HomePernikahanMengapa Perempuan Cepat Mengenali Kebohongan Suami?
mask-1083605_1280

Mengapa Perempuan Cepat Mengenali Kebohongan Suami?

Pernikahan 0 7 likes 17.9K views share

 

Dalam kehidupan keseharian, sering dijumpai seorang perempuan yang sakit hati karena merasa dibohongi oleh suami. Demikian pula sering dijumpai suami yang kecewa karena merasa dibohongi istri. Sebenarnya, siapakah yang paling sering berbohong? Suami atau istri? Laki-laki atau perempuan? Jawaban dari hal ini tentu sangat subyektif. Tapi saya ingin mengajak anda semua memahami jawaban dari konselor ahli kehidupan pernikahan, Allan dan Barbara Pease.

Menurut Allan dan Barbara Pease (2005), sebenarnya perempuan dan laki-laki berbohong sama banyaknya. Cara mereka berbohong yang berbeda. Karena perempuan sangat peka dengan bahasa tubuh dan tanda-tanda suara, maka laki-laki lebih sering “tertangkap basah” saat berbohong. Inilah yang membuat laki-laki kelihatan lebih sering berbohong daripada perempuan. Padahal laki-laki bukan lebih banyak berbohong, hanya saja mereka terus menerus ketahuan.

Pease menyatakan bahwa studi ilmiah telah menunjukkan laki-laki dan perempuan mengatakan kebohongan dalam jumlah yang sama. Isi dari kebohonganlah yang berbeda. Perempuan berbohong agar pihak lain merasa lebih baik, sedangkan laki-laki berbohong untuk membuat diri mereka sendiri  tampak lebih baik. Perempuan berbohong agar hubungan mereka aman, sedangkan laki-laki berbohong untuk menghindari pertengkaran.

Bagaimana Kebohongan Bisa Terbongkar?

Pada dasarnya, kebohongan adalah kepura-puraan. Maka tidak ada orang yang mampu berpura-pura selamanya, atau berpura-pura dalam masa yang panjang. Tentu orang akan lelah jika harus terus menerus berbohong. Ada masanya dimana kebohongan akan terungkap, apalagi dalam kehidupan rumah tangga. Suami istri yang setiap hari bertemu dan berinteraksi, memungkinkan mereka untuk saling mengerti adanya kebohongan dari pasangan. Orang tua yang setiap hari berinteraksi dengan anak, akan cepat mengenali kebohongan yang dilakukan anak-anak.

Kebohongan itu melibatkan sisi emosi yang bocor keluar. Makin besar kebohongan yang dilakukan, makin banyak pula sisi emosi yang bocor. Hal ini berarti membuat semakin banyak ‘bukti kebohongan’ yang ditunjukkan oleh si pembohong. Semakin keras upaya seseorang untuk menutupi kebohongannya, semakin banyak sisi kebocoran emosi yang dibuatnya. Itulah sebabnya, semakin dekat hubungan anda dengan seseorang, semakin sulit untuk berbohong kepadanya.

Seorang suami yang terlanjur melakukan kesalahan, akan sangat sulit untuk berbohong kepada istrinya. Akan sangat mudah bagi seseorang untuk berbohong kepada musuhnya, karena tidak memiliki kedekatan emosional. Semakin seseorang terbebas dari hubungan emosional yang positif, akan semakin mudah baginya melakukan kebohongan –bahkan tanpa beban, jika ia mau melakukannya. Inilah rahasia mengapa kebohongan dalam rumah tangga menjadi lebih mudah terbuka, karena satu dengan yang lain memiliki kedekatan emosi secara positif, dan berinteraksi setiap hari secara intensif.

Perempuan Lebih Mudah Menemukan Tanda Kebohongan Laki-laki

Ternyata secara umum, perempuan memang lebih mudah mengenali sinyal serta tanda kebohongan yang dilakukan suaminya, serta orang-orang yang ada di sekitarnya. Hal ini –sekali lagi—terkait dengan kemampuan otak mereka. Hasil scan  otak MRI menunjukkan rata-rata perempuan mempunyai 14 – 16 posisi kunci pada kedua bagian otaknya, saat berkomunikasi langsung berhadap-hadapan face to face. Posisi kunci ini berfungsi untuk menguraikan kode kata-kata, perubahan nada suara, bahasa tubuh, dan secara luas terkait dengan “insting pelacakan” yang memang dimiliki oleh kaum perempuan. Orang secara mudah menyebut itu semua sebagai intuisi perempuan yang tajam.

