip ora mingkuh. Pada prinsip ini berarti keluarga harus memiliki sikap tidak mudah menyerah dalam mengahapi segala dinamika dalam menjalankan fungsi keluarga.

Prinsip-prinsip keluarga jawa jogja tersebut merupakan bentuk dari penggalian kearifan lokal untuk dilaksanakan pada konteks kekinian. Hal ini dapat menjadi pertimbangan keluarga-keluarga Indonesia dalam bergerak. Karena saat ini pemecahan masalah keluarga umumnya masih menggunakan sumber-sumber kajian Barat sebagai referensi utama, yang belum tentu selalu cocok untuk kondisi keluarga Indonesia. Tentunya pemberian tafsir dan pemaknaan nilai-nilai lokal harus terus dilakukan agar relevan dengan kondisi sekarang dengan keyakinan bahwa prinsip-prinsip utamanya sesuai dengan orang Indonesia, karena lahir dari tanah sendiri.

 

 

sumber artikel : ppsdm.id

sumber gambar : JIBI