Kemampuan hebat seperti ini Allah anugerahkan kepada kaum perempuan, untuk melaksanakan tugas-tugas mulia dan tugas peradaban mereka. Para ibu harus mampu membedakan kondisi anak-anaknya dengan cepat, apakah anaknya tengah bahagia, sedih, takut, cemas, kelaparan, terluka, sakit, menyembunyikan rahasia, berbohong, jatuh cinta, dan situasi emosional lainnya. Berhadap-hadapan langsung, menatap wajah, melihat perubahan mimik muka, bahasa tubuh, suhu badan, gelagat, dan sebagainya, cukup memberikan informasi tentang situasi yang dihadapi oleh anak-anaknya.

Kaum perempuan secara umum juga memiliki kemampuan untuk menilai orang-orang yang berada disekitarnya, suatu insting untuk menyelamatkan diri. Apakah orang yang tengah mendekat kepada dirinya itu bersikap bersahabat atau bermusuhan, apakah orang itu berlaku baik atau berpotensi membahayakan dirinya. Tanpa kemampuan intuitif seperti itu, perempuan bisa jatuh ke dalam bahaya yang besar. Bahkan lebih mengagumkannya lagi, kaum perempuan bisa menyatakan seekor anjing sedang bergembira, sedih, marah, jengkel atau malu. Kebanyakan laki-laki bahkan sulit untuk membayangkan, bagaimana bentuk anjing yang sedang malu.

Seperti sudah sering saya tuliskan, otak perempuan tersusun dalam jalur majemuk (multi-tracking), sedangkan otak laki-laki tersusun dalam jalur tunggal (mono-tracking). Karena itu perempuan bisa menangkap beberapa informasi sekaligus, seperti membaca bahasa tubuh suami, mendengarkan pembicaraan suami, dan pada saat yang sama ia berbicara. Seluruhnya dilakukan dengan konsentrasi yang baik. Sedangkan laki-laki cenderung fokus pada satu kegiatan, sehingga pada saat yang sama berpeluang kehilangan banyak informasi. Seperti ketika laki-laki sedang berbicara kepada istri, ia fokus dengan pembicaraannya sendiri sehingga tidak memiliki kesempatan membaca bahasa tubuh sang istri.

Menurut Allan dan Barabara Pease, rata-rata kaum perempuan sangat baik dalam mengingat kebohongan yang dilakukan suami, sementara laki-laki cenderung cepat melupakan kebohongan yang pernah mereka lakukan. Hippocampus, bagian otak yang berfungsi untuk menyimpan ingatan dan mengambil ingatan, tumbuh lebih bagus pada kaum perempuan dibanding dengan laki-laki. Hal ini membuat kemampuan tambahan pada kaum perempuan, mereka memiliki ingatan yang lebih baik pada hal yang berhubungan dengan emosi.

Itu sebabnya, kaum perempuan bukan saja mampu cepat menangkap gejala kebohongan yang dilakukan suami, namun juga akan mampu mengingat kebohongan tersebut dalam waktu yang lama.

Bagi kaum laki-laki, kebohongan terhadap istri akan lebih mudah dilakukan jika berbicara melalui telpon. Karena jika berbohong secara langsung, berhadap-hadapan muka, maka kebohongan suami akan cepat ketahuan sinyalnya. Emosi yang bocor dari kebohongan suami dengan cepat ditangkap oleh sang istri. Itulah sebabnya, secara umum laki-laki sangat sulit untuk melakukan kebohongan terhadap istri, karena istri akan cepat mengetahui tanda dan gejala dari kebohongan tersebut.

Oleh karena itu, yang paling utama adalah tidak melakukan kebohongan. Karena kebohongan dan kedustaan akan melahirkan kegelisahan. Dan kegelisahan adalah sinyal yang sangat mudah dimengerti oleh para istri.

Mertosanan Kulon, 17 Januari 2017

Bahan Bacaan

Allan & Barbara Pease, Why Men Lie and Women Cry, Dioma Publishing, Malang, 2005

Cahyadi Takariawan, Wonderful Couple, Menjadi Pasangan Paling Bahagia, PT Era Adicitra Intermedia, Solo, 2015